
Kehamilan adalah momen di mana seorang ibu tidak hanya menjaga dirinya sendiri, tetapi juga kehidupan yang sedang tumbuh di dalamnya. Namun, di masa ini, tubuh ibu mengalami perubahan yang membuatnya lebih rentan terhadap infeksi—termasuk influenza.
Yang sering tidak disadari, influenza pada ibu hamil bukan sekadar flu biasa. Dampaknya bisa lebih serius, baik untuk ibu maupun bayi.
Karena itu, kini vaksin influenza menjadi salah satu rekomendasi penting dalam perawatan kehamilan.
Selama kehamilan, sistem imun, jantung, dan paru-paru mengalami perubahan fisiologis. Kondisi ini membuat ibu hamil:
● Lebih mudah terinfeksi virus
● Lebih berisiko mengalami komplikasi berat seperti pneumonia
● Lebih rentan mengalami rawat inap akibat influenza (2)(10)
Tidak hanya itu, infeksi influenza juga dapat berdampak pada janin, seperti meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah (10).
Organisasi kesehatan dunia menempatkan ibu hamil sebagai kelompok prioritas utama untuk vaksin influenza (1).
Rekomendasi ini didasarkan pada:
● Tingginya risiko komplikasi influenza pada ibu hamil
● Keamanan vaksin yang sudah terbukti
● Manfaat perlindungan ganda bagi ibu dan bayi
Vaksin influenza, khususnya jenis inaktif, direkomendasikan untuk diberikan pada semua trimester kehamilan (2)(9).
Salah satu keunggulan vaksin influenza saat hamil adalah efek perlindungan ganda. Setelah vaksin diberikan, tubuh ibu akan membentuk antibodi yang kemudian ditransfer ke bayi melalui plasenta (4).
Artinya:
● Bayi sudah memiliki perlindungan sejak lahir
● Perlindungan ini dapat bertahan hingga beberapa bulan pertama kehidupan
Ini sangat penting karena bayi belum bisa langsung menerima vaksin influenza di usia awal.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa vaksin influenza pada ibu hamil memiliki manfaat signifikan:
● Mencegah infeksi influenza pada ibu hingga 35–70% (5)
● Memberikan perlindungan pada bayi hingga usia 6 bulan (4)
● Mengurangi risiko komplikasi serius akibat influenza
Dengan kata lain, vaksinasi bukan hanya melindungi satu individu—tetapi dua sekaligus.
Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul.
Jawabannya: aman.
Vaksin influenza yang digunakan pada ibu hamil adalah vaksin inaktif (tidak mengandung virus hidup), sehingga tidak dapat menyebabkan infeksi (11).
Berbagai studi dan rekomendasi global juga menunjukkan bahwa vaksin ini:
● Tidak meningkatkan risiko cacat lahir
● Tidak meningkatkan risiko keguguran
● Aman diberikan di semua trimester (2)(9)
Di Indonesia, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia juga merekomendasikan vaksin influenza sebagai bagian dari perawatan kehamilan (3).
Vaksin ini dinilai efektif untuk:
● Mengurangi risiko infeksi pada ibu
● Mencegah komplikasi selama kehamilan
● Memberikan perlindungan awal bagi bayi
Rekomendasi ini sejalan dengan WHO, CDC, dan ACOG.
Vaksin influenza dapat diberikan kapan saja selama kehamilan. Namun, idealnya dilakukan sebelum atau selama musim influenza untuk memberikan perlindungan optimal (2).
Karena virus influenza terus berubah, vaksinasi dianjurkan dilakukan setiap tahun.
Influenza saat kehamilan bukanlah kondisi yang bisa dianggap ringan. Dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi, pencegahan menjadi langkah yang sangat penting.
Vaksin influenza hadir sebagai solusi sederhana namun efektif—melindungi ibu dari penyakit berat sekaligus memberikan perlindungan awal bagi bayi sejak dalam kandungan.
Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan ibu adalah langkah pertama untuk melindungi masa depan bayi.
Referensi
Langkah pencegahan yang tepat dapat membantu melindungi ibu selama kehamilan dan bayi setelah lahir.

Kehamilan adalah momen di mana seorang ibu tidak hanya menjaga dirinya sendiri, tetapi juga kehidupan yang sedang tumbuh di dalamnya. Namun, di masa ini, tubuh ibu mengalami perubahan yang membuatnya lebih rentan terhadap infeksi—termasuk influenza. Yang sering tidak disadari, influenza pada ibu hamil bukan sekadar flu biasa. Dampaknya bisa lebih serius, baik untuk ibu maupun bayi. Karena itu, kini vaksin influenza menjadi salah satu rekomendasi penting dalam perawatan kehamilan. Mengapa Influenza Lebih Berisiko Saat Hamil? Selama kehamilan, sistem imun, jantung, dan paru-paru mengalami perubahan fisiologis. Kondisi ini membuat ibu hamil:● Lebih mudah terinfeksi virus● Lebih berisiko mengalami komplikasi berat seperti pneumonia● Lebih rentan mengalami rawat inap akibat influenza (2)(10) Tidak hanya itu, infeksi influenza juga dapat berdampak pada janin, seperti meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah (10). Rekomendasi Terbaru: Ibu Hamil Termasuk Prioritas Vaksinasi Organisasi kesehatan dunia menempatkan ibu hamil sebagai kelompok prioritas utama untuk vaksin influenza (1). Rekomendasi ini didasarkan pada:● Tingginya risiko komplikasi influenza pada ibu hamil● Keamanan vaksin yang sudah terbukti● Manfaat perlindungan ganda bagi ibu dan bayi Vaksin influenza, khususnya jenis inaktif, direkomendasikan untuk diberikan pada semua trimester kehamilan (2)(9). Tidak Hanya untuk Ibu, Tapi Juga untuk Bayi Salah satu keunggulan vaksin influenza saat hamil adalah efek perlindungan ganda. Setelah vaksin diberikan, tubuh ibu akan membentuk antibodi yang kemudian ditransfer ke bayi melalui plasenta (4). Artinya:● Bayi sudah memiliki perlindungan sejak lahir● Perlindungan ini dapat bertahan hingga beberapa bulan pertama kehidupan Ini sangat penting karena bayi belum bisa langsung menerima vaksin influenza di usia awal. Seberapa Efektif Vaksin Influenza? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa vaksin influenza pada ibu hamil memiliki manfaat signifikan:● Mencegah infeksi influenza pada ibu hingga 35–70% (5)● Memberikan perlindungan pada bayi hingga usia 6 bulan (4)● Mengurangi risiko komplikasi serius akibat influenza Dengan kata lain, vaksinasi bukan hanya melindungi satu individu—tetapi dua sekaligus. Apakah Vaksin Influenza Aman untuk Ibu Hamil? Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul. Jawabannya: aman. Vaksin influenza yang digunakan pada ibu hamil adalah vaksin inaktif (tidak mengandung virus hidup), sehingga tidak dapat menyebabkan infeksi (11). Berbagai studi dan rekomendasi global juga menunjukkan bahwa vaksin ini:● Tidak meningkatkan risiko cacat lahir● Tidak meningkatkan risiko keguguran● Aman diberikan di semua trimester (2)(9) Rekomendasi di Indonesia Di Indonesia, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia juga merekomendasikan vaksin influenza sebagai bagian dari perawatan kehamilan (3). Vaksin ini dinilai efektif untuk:● Mengurangi risiko infeksi pada ibu● Mencegah komplikasi selama kehamilan● Memberikan perlindungan awal bagi bayi Rekomendasi ini sejalan dengan WHO, CDC, dan ACOG. Kapan Waktu Terbaik untuk Vaksin? Vaksin influenza dapat diberikan kapan saja selama kehamilan. Namun, idealnya dilakukan sebelum atau selama musim influenza untuk memberikan perlindungan optimal (2). Karena virus influenza terus berubah, vaksinasi dianjurkan dilakukan setiap tahun. Kesimpulan Influenza saat kehamilan bukanlah kondisi yang bisa dianggap ringan. Dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi, pencegahan menjadi langkah yang sangat penting. Vaksin influenza hadir sebagai solusi sederhana namun efektif—melindungi ibu dari penyakit berat sekaligus memberikan perlindungan awal bagi bayi sejak dalam kandungan. Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan ibu adalah langkah pertama untuk melindungi masa depan bayi. Referensi World Health Organization. (2023). Influenza immunization.https://www.who.int/teams/immunization-vaccines-and-biologicals/diseases/seasonal-influenza (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Flu vaccine safety and pregnancy. https://www.cdc.gov/flu/vaccine-safety/vaccine-pregnant.html (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Kalventis. (2025). Vaksin influenza untuk ibu hamil: Amankah dan apa manfaatnya.https://www.kalventis.co.id/artikel/vaksin-influenza-untuk-ibu-hamil-amankah-dan-apa-manfaatnya (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Australian Government Department of Health. (2024). Influenza vaccination in pregnancy. https://www.health.gov.au/influenza-vaccination-in-pregnancy (dikutip pada tanggal 20 April 2026). World Health Organization. (2016). How to implement influenza vaccination of pregnant women. https://www.who.int/publications/i/item/WHO-IVB-16.06 (dikutip pada tanggal 20 April 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2025). Influenza in pregnancy: Prevention and treatment. https://www.acog.org (dikutip pada tanggal 20 April 2026).

Banyak orang tua mengenal HFMD (flu Singapura) sebagai penyakit ringan yang sering dialami anak-anak. Biasanya hanya ditandai dengan demam dan ruam, lalu sembuh dengan sendirinya. Namun, tidak semua HFMD bersifat ringan. Ada jenis virus tertentu, yaitu Enterovirus 71 (EV71), yang dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak diwaspadai sejak awal (1). Apa Itu HFMD dan Siapa yang Berisiko? HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease) adalah penyakit infeksi yang umum terjadi pada anak, terutama usia di bawah 5 tahun (2). Gejala yang sering muncul antara lain: ● Demam ● Luka atau sariawan di mulut ● Ruam atau lepuhan di tangan dan kaki Sebagian besar kasus memang ringan. Namun, pada beberapa kasus tertentu—terutama yang disebabkan oleh EV71—penyakit ini bisa berkembang menjadi lebih serius (1). EV71: Ketika HFMD Menjadi Berbahaya Berbeda dengan virus penyebab HFMD lainnya, EV71 memiliki kecenderungan menyerang sistem saraf (1). Infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi seperti: ● Meningitis (radang selaput otak) ● Ensefalitis (radang otak) ● Gangguan pernapasan ● Bahkan kematian pada kasus berat (1,3) Yang perlu diwaspadai, kondisi ini dapat berkembang dengan cepat pada anak-anak. Penyebaran yang Cepat di Lingkungan Anak HFMD merupakan penyakit yang sangat mudah menular, terutama di lingkungan dengan interaksi tinggi seperti sekolah dan daycare (2). Virus dapat menyebar melalui: ● Droplet (batuk dan bersin) ● Kontak langsung dengan cairan lepuhan ● Permukaan benda yang terkontaminasi Anak yang terinfeksi bahkan dapat menularkan virus sebelum gejala muncul, sehingga penyebarannya sering tidak disadari (2). Risiko yang Tidak Selalu Terlihat Wabah HFMD sering terjadi di berbagai negara, khususnya di kawasan Asia Pasifik (3). Meskipun sering dianggap ringan, HFMD tetap memiliki potensi menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak kecil (3). Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan sejak dini. Peran Vaksin EV71 dalam Pencegahan Saat ini, vaksin untuk melindungi anak dari HFMD berat akibat EV71 telah tersedia dan mulai digunakan sebagai upaya pencegahan (4). Vaksin ini membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus EV71 sebelum terjadi infeksi. Beberapa manfaat vaksin EV71: ● Mengurangi risiko komplikasi neurologis ● Menurunkan risiko rawat inap ● Memberikan perlindungan pada anak usia dini yang paling rentan (4,5) Vaksin ini umumnya direkomendasikan untuk anak usia mulai 6 bulan ke atas (4). Langkah Pencegahan Sehari-hari Selain vaksinasi, orang tua juga dapat melakukan langkah sederhana untuk mengurangi risiko penularan: ● Mengajarkan anak mencuci tangan secara rutin ● Membersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh ● Menghindari kontak dengan anak yang sedang sakit Langkah ini penting karena HFMD sangat mudah menyebar di lingkungan anak (2). Kesimpulan HFMD memang sering dianggap sebagai penyakit ringan, tetapi jenis virus seperti EV71 dapat menyebabkan komplikasi serius pada anak. Dengan penyebaran yang cepat dan risiko yang tidak selalu terlihat, pencegahan menjadi langkah paling penting. Vaksinasi EV71, didukung dengan kebiasaan hidup bersih, dapat membantu melindungi anak sejak dini. Karena dalam kesehatan anak, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Referensi World Health Organization. (2011). A guide to clinical management and public health response for hand, foot and mouth disease (HFMD). https://www.who.int/publications/i/item/9789241502540 (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Hand, foot, and mouth disease (HFMD). https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/index.html (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Xing, W., et al. (2014). Epidemiological characteristics of hand, foot, and mouth disease in China. The Lancet Infectious Diseases, 14(4), 308–318. https://doi.org/10.1016/S1473-3099(13)70342-6 (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Zhu, F. C., et al. (2014). Efficacy, safety, and immunogenicity of an enterovirus 71 vaccine in China. The New England Journal of Medicine, 370(9), 818–828. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1304923 (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Kalventis. (2025). Vaksin EV71: Kenali manfaatnya untuk mencegah HFMD berat. https://www.kalventis.co.id/artikel/vaksin-ev71-kenali-manfaatnya-untuk-mencegah-hfmd-berat (dikutip pada tanggal 20 April 2026).

Bagi banyak orang, diabetes sering hanya dikaitkan dengan gula darah. Padahal, ada risiko lain yang jauh lebih serius dan sering tidak disadari: penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke. Yang lebih mengejutkan, infeksi sederhana seperti influenza ternyata bisa menjadi “pemicu” yang memperburuk kondisi ini. Di sinilah vaksin influenza memiliki peran yang sering terlewatkan—bukan hanya mencegah flu, tetapi juga membantu melindungi jantung. Diabetes dan Risiko Kardiovaskular: Hubungan yang Erat Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dibandingkan populasi umum. Hal ini terjadi karena kombinasi beberapa faktor, seperti peradangan kronis, gangguan metabolisme, dan kerusakan pembuluh darah (2). Selain itu, sistem imun pada pasien diabetes juga cenderung lebih lemah, sehingga lebih rentan terhadap infeksi (2). Akibatnya, ketika terjadi infeksi seperti influenza, dampaknya bisa lebih berat dan memicu komplikasi serius. Influenza: Bukan Sekadar Penyakit Pernapasan Banyak orang menganggap influenza hanya menyerang saluran napas. Padahal, infeksi influenza dapat memicu respons inflamasi sistemik yang berdampak pada seluruh tubuh, termasuk sistem kardiovaskular (3). Beberapa studi menunjukkan bahwa: ● Risiko serangan jantung meningkat signifikan dalam waktu singkat setelah infeksi influenza (3) ● Risiko stroke juga meningkat dalam periode yang sama (3) Artinya, influenza bisa menjadi “trigger” bagi kejadian kardiovaskular, terutama pada individu dengan kondisi kronis seperti diabetes. Risiko Lebih Tinggi pada Diabetes dan Prediabetes Baik diabetes maupun prediabetes sama-sama meningkatkan risiko komplikasi. Pada kondisi ini, tubuh sudah mengalami gangguan metabolisme yang membuat respons terhadap infeksi menjadi lebih berat (2). Ketika influenza terjadi, kombinasi antara peradangan, peningkatan beban kerja jantung, dan gangguan pembuluh darah dapat memperburuk kondisi kardiovaskular (3). Peran Vaksin Influenza: Lebih dari Sekadar Pencegahan Flu Vaksin influenza tidak hanya melindungi dari infeksi, tetapi juga membantu mengurangi risiko komplikasi serius, termasuk yang berkaitan dengan jantung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa vaksin influenza dapat: ● Menurunkan risiko kejadian kardiovaskular ● Mengurangi angka rawat inap ● Menurunkan risiko kematian pada pasien dengan penyakit kronis (4) Dengan kata lain, vaksin influenza dapat menjadi bagian dari strategi perlindungan jangka panjang bagi pasien diabetes. Mengapa Vaksin Penting untuk Pasien Diabetes? Pada pasien diabetes, risiko dasar terhadap komplikasi sudah lebih tinggi. Artinya, manfaat vaksin menjadi lebih signifikan dibandingkan pada populasi umum. Vaksin influenza juga direkomendasikan sebagai bagian dari pencegahan pada kelompok berisiko tinggi oleh berbagai organisasi kesehatan global (1). Siapa yang Dianjurkan Mendapatkan Vaksin? Kelompok yang dianjurkan untuk mendapatkan vaksin influenza meliputi: ● Pasien diabetes ● Individu dengan prediabetes ● Pasien dengan penyakit kardiovaskular Vaksinasi tahunan menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi kesehatan tetap stabil dan mencegah komplikasi. Kesimpulan Diabetes bukan hanya tentang gula darah—tetapi juga tentang risiko komplikasi serius, terutama penyakit jantung. Infeksi influenza dapat memperburuk kondisi tersebut dan meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular. Melalui vaksinasi influenza, risiko ini dapat ditekan secara signifikan. Karena itu, vaksin influenza bukan hanya perlindungan dari flu, tetapi juga bagian penting dari perlindungan jantung. Referensi 1. World Health Organization. (2023). Influenza and noncommunicable diseases. https://www.who.int (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Kurniawan, R., & Tahapary, D. L. (2024). Manfaat vaksinasi influenza bagi pasien diabetes melitus. Cermin Dunia Kedokteran. https://cdkjournal.com/index.php/cdk/article/download/1025/876 (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Barnes, M., et al. (2015). Influenza and cardiovascular risk. Acta Medica Indonesiana. https://actamedindones.org (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Modin, D., et al. (2020). Influenza vaccination and cardiovascular outcomes in diabetes. Diabetes Care, 43(9). https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32647052/ (dikutip pada tanggal 20 April 2026).