Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Flu Singapura (istilah awam yang digunakan) adalah penyakit tangan, kaki, dan mulut. Penyakit ini disebabkan oleh kelompok virus enterovirus, terutama Coxsackievirus dan Enterovirus 71 atau EV71. Flu Singapura paling sering menyerang bayi dan anak kecil, tetapi orang dewasa juga tetap bisa tertular. (1)(2)
Gejala khas HFMD biasanya meliputi demam, sakit tenggorokan, sariawan atau luka di mulut, serta ruam atau lepuh kecil di telapak tangan, telapak kaki, dan kadang area bokong, lengan, atau tungkai. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan membaik dalam 7–10 hari, tetapi anak tetap perlu dipantau karena sariawan dapat membuat anak sulit minum dan berisiko dehidrasi. (2)(3)
HFMD mudah menular melalui air liur, cairan hidung dan tenggorokan, percikan batuk atau bersin, cairan dari lepuh, tinja, serta permukaan benda yang terkontaminasi. Karena itu, kebersihan tangan, disinfeksi mainan, dan menghindari kontak dekat saat sakit menjadi langkah pencegahan penting. (1)(2)
Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, dokter anak, bidan, atau tenaga kesehatan. Gejala, tingkat keparahan, pemeriksaan, pengobatan, dan rekomendasi pencegahan dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, status imun, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, serta ketersediaan layanan atau vaksin di fasilitas kesehatan. Jika anak tampak lemas, sulit minum, demam tinggi, kejang, sesak, atau gejala memburuk, segera konsultasikan ke tenaga kesehatan.

Flu Singapura atau HFMD adalah penyakit infeksi virus yang menyerang area mulut, tangan, dan kaki. Walaupun namanya mengandung kata “flu”, penyakit ini bukan influenza. HFMD juga berbeda dari penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan. HFMD pada manusia tidak sama dengan PMK pada sapi, kambing, atau hewan ternak, dan penyebabnya juga berbeda. (1)(2)
Penyakit ini sering muncul pada anak-anak, terutama usia balita, karena anak pada usia ini masih sering memasukkan tangan atau benda ke mulut, bermain berdekatan, dan belum selalu konsisten menjaga kebersihan tangan. Di lingkungan seperti daycare, PAUD, TK, sekolah, atau rumah dengan beberapa anak, penularan bisa terjadi lebih cepat bila kebersihan tidak dijaga dengan baik. (2)(3)
Sebagian orang tua mengenal penyakit ini sebagai “flu Singapura” karena istilah tersebut sudah populer di masyarakat. Namun secara medis, istilah yang lebih tepat adalah HFMD atau penyakit tangan, kaki, dan mulut.
Pada banyak kasus, HFMD bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri. Namun, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena sangat mudah menular, terutama pada anak-anak yang beraktivitas di lingkungan bersama seperti sekolah, daycare, atau tempat bermain.
Anak yang sedang sakit juga bisa merasa sangat tidak nyaman karena sariawan membuat makan dan minum menjadi sulit. Hal yang paling sering dikhawatirkan pada anak dengan HFMD adalah dehidrasi. Dehidrasi dapat terjadi ketika anak menolak minum karena luka di mulut terasa perih.
Pada sebagian kecil kasus, HFMD juga dapat menimbulkan komplikasi yang lebih berat, terutama bila berkaitan dengan jenis virus tertentu seperti EV71. Komplikasi berat seperti gangguan saraf, meningitis, atau ensefalitis memang jarang, tetapi tetap perlu diperhatikan. (4)(5)
Karena itu, orang tua tidak perlu panik, tetapi perlu memahami gejala, cara penularan, langkah pencegahan, dan tanda kapan anak harus diperiksa dokter.
HFMD disebabkan oleh virus dari keluarga enterovirus. Beberapa jenis virus yang sering dikaitkan dengan HFMD antara lain:
| Penyebab | Keterangan Singkat |
| Coxsackievirus A16 | Salah satu penyebab umum HFMD. |
| Coxsackievirus A6 | Dapat menyebabkan gejala yang lebih luas atau tidak khas pada sebagian kasus. |
| Enterovirus 71 atau EV71 | Dapat dikaitkan dengan kasus yang lebih berat, termasuk komplikasi saraf yang jarang terjadi. |
Karena HFMD disebabkan oleh virus, antibiotik umumnya tidak diperlukan. Antibiotik hanya bekerja untuk infeksi bakteri, bukan infeksi virus. Pengobatan HFMD biasanya bersifat suportif, yaitu membantu meredakan gejala, menjaga anak tetap nyaman, dan mencegah dehidrasi. (3)(6)
Gejala HFMD biasanya muncul beberapa hari setelah anak terpapar virus. Pada awalnya, gejala bisa mirip infeksi virus biasa, seperti demam, sakit tenggorokan, dan anak tampak tidak enak badan. Setelah itu, biasanya muncul luka di mulut dan ruam pada tangan atau kaki. (2)(3)
Gejala yang umum meliputi:
IDAI menjelaskan bahwa HFMD umumnya diawali demam, nyeri tenggorokan atau nyeri menelan, nafsu makan menurun, lalu 1–2 hari kemudian muncul bintik merah di rongga mulut yang dapat pecah menjadi sariawan. Setelah itu, ruam dapat muncul di telapak tangan dan kaki. (5)
| Fase Gejala | Yang Bisa Terjadi | Catatan untuk Orang Tua |
| Awal | Demam, sakit tenggorokan, tidak enak badan | Mirip infeksi virus biasa. |
| Mulut | Sariawan, luka kecil, nyeri menelan | Anak bisa menolak makan atau minum. |
| Kulit | Ruam atau lepuh di tangan, kaki, bokong | Jangan memecahkan lepuh. Jaga tetap bersih. |
| Pemulihan | Gejala membaik bertahap | Umumnya membaik dalam 7–10 hari. |
HFMD termasuk penyakit yang mudah menular. Virus dapat menyebar melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi.
Penularan dapat terjadi dari:
Orang dengan HFMD biasanya paling mudah menularkan pada minggu pertama sakit. Namun, virus masih bisa keluar melalui tinja selama beberapa waktu setelah gejala membaik. Karena itu, kebiasaan cuci tangan tetap penting meskipun anak sudah tampak sehat. (2)(6)
Pada banyak anak, HFMD bersifat ringan dan dapat membaik dalam 7–10 hari. Namun, bukan berarti penyakit ini boleh diabaikan. Risiko yang paling sering dikhawatirkan adalah dehidrasi, terutama bila sariawan membuat anak sulit minum, menolak menyusu, atau menangis saat menelan. (3)(6)
Komplikasi berat tergolong jarang, tetapi bisa terjadi pada sebagian kecil kasus, terutama yang terkait jenis virus tertentu seperti EV71. Karena itu, orang tua perlu memahami tanda bahaya dan tidak ragu berkonsultasi jika kondisi anak tampak tidak biasa. (4)(5)
HFMD juga dapat menular dalam lingkungan keluarga. Bila satu anak terkena, saudara kandung atau anggota keluarga lain bisa ikut tertular, terutama bila berbagi alat makan, handuk, mainan, atau tidak mencuci tangan setelah kontak dengan cairan tubuh anak yang sakit.
Baca juga: Panduan Vaksinasi untuk Keluarga Indonesia
Tidak ada terapi antivirus spesifik yang secara rutin digunakan untuk menyembuhkan HFMD. Perawatan biasanya bertujuan membantu anak lebih nyaman, menjaga asupan cairan, dan meredakan gejala. (3)(6)
Yang bisa dilakukan di rumah:
Jika anak masih bayi, sulit minum, muntah terus, atau tampak lemas, sebaiknya jangan menunggu terlalu lama untuk berkonsultasi ke dokter.
Konsultasi dokter diperlukan bila gejala anak tidak membaik, memburuk, atau muncul tanda yang mengkhawatirkan. NHS menyarankan pemeriksaan bila gejala tidak membaik setelah 7–10 hari, anak tidak mau minum, muncul tanda dehidrasi, demam sangat tinggi, atau ada gejala berat seperti kejang, kebingungan, kelemahan, atau penurunan kesadaran. (6)(7)
Segera konsultasikan ke dokter jika:
| Kondisi | Mengapa Perlu Diperiksa |
| Anak sulit atau tidak mau minum | Risiko dehidrasi meningkat. |
| Buang air kecil jauh berkurang | Bisa menjadi tanda kekurangan cairan. |
| Demam tinggi atau demam tidak membaik | Perlu evaluasi penyebab dan kondisi umum anak. |
| Anak sangat lemas, mengantuk terus, atau tampak tidak responsif | Bisa menandakan kondisi lebih serius. |
| Kejang, bingung, leher kaku, atau kelemahan anggota gerak | Perlu pemeriksaan segera. |
| Ruam tampak bernanah, sangat merah, bengkak, atau nyeri | Bisa mengarah ke infeksi kulit sekunder. |
| Bayi kecil, anak dengan daya tahan tubuh lemah, atau anak dengan penyakit kronis | Perlu pemantauan lebih hati-hati. |
| Ibu hamil terpapar atau mengalami HFMD | Sebaiknya konsultasi karena kondisi tiap kehamilan berbeda. |
Ibu hamil yang terpapar anak dengan HFMD sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, terutama bila mengalami demam, ruam, luka mulut, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Konsultasi membantu memastikan kondisi ibu dan janin tetap terpantau dengan baik.
Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanannya
Pencegahan HFMD berfokus pada kebersihan dan mengurangi kontak dengan sumber penularan. Karena virus dapat berada di tangan, tinja, cairan hidung, air liur, dan permukaan benda, langkah sederhana yang dilakukan konsisten bisa sangat membantu. (2)(6)
Di rumah, orang tua juga bisa memisahkan sementara alat makan, handuk, dan perlengkapan pribadi anak yang sedang sakit. Setelah mengganti popok atau membantu anak ke toilet, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Langkah sederhana ini penting karena virus HFMD dapat menyebar melalui tinja. (2)(6)
Baca juga: HFMD pada Anak: Bahaya EV71 dan Pentingnya Vaksin Pencegahan
Secara umum, anak sebaiknya beristirahat di rumah saat masih demam, lemas, sangat rewel, atau belum mampu mengikuti aktivitas sekolah dengan nyaman. NHS menyebut anak dapat kembali ke sekolah atau nursery ketika sudah merasa lebih baik, dan tidak selalu harus menunggu semua lepuh hilang. Namun, kebijakan sekolah atau daycare bisa berbeda, sehingga orang tua sebaiknya mengikuti arahan fasilitas pendidikan dan dokter yang memeriksa. (6)
Yang paling penting, pastikan anak:
Jika sekolah atau daycare memiliki aturan khusus terkait HFMD, ikuti kebijakan tersebut untuk membantu melindungi anak lain dan mencegah penularan lebih luas.
HFMD dapat disebabkan oleh beberapa jenis enterovirus. Karena penyebabnya beragam, pencegahan tetap memerlukan kebersihan tangan, pembersihan benda yang sering disentuh, pengurangan kontak saat sakit, dan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Vaksin EV71 dapat dipertimbangkan untuk membantu mencegah HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71 sesuai indikasi yang disetujui. Vaksin ini tidak melindungi dari semua penyebab HFMD dan tidak memberikan perlindungan 100%. Keputusan vaksinasi sebaiknya dilakukan bersama dokter dengan mempertimbangkan usia anak, kondisi kesehatan, riwayat alergi, ketersediaan vaksin, dan informasi produk yang disetujui. (2)(4)
Jika orang tua mempertimbangkan vaksin EV71 untuk pencegahan HFMD berat, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter anak atau fasilitas vaksinasi resmi. Tenaga kesehatan dapat membantu menjelaskan manfaat, keterbatasan perlindungan, jadwal pemberian, kemungkinan efek samping, serta apakah anak termasuk kandidat yang sesuai.
Sebelum vaksinasi atau konsultasi pencegahan HFMD, sebaiknya diskusikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk bayi, anak kecil, anak dengan komorbid, anak dengan riwayat alergi berat, atau anak dengan daya tahan tubuh lemah.
Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, jadwal, manfaat, keterbatasan perlindungan, dan kondisi kesehatan anak sudah sesuai.
Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, klinik anak, atau klinik vaksinasi resmi di sekitar wilayah Anda. Pastikan fasilitas yang dipilih memiliki tenaga kesehatan kompeten dan mengikuti regulasi yang berlaku.
Cari Klinik Vaksinasi Terdekat
Flu Singapura atau HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease) adalah penyakit infeksi virus yang sering menyerang anak, terutama balita. Gejalanya dapat berupa demam, sariawan, nyeri menelan, serta ruam atau lepuh di tangan, kaki, dan kadang area tubuh lain. Sebagian besar kasus membaik dalam 7–10 hari, tetapi orang tua tetap perlu waspada terhadap tanda dehidrasi, demam tinggi, kejang, penurunan kesadaran, atau gejala yang memburuk. (2)(3)(6)
Pencegahan HFMD dilakukan dengan cuci tangan, membersihkan permukaan dan mainan, tidak berbagi alat makan, menghindari kontak dekat saat sakit, serta berkonsultasi ke dokter bila anak berisiko atau gejala mengkhawatirkan. Vaksin EV71 untuk pencegahan HFMD berat, tetapi keputusan vaksinasi sebaiknya dilakukan bersama tenaga kesehatan sesuai usia, kondisi anak, ketersediaan vaksin, dan regulasi terbaru.
(1) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kenali Penyakit Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) pada Anak di Masa Peralihan Musim.
https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2023/kenali-penyakit-hand-foot-and-mouth-disease-hfmd-pada-anak-di-masa-peralihan-musim
(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026).
(2) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Hand, Foot, and Mouth Disease.
https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html
(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026).
(3) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). HFMD Symptoms and Complications.
https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/signs-symptoms/index.html
(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026).
(4) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). HFMD: Causes and How It Spreads.
https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/causes/index.html
(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026).
(5) Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD).
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/hand-foot-mouth-and-disease-hfmd
(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026).
(6) NHS. (2024). Hand, foot and mouth disease.
https://www.nhs.uk/conditions/hand-foot-mouth-disease/
(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026).
(7) NHS Inform. (2026). Hand, foot and mouth disease.
https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/infections-and-poisoning/hand-foot-and-mouth-disease/
(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026).
(8) MSD Manual Professional Edition. (2025). Hand-Foot-and-Mouth Disease (HFMD).
https://www.msdmanuals.com/professional/infectious-diseases/enteroviruses/hand-foot-and-mouth-disease-hfmd
(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026).
Kode promat: ID-INL-2026-07-CXHP(07/27)


Peran orang tua penting dalam mencegah HFMD, mengenali tanda bahaya, dan berkonsultasi apakah vaksin HFMD/EV71 sesuai untuk anak.
Efek samping vaksin adalah reaksi yang dapat muncul setelah seseorang menerima vaksin. Keluhan yang paling umum biasanya ringan, seperti nyeri di area suntikan, kemerahan, bengkak ringan, demam ringan, lelah, sakit kepala, atau pegal. Pada banyak orang, keluhan ini membaik dalam beberapa hari. (1)(2) Meski umumnya ringan, efek samping vaksin tetap perlu dipantau. Segera cari bantuan medis bila muncul tanda alergi berat seperti sesak napas, bengkak pada wajah atau bibir, ruam menyeluruh, pingsan, kejang, atau kondisi yang tampak berat dan tidak membaik. (2)(3) Penting untuk diingat: tidak semua keluhan yang muncul setelah vaksin pasti disebabkan oleh vaksin. Dalam istilah medis, keluhan setelah imunisasi disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI, dan penyebabnya perlu dinilai oleh tenaga kesehatan. (4) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apa Itu Efek Samping Vaksin atau KIPI? Efek samping vaksin adalah respons tubuh yang muncul setelah vaksinasi. Respons ini dapat terjadi karena sistem imun sedang mengenali komponen vaksin dan membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu. (1) Di Indonesia, istilah yang sering digunakan adalah KIPI, yaitu Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. KIPI berarti setiap kejadian medis yang terjadi setelah imunisasi, baik yang ringan maupun serius. Namun, KIPI tidak otomatis berarti vaksin menjadi penyebab langsung. Penilaian medis diperlukan untuk melihat waktu kejadian, gejala, riwayat kesehatan, kemungkinan penyakit lain, dan faktor lain yang menyertai. (2)(4) Dengan memahami hal ini, pembaca tidak perlu langsung panik ketika muncul keluhan ringan. Namun, pembaca juga tetap perlu waspada bila muncul gejala berat atau keluhan yang tidak biasa. Baca juga: Kenapa Harus Vaksin? Panduan dan Manfaat untuk Semua Usia Efek Samping Vaksin yang Umum Terjadi Efek samping vaksin yang umum biasanya bersifat ringan dan sementara. Tidak semua orang mengalaminya. Ada orang yang merasa pegal dan demam ringan, ada juga yang tidak merasakan keluhan apa pun setelah vaksinasi. Berikut beberapa efek samping vaksin yang sering dilaporkan: Efek Samping UmumPenjelasan SederhanaBiasanya Apa yang Bisa Dilakukan?Nyeri di area suntikanArea bekas suntikan terasa pegal, nyeri, atau tidak nyamanKompres dingin, gerakkan lengan perlahan, istirahatKemerahan atau bengkak ringanReaksi lokal di tempat suntikanPantau ukuran bengkak, hindari menggarukDemam ringanRespons tubuh saat sistem imun bekerjaCukup minum, istirahat, gunakan obat sesuai arahan tenaga kesehatanLelah atau mengantukTubuh sedang beradaptasi setelah vaksinKurangi aktivitas berat sementaraSakit kepala atau pegalDapat terjadi pada sebagian orangIstirahat, cukup cairanRewel pada anakAnak merasa tidak nyaman setelah imunisasiPeluk, tenangkan, beri ASI atau cairan sesuai usiaNafsu makan menurun sementaraBisa terjadi pada sebagian bayi atau anakPantau asupan cairan dan kondisi umum anak CDC menjelaskan bahwa efek samping vaksin pada umumnya ringan, misalnya nyeri lengan atau demam ringan, dan biasanya hilang dalam beberapa hari. (1) Mengapa Tubuh Bisa Demam atau Nyeri Setelah Vaksin? Demam ringan, pegal, atau nyeri setelah vaksin dapat terjadi karena sistem imun sedang merespons vaksin. Respons ini tidak selalu berarti tubuh sedang sakit berat. Pada sebagian orang, respons imun dapat terasa sebagai keluhan ringan selama beberapa jam hingga beberapa hari. (1)(2) Namun, berat-ringannya keluhan dapat berbeda pada tiap orang. Faktor usia, jenis vaksin, kondisi tubuh saat vaksinasi, riwayat alergi, dan penyakit penyerta dapat memengaruhi respons tubuh. Pada anak, beberapa vaksin dapat menimbulkan demam, rewel, atau nyeri bekas suntikan. IDAI menjelaskan bahwa beberapa reaksi pascaimunisasi seperti demam, nyeri, kemerahan, dan pembengkakan dapat terjadi dan biasanya membaik, tetapi bila reaksi berat atau menetap, anak sebaiknya dibawa ke dokter. (5) Cara Memantau Efek Samping Vaksin di Rumah Setelah vaksinasi, luangkan waktu untuk memantau kondisi tubuh. Banyak fasilitas kesehatan juga meminta penerima vaksin menunggu beberapa saat setelah vaksinasi untuk memastikan tidak ada reaksi alergi segera. Hal yang bisa dilakukan di rumah: Catat waktu munculnya keluhan. Ukur suhu tubuh dengan termometer bila terasa demam. Pantau area suntikan: apakah bengkak bertambah besar, nyeri makin berat, atau muncul nanah. Pastikan cukup minum dan istirahat. Hindari aktivitas berat bila tubuh terasa tidak fit. Untuk anak, perhatikan apakah anak masih mau minum, masih responsif, dan tidak tampak sangat lemas. Gunakan obat penurun demam atau pereda nyeri hanya sesuai usia, dosis, dan arahan tenaga kesehatan, terutama pada bayi, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit tertentu. Jangan mengoleskan bahan yang tidak dianjurkan ke area suntikan. Jika area bekas suntikan terasa nyeri, kompres dingin dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman. (5) Kapan Efek Samping Vaksin Masih Bisa Dipantau di Rumah? Keluhan biasanya masih dapat dipantau di rumah bila: Demam ringan dan kondisi umum tetap baik. Nyeri atau bengkak di area suntikan tidak bertambah berat. Lelah atau pegal membaik setelah istirahat. Anak masih mau minum, masih responsif, dan tidak tampak sesak. Keluhan berangsur membaik dalam beberapa hari. Namun, tetap gunakan penilaian yang hati-hati. Bila Anda merasa khawatir atau keluhan tampak tidak biasa, lebih aman untuk mengunjungi dokter. Kapan Perlu ke Dokter Setelah Vaksin? Anda sebaiknya menghubungi dokter atau fasilitas kesehatan bila efek samping vaksin terasa mengkhawatirkan, tidak membaik dalam beberapa hari, atau kemerahan dan nyeri di area suntikan justru memburuk setelah 24 jam. CDC memberikan arahan serupa untuk menghubungi tenaga kesehatan bila efek samping terasa mengkhawatirkan atau tidak tampak membaik. (6) Segera kunjungi ke dokter bila mengalami: Demam tinggi atau demam tidak membaik. Nyeri, kemerahan, atau bengkak yang makin berat. Area suntikan terasa sangat panas, bernanah, atau nyeri berat. Anak menangis terus-menerus dan sulit ditenangkan. Anak tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak mau minum. Muntah berulang atau diare berat setelah vaksin. Keluhan berlangsung lebih lama dari yang dijelaskan tenaga kesehatan. Ada riwayat alergi berat atau reaksi berat pada vaksin sebelumnya. Untuk bayi kecil, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbid, atau orang dengan sistem imun lemah, jangan ragu tanya dokter lebih awal karena kebutuhan pemantauan bisa berbeda. Baca juga: Peran Vaksin Influenza pada Diabetes dan Risiko Jantung Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera ke IGD? Efek samping serius setelah vaksin jarang terjadi, tetapi tetap penting dikenali. Reaksi alergi berat atau anafilaksis biasanya muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah vaksinasi dan perlu penanganan segera. NHS menjelaskan bahwa reaksi alergi berat setelah vaksin sangat jarang dan petugas vaksinasi terlatih untuk menanganinya. (3) Segera ke IGD atau cari bantuan darurat bila muncul: Tanda BahayaMengapa Perlu Segera Ditangani?Sesak napas atau napas berbunyiBisa menjadi tanda reaksi alergi beratBengkak pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokanBisa mengganggu jalan napasRuam luas disertai lemas atau pusing beratDapat mengarah ke reaksi alergi beratPingsan atau penurunan kesadaranPerlu evaluasi segeraKejangPerlu penanganan medis segeraNyeri dada, jantung berdebar berat, atau tampak sangat lemahPerlu pemeriksaan untuk memastikan penyebabBayi tampak sangat lemas, kebiruan, atau sulit bernapasTermasuk kondisi darurat Jangan menunggu gejala menjadi lebih berat bila tanda-tanda di atas muncul. Apakah Efek Samping Berarti Vaksinnya Berbahaya? Tidak selalu. Efek samping ringan seperti nyeri bekas suntikan, demam ringan, atau lelah sementara dapat terjadi pada sebagian orang dan umumnya membaik. Vaksin, seperti produk kesehatan lain, dapat menimbulkan reaksi, tetapi manfaat vaksinasi adalah membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu dan membantu mengurangi risiko sakit berat sesuai jenis vaksinnya. (1)(7) Namun, vaksin tidak memberikan perlindungan 100%. Seseorang masih mungkin terkena penyakit setelah vaksinasi, tetapi pada banyak vaksin, tujuan pentingnya adalah membantu mengurangi risiko infeksi berat, komplikasi, rawat inap, atau penularan, tergantung jenis penyakit dan vaksin yang diberikan. (7) Keamanan vaksin juga dipantau melalui sistem pengawasan. WHO memiliki pendekatan penilaian kausalitas KIPI untuk membantu menilai apakah suatu kejadian setelah imunisasi berkaitan dengan vaksin atau ada penyebab lain. (4) Kelompok Perlu Perhatian Khusus Sebagian besar orang dapat menerima vaksin sesuai rekomendasi usia dan kondisi kesehatan. Namun, beberapa kelompok sebaiknya mengujungi dokter lebih dulu agar jenis dan waktu vaksinasi lebih tepat. kunjungi dokter bila Anda atau anggota keluarga: Pernah mengalami reaksi alergi berat terhadap vaksin sebelumnya. Memiliki alergi berat terhadap komponen vaksin tertentu. Sedang sakit sedang atau berat. Sedang hamil atau merencanakan kehamilan. Memiliki penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, atau gangguan paru. Mengalami gangguan sistem imun atau sedang memakai obat imunosupresif. Memiliki riwayat kejang atau gangguan saraf tertentu. Sedang menjalani terapi kanker atau transplantasi. Lansia dengan beberapa kondisi kesehatan sekaligus. CDC menjelaskan bahwa riwayat reaksi alergi berat terhadap dosis sebelumnya atau komponen vaksin dapat menjadi kontraindikasi pada beberapa vaksin, sedangkan sakit sedang atau berat dapat menjadi alasan untuk menunda vaksinasi hingga kondisi membaik. (8) Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayi Tips Agar Lebih Tenang Setelah Vaksinasi Agar pemantauan setelah vaksin lebih mudah, lakukan beberapa langkah sederhana berikut: Tanyakan kepada tenaga kesehatan efek samping apa yang mungkin muncul dari vaksin yang diterima. Tanyakan kapan harus kembali atau menghubungi fasilitas kesehatan. Simpan kartu atau catatan vaksinasi. Jangan langsung melakukan aktivitas berat bila tubuh terasa tidak nyaman. Minum cukup air. Untuk anak, siapkan termometer dan pantau suhu tubuh. Jangan memberikan obat pada bayi atau anak tanpa memastikan dosis yang tepat. Bila punya riwayat alergi, sampaikan sebelum vaksinasi. Tunggu di fasilitas vaksinasi sesuai arahan petugas setelah menerima vaksin. Sikap terbaik adalah tenang, tetapi tetap waspada. Tidak perlu panik terhadap keluhan ringan, tetapi jangan mengabaikan tanda bahaya. Cari Lokasi Vaksinasi Terdekat? Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, Puskesmas, atau klinik penyedia vaksin influenza di sekitar wilayah Anda. Cek Daftar Lokasi Klinik Kesimpulan Efek samping vaksin yang umum biasanya ringan dan sementara, seperti nyeri di area suntikan, bengkak ringan, demam ringan, lelah, sakit kepala, atau pegal. Keluhan ini umumnya membaik dalam beberapa hari dan dapat dipantau dengan istirahat, cukup cairan, serta perawatan sederhana sesuai arahan tenaga kesehatan. (1)(2) Namun, segera hubungi dokter bila keluhan terasa mengkhawatirkan, tidak membaik, atau justru memburuk. Segera cari pertolongan darurat bila muncul tanda alergi berat seperti sesak napas, bengkak wajah atau bibir, pingsan, kejang, atau penurunan kesadaran. (3)(6) Memahami efek samping vaksin dapat membantu keluarga mengambil keputusan dengan lebih tenang. Vaksinasi tetap perlu dilakukan sesuai usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan karena manfaatnya penting untuk membantu mengurangi risiko penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. (7) Referensi (1) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Possible side effects from vaccines.https://www.cdc.gov/vaccines/basics/possible-side-effects.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (2) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu KIPI: Penyebab, gejala, pencegahan dan penanganannya. Ayo Sehat Kemenkes.https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (3) National Health Service. (2023). 6-in-1 vaccine.https://www.nhs.uk/vaccinations/6-in-1-vaccine/(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (4) World Health Organization. (2021). Causality assessment of an adverse event following immunization (AEFI): User manual for the revised WHO classification, 2nd ed., 2019 update.https://www.who.int/publications/i/item/9789241516990(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (5) Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2013). Penjelasan kepada orangtua mengenai imunisasi.https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/penjelasan-kepada-orangtua-mengenai-imunisasi(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (6) Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Getting your COVID-19 vaccine.https://www.cdc.gov/covid/vaccines/getting-your-covid-19-vaccine.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (7) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Vaksinasi COVID-19.https://layanandata.kemkes.go.id/katalog-data/covid-19/ketersediaan-data/vaksinasi-covid-19(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (8) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Contraindications and precautions: Vaccines & immunizations.https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/imz-best-practices/contraindications-precautions.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-D7QK (07/27)

Pernah merasakan gejala batuk, pilek, demam, serta tubuh yang terasa lemas? Banyak orang menganggap gejala tersebut sebagai pilek (common cold), padahal bisa jadi itu influenza A. Akan tetapi, tahukah bila keduanya memiliki perbedaan yang signifikan? Yuk, simak perbedaan influenza A dan common cold berikut ini! Common cold atau sering dikenal dengan selesma merupakan gangguan saluran pernapasan atas yang biasanya disebabkan oleh infeksi Rhinovirus. Di negara-negara tropis, seperti Indonesia, flu musiman dapat terjadi sepanjang tahun. Penyakit ini mudah menular melalui transmisi udara dan percikan (droplet) dari penderitanya dengan masa inkubasi selama 2 – 3 hari. Dalam periode tersebut, penderita akan mulai merasakan gejala seperti (1): Demam ringan Hidung berair dan tersumbat Batuk Bersin-bersin Tenggorokan terasa tidak nyaman Sakit kepala Walaupun sering dianggap sepele, kondisi tersebut dapat memicu keparahan akibat komorbid yang dimiliki oleh penderita antara lain (1): Asma Bronkitis Bronkiolitis Pneumonia Penyakit jantung koroner (PJK), dan lain sebagainya Lalu, apa sih yang membedakan selesma (common cold) dengan influenza A? Pada dasarnya, virus penyebab common cold dan influenza A berbeda. Namun, virus influenza A bukan virus yang jarang ditemukan. Subtipe virus ini justru sering bersirkulasi di masyarakat, seperti H1N1 dan H3N2. Akan tetapi, terdapat salah satu subtipe yang berasal dari hewan dan dapat menginfeksi manusia, yaitu H5N1 (Flu Burung). Virus influenza A mengandung dua protein kunci, yaitu Hemagglutinin (H) dan Neuraminidase (N) yang berperan dalam menentukan jalur masuk virus ke dalam sel tubuh dan cara virus menginfeksi sel lainnya. Jenis virus ini memiliki kemampuan untuk bermutasi setiap tahunnya, sehingga dapat menembus kekebalan tubuh manusia sebagai inangnya (host) (5). Menurut data WHO, angka kematian akibat influenza A mencapai 650.000 jiwa setiap tahunnya (3). Virus influenza A memiliki kemampuan mutasi titik secara akumulatif dalam genom virus, sehingga menghasilkan adanya perubahan varian pada virus. Proses ini disebut dengan antigenic drift. Hal tersebut memungkinkan terjadinya infeksi ulang pada orang yang sudah pernah terinfeksi (5). Gejala Influenza A yang Perlu Diwaspadai: Demam tinggi mendadak (38°C – 40°C) Nyeri pada beberapa bagian otot, utamanya punggung, paha, dan lengan Sakit kepala Kelelahan tubuh Batuk kering dan nyeri tenggorokan Hidung berair atau tersumbat Hal inilah yang membuat virus influenza A terasa lebih parah dibandingkan common cold. Selain itu, virus ini juga memiliki kemampuan antigenic shift yang memungkinkan adanya perubahan besar dalam waktu singkat pada komponen virus. Mekanisme ini terjadi akibat bergabungnya materi genetik dari dua virus yang berbeda. Hasil dari proses inilah yang kerap menyebabkan pandemi, seperti pandemi flu tahun 1918 (H1N1) dan pandemi flu babi tahun 2009 (H1N1pdm09) (5) (6). Update Kasus Influenza A di Indonesia Di Indonesia, terdapat 56% kasus positif influenza A dari 265 spesimen yang diperiksa Kemenkes hingga akhir September 2026. Walaupun terdapat peningkatan kasus, namun pola ini masih mengikuti pola musiman di Indonesia. Peningkatan kasus ini dapat dipengaruhi oleh pergantian musim, mobilitas yang meningkat, dan penularan dari subtipe virus yang sedang banyak bersirkulasi (6). Namun, sebagian besar kasus dari influenza dapat sembuh tanpa membutuhkan rawat inap. Penderita biasanya akan disarankan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut (6): Istirahat total Konsumsi makanan dengan gizi seimbang Minum air putih yang cukup Gunakan masker apabila bepergian/kontak langsung dengan orang banyak Berikut Langkah Preventif Sederhana yang Dapat Dilakukan: Hindari kontak langsung dengan penderita untuk meminimalisasi penularan melalui percikan (droplets) Cuci tangan secara berkala dengan sabun dan air mengalir Menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) Hindari menyentuh area mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan Menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup hidung dan mulut dengan tisu atau lipatan siku Melakukan vaksinasi influenza 1 tahun sekali Baca juga: Alasan Vaksinasi Flu Perlu Diulang Setiap Tahun Sudah Pernah Kena Influenza A, Masih Perlu Vaksin? Ya. Walaupun sistem imun orang yang pernah terkena influenza sudah membentuk antibodi, virus influenza terus bermutasi setiap tahun. Vaksin influenza memberikan perlindungan optimal hingga durasi 12 bulan dengan efektivitas 50 – 60% (7). Oleh karena itu, tubuh membutuhkan pembaruan dosis vaksin setiap tahunnya. Vaksinasi influenza mencegah terjadinya komplikasi, utamanya pada kelompok rentan, seperti lansia usia lebih dari 65 tahun, anak di bawah usia 5 tahun, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan penderita obesitas (6). Vaksinasi dilakukan setelah pasien sembuh total dari influenza dan belum mendapatkan vaksin influenza tahunan. Rekomendasi WHO: Vaksin Influenza Trivalen World Health Organization merekomendasikan adanya transisi dari penggunaan vaksin influenza kuadrivalen (QIV) menjadi vaksin influenza trivalen (TIV). Hal ini ditetapkan karena tidak ditemukannya virus B/Yamagata di sirkulasi pada beberapa tahun terakhir, sehingga peralihan tersebut disarankan sebagai perlindungan dari strain yang relevan (8) (9). Selain itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga merekomendasikan orang tua untuk rutin memberikan vaksinasi influenza kepada anak mulai usia 6 bulan (10). Pada anak 6 bulan – 8 tahun yang baru pertama kali divaksinasi, dosis kedua dapat diberikan dengan jarak minimal 4 – 6 minggu (10). Vaksinasi influenza sejak dini mencegah terjadinya influenza pada anak dan membentuk titer antibodi terhadap penyakit tersebut. Di Mana Vaksinasi Dapat Dilakukan? Vaksinasi influenza dapat diperoleh melalui fasilitas kesehatan setempat, seperti klinik dan rumah sakit. Silakan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter, perawat, atau bidan terdekat sebelum pelaksanaan vaksinasi. Lindungi Keluarga dengan Vaksinasi Segera Influenza A bisa menyerang siapa saja, dan gejalanya jauh lebih berat daripada pilek biasa. Jangan tunggu sampai sakit! Lindungi diri dan keluarga dengan vaksin influenza setiap tahun, terutama untuk anak usia 6 bulan ke atas, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. REFERENSI: Centers for Disease Control and Prevention. (2026). About the Common Cold. https://www.cdc.gov/common-cold/about/index.html (dikutip pada tanggal 06 Oktober 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Tanya Jawab (FAQ) Seputar Influenza. https://ayosehat.kemkes.go.id/tanya-jawab-faq-seputar-influenza (dikutip pada tanggal 06 Oktober 2026). World Health Organization. (2025). Influenza (Seasonal). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal). (dikutip pada tanggal 07 Oktober 2026). The University of Chicago. (2025). Where Does the Flu Come From Every Year?. https://www.uchicagomedicine.org/forefront/biological-sciences-articles/where-does-the-flu-come-from-every-year (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kemenkes Labkesmas Makassar 1. (2025). Lebih dari Sekadar Flu Biasa yang Perlu Diwaspadai.https://bblabkesmasmakassar.go.id/influenza-a-gejala-penularan-komplikasi-pencegahan/ (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). FAQ Influenza: Informasi, Penanganan, dan Pencegahan. https://www.kemkes.go.id/id/faq-influenza-gejala-penanganan-pencegahan (dikutip pada 07 Oktober 2026). Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia. (2026). Mengenal Vaksinasi Influenza dan Manfaatnya. https://peralmuni.org/mengenal-vaksinasi-influenza-dan-manfaatnya/ (dikutip pada 07 Oktober 2026). World Health Organization. (2025). Recommended Composition of Influenza Virus Vaccines For Use in The 2025 – 2026 Northern Hemisphere Influenza Season. https://www.who.int/publications/m/item/recommended-composition-of-influenza-virus-vaccines-for-use-in-the-2025-2026-nh-influenza-season (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kalventis. (2026). Kalventis Hadirkan Vaksin Influenza Trivalent Sesuai Rekomendasi WHO.https://www.kalventis.co.id/post/kalventis-hadirkan-vaksin-influenza-trivalent-sesuai-rekomendasi-who (dikutip pada 07 Oktober 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2015). Melengkapi/Mengejar Imunisasi (Bagian III). https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-iii (dikutip pada 07 Oktober 2026). ID-GEN-2026-10-LBKE (10/26)

Flu bukan sekadar batuk dan pilek biasa. Vaksin influenza menjadi salah satu langkah penting untuk membantu melindungi diri dan keluarga dari influenza serta risiko komplikasi yang dapat menyertainya. Terlebih bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan jemaah haji atau umrah, perlindungan terhadap influenza perlu menjadi perhatian. Dalam semangat “Merdeka dari Flu”, mendapatkan vaksin saja bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Pemilihan vaksin influenza yang sesuai dengan perkembangan medis dan rekomendasi terkini juga penting. Salah satu pilihan yang dibahas dalam artikel ini adalah vaksin influenza trivalen dengan teknologi split virion. Mengapa Vaksin Influenza Penting? Influenza merupakan penyakit yang mudah menular melalui percikan udara atau droplet. Pada kelompok tertentu, infeksi influenza dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan menyebabkan komplikasi seperti pneumonia hingga kondisi yang mengancam jiwa. Oleh karena itu, vaksinasi influenza dapat menjadi bagian dari upaya perlindungan, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi. Siapa saja kelompok rentan tersebut? Anak-anak Sistem kekebalan tubuh anak masih berkembang sehingga anak termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dalam pencegahan influenza. Vaksinasi dapat membantu memberikan perlindungan sekaligus membantu mengurangi risiko penyebaran virus di lingkungan sekolah dan keluarga. Ibu Hamil Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem kekebalan tubuh, jantung, dan paru-paru. Kondisi tersebut dapat membuat ibu hamil lebih rentan terhadap komplikasi akibat influenza. Selain memberikan perlindungan bagi ibu, vaksinasi influenza selama kehamilan juga dapat memberikan kekebalan pasif kepada bayi melalui transfer antibodi. Perlindungan tersebut dapat membantu bayi pada beberapa bulan pertama setelah lahir, ketika bayi belum cukup umur untuk mendapatkan vaksinasi influenza. Lansia Seiring bertambahnya usia, fungsi sistem kekebalan tubuh dapat mengalami penurunan atau immunosenescence. Lansia juga lebih mungkin memiliki penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi yang dapat memperburuk kondisi ketika mengalami influenza. Jemaah Haji dan Umrah Ibadah haji dan umrah mempertemukan banyak orang dari berbagai negara dalam lingkungan yang padat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya penularan penyakit pernapasan, termasuk influenza. Oleh karena itu, vaksin influenza dapat menjadi salah satu langkah perlindungan agar jemaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih nyaman dan mengurangi risiko terkena infeksi saluran pernapasan. Vaksin Influenza Trivalen: Apa yang Perlu Diketahui? Perkembangan ilmu pengetahuan membuat formulasi vaksin influenza terus mengikuti perubahan virus yang beredar. Karena itu, pemilihan vaksin perlu mempertimbangkan rekomendasi dan pedoman terbaru. Salah satu perkembangan yang dibahas adalah penggunaan vaksin influenza trivalen. Mengapa Beralih ke Vaksin Trivalen? Sebelumnya, vaksin influenza quadrivalent yang memberikan perlindungan terhadap empat strain, yaitu dua influenza A dan dua influenza B, banyak digunakan. Namun, berdasarkan materi sumber, WHO merekomendasikan transisi kembali ke vaksin trivalen yang mencakup dua strain influenza A dan satu strain influenza B/Victoria. Salah satu alasannya adalah influenza B/Yamagata tidak lagi terdeteksi bersirkulasi sejak Maret 2020. Untuk rekomendasi WHO yang lebih mutakhir, WHO pada 2026 tetap menyatakan bahwa komponen B/Yamagata tidak lagi diperlukan dalam vaksin influenza. Vaksin Split Virion vs Subunit Selain formulasi vaksin, teknologi pembuatan vaksin influenza juga menjadi salah satu hal yang perlu diketahui. Dua teknologi yang disebutkan dalam materi adalah split virion dan subunit. Apa Itu Vaksin Split Virion? Vaksin influenza dengan teknologi split virion mengandung antigen permukaan sekaligus protein internal virus. Berdasarkan materi sumber, komponen tersebut ditujukan untuk memicu respons sistem imun yang lebih luas. Sementara itu, vaksin dengan teknologi subunit hanya mengandung antigen permukaan virus. Materi sumber menjelaskan bahwa respons kekebalan yang dihasilkan cenderung tidak seluas teknologi split virion. Bagi kelompok yang membutuhkan perlindungan terhadap influenza, seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan jemaah haji, teknologi vaksin juga menjadi salah satu aspek yang dapat dipertimbangkan saat berdiskusi dengan tenaga kesehatan. Jadi, Bagaimana Memilih Vaksin Influenza yang Tepat? Memilih vaksin influenza sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan nama atau jenis vaksin. Perkembangan virus influenza dan rekomendasi vaksin dapat berubah sehingga penting untuk mempertimbangkan pedoman terbaru. Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain: • Formulasi vaksin influenza yang digunakan.• Rekomendasi terbaru dari otoritas kesehatan.• Teknologi yang digunakan dalam pembuatan vaksin.• Kondisi dan kelompok usia penerima vaksin.• Kondisi kesehatan serta kebutuhan individu. Konsultasikan pilihan vaksin dengan dokter atau tenaga kesehatan agar vaksinasi dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan Anda. Merdeka dari Flu, Lindungi Diri dan Keluarga Kemerdekaan dari penyakit bukan berarti tidak pernah sakit sama sekali, tetapi juga tentang mengambil langkah pencegahan yang tepat. Vaksin influenza merupakan salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan untuk membantu memberikan perlindungan terhadap influenza. Terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta jemaah haji dan umrah, perlindungan terhadap influenza menjadi semakin penting. Kenali pilihan vaksin dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk menentukan vaksinasi yang sesuai. Dengan langkah pencegahan yang tepat, mari wujudkan semangat “Merdeka dari Flu” dan tetap aktif menjalani berbagai aktivitas bersama orang-orang tercinta. REFERENSI World Health Organization (WHO). (2023). Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the 2024 southern hemisphere influenza season. https://www.who.int/publications/m/item/recommended-composition-of-influenza-virus-vaccines-for-use-in-the-2024-southern-hemisphere-influenza-season. Last accessed: 7 October 2026. Zaman, K., et al. (2008). Effectiveness of Maternal Influenza Immunization in Mothers and Infants. New England Journal of Medicine, 359(15), 1555–1564. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa0708630. Last accessed: 7 October 2026. Gemmill, I., & Young, K., on behalf of the National Advisory Committee on Immunization (NACI). (2018). Summary of the NACI literature review on the comparative effectiveness of subunit and split virus inactivated influenza vaccines in older adults. Canada Communicable Disease Report, 44(6), 129–133. https://www.canada.ca/en/public-health/services/reports-publications/canada-communicable-disease-report-ccdr/monthly-issue/2018-44/issue-6-june-7-2018/article-2-summary-subunit-split-virus-influenza-vaccine.html. Last accessed: 9 October 2026. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 62 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Kesehatan Haji. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1875. https://peraturan.go.id/files/bn1875-2016.pdf. Last accessed: 9 October 2026. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 3 Juni). Ketua Tim Asistensi ingatkan jemaah haji kurangi aktivitas di siang hari dan lakukan vaksinasi. https://kemkes.go.id/id/ketua-tim-asistensi-ingatkan-jemaah-haji-kurangi-aktivitas-di-siang-hari-dan-lakukan-vaksinasi. Last accessed: 9 October 2026. ID-GEN-2026-10-GPYH (10/26)