Vaksin ibu hamil adalah bagian dari upaya pencegahan penyakit selama kehamilan. Beberapa vaksin dapat membantu melindungi ibu dari infeksi yang berisiko lebih berat saat hamil, sekaligus membantu memberikan perlindungan awal bagi bayi melalui antibodi yang ditransfer dari ibu ke janin. (1)(2)
Tidak semua vaksin diberikan saat hamil. Jenis vaksin, waktu pemberian, dan kebutuhan vaksinasi perlu disesuaikan dengan usia kehamilan, riwayat vaksin sebelumnya, kondisi kesehatan ibu, risiko paparan penyakit, serta rekomendasi dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. (3)(4)
Secara umum, vaksin seperti tetanus/toksoid tetanus, influenza inaktif, dan Tdap sering dibahas dalam konteks kehamilan. Beberapa vaksin lain seperti RSV atau COVID-19 dapat dipertimbangkan sesuai rekomendasi terbaru, indikasi, regulasi, dan ketersediaan di fasilitas kesehatan. (2)(5)
Kehamilan adalah masa ketika tubuh ibu mengalami banyak perubahan. Sistem imun, jantung, dan paru-paru bekerja dengan cara yang berbeda untuk mendukung pertumbuhan janin. Perubahan ini dapat membuat sebagian ibu hamil lebih rentan mengalami komplikasi bila terkena infeksi tertentu, seperti influenza atau pertusis. (1)(4)
Karena itu, vaksinasi saat hamil bukan hanya tentang melindungi ibu. Pada beberapa vaksin, antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi dapat diteruskan ke bayi melalui plasenta. Perlindungan ini dapat membantu bayi pada minggu-minggu awal kehidupan, terutama saat bayi belum cukup usia untuk menerima vaksin tertentu. (1)
Inilah alasan vaksin ibu hamil sering disebut sebagai perlindungan ganda: membantu menjaga kesehatan ibu sekaligus memberikan perlindungan awal untuk bayi.
Namun, penting dipahami bahwa vaksin tidak memberi perlindungan 100%. Vaksin membantu mengurangi risiko infeksi, sakit berat, komplikasi, atau rawat inap, tergantung jenis vaksin dan kondisi masing-masing orang. (4)(5)

Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan beberapa manfaat penting.
Bagi ibu, vaksin dapat membantu:
Bagi bayi, vaksinasi ibu dapat membantu:
Perlindungan awal ini penting karena bayi baru lahir belum memiliki sistem imun yang matang. Beberapa vaksin juga belum bisa langsung diberikan pada usia awal kehidupan, sehingga perlindungan dari ibu dapat menjadi salah satu bentuk pencegahan yang membantu.
Baca juga: Kenapa Harus Vaksin? Panduan Manfaat untuk Semua Usia
Tidak semua ibu hamil membutuhkan jenis vaksin yang sama. Dokter atau tenaga kesehatan akan menilai berdasarkan riwayat imunisasi, usia kehamilan, risiko penyakit, dan kondisi kesehatan ibu.
Berikut beberapa vaksin yang sering dibahas dalam konteks kehamilan.
Vaksin tetanus, termasuk TT atau Td sesuai program dan riwayat imunisasi, bertujuan membantu mencegah tetanus pada ibu dan bayi baru lahir. Tetanus neonatal dapat terjadi bila bayi terpapar bakteri tetanus, terutama dalam kondisi persalinan atau perawatan tali pusat yang tidak higienis. (1)(7)
Di Indonesia, imunisasi tetanus pada wanita usia subur dan ibu hamil telah lama menjadi bagian penting dari upaya pencegahan tetanus maternal dan neonatal. Kementerian Kesehatan juga mencatat layanan imunisasi TT bagi wanita usia subur melalui layanan antenatal dan fasilitas kesehatan. (7)
Influenza pada ibu hamil tidak selalu ringan. Pada sebagian ibu, infeksi influenza dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti pneumonia atau rawat inap. Karena itu, vaksin influenza inaktif sering direkomendasikan untuk ibu hamil, terutama bila hamil saat musim influenza atau memiliki risiko paparan tinggi. (1)(4)
WHO menyebutkan bahwa vaksin influenza inaktif telah digunakan pada ibu hamil selama puluhan tahun tanpa bukti adanya efek merugikan yang berkaitan pada ibu atau bayi baru lahir. Vaksin influenza hidup yang dilemahkan tidak direkomendasikan selama kehamilan. (1)
Baca juga: Vaksin Influenza Saat Hamil: Rekomendasi untuk Ibu & Bayi
Tdap adalah vaksin untuk membantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis atau batuk rejan. Pertusis dapat berbahaya bagi bayi kecil, terutama sebelum bayi cukup usia untuk mendapatkan vaksin pertusis sendiri. (1)(6)
WHO menjelaskan bahwa vaksin Tdap saat hamil dapat membantu membentuk antibodi pada ibu yang kemudian ditransfer ke bayi melalui plasenta. CDC merekomendasikan Tdap pada usia kehamilan 27–36 minggu di setiap kehamilan, sementara WHO menyebut pemberian pada trimester kedua atau ketiga dan sebaiknya minimal 15 hari sebelum akhir kehamilan. (1)(6)
Di Indonesia, POGI juga mencantumkan advokasi vaksinasi TT/Td, influenza, Tdap, dan COVID-19 dalam program vaksinasi ibu hamil. (2)
Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Influenza & Tdap
RSV atau respiratory syncytial virus dapat menyebabkan infeksi saluran napas, terutama pada bayi. Dalam beberapa tahun terakhir, imunisasi maternal untuk RSV mulai banyak dibahas secara global karena bertujuan membantu melindungi bayi dari RSV berat pada bulan-bulan pertama kehidupan. (5)(8)
POGI telah menerbitkan konsensus nasional tentang RSV pada ibu hamil pada 2025, termasuk pembahasan mengenai dampak RSV pada ibu hamil, janin, bayi baru lahir, strategi imunisasi maternal, keamanan, efikasi, dan pertimbangan implementasi di Indonesia. (8)
Namun, vaksin RSV untuk ibu hamil perlu mengikuti rekomendasi terbaru, indikasi, izin edar, dan ketersediaan di fasilitas kesehatan. Karena itu, ibu hamil sebaiknya membahasnya langsung dengan dokter kandungan atau tenaga kesehatan.
COVID-19 pada kehamilan pernah menjadi perhatian besar karena dapat meningkatkan risiko sakit berat pada sebagian ibu hamil. Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan varian, kebijakan kesehatan, status risiko, dan panduan otoritas kesehatan. (2)(5)
Karena kebijakan vaksin COVID-19 dapat berbeda antarnegara dan dapat diperbarui dari waktu ke waktu, ibu hamil sebaiknya mengikuti rekomendasi dokter, fasilitas kesehatan, dan otoritas kesehatan resmi yang berlaku.
Beberapa vaksin tidak direkomendasikan untuk diberikan saat hamil, terutama vaksin hidup tertentu, kecuali ada pertimbangan khusus dari dokter. Contohnya adalah MMR dan varisela yang biasanya direncanakan sebelum hamil atau setelah melahirkan bila diperlukan. (1)(9)
Vaksin HPV juga umumnya tidak dianjurkan untuk dimulai saat hamil. POGI menyebutkan bahwa bila seorang perempuan diketahui hamil setelah memulai rangkaian vaksin HPV, dosis berikutnya sebaiknya ditunda sampai setelah persalinan dan tidak perlu mengulang dosis dari awal. (9)
Jadwal vaksin ibu hamil tidak bisa disamaratakan untuk semua orang. Beberapa vaksin diberikan berdasarkan usia kehamilan, sebagian berdasarkan musim penyakit, sebagian lagi berdasarkan riwayat imunisasi atau faktor risiko.
Sebagai gambaran umum:
| Jenis Vaksin | Waktu Umum yang Sering Dibahas | Catatan Penting |
| TT/Td | Sesuai riwayat imunisasi dan penilaian tenaga kesehatan | Penting untuk pencegahan tetanus ibu dan bayi |
| Influenza inaktif | Dapat diberikan pada trimester 1, 2, atau 3 selama kehamilan | Jadwal & Jenis vaksin perlu dipastikan dengan dokter/ Bidan disesuaikan dengan kondisi kehamilan |
| Tdap | Umumnya trimester 2 atau 3; CDC menyebut 27–36 minggu | Diberikan untuk membantu perlindungan bayi dari pertusis |
| RSV | Tergantung rekomendasi terbaru, indikasi, musim, dan ketersediaan | Perlu konsultasi dokter kandungan |
| COVID-19 | Mengikuti rekomendasi terbaru dan kondisi risiko | Perlu mengikuti panduan otoritas kesehatan dan dokter |
| HPV/MMR/Varisela | Umumnya ditunda saat hamil | Bisa direncanakan sebelum hamil atau setelah persalinan bila sesuai |
Tabel ini bersifat edukatif, bukan pengganti rekomendasi medis personal. Jadwal terbaik tetap perlu diputuskan bersama dokter, bidan, atau tenaga kesehatan.
Pertanyaan tentang keamanan vaksin saat hamil sangat wajar. Banyak ibu ingin memastikan bahwa langkah pencegahan yang dilakukan tidak membahayakan bayi.
Secara umum, vaksin inaktif dan vaksin berbasis toksoid tidak mengandung virus hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. WHO menyebut imunisasi dengan vaksin inaktif atau toksoid selama kehamilan tidak diharapkan berkaitan dengan peningkatan risiko pada janin. (10)
Kementerian Kesehatan RI juga menjelaskan bahwa vaksin dalam program imunisasi nasional telah diakui WHO dan lulus uji BPOM. Reaksi ringan seperti demam ringan, ruam, bengkak ringan, atau nyeri di tempat suntikan dapat terjadi dan umumnya membaik dalam 2–3 hari, sementara KIPI serius sangat jarang terjadi. (3)
Namun, keamanan tetap perlu dilihat sesuai jenis vaksin dan kondisi ibu. Itulah mengapa ibu hamil sebaiknya tidak memutuskan sendiri tanpa berkonsultasi, terutama bila memiliki riwayat alergi berat, penyakit kronis, gangguan imun, atau pernah mengalami reaksi berat setelah vaksin sebelumnya.
Efek samping vaksin pada ibu hamil umumnya mirip dengan orang dewasa lainnya. Keluhan yang dapat muncul antara lain:
Keluhan ringan biasanya membaik dalam beberapa hari. Ibu hamil dapat bertanya kepada dokter atau bidan mengenai cara aman mengatasi keluhan setelah vaksin, termasuk apakah boleh menggunakan obat tertentu.
Segera cari bantuan medis bila muncul tanda reaksi berat seperti:
Semua ibu hamil sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau bidan sebelum vaksinasi. Konsultasi menjadi lebih penting bila ibu memiliki kondisi berikut:
Konsultasi membantu tenaga kesehatan menentukan vaksin mana yang diperlukan, kapan waktu terbaik, dan apakah ada hal khusus yang perlu diperhatikan.
Agar vaksinasi lebih aman dan nyaman, ibu hamil dapat mempersiapkan beberapa hal berikut:
Langkah sederhana ini membantu dokter, bidan, atau tenaga kesehatan memberikan rekomendasi yang lebih sesuai.
Vaksin ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan imunisasi dan pemeriksaan kehamilan, seperti puskesmas, klinik, rumah sakit, praktik dokter kandungan, atau fasilitas vaksinasi resmi.
Pastikan ibu hamil sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan agar jenis dan jadwal vaksin sesuai dengan usia kehamilan, kondisi kesehatan, serta riwayat vaksin sebelumnya.
Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, Puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda.
Cari Klinik Vaksinasi Terdekat.
Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan.
Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.
Vaksin ibu hamil adalah bagian penting dari pencegahan penyakit selama kehamilan. Pada beberapa kondisi, vaksin dapat membantu melindungi ibu dari infeksi yang berisiko lebih berat sekaligus memberikan perlindungan awal bagi bayi melalui antibodi ibu.
Beberapa vaksin seperti TT/Td, influenza inaktif, dan Tdap sering dibahas dalam konteks kehamilan. Vaksin lain seperti RSV atau COVID-19 dapat dipertimbangkan sesuai rekomendasi terbaru, indikasi, regulasi, risiko, dan ketersediaan. Sementara itu, beberapa vaksin hidup atau vaksin tertentu seperti MMR, varisela, dan HPV umumnya direncanakan sebelum hamil atau setelah persalinan bila diperlukan.
Yang paling penting, ibu hamil tidak perlu merasa takut, tetapi juga tidak perlu menebak-nebak sendiri. Diskusikan vaksinasi dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan agar jadwal dan jenis vaksin sesuai dengan kondisi ibu dan bayi.
ID-VAX-2026-07-LVH9 (07/26)
Fase kehamilan lebih tenang dan perlindungan bayi dapat dimulai sejak dalam kandungan.

Vaksin ibu hamil trimester 1 dapat diberikan dalam kondisi tertentu, tetapi jenis dan waktunya harus disesuaikan dengan riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko tertular penyakit, dan rekomendasi dokter. Vaksin influenza yang tidak mengandung virus hidup, misalnya, dapat diberikan pada trimester mana pun selama kehamilan. (1)(2) Namun, tidak semua vaksin perlu diberikan pada trimester pertama. Vaksin Tdap umumnya dijadwalkan pada usia kehamilan 27–36 minggu agar transfer antibodi kepada bayi berlangsung optimal. Sementara itu, vaksin hidup seperti MMR dan varisela tidak diberikan selama kehamilan dan biasanya ditunda sampai setelah persalinan. (3)(4) Karena kebutuhan setiap ibu berbeda, sebaiknya jangan menentukan jenis atau jadwal vaksin hanya berdasarkan usia kehamilan. Bawalah catatan vaksinasi saat melakukan pemeriksaan antenatal agar dokter atau bidan dapat menilai vaksin yang sudah lengkap, perlu dilanjutkan, dijadwalkan kemudian, atau ditunda. Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, risiko pajanan penyakit, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apakah Ibu Hamil Trimester 1 Boleh Mendapatkan Vaksin? Ibu hamil trimester pertama boleh mendapatkan vaksin tertentu apabila manfaatnya dinilai lebih besar daripada risikonya dan vaksin tersebut sesuai untuk digunakan selama kehamilan. Trimester pertama berlangsung sejak awal kehamilan hingga sekitar minggu ke-13. Pada masa ini, organ-organ janin mulai terbentuk sehingga banyak ibu merasa khawatir terhadap obat, makanan, maupun tindakan medis, termasuk vaksinasi. Kekhawatiran tersebut dapat dipahami. Namun, keputusan vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh trimester. Dokter juga akan mempertimbangkan: apakah vaksin mengandung mikroorganisme hidup atau tidak; riwayat vaksinasi sebelum hamil; kondisi kesehatan ibu; riwayat alergi berat; pekerjaan dan lingkungan tempat tinggal; risiko bepergian atau terpapar penyakit; kemungkinan dampak penyakit terhadap ibu dan janin; rekomendasi kesehatan yang berlaku. Vaksin inaktif atau vaksin yang tidak menggunakan virus atau bakteri hidup umumnya memiliki pertimbangan berbeda dari vaksin hidup. Karena itu, istilah “vaksin aman untuk ibu hamil” tetap perlu dibaca berdasarkan jenis vaksin, indikasi, dan kondisi masing-masing ibu. Mengapa Vaksinasi Penting Selama Kehamilan? Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut merupakan bagian normal dari kehamilan, tetapi dapat membuat ibu lebih rentan mengalami penyakit tertentu atau komplikasi yang lebih berat. Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan dua lapis manfaat. 1. Membantu melindungi kesehatan ibu Vaksin membantu sistem kekebalan mengenali penyebab penyakit tertentu. Perlindungan ini tidak selalu mencegah infeksi sepenuhnya, tetapi dapat membantu mengurangi risiko sakit berat, komplikasi, atau perawatan di rumah sakit. 2. Membantu memberikan antibodi kepada bayi Sebagian antibodi yang terbentuk pada tubuh ibu dapat berpindah melalui plasenta kepada janin. Antibodi tersebut dapat membantu memberikan perlindungan sementara kepada bayi pada awal kehidupannya, sebelum bayi cukup umur untuk menerima vaksin tertentu. (3)(5) Manfaat vaksin tetap tidak berarti perlindungan 100%. Ibu masih perlu menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, menjaga pola hidup sehat, serta mengikuti pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanan Jenis Vaksin yang Dapat Dipertimbangkan pada Trimester Pertama Tidak ada satu daftar vaksin trimester pertama yang berlaku sama untuk semua ibu. Berikut gambaran umum yang dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan dokter. Jenis vaksinPertimbangan pada trimester pertamaCatatan pentingInfluenza inaktifDapat diberikan pada trimester mana punGunakan jenis vaksin yang direkomendasikan untuk kehamilanTd atau tetanus-difteriDapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat imunisasi dan program pelayanan ibu hamilJadwal ditentukan tenaga kesehatanHepatitis BDapat dipertimbangkan bila memiliki indikasi atau risiko penularanMemerlukan penilaian faktor risikoCOVID-19Bergantung pada rekomendasi terbaru, kondisi ibu, dan penilaian dokterKebijakan dan rekomendasi dapat berubahVaksin lain karena kondisi khususHanya berdasarkan indikasi medis atau risiko pajananMisalnya karena pekerjaan atau perjalanan tertentu Vaksin influenza inaktif Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama maupun trimester lainnya. Vaksin ini tidak mengandung virus influenza hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. Influenza pada kehamilan tidak selalu hanya menimbulkan gejala ringan. Pada sebagian ibu, penyakit ini dapat meningkatkan risiko komplikasi saluran pernapasan dan perawatan di rumah sakit. Karena itu, vaksin influenza menjadi salah satu vaksin yang sering dibahas dalam pelayanan kehamilan. (1)(2) Pemberian vaksin perlu memperhatikan jenis vaksin yang digunakan. Vaksin influenza hidup yang diberikan melalui semprotan hidung tidak dianjurkan selama kehamilan. (4) Vaksin tetanus dan difteri Di Indonesia, perlindungan terhadap tetanus bagi perempuan usia subur dan ibu hamil merupakan bagian penting dari upaya mencegah tetanus maternal dan tetanus pada bayi baru lahir. Riwayat imunisasi sebelumnya perlu diperiksa untuk menentukan apakah ibu membutuhkan dosis tambahan dan kapan dosis tersebut diberikan. (6) Tenaga kesehatan dapat menggunakan riwayat vaksinasi, catatan pelayanan antenatal, dan pedoman yang berlaku untuk menentukan jadwal vaksin Td atau vaksin yang mengandung komponen tetanus. Perlu dibedakan antara vaksin Td atau tetanus-difteri dan Tdap, yang juga memberikan perlindungan terhadap pertusis atau batuk rejan. Dalam sejumlah pedoman internasional, Tdap diberikan pada setiap kehamilan dan biasanya dijadwalkan pada minggu ke-27 hingga ke-36, bukan secara rutin pada trimester pertama. (3)(4) Vaksin hepatitis B Vaksin hepatitis B bukan vaksin hidup. Vaksin ini dapat dipertimbangkan selama kehamilan apabila ibu belum memiliki perlindungan dan mempunyai faktor risiko terpapar hepatitis B. Faktor risiko dapat mencakup: tinggal serumah atau memiliki pasangan dengan hepatitis B; paparan darah atau cairan tubuh melalui pekerjaan; menjalani tindakan medis tertentu; memiliki kondisi lain yang meningkatkan risiko infeksi; bepergian ke wilayah dengan risiko penularan yang lebih tinggi. Dokter mungkin menyarankan pemeriksaan hepatitis B sebagai bagian dari pemeriksaan kehamilan. Hasil pemeriksaan tersebut membantu menentukan perlindungan yang dibutuhkan ibu dan langkah pencegahan penularan kepada bayi. Vaksin COVID-19 Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan bukti ilmiah, varian virus, kebijakan otoritas kesehatan, kondisi kesehatan ibu, serta ketersediaan vaksin. Sejumlah organisasi profesi kebidanan masih memasukkan vaksinasi COVID-19 sebagai bagian dari perlindungan yang dapat dipertimbangkan selama kehamilan. Namun, keputusan individual sebaiknya dibuat bersama dokter dengan memperhatikan riwayat vaksin, infeksi sebelumnya, komorbid, dan tingkat risiko pajanan. (5)(7) Ikuti panduan terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, BPOM, dokter kandungan, atau fasilitas vaksinasi resmi sebelum menerima vaksin. Vaksin yang Biasanya Tidak Diberikan pada Trimester Pertama Sebagian vaksin bukan dilarang sepanjang kehamilan, tetapi dijadwalkan pada usia kehamilan yang berbeda. Tdap biasanya diberikan pada trimester ketiga Tdap membantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis. Pemberian pada usia kehamilan 27–36 minggu bertujuan mengoptimalkan pembentukan dan perpindahan antibodi pertusis dari ibu kepada bayi. (3)(4) Bayi baru lahir belum dapat langsung menyelesaikan seri vaksinnya sendiri. Antibodi dari ibu dapat membantu memberikan perlindungan awal selama masa rentan tersebut. Dokter dapat mempertimbangkan waktu berbeda dalam kondisi tertentu, misalnya terdapat luka yang membutuhkan penanganan tetanus atau risiko khusus lainnya. Vaksin RSV mengikuti usia kehamilan dan kebijakan setempat Beberapa negara telah merekomendasikan vaksin RSV maternal pada rentang usia kehamilan tertentu. Namun, rekomendasi, registrasi produk, ketersediaan, dan penerapannya dapat berbeda antarnegara. Karena itu, vaksin RSV tidak dapat dianggap sebagai vaksin rutin trimester pertama. Ibu perlu menanyakan ketersediaan dan rekomendasi terkini kepada dokter atau fasilitas kesehatan resmi. Vaksin yang Perlu Ditunda Selama Kehamilan Vaksin hidup umumnya tidak diberikan kepada ibu hamil karena mengandung mikroorganisme hidup yang telah dilemahkan. Walaupun risiko terhadap janin sering kali bersifat teoretis, vaksin ini biasanya ditunda sebagai langkah kehati-hatian. Jenis vaksin yang umumnya ditunda meliputi: MMR atau campak, gondongan, dan rubela; varisela atau cacar air; vaksin influenza hidup melalui semprotan hidung; vaksin hidup lain yang tidak memiliki indikasi khusus selama kehamilan. Vaksin HPV juga tidak direkomendasikan untuk dilanjutkan selama kehamilan. Apabila seri vaksin belum selesai, dosis berikutnya dapat dilanjutkan setelah kehamilan tanpa perlu mengulang seri dari awal. (4) Vaksin tertentu untuk perjalanan, seperti demam kuning, memerlukan penilaian khusus. Dokter akan membandingkan risiko vaksin dengan risiko tertular penyakit di negara tujuan. Bagaimana Jika Vaksin Diberikan Sebelum Mengetahui Sedang Hamil? Tidak sedikit perempuan menerima vaksin ketika belum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Dalam situasi ini, jangan langsung panik atau mengambil kesimpulan bahwa kehamilan pasti mengalami masalah. Langkah yang sebaiknya dilakukan adalah: Catat nama vaksin dan tanggal pemberiannya. Simpan kartu atau bukti vaksinasi. Sampaikan kepada dokter kandungan atau bidan. Ikuti pemeriksaan kehamilan sesuai rekomendasi. Jangan menerima dosis berikutnya sebelum jadwal dievaluasi. Paparan vaksin tertentu secara tidak sengaja tidak otomatis menjadi alasan untuk mengakhiri kehamilan. Penilaian harus dilakukan berdasarkan jenis vaksin, usia kehamilan, kondisi ibu, dan informasi medis yang tersedia. (4) Efek Samping Vaksin pada Ibu Hamil Efek samping vaksin pada ibu hamil umumnya serupa dengan efek yang dialami orang dewasa lainnya. Efek samping ringan dapat berupa: nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan; demam ringan; pegal; sakit kepala; rasa lelah; mual ringan. Keluhan tersebut biasanya membaik dalam satu hingga beberapa hari. Gunakan obat penurun demam atau pereda nyeri hanya sesuai arahan dokter, terutama selama kehamilan. Efek samping serius seperti reaksi alergi berat dapat terjadi, tetapi jarang. Program imunisasi dan fasilitas kesehatan memiliki prosedur observasi serta penanganan kejadian ikutan pascaimunisasi. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa keluhan ringan seperti demam, bengkak, dan nyeri dapat terjadi setelah imunisasi, sedangkan kejadian serius sangat jarang. (8) Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan Medis? Segera hubungi fasilitas kesehatan apabila setelah vaksinasi muncul: sesak napas; pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan; bentol atau ruam luas; pingsan atau penurunan kesadaran; demam tinggi atau tidak membaik; muntah terus-menerus; nyeri berat; perdarahan dari vagina; kram atau nyeri perut yang mengkhawatirkan; keluhan kehamilan lain yang terasa tidak biasa. Gejala tersebut belum tentu disebabkan oleh vaksin, tetapi perlu dinilai tenaga kesehatan agar penyebab dan penanganannya dapat ditentukan. Checklist Sebelum Konsultasi Vaksin Agar konsultasi lebih efektif, siapkan informasi berikut: kartu vaksinasi atau foto catatan vaksin; usia kehamilan; hasil pemeriksaan kehamilan terakhir; riwayat alergi, terutama alergi berat; penyakit kronis atau komorbid; obat dan suplemen yang sedang digunakan; riwayat reaksi setelah vaksin sebelumnya; pekerjaan dan kemungkinan paparan penyakit; rencana perjalanan; riwayat penyakit menular atau kontak erat. Jangan khawatir apabila kartu vaksinasi tidak lengkap. Dokter tetap dapat membantu menilai kebutuhan berdasarkan wawancara medis dan pemeriksaan yang diperlukan. Baca juga: Panduan Vaksinasi Keluarga Indonesia Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil? Vaksin untuk ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan pemeriksaan kehamilan dan vaksinasi, seperti: puskesmas; klinik; rumah sakit; praktik dokter kandungan; praktik bidan; fasilitas vaksinasi resmi. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, jadwal, kondisi kesehatan, riwayat alergi, dan usia kehamilan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 1 dapat diberikan apabila jenis vaksinnya sesuai dan terdapat manfaat yang jelas bagi ibu maupun kehamilan. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester mana pun. Vaksin hepatitis B atau tetanus dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat imunisasi dan faktor risiko. Tidak semua vaksin harus diberikan pada awal kehamilan. Tdap umumnya dijadwalkan pada usia kehamilan 27–36 minggu, sedangkan vaksin hidup seperti MMR dan varisela ditunda sampai setelah kehamilan. Keputusan terbaik bukan sekadar memilih antara “vaksin” atau “tidak vaksin”, melainkan menentukan vaksin yang tepat, pada waktu yang tepat, berdasarkan kondisi masing-masing ibu. Konsultasikan sejak pemeriksaan kehamilan awal dan bawalah catatan vaksin agar dokter atau bidan dapat menyusun rekomendasi yang aman dan sesuai. Referensi American College of Obstetricians and Gynecologists. (2025). Influenza in pregnancy: Prevention and treatment.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/practice-advisory/articles/2025/08/influenza-in-pregnancy-prevention-and-treatment(Dikutip pada 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2017). Tetanus, diphtheria, and pertussis vaccination.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2017/09/update-on-immunization-and-pregnancy-tetanus-diphtheria-and-pertussis-vaccination(Dikutip pada 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). 2026 maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(Dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Strategi komunikasi nasional imunisasi 2022–2025.https://www.kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/16653827576343b965228c40.04885132.pdf(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (n.d.). COVID-19 vaccines and pregnancy: Conversation guide for clinicians.https://www.acog.org/programs/immunization-infectious-disease-public-health/tools-and-resources/covid-19-vaccines-and-pregnancy-conversation-guide-for-clinicians(Dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Seputar imunisasi.https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/seputar-imunisasi(Dikutip pada 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-NEHV (08/26)
Penularan HFMD pada anak terutama dapat terjadi melalui empat jalur, yaitu percikan dan cairan saluran pernapasan, kontak dengan tinja, cairan dari lepuhan kulit, serta benda atau permukaan yang telah terkontaminasi virus. Penularan lebih mudah terjadi ketika anak bermain atau berinteraksi dekat di rumah, sekolah, daycare, dan tempat bermain. HFMD atau Hand, Foot, and Mouth Disease adalah penyakit infeksi virus yang paling sering menyerang anak kecil, terutama anak berusia di bawah lima tahun. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan dapat membaik, tetapi luka di mulut dapat membuat anak sulit minum hingga berisiko mengalami dehidrasi. (1)(2) Mengetahui jalur penularannya dapat membantu orang tua melakukan pencegahan secara lebih tepat tanpa harus membatasi seluruh aktivitas anak secara berlebihan. Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan. Pemeriksaan, penanganan, serta rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia anak, gejala, kondisi kesehatan, riwayat alergi, riwayat vaksin sebelumnya, dan pertimbangan klinis dokter. Segera konsultasikan kondisi anak apabila anak sulit minum, tampak sangat lemas, mengalami penurunan kesadaran, kejang, sesak, demam menetap, atau menunjukkan tanda dehidrasi. Apa Itu HFMD pada Anak? HFMD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kelompok virus enterovirus. Virus yang sering dikaitkan dengan penyakit ini antara lain Coxsackievirus A16, Coxsackievirus A6, dan Enterovirus 71 atau EV71. (1)(3) Gejala HFMD umumnya meliputi: Demam. Nyeri tenggorokan. Nafsu makan berkurang. Sariawan atau luka yang terasa nyeri di dalam mulut. Ruam atau lepuhan kecil di telapak tangan dan telapak kaki. Ruam di bokong, lengan, tungkai, atau sekitar area genital pada sebagian anak. HFMD pada manusia berbeda dengan penyakit mulut dan kuku pada hewan. Penyebabnya berbeda dan HFMD tidak ditularkan dari hewan ternak kepada manusia. (3)(4) Penyakit ini lebih sering ditemukan pada bayi dan anak kecil, tetapi anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa juga dapat terinfeksi. Bahkan, seseorang yang terinfeksi dapat tidak menunjukkan gejala tetapi tetap berpotensi membawa dan menyebarkan virus. (1)(2) Mengapa HFMD Mudah Menular di Antara Anak? Anak kecil sering menyentuh mainan, memasukkan tangan ke mulut, berbagi benda, atau bermain dengan jarak yang sangat dekat. Kebiasaan tersebut merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang, tetapi juga mempermudah perpindahan virus. Tempat dengan interaksi anak yang cukup intensif dapat menjadi lokasi penularan, seperti: Rumah dengan beberapa anak. PAUD, taman kanak-kanak, dan sekolah. Daycare atau tempat penitipan anak. Playground dan ruang bermain bersama. Tempat makan atau kegiatan keluarga. Fasilitas umum dengan banyak benda yang disentuh bersama. Seseorang yang terkena HFMD biasanya paling mudah menularkan penyakit pada minggu pertama. Namun, virus masih dapat ditemukan dalam tubuh, terutama pada tinja, selama beberapa waktu setelah gejalanya membaik. Karena itu, kebiasaan mencuci tangan tetap perlu dilanjutkan meskipun anak sudah terlihat sehat. (4)(5) Waspadai 4 Cara Penularan HFMD pada Anak 1. Melalui Percikan dan Cairan Saluran Pernapasan Virus penyebab HFMD dapat ditemukan dalam air liur, lendir hidung, dan cairan tenggorokan orang yang terinfeksi. Percikan kecil dapat keluar ketika anak batuk, bersin, berbicara, atau menangis dari jarak dekat. (1)(3) Penularan dapat terjadi ketika anak: Berbicara atau bermain sangat dekat dengan anak yang sedang sakit. Terkena percikan batuk atau bersin. Berpelukan atau berciuman dengan orang yang terinfeksi. Berbagi gelas, sendok, botol minum, atau alat makan. Menggunakan saputangan atau handuk yang sama. HFMD memang dapat menyebar melalui percikan pernapasan. Namun, penyebutannya sebagai “penularan melalui udara” perlu dipahami secara hati-hati. Penularan terutama berkaitan dengan percikan dan kontak dekat, bukan berarti virus selalu menyebar jauh melalui udara seperti asap. Cara mengurangi risikonya: Ajarkan anak menutup batuk dan bersin dengan siku bagian dalam. Buang tisu bekas segera ke tempat sampah tertutup. Jangan berbagi alat makan dan botol minum. Kurangi kontak dekat dengan anak yang sedang mengalami gejala. Bersihkan tangan setelah menyeka hidung atau air liur anak. 2. Melalui Tinja dan Tangan yang Terkontaminasi Virus penyebab HFMD dapat keluar bersama tinja orang yang terinfeksi. Penularan ini sering disebut jalur fekal-oral, yaitu ketika partikel virus dari tinja berpindah ke tangan, benda, makanan, atau mulut orang lain. (2)(4) Situasi yang perlu diperhatikan antara lain: Mengganti popok anak yang terinfeksi. Membantu anak menggunakan toilet. Anak belum mencuci tangan setelah buang air. Membersihkan toilet atau pispot tanpa mencuci tangan sesudahnya. Menyiapkan makanan setelah mengganti popok. Anak menyentuh benda dengan tangan yang belum bersih. Jumlah kotoran yang terlihat tidak harus banyak agar terjadi kontaminasi. Karena itu, tangan yang tampak bersih tetap perlu dicuci dengan sabun dan air mengalir. SituasiLangkah pencegahanMengganti popokBuang popok dengan benar dan cuci tangan setelahnyaMembersihkan pispotBersihkan alat dan area di sekitarnyaMembantu anak di toiletPastikan anak dan pendamping mencuci tanganMenyiapkan makananCuci tangan terlebih dahuluMembersihkan tinja atau muntahanGunakan sarung tangan bila tersedia, lalu cuci tangan Mencuci tangan sangat penting setelah mengganti popok, setelah menggunakan toilet, sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, dan setelah membersihkan cairan tubuh anak. 3. Melalui Cairan dari Lepuhan Kulit Ruam HFMD dapat berkembang menjadi lepuhan kecil yang berisi cairan. Cairan dari lepuhan tersebut dapat mengandung virus dan berpotensi menularkan infeksi jika mengenai tangan atau kulit orang lain. (1)(5) Risiko penularan dapat meningkat ketika: Lepuhan disentuh atau digaruk. Lepuhan pecah dan cairannya mengenai tangan. Anak berbagi handuk, pakaian, atau perlengkapan pribadi. Cairan lepuhan mengenai seprai atau permukaan benda. Orang lain membersihkan kulit anak tanpa mencuci tangan setelahnya. Lepuhan tidak perlu sengaja dipecahkan. Memecahkan atau menggaruk lepuhan dapat menyebabkan iritasi, luka terbuka, dan meningkatkan risiko infeksi bakteri sekunder. Langkah yang dapat dilakukan: Jaga area ruam tetap bersih. Potong kuku anak agar tidak mudah melukai kulit. Hindari mengoleskan obat sembarangan. Jangan berbagi handuk dan pakaian. Cuci tangan setelah merawat atau menyentuh area ruam. Konsultasikan dengan dokter bila kulit menjadi sangat merah, bengkak, bernanah, atau terasa semakin nyeri. 4. Melalui Mainan, Alat Makan, dan Permukaan Terkontaminasi Virus dapat berpindah ke benda ketika seseorang yang terinfeksi menyentuhnya dengan tangan yang terkontaminasi atau ketika percikan cairan tubuh mengenai permukaan tersebut. Anak lain kemudian dapat menyentuh benda yang sama dan memasukkan tangan ke mulut, hidung, atau mata. (1)(2) Benda yang sering disentuh bersama meliputi: Mainan. Gagang pintu. Meja dan kursi. Botol minum. Peralatan makan. Alat tulis. Tablet atau telepon genggam. Pagar tempat tidur. Permukaan toilet. Peralatan bermain. Benda tidak selalu tampak kotor meskipun telah terkontaminasi. Oleh karena itu, membersihkan benda yang sering disentuh menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan. Prioritas pembersihan di rumah atau daycare: Mainan yang sering masuk ke mulut. Meja makan dan kursi anak. Gagang pintu dan sakelar. Toilet, pispot, dan area mengganti popok. Peralatan elektronik yang digunakan bersama. Botol minum dan alat makan. Gunakan produk pembersih atau disinfektan sesuai petunjuk pada label. Jangan mencampur berbagai cairan pembersih karena dapat menghasilkan uap berbahaya. Ringkasan Empat Jalur Penularan HFMD Cara penularanContoh sehari-hariPencegahan utamaPercikan dan cairan pernapasanBatuk, bersin, air liur, berbagi alat makanEtika batuk dan hindari berbagi barang pribadiTinjaMengganti popok dan membantu anak di toiletCuci tangan dengan sabunCairan lepuhanMenyentuh atau memecahkan lepuhanHindari menyentuh dan jaga kulit tetap bersihBenda terkontaminasiMainan, meja, gagang pintu, botol minumBersihkan permukaan yang sering disentuh Baca juga: Panduan Vaksinasi Keluarga Indonesia: Anak, Dewasa, dan Lansia Bagaimana Mencegah Penularan HFMD di Rumah? Tidak semua paparan dapat dicegah sepenuhnya. Namun, beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi risiko penyebaran. Checklist pencegahan untuk keluarga Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Dampingi anak kecil ketika mencuci tangan. Jangan berbagi sendok, gelas, botol minum, dan handuk. Bersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh. Cuci tangan setiap selesai mengganti popok. Ajarkan etika batuk dan bersin. Kurangi kontak erat ketika anggota keluarga sedang sakit. Jangan sengaja memecahkan lepuhan. Bersihkan peralatan makan dengan baik. Pantau anak lain di rumah jika mulai mengalami demam atau sariawan. Sabun dan air mengalir penting terutama ketika tangan terlihat kotor, setelah menggunakan toilet, dan setelah mengganti popok. Pembersih tangan berbasis alkohol dapat digunakan dalam kondisi tertentu, tetapi tidak selalu menggantikan kebutuhan mencuci tangan dengan sabun. Apakah Anak dengan HFMD Boleh Sekolah? Anak yang sedang demam, tampak tidak sehat, memiliki luka mulut yang menyebabkan air liur sulit dikendalikan, atau tidak mampu mengikuti kegiatan sebaiknya beristirahat di rumah dan diperiksakan bila diperlukan. Keputusan kembali ke sekolah atau daycare perlu mempertimbangkan: Kondisi umum anak. Ada atau tidaknya demam. Kemampuan makan dan minum. Kemampuan mengikuti kegiatan. Kebijakan sekolah atau daycare. Saran dokter atau tenaga kesehatan. Ketentuan dari dinas kesehatan setempat jika sedang terjadi peningkatan kasus. Virus dapat tetap dikeluarkan setelah gejala membaik. Karena itu, menunggu hingga virus sama sekali tidak ditemukan biasanya tidak praktis. Kebersihan tangan, toilet, mainan, dan permukaan tetap menjadi langkah utama setelah anak kembali beraktivitas. (2)(5) Apakah Ada Vaksin untuk HFMD? Vaksin EV71 telah terdaftar di Indonesia untuk membantu Mencegah HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Namun, vaksin ini tidak melindungi terhadap seluruh virus penyebab HFMD, seperti Coxsackievirus A16 atau tipe enterovirus lainnya. Penggunaannya perlu berdasarkan usia yang disetujui, kondisi kesehatan anak, dan rekomendasi dokter. (6) Artinya, anak yang telah menerima vaksin EV71 tetap perlu menjalankan kebiasaan pencegahan seperti mencuci tangan, membersihkan mainan, dan menghindari berbagi alat makan. Vaksin juga tidak memberi perlindungan 100%. Tujuannya adalah membantu tubuh membentuk respons imun terhadap virus yang menjadi target vaksin. Efek samping setelah vaksinasi umumnya dapat berupa reaksi ringan seperti nyeri atau kemerahan di lokasi suntikan dan demam. Efek samping serius dapat terjadi tetapi jarang. Orang tua perlu mengikuti petunjuk observasi setelah vaksinasi dan mencari bantuan medis jika muncul sesak, pembengkakan berat, penurunan kesadaran, atau tanda reaksi alergi berat. (6) Baca juga: Artikel Edukasi Vaksin dan Pencegahan Penyakit Kapan Anak dengan HFMD Perlu Dibawa ke Dokter? Sebagian besar anak dapat membaik dengan perawatan suportif. Namun, orang tua perlu memperhatikan kemampuan anak minum dan kondisi umumnya. Konsultasikan anak kepada dokter apabila: Anak sulit minum karena luka di mulut. Buang air kecil lebih sedikit daripada biasanya. Mulut dan bibir tampak kering. Anak tidak mengeluarkan air mata saat menangis. Anak tampak sangat lemas atau terus mengantuk. Demam menetap atau kondisi tidak membaik. Anak masih bayi, terutama berusia di bawah enam bulan. Anak memiliki gangguan sistem imun atau penyakit kronis. Ruam tampak bernanah, membengkak, atau semakin nyeri. Segera cari pertolongan medis apabila anak mengalami kejang, kesulitan bernapas, penurunan kesadaran, kelemahan anggota tubuh, sakit kepala berat, leher kaku, atau kondisi memburuk dengan cepat. Komplikasi berat HFMD jarang terjadi, tetapi memerlukan pemeriksaan dan penanganan segera. (2)(3) Dimana Bisa Mendapatkan Informasi Tentang Vaksin HFMD? Vaksin EV71 dapat ditanyakan di rumah sakit, klinik anak, atau fasilitas vaksinasi resmi yang menyediakan layanan tersebut. Ketersediaannya dapat berbeda di setiap fasilitas dan wilayah. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan. Konsultasi diperlukan untuk memastikan bahwa usia anak, kondisi kesehatan, riwayat alergi, jadwal pemberian, dan jenis vaksin telah sesuai. Perlu dipahami bahwa vaksin EV71 ditujukan untuk membantu melindungi dari HFMD akibat EV71, bukan seluruh penyebab HFMD. Pencegahan melalui kebersihan tangan, pengelolaan popok, pembersihan mainan, dan pembatasan kontak ketika sakit tetap diperlukan. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, klinik anak, atau fasilitas vaksinasi resmi di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Empat cara penularan HFMD pada anak adalah melalui percikan dan cairan saluran pernapasan, kontak dengan tinja, cairan lepuhan, serta benda atau permukaan yang terkontaminasi. Penularan mudah terjadi ketika anak berinteraksi dekat, berbagi benda, atau belum terbiasa menjaga kebersihan tangan. Pencegahan tidak harus dilakukan dengan rasa panik. Kebiasaan mencuci tangan, membersihkan mainan dan permukaan, tidak berbagi alat makan, mengelola popok dengan aman, serta mengistirahatkan anak yang sedang sakit dapat membantu mengurangi risiko penyebaran. Orang tua juga dapat berdiskusi dengan dokter mengenai pilihan perlindungan tambahan, termasuk vaksin EV71 sesuai usia dan kondisi anak. Vaksin tidak melindungi dari seluruh penyebab HFMD sehingga tetap perlu disertai perilaku hidup bersih. Referensi Centers for Disease Control and Prevention. (2024). HFMD: Causes and how it spreads.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/causes/index.html(dikutip pada 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About hand, foot, and mouth disease.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html(dikutip pada 16 Juli 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD).https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/hand-foot-mouth-and-disease-hfmd(dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kenali penyakit Hand Foot and Mouth Disease (HFMD) pada anak di masa peralihan musim.https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2023/kenali-penyakit-hand-foot-and-mouth-disease-hfmd-pada-anak-di-masa-peralihan-musim(dikutip pada 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Hand, foot and mouth disease in Viet Nam.https://www.who.int/vietnam/health-topics/hand-foot-and-mouth-disease-%28hfmd%29(dikutip pada 16 Juli 2026). Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2026). Informasi produk vaksin Enterovirus tipe 71, inaktif.https://registrasiobat.pom.go.id/files/assesment-reports/01771903571.pdf(dikutip pada 16 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-BCNV (07/27)

Memasuki trimester ketiga, perhatian calon orang tua biasanya mulai tertuju pada persiapan persalinan, perlengkapan bayi, pilihan fasilitas kesehatan, dan rencana menyusui. Selain berbagai persiapan tersebut, riwayat vaksinasi ibu juga perlu ditinjau bersama dokter atau bidan. Vaksin ibu hamil trimester 3 dapat membantu melindungi ibu dari penyakit tertentu sekaligus memberikan antibodi awal kepada bayi melalui plasenta. Antibodi tersebut dapat membantu memberikan perlindungan pasif pada masa awal kehidupan, ketika sistem kekebalan bayi masih berkembang dan jadwal imunisasinya belum lengkap. (1)(2) Vaksin yang dapat dipertimbangkan pada trimester ketiga antara lain vaksin yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis, serta vaksin influenza inaktif. Jenis dan jadwalnya tidak sama untuk setiap ibu karena perlu disesuaikan dengan usia kehamilan, riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, rekomendasi dokter, ketersediaan vaksin, dan kebijakan yang berlaku di Indonesia. Dalam sejumlah pedoman internasional, vaksin Tdap dianjurkan pada usia kehamilan 27–36 minggu, terutama pada bagian awal rentang tersebut, agar tubuh ibu memiliki waktu membentuk antibodi dan menyalurkannya kepada janin. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, maupun ketiga apabila sesuai dengan rekomendasi tenaga kesehatan. (2)(3) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Mengapa Vaksinasi Perlu Ditinjau pada Trimester Ketiga? Trimester ketiga umumnya dimulai pada sekitar minggu ke-28 dan berlangsung hingga persalinan. Pada periode ini, tubuh ibu terus mengalami perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut merupakan bagian normal dari kehamilan, tetapi dapat membuat dampak infeksi tertentu menjadi lebih berat pada sebagian ibu. (3)(4) Mendekati kelahiran, bayi juga belum dapat langsung menerima seluruh vaksin yang dibutuhkannya. Sebagai contoh, vaksinasi bayi terhadap pertusis baru dimulai sesuai jadwal imunisasi setelah bayi lahir. Karena itu, perlindungan melalui antibodi ibu dapat membantu mengisi masa rentan sebelum bayi membentuk kekebalannya sendiri. (2) Vaksinasi selama kehamilan tidak memberikan perlindungan 100%. Namun, vaksin dapat membantu mengurangi risiko terjadinya penyakit atau komplikasi berat sesuai penyakit yang ditargetkan. Bagaimana Vaksin Ibu Hamil Dapat Membantu Melindungi Bayi? Setelah menerima vaksin yang sesuai, sistem kekebalan ibu mengenali antigen dan membentuk antibodi. Sebagian antibodi tersebut dapat berpindah dari ibu kepada janin melalui plasenta, terutama pada bagian akhir kehamilan. Proses ini disebut transfer antibodi maternal. Perlindungan yang diterima bayi bersifat sementara, tetapi penting untuk membantu menghadapi masa awal kehidupan sebelum imunisasi bayi lengkap. (1)(2) Manfaat yang diharapkan meliputi: Membantu melindungi ibu dari infeksi tertentu selama kehamilan Mengurangi kemungkinan ibu mengalami penyakit berat Memberikan antibodi awal kepada bayi sebelum lahir Membantu melindungi bayi pada minggu atau bulan pertama kehidupannya Melengkapi, bukan menggantikan, imunisasi bayi setelah lahir Bayi tetap harus mendapatkan imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan setelah lahir karena antibodi dari ibu akan berkurang secara bertahap. Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayi Vaksin Apa yang Dapat Dipertimbangkan pada Trimester Ketiga? Berikut adalah gambaran umum vaksin yang sering dibahas menjelang persalinan. Keputusan pemberian tetap harus berdasarkan pemeriksaan dan rekomendasi tenaga kesehatan. Jenis vaksinWaktu pemberian umumTujuan utamaCatatan pentingTdapUmumnya minggu ke-27–36 menurut beberapa pedoman internasionalMembantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis serta memberikan antibodi pertusis kepada bayiKetersediaan dan rekomendasi di Indonesia perlu dikonfirmasi kepada dokterTd atau vaksin yang mengandung toksoid tetanusBerdasarkan status imunisasi tetanus ibuMembantu mencegah tetanus pada ibu dan bayi baru lahirJumlah dosis bergantung pada riwayat imunisasiInfluenza inaktifDapat diberikan pada trimester mana punMembantu mengurangi risiko influenza dan komplikasinyaHindari vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung selama kehamilanVaksin lainBerdasarkan risiko khususMenyesuaikan penyakit, paparan, pekerjaan, perjalanan, atau kondisi medisMemerlukan penilaian individual oleh dokter 1. Vaksin Tdap Tdap merupakan vaksin kombinasi yang membantu memberikan perlindungan terhadap: Tetanus, infeksi serius akibat bakteri yang menyerang sistem saraf Difteri, infeksi bakteri yang dapat mengganggu saluran napas dan organ lain Pertusis, atau batuk rejan, yang dapat menjadi berat pada bayi kecil CDC dan ACOG menganjurkan Tdap pada setiap kehamilan, umumnya antara minggu ke-27 dan ke-36. Pemberian pada bagian awal rentang tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan pembentukan serta transfer antibodi kepada bayi. (2)(5) Kebijakan, ketersediaan, dan praktik vaksinasi maternal di Indonesia dapat berbeda dari pedoman Amerika Serikat. Oleh karena itu, ibu tidak perlu membeli atau memilih vaksin sendiri. Tanyakan kepada dokter kandungan apakah Tdap tersedia dan sesuai dengan kondisi kehamilan. 2. Imunisasi Tetanus: TT atau Td Di Indonesia, skrining status imunisasi tetanus merupakan salah satu bagian penting dalam pelayanan antenatal. Tenaga kesehatan dapat memeriksa riwayat imunisasi ibu melalui wawancara, buku KIA, kartu imunisasi, atau catatan fasilitas kesehatan. (6) Vaksin TT berfokus pada perlindungan terhadap tetanus, sedangkan Td memberikan perlindungan terhadap tetanus dan difteri. Dalam program imunisasi, jenis vaksin yang digunakan dapat mengikuti kebijakan dan ketersediaan terbaru. Ibu mungkin tidak perlu mengulang seluruh rangkaian apabila sudah memiliki status imunisasi yang lengkap. Sebaliknya, ibu dengan riwayat yang belum lengkap atau tidak diketahui mungkin memerlukan jadwal lanjutan. Jarak antardosis perlu ditentukan tenaga kesehatan dan tidak boleh diputuskan hanya berdasarkan usia kehamilan. 3. Vaksin Influenza Inaktif Ibu hamil dapat mengalami risiko komplikasi influenza yang lebih tinggi dibandingkan perempuan tidak hamil karena adanya perubahan fisiologis selama kehamilan. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, atau ketiga sesuai evaluasi tenaga kesehatan. (3)(4) Vaksin ini dapat membantu: Mengurangi risiko ibu terkena influenza Mengurangi kemungkinan penyakit influenza berat Menurunkan kemungkinan komplikasi dan perawatan di rumah sakit Memberikan antibodi influenza kepada bayi melalui plasenta Vaksin influenza biasanya diperbarui secara berkala karena virus influenza terus mengalami perubahan. Oleh sebab itu, riwayat vaksin pada tahun sebelumnya perlu disampaikan kepada dokter. Jenis vaksin influenza hidup yang diberikan melalui semprotan hidung umumnya tidak digunakan selama kehamilan. Ibu hamil biasanya diarahkan pada vaksin influenza inaktif melalui suntikan. (3) Baca juga: Panduan Vaksin Influenza: Manfaat, Jadwal, Jenis, dan Untuk Siapa Perbedaan TT, Td, dan Tdap Ketiga istilah ini sering membuat calon orang tua bingung. SingkatanPerlindunganKeterangan sederhanaTTTetanusMengandung toksoid tetanusTdTetanus dan difteriMengandung perlindungan tetanus dan difteri dengan komponen difteri dosis lebih rendahTdapTetanus, difteri, dan pertusisDitambah komponen pertusis untuk membantu melindungi dari batuk rejan Vaksin tersebut tidak selalu dapat dipertukarkan tanpa pertimbangan medis. Dokter akan menilai jenis yang dibutuhkan berdasarkan riwayat imunisasi, tujuan perlindungan, regulasi, dan ketersediaan vaksin. Apakah Sudah Terlambat Vaksin Jika Mendekati Persalinan? Belum tentu. Namun, manfaat yang diperoleh dapat dipengaruhi oleh jarak antara vaksinasi dan waktu persalinan. Tubuh memerlukan waktu untuk membentuk antibodi setelah vaksinasi. Antibodi juga memerlukan waktu untuk berpindah melalui plasenta. Karena itu, beberapa pedoman merekomendasikan Tdap pada awal rentang minggu ke-27–36, bukan menunggu hingga hari perkiraan lahir sangat dekat. (2)(5) Bila usia kehamilan sudah lebih dari 36 minggu atau persalinan diperkirakan terjadi dalam waktu dekat: Jangan memutuskan sendiri bahwa vaksin tidak lagi berguna Sampaikan usia kehamilan dan perkiraan persalinan kepada dokter Tanyakan manfaat vaksin bagi ibu meskipun transfer antibodi kepada bayi mungkin tidak optimal Diskusikan strategi perlindungan bayi setelah lahir Pastikan jadwal imunisasi bayi sudah dipahami keluarga Keputusan dapat berbeda menurut vaksin, kondisi ibu, serta riwayat imunisasinya. Vaksin yang Umumnya Dihindari Selama Kehamilan Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya tidak diberikan selama kehamilan karena adanya pertimbangan teoretis terhadap janin. Contohnya antara lain vaksin MMR dan vaksin varisela. (7) Apabila ibu belum memiliki perlindungan terhadap penyakit tersebut, dokter dapat menyarankan vaksinasi setelah persalinan. Vaksinasi pascapersalinan dapat membantu melindungi ibu pada kehamilan berikutnya. Menerima vaksin hidup secara tidak sengaja ketika belum mengetahui sedang hamil tidak otomatis berarti janin akan mengalami masalah. Segera konsultasikan kepada dokter agar kondisi dapat dievaluasi dengan tepat dan ibu tidak mengambil keputusan berdasarkan rasa takut. Efek Samping Vaksin pada Ibu Hamil Efek samping yang paling sering terjadi umumnya ringan dan membaik dalam beberapa hari, seperti: Nyeri atau kemerahan di area suntikan Bengkak ringan Pegal pada lengan Lelah Sakit kepala Nyeri otot Demam ringan Reaksi tersebut menunjukkan sistem imun sedang merespons vaksin, tetapi tingkat efek samping tidak menentukan seberapa baik perlindungan yang terbentuk. Efek samping serius seperti reaksi alergi berat dapat terjadi, tetapi jarang. Fasilitas vaksinasi biasanya meminta penerima vaksin menunggu untuk observasi setelah penyuntikan. Segera cari pertolongan medis apabila muncul: Sesak napas Bengkak pada wajah, bibir, atau tenggorokan Ruam luas yang berkembang cepat Pusing berat atau kehilangan kesadaran Jantung berdebar disertai kelemahan berat Demam tinggi atau keluhan yang terus memburuk Gerakan janin berkurang Kontraksi teratur, perdarahan, atau keluar cairan dari jalan lahir Gejala kehamilan darurat tidak boleh dianggap sebagai efek samping vaksin tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan. Siapa yang Perlu Berkonsultasi Lebih Dulu? Semua ibu hamil sebaiknya berkonsultasi sebelum vaksinasi. Penilaian lebih khusus dibutuhkan apabila ibu: Memiliki riwayat anafilaksis setelah vaksin Alergi berat terhadap komponen vaksin Sedang mengalami demam tinggi atau sakit akut sedang hingga berat Pernah mengalami reaksi serius setelah vaksinasi Memiliki gangguan imun atau penyakit autoimun Sedang menggunakan obat imunosupresif Mengalami kehamilan berisiko tinggi Memiliki riwayat persalinan prematur Tidak mengetahui riwayat imunisasi Baru menerima vaksin lain Diperkirakan melahirkan dalam waktu dekat Sakit ringan tanpa demam tinggi tidak selalu menjadi alasan untuk menunda vaksin, tetapi keputusan tetap harus dibuat oleh tenaga kesehatan. Checklist Konsultasi Vaksin Menjelang Persalinan Bawa atau siapkan informasi berikut saat kontrol kehamilan: Buku KIA dan catatan pemeriksaan kehamilan Kartu atau riwayat vaksin sebelumnya Daftar obat dan suplemen yang sedang digunakan Riwayat alergi Riwayat reaksi setelah vaksin Penyakit penyerta atau komplikasi kehamilan Usia kehamilan dan hari perkiraan lahir Rencana tempat persalinan Vaksin terakhir yang diterima beserta tanggalnya Pertanyaan yang dapat diajukan: Apakah status imunisasi tetanus saya sudah lengkap? Apakah saya memerlukan Td, TT, atau Tdap? Apakah vaksin influenza sesuai untuk saya? Berapa jarak vaksin dengan perkiraan persalinan? Efek samping apa yang perlu dipantau? Apa rencana imunisasi bayi setelah lahir? Persiapan Perlindungan Selain Vaksinasi Vaksin merupakan salah satu bagian dari persiapan kesehatan, bukan satu-satunya langkah. Menjelang persalinan, keluarga juga dapat: Melanjutkan pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal Menyiapkan rencana persalinan dan transportasi darurat Mengenali tanda bahaya kehamilan Membiasakan cuci tangan Membatasi kontak bayi dengan orang yang sedang sakit Memastikan anggota keluarga mengikuti vaksinasi yang dianjurkan Menyiapkan jadwal imunisasi bayi Mendiskusikan inisiasi menyusu dini dan pemberian ASI Orang yang akan sering berinteraksi dengan bayi sebaiknya menjaga kesehatan dan membicarakan kebutuhan vaksinasinya dengan tenaga kesehatan. Pendekatan ini kadang disebut perlindungan lingkungan atau cocooning, tetapi tidak menggantikan vaksinasi ibu dan imunisasi bayi. Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil Trimester 3? Vaksinasi ibu hamil dapat tersedia di puskesmas, rumah sakit, klinik kebidanan dan kandungan, praktik dokter, atau fasilitas vaksinasi resmi. Jenis vaksin yang tersedia dapat berbeda pada setiap fasilitas. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, waktu pemberian, riwayat imunisasi, kondisi kehamilan, dan perkiraan persalinan sudah dipertimbangkan. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia layanan vaksinasi di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 3 merupakan salah satu hal yang dapat ditinjau sebagai bagian dari persiapan menjelang persalinan. Vaksin yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis serta vaksin influenza inaktif dapat dipertimbangkan sesuai riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, usia kehamilan, dan rekomendasi tenaga kesehatan. Pada beberapa vaksin, antibodi yang dibentuk tubuh ibu dapat berpindah melalui plasenta dan membantu memberikan perlindungan awal kepada bayi. Namun, vaksin tidak memberi perlindungan 100% dan tidak menggantikan imunisasi bayi setelah lahir. Karena panduan, jenis vaksin, dan ketersediaannya dapat berubah, bawa buku KIA serta riwayat imunisasi saat kontrol. Dokter atau bidan akan membantu menentukan apakah vaksin masih diperlukan dan kapan waktu pemberian yang paling sesuai. Referensi World Health Organization. (2024). Vaccination before and during pregnancy.https://www.who.int/docs/librariesprovider2/default-document-library/factsheet_pregnancy.pdf(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Tdap vaccination for pregnant women.https://www.cdc.gov/pertussis/vaccines/tdap-vaccination-during-pregnancy.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). World Health Organization. (2024). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). Maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pentingnya pemeriksaan kehamilan di puskesmas.https://ayosehat.kemkes.go.id/pentingnya-pemeriksaan-kehamilan-anc-di-fasilitas-kesehatan(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Pregnancy and vaccines.https://www.cdc.gov/vaccine-safety/about/pregnancy.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-J9MX (08/26)