Vaksin ibu hamil adalah bagian dari upaya pencegahan penyakit selama kehamilan. Beberapa vaksin dapat membantu melindungi ibu dari infeksi yang berisiko lebih berat saat hamil, sekaligus membantu memberikan perlindungan awal bagi bayi melalui antibodi yang ditransfer dari ibu ke janin. (1)(2)
Tidak semua vaksin diberikan saat hamil. Jenis vaksin, waktu pemberian, dan kebutuhan vaksinasi perlu disesuaikan dengan usia kehamilan, riwayat vaksin sebelumnya, kondisi kesehatan ibu, risiko paparan penyakit, serta rekomendasi dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. (3)(4)
Secara umum, vaksin seperti tetanus/toksoid tetanus, influenza inaktif, dan Tdap sering dibahas dalam konteks kehamilan. Beberapa vaksin lain seperti RSV atau COVID-19 dapat dipertimbangkan sesuai rekomendasi terbaru, indikasi, regulasi, dan ketersediaan di fasilitas kesehatan. (2)(5)
Kehamilan adalah masa ketika tubuh ibu mengalami banyak perubahan. Sistem imun, jantung, dan paru-paru bekerja dengan cara yang berbeda untuk mendukung pertumbuhan janin. Perubahan ini dapat membuat sebagian ibu hamil lebih rentan mengalami komplikasi bila terkena infeksi tertentu, seperti influenza atau pertusis. (1)(4)
Karena itu, vaksinasi saat hamil bukan hanya tentang melindungi ibu. Pada beberapa vaksin, antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi dapat diteruskan ke bayi melalui plasenta. Perlindungan ini dapat membantu bayi pada minggu-minggu awal kehidupan, terutama saat bayi belum cukup usia untuk menerima vaksin tertentu. (1)
Inilah alasan vaksin ibu hamil sering disebut sebagai perlindungan ganda: membantu menjaga kesehatan ibu sekaligus memberikan perlindungan awal untuk bayi.
Namun, penting dipahami bahwa vaksin tidak memberi perlindungan 100%. Vaksin membantu mengurangi risiko infeksi, sakit berat, komplikasi, atau rawat inap, tergantung jenis vaksin dan kondisi masing-masing orang. (4)(5)

Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan beberapa manfaat penting.
Bagi ibu, vaksin dapat membantu:
Bagi bayi, vaksinasi ibu dapat membantu:
Perlindungan awal ini penting karena bayi baru lahir belum memiliki sistem imun yang matang. Beberapa vaksin juga belum bisa langsung diberikan pada usia awal kehidupan, sehingga perlindungan dari ibu dapat menjadi salah satu bentuk pencegahan yang membantu.
Baca juga: Kenapa Harus Vaksin? Panduan Manfaat untuk Semua Usia
Tidak semua ibu hamil membutuhkan jenis vaksin yang sama. Dokter atau tenaga kesehatan akan menilai berdasarkan riwayat imunisasi, usia kehamilan, risiko penyakit, dan kondisi kesehatan ibu.
Berikut beberapa vaksin yang sering dibahas dalam konteks kehamilan.
Vaksin tetanus, termasuk TT atau Td sesuai program dan riwayat imunisasi, bertujuan membantu mencegah tetanus pada ibu dan bayi baru lahir. Tetanus neonatal dapat terjadi bila bayi terpapar bakteri tetanus, terutama dalam kondisi persalinan atau perawatan tali pusat yang tidak higienis. (1)(7)
Di Indonesia, imunisasi tetanus pada wanita usia subur dan ibu hamil telah lama menjadi bagian penting dari upaya pencegahan tetanus maternal dan neonatal. Kementerian Kesehatan juga mencatat layanan imunisasi TT bagi wanita usia subur melalui layanan antenatal dan fasilitas kesehatan. (7)
Influenza pada ibu hamil tidak selalu ringan. Pada sebagian ibu, infeksi influenza dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti pneumonia atau rawat inap. Karena itu, vaksin influenza inaktif sering direkomendasikan untuk ibu hamil, terutama bila hamil saat musim influenza atau memiliki risiko paparan tinggi. (1)(4)
WHO menyebutkan bahwa vaksin influenza inaktif telah digunakan pada ibu hamil selama puluhan tahun tanpa bukti adanya efek merugikan yang berkaitan pada ibu atau bayi baru lahir. Vaksin influenza hidup yang dilemahkan tidak direkomendasikan selama kehamilan. (1)
Baca juga: Vaksin Influenza Saat Hamil: Rekomendasi untuk Ibu & Bayi
Tdap adalah vaksin untuk membantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis atau batuk rejan. Pertusis dapat berbahaya bagi bayi kecil, terutama sebelum bayi cukup usia untuk mendapatkan vaksin pertusis sendiri. (1)(6)
WHO menjelaskan bahwa vaksin Tdap saat hamil dapat membantu membentuk antibodi pada ibu yang kemudian ditransfer ke bayi melalui plasenta. CDC merekomendasikan Tdap pada usia kehamilan 27–36 minggu di setiap kehamilan, sementara WHO menyebut pemberian pada trimester kedua atau ketiga dan sebaiknya minimal 15 hari sebelum akhir kehamilan. (1)(6)
Di Indonesia, POGI juga mencantumkan advokasi vaksinasi TT/Td, influenza, Tdap, dan COVID-19 dalam program vaksinasi ibu hamil. (2)
Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Influenza & Tdap
RSV atau respiratory syncytial virus dapat menyebabkan infeksi saluran napas, terutama pada bayi. Dalam beberapa tahun terakhir, imunisasi maternal untuk RSV mulai banyak dibahas secara global karena bertujuan membantu melindungi bayi dari RSV berat pada bulan-bulan pertama kehidupan. (5)(8)
POGI telah menerbitkan konsensus nasional tentang RSV pada ibu hamil pada 2025, termasuk pembahasan mengenai dampak RSV pada ibu hamil, janin, bayi baru lahir, strategi imunisasi maternal, keamanan, efikasi, dan pertimbangan implementasi di Indonesia. (8)
Namun, vaksin RSV untuk ibu hamil perlu mengikuti rekomendasi terbaru, indikasi, izin edar, dan ketersediaan di fasilitas kesehatan. Karena itu, ibu hamil sebaiknya membahasnya langsung dengan dokter kandungan atau tenaga kesehatan.
COVID-19 pada kehamilan pernah menjadi perhatian besar karena dapat meningkatkan risiko sakit berat pada sebagian ibu hamil. Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan varian, kebijakan kesehatan, status risiko, dan panduan otoritas kesehatan. (2)(5)
Karena kebijakan vaksin COVID-19 dapat berbeda antarnegara dan dapat diperbarui dari waktu ke waktu, ibu hamil sebaiknya mengikuti rekomendasi dokter, fasilitas kesehatan, dan otoritas kesehatan resmi yang berlaku.
Beberapa vaksin tidak direkomendasikan untuk diberikan saat hamil, terutama vaksin hidup tertentu, kecuali ada pertimbangan khusus dari dokter. Contohnya adalah MMR dan varisela yang biasanya direncanakan sebelum hamil atau setelah melahirkan bila diperlukan. (1)(9)
Vaksin HPV juga umumnya tidak dianjurkan untuk dimulai saat hamil. POGI menyebutkan bahwa bila seorang perempuan diketahui hamil setelah memulai rangkaian vaksin HPV, dosis berikutnya sebaiknya ditunda sampai setelah persalinan dan tidak perlu mengulang dosis dari awal. (9)
Jadwal vaksin ibu hamil tidak bisa disamaratakan untuk semua orang. Beberapa vaksin diberikan berdasarkan usia kehamilan, sebagian berdasarkan musim penyakit, sebagian lagi berdasarkan riwayat imunisasi atau faktor risiko.
Sebagai gambaran umum:
| Jenis Vaksin | Waktu Umum yang Sering Dibahas | Catatan Penting |
| TT/Td | Sesuai riwayat imunisasi dan penilaian tenaga kesehatan | Penting untuk pencegahan tetanus ibu dan bayi |
| Influenza inaktif | Dapat diberikan pada trimester 1, 2, atau 3 selama kehamilan | Jadwal & Jenis vaksin perlu dipastikan dengan dokter/ Bidan disesuaikan dengan kondisi kehamilan |
| Tdap | Umumnya trimester 2 atau 3; CDC menyebut 27–36 minggu | Diberikan untuk membantu perlindungan bayi dari pertusis |
| RSV | Tergantung rekomendasi terbaru, indikasi, musim, dan ketersediaan | Perlu konsultasi dokter kandungan |
| COVID-19 | Mengikuti rekomendasi terbaru dan kondisi risiko | Perlu mengikuti panduan otoritas kesehatan dan dokter |
| HPV/MMR/Varisela | Umumnya ditunda saat hamil | Bisa direncanakan sebelum hamil atau setelah persalinan bila sesuai |
Tabel ini bersifat edukatif, bukan pengganti rekomendasi medis personal. Jadwal terbaik tetap perlu diputuskan bersama dokter, bidan, atau tenaga kesehatan.
Pertanyaan tentang keamanan vaksin saat hamil sangat wajar. Banyak ibu ingin memastikan bahwa langkah pencegahan yang dilakukan tidak membahayakan bayi.
Secara umum, vaksin inaktif dan vaksin berbasis toksoid tidak mengandung virus hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. WHO menyebut imunisasi dengan vaksin inaktif atau toksoid selama kehamilan tidak diharapkan berkaitan dengan peningkatan risiko pada janin. (10)
Kementerian Kesehatan RI juga menjelaskan bahwa vaksin dalam program imunisasi nasional telah diakui WHO dan lulus uji BPOM. Reaksi ringan seperti demam ringan, ruam, bengkak ringan, atau nyeri di tempat suntikan dapat terjadi dan umumnya membaik dalam 2–3 hari, sementara KIPI serius sangat jarang terjadi. (3)
Namun, keamanan tetap perlu dilihat sesuai jenis vaksin dan kondisi ibu. Itulah mengapa ibu hamil sebaiknya tidak memutuskan sendiri tanpa berkonsultasi, terutama bila memiliki riwayat alergi berat, penyakit kronis, gangguan imun, atau pernah mengalami reaksi berat setelah vaksin sebelumnya.
Efek samping vaksin pada ibu hamil umumnya mirip dengan orang dewasa lainnya. Keluhan yang dapat muncul antara lain:
Keluhan ringan biasanya membaik dalam beberapa hari. Ibu hamil dapat bertanya kepada dokter atau bidan mengenai cara aman mengatasi keluhan setelah vaksin, termasuk apakah boleh menggunakan obat tertentu.
Segera cari bantuan medis bila muncul tanda reaksi berat seperti:
Semua ibu hamil sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau bidan sebelum vaksinasi. Konsultasi menjadi lebih penting bila ibu memiliki kondisi berikut:
Konsultasi membantu tenaga kesehatan menentukan vaksin mana yang diperlukan, kapan waktu terbaik, dan apakah ada hal khusus yang perlu diperhatikan.
Agar vaksinasi lebih aman dan nyaman, ibu hamil dapat mempersiapkan beberapa hal berikut:
Langkah sederhana ini membantu dokter, bidan, atau tenaga kesehatan memberikan rekomendasi yang lebih sesuai.
Vaksin ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan imunisasi dan pemeriksaan kehamilan, seperti puskesmas, klinik, rumah sakit, praktik dokter kandungan, atau fasilitas vaksinasi resmi.
Pastikan ibu hamil sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan agar jenis dan jadwal vaksin sesuai dengan usia kehamilan, kondisi kesehatan, serta riwayat vaksin sebelumnya.
Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, Puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda.
Cari Klinik Vaksinasi Terdekat.
Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan.
Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.
Vaksin ibu hamil adalah bagian penting dari pencegahan penyakit selama kehamilan. Pada beberapa kondisi, vaksin dapat membantu melindungi ibu dari infeksi yang berisiko lebih berat sekaligus memberikan perlindungan awal bagi bayi melalui antibodi ibu.
Beberapa vaksin seperti TT/Td, influenza inaktif, dan Tdap sering dibahas dalam konteks kehamilan. Vaksin lain seperti RSV atau COVID-19 dapat dipertimbangkan sesuai rekomendasi terbaru, indikasi, regulasi, risiko, dan ketersediaan. Sementara itu, beberapa vaksin hidup atau vaksin tertentu seperti MMR, varisela, dan HPV umumnya direncanakan sebelum hamil atau setelah persalinan bila diperlukan.
Yang paling penting, ibu hamil tidak perlu merasa takut, tetapi juga tidak perlu menebak-nebak sendiri. Diskusikan vaksinasi dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan agar jadwal dan jenis vaksin sesuai dengan kondisi ibu dan bayi.
ID-VAX-2026-07-LVH9 (07/26)

Fase kehamilan lebih tenang dan perlindungan bayi dapat dimulai sejak dalam kandungan.

Vaksin ibu hamil trimester 1 dapat diberikan dalam kondisi tertentu, tetapi jenis dan waktunya harus disesuaikan dengan riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko tertular penyakit, dan rekomendasi dokter. Vaksin influenza yang tidak mengandung virus hidup, misalnya, dapat diberikan pada trimester mana pun selama kehamilan. (1)(2) Namun, tidak semua vaksin perlu diberikan pada trimester pertama. Vaksin Tdap umumnya dijadwalkan pada usia kehamilan 27–36 minggu agar transfer antibodi kepada bayi berlangsung optimal. Sementara itu, vaksin hidup seperti MMR dan varisela tidak diberikan selama kehamilan dan biasanya ditunda sampai setelah persalinan. (3)(4) Karena kebutuhan setiap ibu berbeda, sebaiknya jangan menentukan jenis atau jadwal vaksin hanya berdasarkan usia kehamilan. Bawalah catatan vaksinasi saat melakukan pemeriksaan antenatal agar dokter atau bidan dapat menilai vaksin yang sudah lengkap, perlu dilanjutkan, dijadwalkan kemudian, atau ditunda. Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, risiko pajanan penyakit, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apakah Ibu Hamil Trimester 1 Boleh Mendapatkan Vaksin? Ibu hamil trimester pertama boleh mendapatkan vaksin tertentu apabila manfaatnya dinilai lebih besar daripada risikonya dan vaksin tersebut sesuai untuk digunakan selama kehamilan. Trimester pertama berlangsung sejak awal kehamilan hingga sekitar minggu ke-13. Pada masa ini, organ-organ janin mulai terbentuk sehingga banyak ibu merasa khawatir terhadap obat, makanan, maupun tindakan medis, termasuk vaksinasi. Kekhawatiran tersebut dapat dipahami. Namun, keputusan vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh trimester. Dokter juga akan mempertimbangkan: apakah vaksin mengandung mikroorganisme hidup atau tidak; riwayat vaksinasi sebelum hamil; kondisi kesehatan ibu; riwayat alergi berat; pekerjaan dan lingkungan tempat tinggal; risiko bepergian atau terpapar penyakit; kemungkinan dampak penyakit terhadap ibu dan janin; rekomendasi kesehatan yang berlaku. Vaksin inaktif atau vaksin yang tidak menggunakan virus atau bakteri hidup umumnya memiliki pertimbangan berbeda dari vaksin hidup. Karena itu, istilah “vaksin aman untuk ibu hamil” tetap perlu dibaca berdasarkan jenis vaksin, indikasi, dan kondisi masing-masing ibu. Mengapa Vaksinasi Penting Selama Kehamilan? Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut merupakan bagian normal dari kehamilan, tetapi dapat membuat ibu lebih rentan mengalami penyakit tertentu atau komplikasi yang lebih berat. Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan dua lapis manfaat. 1. Membantu melindungi kesehatan ibu Vaksin membantu sistem kekebalan mengenali penyebab penyakit tertentu. Perlindungan ini tidak selalu mencegah infeksi sepenuhnya, tetapi dapat membantu mengurangi risiko sakit berat, komplikasi, atau perawatan di rumah sakit. 2. Membantu memberikan antibodi kepada bayi Sebagian antibodi yang terbentuk pada tubuh ibu dapat berpindah melalui plasenta kepada janin. Antibodi tersebut dapat membantu memberikan perlindungan sementara kepada bayi pada awal kehidupannya, sebelum bayi cukup umur untuk menerima vaksin tertentu. (3)(5) Manfaat vaksin tetap tidak berarti perlindungan 100%. Ibu masih perlu menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, menjaga pola hidup sehat, serta mengikuti pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanan Jenis Vaksin yang Dapat Dipertimbangkan pada Trimester Pertama Tidak ada satu daftar vaksin trimester pertama yang berlaku sama untuk semua ibu. Berikut gambaran umum yang dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan dokter. Jenis vaksinPertimbangan pada trimester pertamaCatatan pentingInfluenza inaktifDapat diberikan pada trimester mana punGunakan jenis vaksin yang direkomendasikan untuk kehamilanTd atau tetanus-difteriDapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat imunisasi dan program pelayanan ibu hamilJadwal ditentukan tenaga kesehatanHepatitis BDapat dipertimbangkan bila memiliki indikasi atau risiko penularanMemerlukan penilaian faktor risikoCOVID-19Bergantung pada rekomendasi terbaru, kondisi ibu, dan penilaian dokterKebijakan dan rekomendasi dapat berubahVaksin lain karena kondisi khususHanya berdasarkan indikasi medis atau risiko pajananMisalnya karena pekerjaan atau perjalanan tertentu Vaksin influenza inaktif Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama maupun trimester lainnya. Vaksin ini tidak mengandung virus influenza hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. Influenza pada kehamilan tidak selalu hanya menimbulkan gejala ringan. Pada sebagian ibu, penyakit ini dapat meningkatkan risiko komplikasi saluran pernapasan dan perawatan di rumah sakit. Karena itu, vaksin influenza menjadi salah satu vaksin yang sering dibahas dalam pelayanan kehamilan. (1)(2) Pemberian vaksin perlu memperhatikan jenis vaksin yang digunakan. Vaksin influenza hidup yang diberikan melalui semprotan hidung tidak dianjurkan selama kehamilan. (4) Vaksin tetanus dan difteri Di Indonesia, perlindungan terhadap tetanus bagi perempuan usia subur dan ibu hamil merupakan bagian penting dari upaya mencegah tetanus maternal dan tetanus pada bayi baru lahir. Riwayat imunisasi sebelumnya perlu diperiksa untuk menentukan apakah ibu membutuhkan dosis tambahan dan kapan dosis tersebut diberikan. (6) Tenaga kesehatan dapat menggunakan riwayat vaksinasi, catatan pelayanan antenatal, dan pedoman yang berlaku untuk menentukan jadwal vaksin Td atau vaksin yang mengandung komponen tetanus. Perlu dibedakan antara vaksin Td atau tetanus-difteri dan Tdap, yang juga memberikan perlindungan terhadap pertusis atau batuk rejan. Dalam sejumlah pedoman internasional, Tdap diberikan pada setiap kehamilan dan biasanya dijadwalkan pada minggu ke-27 hingga ke-36, bukan secara rutin pada trimester pertama. (3)(4) Vaksin hepatitis B Vaksin hepatitis B bukan vaksin hidup. Vaksin ini dapat dipertimbangkan selama kehamilan apabila ibu belum memiliki perlindungan dan mempunyai faktor risiko terpapar hepatitis B. Faktor risiko dapat mencakup: tinggal serumah atau memiliki pasangan dengan hepatitis B; paparan darah atau cairan tubuh melalui pekerjaan; menjalani tindakan medis tertentu; memiliki kondisi lain yang meningkatkan risiko infeksi; bepergian ke wilayah dengan risiko penularan yang lebih tinggi. Dokter mungkin menyarankan pemeriksaan hepatitis B sebagai bagian dari pemeriksaan kehamilan. Hasil pemeriksaan tersebut membantu menentukan perlindungan yang dibutuhkan ibu dan langkah pencegahan penularan kepada bayi. Vaksin COVID-19 Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan bukti ilmiah, varian virus, kebijakan otoritas kesehatan, kondisi kesehatan ibu, serta ketersediaan vaksin. Sejumlah organisasi profesi kebidanan masih memasukkan vaksinasi COVID-19 sebagai bagian dari perlindungan yang dapat dipertimbangkan selama kehamilan. Namun, keputusan individual sebaiknya dibuat bersama dokter dengan memperhatikan riwayat vaksin, infeksi sebelumnya, komorbid, dan tingkat risiko pajanan. (5)(7) Ikuti panduan terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, BPOM, dokter kandungan, atau fasilitas vaksinasi resmi sebelum menerima vaksin. Vaksin yang Biasanya Tidak Diberikan pada Trimester Pertama Sebagian vaksin bukan dilarang sepanjang kehamilan, tetapi dijadwalkan pada usia kehamilan yang berbeda. Tdap biasanya diberikan pada trimester ketiga Tdap membantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis. Pemberian pada usia kehamilan 27–36 minggu bertujuan mengoptimalkan pembentukan dan perpindahan antibodi pertusis dari ibu kepada bayi. (3)(4) Bayi baru lahir belum dapat langsung menyelesaikan seri vaksinnya sendiri. Antibodi dari ibu dapat membantu memberikan perlindungan awal selama masa rentan tersebut. Dokter dapat mempertimbangkan waktu berbeda dalam kondisi tertentu, misalnya terdapat luka yang membutuhkan penanganan tetanus atau risiko khusus lainnya. Vaksin RSV mengikuti usia kehamilan dan kebijakan setempat Beberapa negara telah merekomendasikan vaksin RSV maternal pada rentang usia kehamilan tertentu. Namun, rekomendasi, registrasi produk, ketersediaan, dan penerapannya dapat berbeda antarnegara. Karena itu, vaksin RSV tidak dapat dianggap sebagai vaksin rutin trimester pertama. Ibu perlu menanyakan ketersediaan dan rekomendasi terkini kepada dokter atau fasilitas kesehatan resmi. Vaksin yang Perlu Ditunda Selama Kehamilan Vaksin hidup umumnya tidak diberikan kepada ibu hamil karena mengandung mikroorganisme hidup yang telah dilemahkan. Walaupun risiko terhadap janin sering kali bersifat teoretis, vaksin ini biasanya ditunda sebagai langkah kehati-hatian. Jenis vaksin yang umumnya ditunda meliputi: MMR atau campak, gondongan, dan rubela; varisela atau cacar air; vaksin influenza hidup melalui semprotan hidung; vaksin hidup lain yang tidak memiliki indikasi khusus selama kehamilan. Vaksin HPV juga tidak direkomendasikan untuk dilanjutkan selama kehamilan. Apabila seri vaksin belum selesai, dosis berikutnya dapat dilanjutkan setelah kehamilan tanpa perlu mengulang seri dari awal. (4) Vaksin tertentu untuk perjalanan, seperti demam kuning, memerlukan penilaian khusus. Dokter akan membandingkan risiko vaksin dengan risiko tertular penyakit di negara tujuan. Bagaimana Jika Vaksin Diberikan Sebelum Mengetahui Sedang Hamil? Tidak sedikit perempuan menerima vaksin ketika belum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Dalam situasi ini, jangan langsung panik atau mengambil kesimpulan bahwa kehamilan pasti mengalami masalah. Langkah yang sebaiknya dilakukan adalah: Catat nama vaksin dan tanggal pemberiannya. Simpan kartu atau bukti vaksinasi. Sampaikan kepada dokter kandungan atau bidan. Ikuti pemeriksaan kehamilan sesuai rekomendasi. Jangan menerima dosis berikutnya sebelum jadwal dievaluasi. Paparan vaksin tertentu secara tidak sengaja tidak otomatis menjadi alasan untuk mengakhiri kehamilan. Penilaian harus dilakukan berdasarkan jenis vaksin, usia kehamilan, kondisi ibu, dan informasi medis yang tersedia. (4) Efek Samping Vaksin pada Ibu Hamil Efek samping vaksin pada ibu hamil umumnya serupa dengan efek yang dialami orang dewasa lainnya. Efek samping ringan dapat berupa: nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan; demam ringan; pegal; sakit kepala; rasa lelah; mual ringan. Keluhan tersebut biasanya membaik dalam satu hingga beberapa hari. Gunakan obat penurun demam atau pereda nyeri hanya sesuai arahan dokter, terutama selama kehamilan. Efek samping serius seperti reaksi alergi berat dapat terjadi, tetapi jarang. Program imunisasi dan fasilitas kesehatan memiliki prosedur observasi serta penanganan kejadian ikutan pascaimunisasi. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa keluhan ringan seperti demam, bengkak, dan nyeri dapat terjadi setelah imunisasi, sedangkan kejadian serius sangat jarang. (8) Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan Medis? Segera hubungi fasilitas kesehatan apabila setelah vaksinasi muncul: sesak napas; pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan; bentol atau ruam luas; pingsan atau penurunan kesadaran; demam tinggi atau tidak membaik; muntah terus-menerus; nyeri berat; perdarahan dari vagina; kram atau nyeri perut yang mengkhawatirkan; keluhan kehamilan lain yang terasa tidak biasa. Gejala tersebut belum tentu disebabkan oleh vaksin, tetapi perlu dinilai tenaga kesehatan agar penyebab dan penanganannya dapat ditentukan. Checklist Sebelum Konsultasi Vaksin Agar konsultasi lebih efektif, siapkan informasi berikut: kartu vaksinasi atau foto catatan vaksin; usia kehamilan; hasil pemeriksaan kehamilan terakhir; riwayat alergi, terutama alergi berat; penyakit kronis atau komorbid; obat dan suplemen yang sedang digunakan; riwayat reaksi setelah vaksin sebelumnya; pekerjaan dan kemungkinan paparan penyakit; rencana perjalanan; riwayat penyakit menular atau kontak erat. Jangan khawatir apabila kartu vaksinasi tidak lengkap. Dokter tetap dapat membantu menilai kebutuhan berdasarkan wawancara medis dan pemeriksaan yang diperlukan. Baca juga: Panduan Vaksinasi Keluarga Indonesia Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil? Vaksin untuk ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan pemeriksaan kehamilan dan vaksinasi, seperti: puskesmas; klinik; rumah sakit; praktik dokter kandungan; praktik bidan; fasilitas vaksinasi resmi. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, jadwal, kondisi kesehatan, riwayat alergi, dan usia kehamilan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 1 dapat diberikan apabila jenis vaksinnya sesuai dan terdapat manfaat yang jelas bagi ibu maupun kehamilan. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester mana pun. Vaksin hepatitis B atau tetanus dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat imunisasi dan faktor risiko. Tidak semua vaksin harus diberikan pada awal kehamilan. Tdap umumnya dijadwalkan pada usia kehamilan 27–36 minggu, sedangkan vaksin hidup seperti MMR dan varisela ditunda sampai setelah kehamilan. Keputusan terbaik bukan sekadar memilih antara “vaksin” atau “tidak vaksin”, melainkan menentukan vaksin yang tepat, pada waktu yang tepat, berdasarkan kondisi masing-masing ibu. Konsultasikan sejak pemeriksaan kehamilan awal dan bawalah catatan vaksin agar dokter atau bidan dapat menyusun rekomendasi yang aman dan sesuai. Referensi American College of Obstetricians and Gynecologists. (2025). Influenza in pregnancy: Prevention and treatment.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/practice-advisory/articles/2025/08/influenza-in-pregnancy-prevention-and-treatment(Dikutip pada 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2017). Tetanus, diphtheria, and pertussis vaccination.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2017/09/update-on-immunization-and-pregnancy-tetanus-diphtheria-and-pertussis-vaccination(Dikutip pada 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). 2026 maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(Dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Strategi komunikasi nasional imunisasi 2022–2025.https://www.kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/16653827576343b965228c40.04885132.pdf(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (n.d.). COVID-19 vaccines and pregnancy: Conversation guide for clinicians.https://www.acog.org/programs/immunization-infectious-disease-public-health/tools-and-resources/covid-19-vaccines-and-pregnancy-conversation-guide-for-clinicians(Dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Seputar imunisasi.https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/seputar-imunisasi(Dikutip pada 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-NEHV (08/26)

Pernah merasakan gejala batuk, pilek, demam, serta tubuh yang terasa lemas? Banyak orang menganggap gejala tersebut sebagai pilek (common cold), padahal bisa jadi itu influenza A. Akan tetapi, tahukah bila keduanya memiliki perbedaan yang signifikan? Yuk, simak perbedaan influenza A dan common cold berikut ini! Common cold atau sering dikenal dengan selesma merupakan gangguan saluran pernapasan atas yang biasanya disebabkan oleh infeksi Rhinovirus. Di negara-negara tropis, seperti Indonesia, flu musiman dapat terjadi sepanjang tahun. Penyakit ini mudah menular melalui transmisi udara dan percikan (droplet) dari penderitanya dengan masa inkubasi selama 2 – 3 hari. Dalam periode tersebut, penderita akan mulai merasakan gejala seperti (1): Demam ringan Hidung berair dan tersumbat Batuk Bersin-bersin Tenggorokan terasa tidak nyaman Sakit kepala Walaupun sering dianggap sepele, kondisi tersebut dapat memicu keparahan akibat komorbid yang dimiliki oleh penderita antara lain (1): Asma Bronkitis Bronkiolitis Pneumonia Penyakit jantung koroner (PJK), dan lain sebagainya Lalu, apa sih yang membedakan selesma (common cold) dengan influenza A? Pada dasarnya, virus penyebab common cold dan influenza A berbeda. Namun, virus influenza A bukan virus yang jarang ditemukan. Subtipe virus ini justru sering bersirkulasi di masyarakat, seperti H1N1 dan H3N2. Akan tetapi, terdapat salah satu subtipe yang berasal dari hewan dan dapat menginfeksi manusia, yaitu H5N1 (Flu Burung). Virus influenza A mengandung dua protein kunci, yaitu Hemagglutinin (H) dan Neuraminidase (N) yang berperan dalam menentukan jalur masuk virus ke dalam sel tubuh dan cara virus menginfeksi sel lainnya. Jenis virus ini memiliki kemampuan untuk bermutasi setiap tahunnya, sehingga dapat menembus kekebalan tubuh manusia sebagai inangnya (host) (5). Menurut data WHO, angka kematian akibat influenza A mencapai 650.000 jiwa setiap tahunnya (3). Virus influenza A memiliki kemampuan mutasi titik secara akumulatif dalam genom virus, sehingga menghasilkan adanya perubahan varian pada virus. Proses ini disebut dengan antigenic drift. Hal tersebut memungkinkan terjadinya infeksi ulang pada orang yang sudah pernah terinfeksi (5). Gejala Influenza A yang Perlu Diwaspadai: Demam tinggi mendadak (38°C – 40°C) Nyeri pada beberapa bagian otot, utamanya punggung, paha, dan lengan Sakit kepala Kelelahan tubuh Batuk kering dan nyeri tenggorokan Hidung berair atau tersumbat Hal inilah yang membuat virus influenza A terasa lebih parah dibandingkan common cold. Selain itu, virus ini juga memiliki kemampuan antigenic shift yang memungkinkan adanya perubahan besar dalam waktu singkat pada komponen virus. Mekanisme ini terjadi akibat bergabungnya materi genetik dari dua virus yang berbeda. Hasil dari proses inilah yang kerap menyebabkan pandemi, seperti pandemi flu tahun 1918 (H1N1) dan pandemi flu babi tahun 2009 (H1N1pdm09) (5) (6). Update Kasus Influenza A di Indonesia Di Indonesia, terdapat 56% kasus positif influenza A dari 265 spesimen yang diperiksa Kemenkes hingga akhir September 2026. Walaupun terdapat peningkatan kasus, namun pola ini masih mengikuti pola musiman di Indonesia. Peningkatan kasus ini dapat dipengaruhi oleh pergantian musim, mobilitas yang meningkat, dan penularan dari subtipe virus yang sedang banyak bersirkulasi (6). Namun, sebagian besar kasus dari influenza dapat sembuh tanpa membutuhkan rawat inap. Penderita biasanya akan disarankan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut (6): Istirahat total Konsumsi makanan dengan gizi seimbang Minum air putih yang cukup Gunakan masker apabila bepergian/kontak langsung dengan orang banyak Berikut Langkah Preventif Sederhana yang Dapat Dilakukan: Hindari kontak langsung dengan penderita untuk meminimalisasi penularan melalui percikan (droplets) Cuci tangan secara berkala dengan sabun dan air mengalir Menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) Hindari menyentuh area mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan Menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup hidung dan mulut dengan tisu atau lipatan siku Melakukan vaksinasi influenza 1 tahun sekali Baca juga: Alasan Vaksinasi Flu Perlu Diulang Setiap Tahun Sudah Pernah Kena Influenza A, Masih Perlu Vaksin? Ya. Walaupun sistem imun orang yang pernah terkena influenza sudah membentuk antibodi, virus influenza terus bermutasi setiap tahun. Vaksin influenza memberikan perlindungan optimal hingga durasi 12 bulan dengan efektivitas 50 – 60% (7). Oleh karena itu, tubuh membutuhkan pembaruan dosis vaksin setiap tahunnya. Vaksinasi influenza mencegah terjadinya komplikasi, utamanya pada kelompok rentan, seperti lansia usia lebih dari 65 tahun, anak di bawah usia 5 tahun, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan penderita obesitas (6). Vaksinasi dilakukan setelah pasien sembuh total dari influenza dan belum mendapatkan vaksin influenza tahunan. Rekomendasi WHO: Vaksin Influenza Trivalen World Health Organization merekomendasikan adanya transisi dari penggunaan vaksin influenza kuadrivalen (QIV) menjadi vaksin influenza trivalen (TIV). Hal ini ditetapkan karena tidak ditemukannya virus B/Yamagata di sirkulasi pada beberapa tahun terakhir, sehingga peralihan tersebut disarankan sebagai perlindungan dari strain yang relevan (8) (9). Selain itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga merekomendasikan orang tua untuk rutin memberikan vaksinasi influenza kepada anak mulai usia 6 bulan (10). Pada anak 6 bulan – 8 tahun yang baru pertama kali divaksinasi, dosis kedua dapat diberikan dengan jarak minimal 4 – 6 minggu (10). Vaksinasi influenza sejak dini mencegah terjadinya influenza pada anak dan membentuk titer antibodi terhadap penyakit tersebut. Di Mana Vaksinasi Dapat Dilakukan? Vaksinasi influenza dapat diperoleh melalui fasilitas kesehatan setempat, seperti klinik dan rumah sakit. Silakan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter, perawat, atau bidan terdekat sebelum pelaksanaan vaksinasi. Lindungi Keluarga dengan Vaksinasi Segera Influenza A bisa menyerang siapa saja, dan gejalanya jauh lebih berat daripada pilek biasa. Jangan tunggu sampai sakit! Lindungi diri dan keluarga dengan vaksin influenza setiap tahun, terutama untuk anak usia 6 bulan ke atas, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. REFERENSI: Centers for Disease Control and Prevention. (2026). About the Common Cold. https://www.cdc.gov/common-cold/about/index.html (dikutip pada tanggal 06 Oktober 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Tanya Jawab (FAQ) Seputar Influenza. https://ayosehat.kemkes.go.id/tanya-jawab-faq-seputar-influenza (dikutip pada tanggal 06 Oktober 2026). World Health Organization. (2025). Influenza (Seasonal). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal). (dikutip pada tanggal 07 Oktober 2026). The University of Chicago. (2025). Where Does the Flu Come From Every Year?. https://www.uchicagomedicine.org/forefront/biological-sciences-articles/where-does-the-flu-come-from-every-year (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kemenkes Labkesmas Makassar 1. (2025). Lebih dari Sekadar Flu Biasa yang Perlu Diwaspadai.https://bblabkesmasmakassar.go.id/influenza-a-gejala-penularan-komplikasi-pencegahan/ (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). FAQ Influenza: Informasi, Penanganan, dan Pencegahan. https://www.kemkes.go.id/id/faq-influenza-gejala-penanganan-pencegahan (dikutip pada 07 Oktober 2026). Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia. (2026). Mengenal Vaksinasi Influenza dan Manfaatnya. https://peralmuni.org/mengenal-vaksinasi-influenza-dan-manfaatnya/ (dikutip pada 07 Oktober 2026). World Health Organization. (2025). Recommended Composition of Influenza Virus Vaccines For Use in The 2025 – 2026 Northern Hemisphere Influenza Season. https://www.who.int/publications/m/item/recommended-composition-of-influenza-virus-vaccines-for-use-in-the-2025-2026-nh-influenza-season (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kalventis. (2026). Kalventis Hadirkan Vaksin Influenza Trivalent Sesuai Rekomendasi WHO.https://www.kalventis.co.id/post/kalventis-hadirkan-vaksin-influenza-trivalent-sesuai-rekomendasi-who (dikutip pada 07 Oktober 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2015). Melengkapi/Mengejar Imunisasi (Bagian III). https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-iii (dikutip pada 07 Oktober 2026). ID-GEN-2026-10-LBKE (10/26)
Penularan HFMD pada anak terutama dapat terjadi melalui empat jalur, yaitu percikan dan cairan saluran pernapasan, kontak dengan tinja, cairan dari lepuhan kulit, serta benda atau permukaan yang telah terkontaminasi virus. Penularan lebih mudah terjadi ketika anak bermain atau berinteraksi dekat di rumah, sekolah, daycare, dan tempat bermain. HFMD atau Hand, Foot, and Mouth Disease adalah penyakit infeksi virus yang paling sering menyerang anak kecil, terutama anak berusia di bawah lima tahun. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan dapat membaik, tetapi luka di mulut dapat membuat anak sulit minum hingga berisiko mengalami dehidrasi. (1)(2) Mengetahui jalur penularannya dapat membantu orang tua melakukan pencegahan secara lebih tepat tanpa harus membatasi seluruh aktivitas anak secara berlebihan. Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan. Pemeriksaan, penanganan, serta rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia anak, gejala, kondisi kesehatan, riwayat alergi, riwayat vaksin sebelumnya, dan pertimbangan klinis dokter. Segera konsultasikan kondisi anak apabila anak sulit minum, tampak sangat lemas, mengalami penurunan kesadaran, kejang, sesak, demam menetap, atau menunjukkan tanda dehidrasi. Apa Itu HFMD pada Anak? HFMD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kelompok virus enterovirus. Virus yang sering dikaitkan dengan penyakit ini antara lain Coxsackievirus A16, Coxsackievirus A6, dan Enterovirus 71 atau EV71. (1)(3) Gejala HFMD umumnya meliputi: Demam. Nyeri tenggorokan. Nafsu makan berkurang. Sariawan atau luka yang terasa nyeri di dalam mulut. Ruam atau lepuhan kecil di telapak tangan dan telapak kaki. Ruam di bokong, lengan, tungkai, atau sekitar area genital pada sebagian anak. HFMD pada manusia berbeda dengan penyakit mulut dan kuku pada hewan. Penyebabnya berbeda dan HFMD tidak ditularkan dari hewan ternak kepada manusia. (3)(4) Penyakit ini lebih sering ditemukan pada bayi dan anak kecil, tetapi anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa juga dapat terinfeksi. Bahkan, seseorang yang terinfeksi dapat tidak menunjukkan gejala tetapi tetap berpotensi membawa dan menyebarkan virus. (1)(2) Mengapa HFMD Mudah Menular di Antara Anak? Anak kecil sering menyentuh mainan, memasukkan tangan ke mulut, berbagi benda, atau bermain dengan jarak yang sangat dekat. Kebiasaan tersebut merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang, tetapi juga mempermudah perpindahan virus. Tempat dengan interaksi anak yang cukup intensif dapat menjadi lokasi penularan, seperti: Rumah dengan beberapa anak. PAUD, taman kanak-kanak, dan sekolah. Daycare atau tempat penitipan anak. Playground dan ruang bermain bersama. Tempat makan atau kegiatan keluarga. Fasilitas umum dengan banyak benda yang disentuh bersama. Seseorang yang terkena HFMD biasanya paling mudah menularkan penyakit pada minggu pertama. Namun, virus masih dapat ditemukan dalam tubuh, terutama pada tinja, selama beberapa waktu setelah gejalanya membaik. Karena itu, kebiasaan mencuci tangan tetap perlu dilanjutkan meskipun anak sudah terlihat sehat. (4)(5) Waspadai 4 Cara Penularan HFMD pada Anak 1. Melalui Percikan dan Cairan Saluran Pernapasan Virus penyebab HFMD dapat ditemukan dalam air liur, lendir hidung, dan cairan tenggorokan orang yang terinfeksi. Percikan kecil dapat keluar ketika anak batuk, bersin, berbicara, atau menangis dari jarak dekat. (1)(3) Penularan dapat terjadi ketika anak: Berbicara atau bermain sangat dekat dengan anak yang sedang sakit. Terkena percikan batuk atau bersin. Berpelukan atau berciuman dengan orang yang terinfeksi. Berbagi gelas, sendok, botol minum, atau alat makan. Menggunakan saputangan atau handuk yang sama. HFMD memang dapat menyebar melalui percikan pernapasan. Namun, penyebutannya sebagai “penularan melalui udara” perlu dipahami secara hati-hati. Penularan terutama berkaitan dengan percikan dan kontak dekat, bukan berarti virus selalu menyebar jauh melalui udara seperti asap. Cara mengurangi risikonya: Ajarkan anak menutup batuk dan bersin dengan siku bagian dalam. Buang tisu bekas segera ke tempat sampah tertutup. Jangan berbagi alat makan dan botol minum. Kurangi kontak dekat dengan anak yang sedang mengalami gejala. Bersihkan tangan setelah menyeka hidung atau air liur anak. 2. Melalui Tinja dan Tangan yang Terkontaminasi Virus penyebab HFMD dapat keluar bersama tinja orang yang terinfeksi. Penularan ini sering disebut jalur fekal-oral, yaitu ketika partikel virus dari tinja berpindah ke tangan, benda, makanan, atau mulut orang lain. (2)(4) Situasi yang perlu diperhatikan antara lain: Mengganti popok anak yang terinfeksi. Membantu anak menggunakan toilet. Anak belum mencuci tangan setelah buang air. Membersihkan toilet atau pispot tanpa mencuci tangan sesudahnya. Menyiapkan makanan setelah mengganti popok. Anak menyentuh benda dengan tangan yang belum bersih. Jumlah kotoran yang terlihat tidak harus banyak agar terjadi kontaminasi. Karena itu, tangan yang tampak bersih tetap perlu dicuci dengan sabun dan air mengalir. SituasiLangkah pencegahanMengganti popokBuang popok dengan benar dan cuci tangan setelahnyaMembersihkan pispotBersihkan alat dan area di sekitarnyaMembantu anak di toiletPastikan anak dan pendamping mencuci tanganMenyiapkan makananCuci tangan terlebih dahuluMembersihkan tinja atau muntahanGunakan sarung tangan bila tersedia, lalu cuci tangan Mencuci tangan sangat penting setelah mengganti popok, setelah menggunakan toilet, sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, dan setelah membersihkan cairan tubuh anak. 3. Melalui Cairan dari Lepuhan Kulit Ruam HFMD dapat berkembang menjadi lepuhan kecil yang berisi cairan. Cairan dari lepuhan tersebut dapat mengandung virus dan berpotensi menularkan infeksi jika mengenai tangan atau kulit orang lain. (1)(5) Risiko penularan dapat meningkat ketika: Lepuhan disentuh atau digaruk. Lepuhan pecah dan cairannya mengenai tangan. Anak berbagi handuk, pakaian, atau perlengkapan pribadi. Cairan lepuhan mengenai seprai atau permukaan benda. Orang lain membersihkan kulit anak tanpa mencuci tangan setelahnya. Lepuhan tidak perlu sengaja dipecahkan. Memecahkan atau menggaruk lepuhan dapat menyebabkan iritasi, luka terbuka, dan meningkatkan risiko infeksi bakteri sekunder. Langkah yang dapat dilakukan: Jaga area ruam tetap bersih. Potong kuku anak agar tidak mudah melukai kulit. Hindari mengoleskan obat sembarangan. Jangan berbagi handuk dan pakaian. Cuci tangan setelah merawat atau menyentuh area ruam. Konsultasikan dengan dokter bila kulit menjadi sangat merah, bengkak, bernanah, atau terasa semakin nyeri. 4. Melalui Mainan, Alat Makan, dan Permukaan Terkontaminasi Virus dapat berpindah ke benda ketika seseorang yang terinfeksi menyentuhnya dengan tangan yang terkontaminasi atau ketika percikan cairan tubuh mengenai permukaan tersebut. Anak lain kemudian dapat menyentuh benda yang sama dan memasukkan tangan ke mulut, hidung, atau mata. (1)(2) Benda yang sering disentuh bersama meliputi: Mainan. Gagang pintu. Meja dan kursi. Botol minum. Peralatan makan. Alat tulis. Tablet atau telepon genggam. Pagar tempat tidur. Permukaan toilet. Peralatan bermain. Benda tidak selalu tampak kotor meskipun telah terkontaminasi. Oleh karena itu, membersihkan benda yang sering disentuh menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan. Prioritas pembersihan di rumah atau daycare: Mainan yang sering masuk ke mulut. Meja makan dan kursi anak. Gagang pintu dan sakelar. Toilet, pispot, dan area mengganti popok. Peralatan elektronik yang digunakan bersama. Botol minum dan alat makan. Gunakan produk pembersih atau disinfektan sesuai petunjuk pada label. Jangan mencampur berbagai cairan pembersih karena dapat menghasilkan uap berbahaya. Ringkasan Empat Jalur Penularan HFMD Cara penularanContoh sehari-hariPencegahan utamaPercikan dan cairan pernapasanBatuk, bersin, air liur, berbagi alat makanEtika batuk dan hindari berbagi barang pribadiTinjaMengganti popok dan membantu anak di toiletCuci tangan dengan sabunCairan lepuhanMenyentuh atau memecahkan lepuhanHindari menyentuh dan jaga kulit tetap bersihBenda terkontaminasiMainan, meja, gagang pintu, botol minumBersihkan permukaan yang sering disentuh Baca juga: Panduan Vaksinasi Keluarga Indonesia: Anak, Dewasa, dan Lansia Bagaimana Mencegah Penularan HFMD di Rumah? Tidak semua paparan dapat dicegah sepenuhnya. Namun, beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi risiko penyebaran. Checklist pencegahan untuk keluarga Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Dampingi anak kecil ketika mencuci tangan. Jangan berbagi sendok, gelas, botol minum, dan handuk. Bersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh. Cuci tangan setiap selesai mengganti popok. Ajarkan etika batuk dan bersin. Kurangi kontak erat ketika anggota keluarga sedang sakit. Jangan sengaja memecahkan lepuhan. Bersihkan peralatan makan dengan baik. Pantau anak lain di rumah jika mulai mengalami demam atau sariawan. Sabun dan air mengalir penting terutama ketika tangan terlihat kotor, setelah menggunakan toilet, dan setelah mengganti popok. Pembersih tangan berbasis alkohol dapat digunakan dalam kondisi tertentu, tetapi tidak selalu menggantikan kebutuhan mencuci tangan dengan sabun. Apakah Anak dengan HFMD Boleh Sekolah? Anak yang sedang demam, tampak tidak sehat, memiliki luka mulut yang menyebabkan air liur sulit dikendalikan, atau tidak mampu mengikuti kegiatan sebaiknya beristirahat di rumah dan diperiksakan bila diperlukan. Keputusan kembali ke sekolah atau daycare perlu mempertimbangkan: Kondisi umum anak. Ada atau tidaknya demam. Kemampuan makan dan minum. Kemampuan mengikuti kegiatan. Kebijakan sekolah atau daycare. Saran dokter atau tenaga kesehatan. Ketentuan dari dinas kesehatan setempat jika sedang terjadi peningkatan kasus. Virus dapat tetap dikeluarkan setelah gejala membaik. Karena itu, menunggu hingga virus sama sekali tidak ditemukan biasanya tidak praktis. Kebersihan tangan, toilet, mainan, dan permukaan tetap menjadi langkah utama setelah anak kembali beraktivitas. (2)(5) Apakah Ada Vaksin untuk HFMD? Vaksin EV71 telah terdaftar di Indonesia untuk membantu Mencegah HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Namun, vaksin ini tidak melindungi terhadap seluruh virus penyebab HFMD, seperti Coxsackievirus A16 atau tipe enterovirus lainnya. Penggunaannya perlu berdasarkan usia yang disetujui, kondisi kesehatan anak, dan rekomendasi dokter. (6) Artinya, anak yang telah menerima vaksin EV71 tetap perlu menjalankan kebiasaan pencegahan seperti mencuci tangan, membersihkan mainan, dan menghindari berbagi alat makan. Vaksin juga tidak memberi perlindungan 100%. Tujuannya adalah membantu tubuh membentuk respons imun terhadap virus yang menjadi target vaksin. Efek samping setelah vaksinasi umumnya dapat berupa reaksi ringan seperti nyeri atau kemerahan di lokasi suntikan dan demam. Efek samping serius dapat terjadi tetapi jarang. Orang tua perlu mengikuti petunjuk observasi setelah vaksinasi dan mencari bantuan medis jika muncul sesak, pembengkakan berat, penurunan kesadaran, atau tanda reaksi alergi berat. (6) Baca juga: Artikel Edukasi Vaksin dan Pencegahan Penyakit Kapan Anak dengan HFMD Perlu Dibawa ke Dokter? Sebagian besar anak dapat membaik dengan perawatan suportif. Namun, orang tua perlu memperhatikan kemampuan anak minum dan kondisi umumnya. Konsultasikan anak kepada dokter apabila: Anak sulit minum karena luka di mulut. Buang air kecil lebih sedikit daripada biasanya. Mulut dan bibir tampak kering. Anak tidak mengeluarkan air mata saat menangis. Anak tampak sangat lemas atau terus mengantuk. Demam menetap atau kondisi tidak membaik. Anak masih bayi, terutama berusia di bawah enam bulan. Anak memiliki gangguan sistem imun atau penyakit kronis. Ruam tampak bernanah, membengkak, atau semakin nyeri. Segera cari pertolongan medis apabila anak mengalami kejang, kesulitan bernapas, penurunan kesadaran, kelemahan anggota tubuh, sakit kepala berat, leher kaku, atau kondisi memburuk dengan cepat. Komplikasi berat HFMD jarang terjadi, tetapi memerlukan pemeriksaan dan penanganan segera. (2)(3) Dimana Bisa Mendapatkan Informasi Tentang Vaksin HFMD? Vaksin EV71 dapat ditanyakan di rumah sakit, klinik anak, atau fasilitas vaksinasi resmi yang menyediakan layanan tersebut. Ketersediaannya dapat berbeda di setiap fasilitas dan wilayah. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan. Konsultasi diperlukan untuk memastikan bahwa usia anak, kondisi kesehatan, riwayat alergi, jadwal pemberian, dan jenis vaksin telah sesuai. Perlu dipahami bahwa vaksin EV71 ditujukan untuk membantu melindungi dari HFMD akibat EV71, bukan seluruh penyebab HFMD. Pencegahan melalui kebersihan tangan, pengelolaan popok, pembersihan mainan, dan pembatasan kontak ketika sakit tetap diperlukan. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, klinik anak, atau fasilitas vaksinasi resmi di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Empat cara penularan HFMD pada anak adalah melalui percikan dan cairan saluran pernapasan, kontak dengan tinja, cairan lepuhan, serta benda atau permukaan yang terkontaminasi. Penularan mudah terjadi ketika anak berinteraksi dekat, berbagi benda, atau belum terbiasa menjaga kebersihan tangan. Pencegahan tidak harus dilakukan dengan rasa panik. Kebiasaan mencuci tangan, membersihkan mainan dan permukaan, tidak berbagi alat makan, mengelola popok dengan aman, serta mengistirahatkan anak yang sedang sakit dapat membantu mengurangi risiko penyebaran. Orang tua juga dapat berdiskusi dengan dokter mengenai pilihan perlindungan tambahan, termasuk vaksin EV71 sesuai usia dan kondisi anak. Vaksin tidak melindungi dari seluruh penyebab HFMD sehingga tetap perlu disertai perilaku hidup bersih. Referensi Centers for Disease Control and Prevention. (2024). HFMD: Causes and how it spreads.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/causes/index.html(dikutip pada 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About hand, foot, and mouth disease.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html(dikutip pada 16 Juli 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD).https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/hand-foot-mouth-and-disease-hfmd(dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kenali penyakit Hand Foot and Mouth Disease (HFMD) pada anak di masa peralihan musim.https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2023/kenali-penyakit-hand-foot-and-mouth-disease-hfmd-pada-anak-di-masa-peralihan-musim(dikutip pada 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Hand, foot and mouth disease in Viet Nam.https://www.who.int/vietnam/health-topics/hand-foot-and-mouth-disease-%28hfmd%29(dikutip pada 16 Juli 2026). Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2026). Informasi produk vaksin Enterovirus tipe 71, inaktif.https://registrasiobat.pom.go.id/files/assesment-reports/01771903571.pdf(dikutip pada 16 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-BCNV (07/27)