
Banyak orang tua mengenal HFMD (flu Singapura) sebagai penyakit ringan yang sering dialami anak-anak. Biasanya hanya ditandai dengan demam dan ruam, lalu sembuh dengan sendirinya.
Namun, tidak semua HFMD bersifat ringan. Ada jenis virus tertentu, yaitu Enterovirus 71 (EV71), yang dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak diwaspadai sejak awal (1).
HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease) adalah penyakit infeksi yang umum terjadi pada anak, terutama usia di bawah 5 tahun (2). Gejala yang sering muncul antara lain:
● Demam
● Luka atau sariawan di mulut
● Ruam atau lepuhan di tangan dan kaki
Sebagian besar kasus memang ringan. Namun, pada beberapa kasus tertentu—terutama yang disebabkan oleh EV71—penyakit ini bisa berkembang menjadi lebih serius (1).
Berbeda dengan virus penyebab HFMD lainnya, EV71 memiliki kecenderungan menyerang sistem saraf (1). Infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi seperti:
● Meningitis (radang selaput otak)
● Ensefalitis (radang otak)
● Gangguan pernapasan
● Bahkan kematian pada kasus berat (1,3)
Yang perlu diwaspadai, kondisi ini dapat berkembang dengan cepat pada anak-anak.
HFMD merupakan penyakit yang sangat mudah menular, terutama di lingkungan dengan interaksi tinggi seperti sekolah dan daycare (2).
Virus dapat menyebar melalui:
● Droplet (batuk dan bersin)
● Kontak langsung dengan cairan lepuhan
● Permukaan benda yang terkontaminasi
Anak yang terinfeksi bahkan dapat menularkan virus sebelum gejala muncul, sehingga penyebarannya sering tidak disadari (2).
Wabah HFMD sering terjadi di berbagai negara, khususnya di kawasan Asia Pasifik (3). Meskipun sering dianggap ringan, HFMD tetap memiliki potensi menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak kecil (3). Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan sejak dini.
Saat ini, vaksin untuk melindungi anak dari HFMD berat akibat EV71 telah tersedia dan mulai digunakan sebagai upaya pencegahan (4). Vaksin ini membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus EV71 sebelum terjadi infeksi. Beberapa manfaat vaksin EV71:
● Mengurangi risiko komplikasi neurologis
● Menurunkan risiko rawat inap
● Memberikan perlindungan pada anak usia dini yang paling rentan (4,5)
Vaksin ini umumnya direkomendasikan untuk anak usia mulai 6 bulan ke atas (4).
Selain vaksinasi, orang tua juga dapat melakukan langkah sederhana untuk mengurangi risiko penularan:
● Mengajarkan anak mencuci tangan secara rutin
● Membersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh
● Menghindari kontak dengan anak yang sedang sakit
Langkah ini penting karena HFMD sangat mudah menyebar di lingkungan anak (2).
HFMD memang sering dianggap sebagai penyakit ringan, tetapi jenis virus seperti EV71 dapat menyebabkan komplikasi serius pada anak.
Dengan penyebaran yang cepat dan risiko yang tidak selalu terlihat, pencegahan menjadi langkah paling penting. Vaksinasi EV71, didukung dengan kebiasaan hidup bersih, dapat membantu melindungi anak sejak dini.
Karena dalam kesehatan anak, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.
Referensi
Langkah pencegahan hari ini dapat membantu menjaga kesehatan anak esok hari.
Vaksin EV71 adalah vaksin yang membantu tubuh membentuk respon imun terhadap Enterovirus 71, salah satu virus penyebab Hand, Foot, and Mouth Disease atau HFMD yang sering dikenal masyarakat sebagai Flu Singapura. EV71 penting diperhatikan karena pada sebagian kasus dapat berkaitan dengan penyakit yang lebih berat, terutama pada anak kecil. (1) Namun, vaksin EV71 tidak mencegah semua jenis HFMD. HFMD juga dapat disebabkan oleh virus lain, seperti Coxsackievirus A16 dan enterovirus lain. Artinya, anak yang sudah mendapat vaksin EV71 masih bisa terkena HFMD dari virus selain EV71, tetapi vaksin dapat membantu mengurangi risiko HFMD yang disebabkan oleh EV71 sesuai indikasi vaksin. (2) Vaksin EV71 biasanya dipertimbangkan untuk anak sesuai usia, kondisi kesehatan, ketersediaan vaksin, dan rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan. Orang tua sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum vaksinasi, terutama bila anak sedang demam, memiliki riwayat alergi berat, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, dokter anak, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Untuk keputusan vaksinasi anak, selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berwenang. Apa Itu HFMD atau Flu Singapura? Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Flu Singapura dalam istilah populer, yaitu infeksi virus yang sering menyerang bayi dan anak-anak. Gejalanya biasanya berupa demam, sariawan atau luka di mulut, serta ruam atau lepuhan kecil di telapak tangan, telapak kaki, dan kadang area bokong. (3) HFMD mudah menular melalui kontak dekat, percikan droplet, cairan dari lepuhan, tinja, atau permukaan benda yang terkontaminasi. Karena itu, penyakit ini sering menyebar di lingkungan anak seperti daycare, sekolah, tempat bermain, dan rumah dengan beberapa anak. (3) Sebagian besar kasus HFMD bersifat ringan dan membaik dengan perawatan suportif, seperti cukup cairan, istirahat, dan obat sesuai anjuran dokter. Namun, orang tua tetap perlu waspada karena anak dapat mengalami sulit makan dan minum akibat nyeri mulut, sehingga berisiko dehidrasi. Baca juga: Flu Singapura (HFMD): Gejala, Penularan, Pencegahan, dan Konsultasi Dokter Kenapa EV71 Perlu Diperhatikan? HFMD dapat disebabkan oleh beberapa virus. Salah satu yang penting adalah Enterovirus 71 atau EV71. Menurut WHO, EV71 dapat menyebabkan spektrum penyakit yang luas, mulai dari tanpa gejala, HFMD ringan, hingga penyakit neurologis berat pada sebagian kasus. (1) Anak usia dini termasuk kelompok yang perlu lebih diperhatikan karena sistem imun mereka masih berkembang dan mereka sering berinteraksi dekat dengan anak lain. Pada kasus yang jarang, infeksi EV71 dapat berkaitan dengan komplikasi serius, seperti gangguan sistem saraf pusat atau masalah jantung-paru. (1) Penting untuk dipahami: kewaspadaan terhadap EV71 bukan berarti semua HFMD akan menjadi berat. Banyak kasus tetap ringan. Namun, mengetahui penyebab, tanda bahaya, dan pilihan pencegahan dapat membantu orang tua mengambil langkah yang lebih tenang dan tepat. Apa Itu Vaksin EV71? Vaksin EV71 adalah vaksin yang dirancang untuk membantu tubuh membentuk respons imun terhadap Enterovirus 71. Vaksin EV71 yang telah dievaluasi regulator merupakan vaksin inaktif, sehingga tidak mengandung virus hidup yang dapat bereplikasi dan menyebabkan infeksi EV71. (2) Secara sederhana, cara kerja vaksin EV71 adalah: vaksin memperkenalkan komponen virus yang sudah diinaktivasi kepada sistem imun; tubuh belajar mengenali EV71; tubuh membentuk antibodi atau respons imun; ketika anak terpapar EV71 di kemudian hari, tubuh diharapkan lebih siap melawan virus tersebut. Vaksin EV71 dapat membantu mencegah HFMD yang disebabkan oleh EV71, tetapi tidak melindungi dari HFMD akibat virus lain. Ini adalah poin penting agar orang tua memiliki ekspektasi yang realistis. (2) Apakah Vaksin EV71 Bisa Mencegah Semua HFMD? Tidak. Vaksin EV71 tidak mencegah semua HFMD. HFMD dapat disebabkan oleh berbagai enterovirus. EV71 adalah salah satu penyebab yang penting karena lebih sering dikaitkan dengan risiko penyakit berat dibanding beberapa penyebab lain. Namun, virus lain seperti Coxsackievirus A16 juga dapat menyebabkan HFMD. (2)(3) Berikut ringkasan sederhananya: PertanyaanJawaban SingkatApakah vaksin EV71 membantu mencegah HFMD?Ya, untuk HFMD yang disebabkan oleh EV71 sesuai indikasi vaksin.Apakah vaksin EV71 mencegah semua penyebab HFMD?Tidak. HFMD juga bisa disebabkan virus lain.Apakah anak masih bisa terkena HFMD setelah vaksin?Bisa, terutama bila penyebabnya bukan EV71.Apakah kebersihan tetap penting setelah vaksin?Ya. Cuci tangan, disinfeksi mainan, dan isolasi saat sakit tetap penting. Dengan pemahaman ini, vaksin EV71 sebaiknya dilihat sebagai bagian dari strategi pencegahan, bukan satu-satunya perlindungan. Siapa yang Dapat Mempertimbangkan Vaksin EV71? Vaksin EV71 terutama relevan untuk anak usia dini sesuai indikasi yang berlaku dan rekomendasi tenaga kesehatan. Di Indonesia, informasi produk yang terdaftar menyebutkan vaksin EV71 digunakan untuk pencegahan HFMD yang disebabkan EV71, dengan jadwal dua dosis sesuai petunjuk produk dan rekomendasi resmi. (2) Orang tua dapat berdiskusi dengan dokter anak bila anak: berusia bayi atau prasekolah sesuai indikasi vaksin; mulai masuk daycare, PAUD, TK, atau sering bermain bersama banyak anak; tinggal serumah dengan saudara yang juga masih kecil; pernah mengalami HFMD dan orang tua ingin memahami opsi pencegahan ke depan; memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membutuhkan penilaian dokter sebelum vaksinasi. Vaksinasi sebaiknya ditunda atau dikonsultasikan terlebih dahulu bila anak sedang demam, sakit akut, atau memiliki riwayat reaksi alergi berat terhadap komponen vaksin. Informasi kontraindikasi dan kehati-hatian harus mengikuti petunjuk produk serta penilaian dokter. (2) Jadwal Vaksin EV71: Berapa Kali Diberikan? Berdasarkan informasi produk vaksin EV71 yang terdaftar, vaksin diberikan dalam dua dosis, masing-masing 0,5 mL, dengan jarak sekitar 1 bulan antara dosis pertama dan kedua. (2) Namun, jadwal vaksinasi anak tetap perlu dikonfirmasi dengan dokter atau fasilitas vaksinasi. Tenaga kesehatan akan menilai usia anak, kondisi kesehatan saat datang, riwayat alergi, riwayat vaksin sebelumnya, dan apakah anak sedang mengalami demam atau infeksi akut. Hal yang perlu diingat orang tua: dosis kedua penting untuk melengkapi jadwal vaksin; jangan memberikan vaksin saat anak sedang sakit tanpa penilaian tenaga kesehatan; simpan catatan vaksin anak agar jadwal tidak terlewat; tanyakan apakah vaksin EV71 sesuai untuk usia dan kondisi anak. Baca juga: Kasus HFMD Jadi Perhatian, BPOM Resmi Perluas Vaksin EV71 Manfaat Vaksin EV71 untuk Anak Manfaat utama vaksin EV71 adalah membantu memberikan perlindungan terhadap HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Dalam berbagai studi, vaksin EV71 inaktif menunjukkan perlindungan terhadap penyakit EV71, termasuk potensi manfaat dalam menurunkan risiko penyakit yang lebih berat akibat EV71. (4)(5) Manfaat yang dapat dipahami orang tua: Membantu mengurangi risiko HFMD akibat EV71Vaksin membantu tubuh mengenali EV71 dan membentuk respons imun. Membantu perlindungan pada usia rentanAnak kecil lebih sering terpapar di lingkungan bermain, sekolah, atau daycare. Menjadi bagian dari pencegahan berlapisVaksin tidak menggantikan cuci tangan, kebersihan mainan, dan isolasi saat sakit. Membantu orang tua mengambil langkah preventifDengan informasi yang jelas, orang tua bisa berdiskusi lebih terarah dengan dokter. Vaksin tidak memberikan perlindungan 100%. Namun, vaksinasi dapat menjadi langkah penting untuk membantu mengurangi risiko penyakit sesuai indikasi dan rekomendasi tenaga kesehatan. Efek Samping Vaksin EV71 yang Perlu Diketahui Seperti vaksin lain, vaksin EV71 dapat menimbulkan efek samping pada sebagian anak. Umumnya efek samping bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri atau kemerahan di area suntikan, demam ringan, rewel, atau rasa tidak nyaman setelah vaksinasi. (2) Efek samping yang perlu dipantau: Efek setelah vaksinApa yang bisa dilakukanNyeri atau kemerahan di area suntikanKompres sesuai anjuran tenaga kesehatan, jangan dipijat keras.Demam ringanPastikan anak cukup minum dan istirahat. Obat penurun demam digunakan sesuai anjuran dokter.Rewel atau tidak nyamanPantau kondisi umum anak dan berikan cairan cukup.Reaksi alergi beratSegera cari bantuan medis bila muncul sesak, bengkak wajah, lemas berat, atau ruam menyeluruh. Reaksi serius setelah vaksin jarang terjadi, tetapi tetap perlu diperhatikan. Setelah vaksinasi, biasanya fasilitas kesehatan akan meminta anak menunggu beberapa saat untuk memantau kemungkinan reaksi segera. Kapan Anak dengan HFMD Harus Segera ke Dokter? Sebagian besar HFMD dapat membaik dengan perawatan suportif. Namun, orang tua perlu segera membawa anak ke dokter atau fasilitas kesehatan bila muncul tanda bahaya. Segera konsultasi bila anak mengalami: demam tinggi atau demam yang tidak membaik; sulit minum atau tanda dehidrasi, seperti jarang buang air kecil, sangat lemas, atau mulut kering; muntah berulang; tampak sangat mengantuk, sulit dibangunkan, atau kejang; sakit kepala berat, kaku leher, atau tampak bingung; napas cepat, sesak, atau tampak kebiruan; anak masih bayi kecil atau memiliki kondisi kesehatan khusus. Tanda-tanda tersebut tidak boleh ditunda karena sebagian kecil kasus HFMD, terutama yang berkaitan dengan EV71, dapat berkembang lebih serius. (1)(3) Pencegahan HFMD Tidak Cukup Hanya dengan Vaksin Karena HFMD dapat disebabkan oleh berbagai virus, pencegahan tetap perlu dilakukan berlapis. Vaksin EV71 membantu terhadap EV71, tetapi kebiasaan hidup bersih tetap penting untuk menurunkan risiko penularan. Langkah pencegahan sehari-hari: ajarkan anak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir; cuci tangan setelah dari toilet, sebelum makan, dan setelah mengganti popok; bersihkan mainan, meja, gagang pintu, dan benda yang sering disentuh; hindari berbagi alat makan, botol minum, atau handuk; jauhkan sementara anak yang sakit dari sekolah atau daycare sesuai anjuran tenaga kesehatan; ajarkan etika batuk dan bersin; pantau gejala pada saudara atau teman serumah. CDC menekankan cuci tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit, serta membersihkan permukaan yang sering disentuh sebagai langkah pencegahan HFMD. (3) Apakah Vaksin EV71 Wajib? Status vaksin dapat berbeda berdasarkan kebijakan negara, rekomendasi profesi, ketersediaan vaksin, dan kondisi masing-masing anak. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya mengikuti informasi dari media sosial atau pengalaman orang lain. Pertanyaan yang bisa diajukan ke dokter: Apakah usia anak saya sesuai untuk vaksin EV71? Apakah anak saya perlu menunda vaksin karena sedang demam atau sakit? Apakah ada riwayat alergi yang perlu diperhatikan? Berapa jadwal dosis pertama dan kedua? Apa efek samping yang perlu dipantau di rumah? Kapan harus kembali kontrol? Pendekatan terbaik adalah mengambil keputusan berdasarkan informasi medis yang jelas, kondisi anak, dan rekomendasi tenaga kesehatan. Baca juga: Panduan Lengkap Vaksinasi untuk Keluarga Indonesia Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin EV71 untuk HFMD? Vaksin EV71 dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan vaksinasi anak, seperti klinik vaksinasi, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan resmi tertentu. Ketersediaan vaksin dapat berbeda di setiap wilayah dan fasilitas kesehatan. Sebelum vaksinasi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk bayi, anak dengan riwayat alergi berat, anak yang sedang demam, anak dengan penyakit kronis, atau anak dengan kondisi imun tertentu. Konsultasi membantu memastikan jadwal, jenis vaksin, dan kondisi kesehatan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin EV71 atau layanan vaksinasi anak di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin EV71 adalah vaksin yang membantu melindungi anak dari HFMD atau Hand, Foot, and Mouth Disease yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Vaksin ini penting dipahami karena EV71 merupakan salah satu penyebab HFMD yang dapat berkaitan dengan risiko penyakit lebih berat pada sebagian anak. (1) Namun, vaksin EV71 tidak mencegah semua penyebab HFMD. Anak tetap dapat terkena HFMD akibat virus lain, sehingga kebersihan tangan, disinfeksi mainan, etika batuk, dan menghindari kontak dekat dengan anak yang sedang sakit tetap perlu dilakukan. (2)(3) Untuk orang tua, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum vaksinasi. Dengan informasi yang tepat, vaksin EV71 dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari perlindungan kesehatan anak secara menyeluruh. Referensi World Health Organization. (n.d.). Enterovirus 71.https://www.who.int/teams/health-product-policy-and-standards/standards-and-specifications/norms-and-standards/vaccine-standardization/enterovirus-71(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2022). Informasi produk Inlive®: Inactivated enterovirus type 71 vaccine.https://registrasiobat.pom.go.id/files/assesment-reports/01698216830.pdf(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Hand, Foot, and Mouth Disease.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Zhang, Y., et al. (2024). Effectiveness of Enterovirus 71 inactivated vaccines against Enterovirus A71-associated hand, foot, and mouth disease.https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10984126/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Yan, X., et al. (2025). The efficacy and effectiveness of enterovirus A71 vaccines: A systematic review and meta-analysis.https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12097632/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-AE48 (07/27)

Memasuki trimester kedua, sebagian ibu mulai merasa lebih nyaman menjalani kehamilan. Keluhan mual biasanya mulai berkurang, sementara pemeriksaan kehamilan semakin berfokus pada perkembangan janin dan persiapan menuju trimester berikutnya. Pada tahap ini, riwayat vaksinasi ibu juga penting untuk diperiksa. Vaksin ibu hamil trimester 2 adalah vaksin yang dapat diberikan atau mulai direncanakan pada usia kehamilan sekitar 14–27 minggu, sesuai jenis vaksin, riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko paparan, serta rekomendasi dokter. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada setiap trimester. Imunisasi yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, atau pertusis dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat vaksin dan pedoman yang digunakan. Dalam sejumlah panduan internasional, Tdap dianjurkan pada setiap kehamilan, terutama pada usia 27–36 minggu agar transfer antibodi kepada bayi berlangsung optimal. (1)(2) Tidak semua ibu hamil membutuhkan jenis vaksin yang sama. Vaksin hepatitis B dan beberapa vaksin nonhidup lainnya biasanya diberikan berdasarkan faktor risiko atau indikasi medis. Sementara itu, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya ditunda sampai setelah persalinan. (1)(3) Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, risiko paparan, regulasi, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Mengapa Vaksinasi Penting pada Trimester Kedua? Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut diperlukan untuk mendukung pertumbuhan janin, tetapi pada saat bersamaan dapat membuat ibu lebih berisiko mengalami penyakit berat akibat infeksi tertentu, termasuk influenza. (1)(4) Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan dua bentuk perlindungan: Perlindungan bagi ibu, dengan membantu sistem imun mengenali penyebab penyakit tertentu. Perlindungan awal bagi bayi, melalui antibodi ibu yang dapat ditransfer melalui plasenta. Antibodi yang diterima bayi tidak memberikan perlindungan seumur hidup. Namun, perlindungan pasif tersebut dapat membantu pada masa awal kehidupan ketika bayi masih terlalu muda untuk menerima beberapa vaksin secara lengkap. Vaksin juga tidak selalu mencegah infeksi 100%. Tujuannya adalah membantu menurunkan risiko tertular, mengalami penyakit berat, komplikasi, atau perawatan di rumah sakit, bergantung pada jenis penyakit dan vaksin. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanan Apa Saja Vaksin Ibu Hamil Trimester 2? Berikut gambaran umum vaksin yang dapat dibahas dengan dokter pada trimester kedua. Jenis vaksinWaktu yang perlu diperhatikanTujuan utamaCatatanInfluenza inaktifDapat diberikan pada setiap trimesterMembantu melindungi ibu dari influenza dan komplikasinyaHindari vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung selama kehamilanTdapSejumlah panduan menganjurkan usia 27–36 mingguMembantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusisJadwal dan ketersediaannya perlu dikonfirmasi di IndonesiaTT atau TdBerdasarkan status imunisasi tetanus ibuMembantu mencegah tetanus maternal dan neonatalJumlah dosis bergantung pada riwayat imunisasiHepatitis BBerdasarkan indikasi dan faktor risikoMembantu mencegah infeksi hepatitis BKehamilan bukan kontraindikasi mutlakCOVID-19Mengikuti rekomendasi resmi terbaruMembantu mengurangi risiko penyakit beratJenis, dosis, dan waktu perlu mengikuti kebijakan terkiniVaksin lainHanya berdasarkan indikasi khususDisesuaikan dengan penyakit atau paparanMemerlukan penilaian manfaat dan risiko oleh dokter Tabel tersebut bukan jadwal vaksin pribadi. Dokter perlu memeriksa buku imunisasi, usia kehamilan, hasil pemeriksaan, penyakit penyerta, serta kemungkinan paparan sebelum menentukan kebutuhan vaksin. 1. Vaksin Influenza Inaktif Influenza bukan sekadar pilek biasa. Pada ibu hamil, influenza dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berat karena perubahan sistem imun dan fungsi pernapasan selama kehamilan. WHO dan CDC mendukung penggunaan vaksin influenza inaktif selama kehamilan. Vaksin ini dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, atau ketiga, terutama ketika influenza sedang beredar. (1)(4) Manfaat vaksin influenza bagi ibu hamil dapat mencakup: membantu menurunkan risiko influenza; membantu mengurangi risiko komplikasi akibat influenza; membantu mengurangi kemungkinan penyakit berat; membentuk antibodi yang dapat diteruskan kepada bayi. Jenis yang digunakan adalah vaksin influenza inaktif atau nonhidup, bukan vaksin influenza hidup dalam bentuk semprot hidung. Baca juga: Vaksin Influenza Saat Hamil: Rekomendasi untuk Ibu dan Bayi. 2. Vaksin Tdap, Td, atau TT Istilah Tdap, Td, dan TT sering membuat pembaca bingung. Ketiganya tidak sepenuhnya sama. TT memberikan perlindungan terhadap tetanus. Td memberikan perlindungan terhadap tetanus dan difteri dengan komponen difteri dosis rendah. Tdap memberikan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis atau batuk rejan. Dalam panduan ACOG dan CDC, Tdap direkomendasikan pada setiap kehamilan, terutama pada awal rentang usia kehamilan 27–36 minggu. Waktu ini dipilih untuk membantu pembentukan dan pemindahan antibodi pertusis kepada bayi sebelum lahir. (1)(2) Usia 27 minggu berada di peralihan akhir trimester kedua menuju trimester ketiga, tergantung cara penghitungan trimester yang digunakan. Karena itu, trimester kedua merupakan waktu yang baik untuk membahas dan merencanakan Tdap bersama dokter, bukan menentukan jadwal secara mandiri. Di Indonesia, ibu hamil juga dapat menjalani skrining status imunisasi tetanus. Kebutuhan TT atau Td bergantung pada jumlah dosis yang pernah diterima sebelumnya. Imunisasi tetanus pada perempuan usia subur dan ibu hamil telah berperan dalam upaya eliminasi tetanus maternal dan neonatal di Indonesia. (5) 3. Vaksin Hepatitis B Berdasarkan Indikasi Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyerang hati. Kehamilan bukan merupakan kontraindikasi untuk vaksin hepatitis B karena vaksin ini tidak mengandung virus hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. (1) Vaksin hepatitis B dapat dipertimbangkan apabila ibu: belum pernah menerima seri vaksin hepatitis B; belum memiliki riwayat imunisasi yang jelas; memiliki pasangan atau anggota rumah tangga dengan hepatitis B; bekerja di lingkungan dengan risiko paparan darah; memiliki faktor risiko lain berdasarkan pemeriksaan dokter. Vaksinasi ibu tidak menggantikan pemeriksaan hepatitis B dalam layanan antenatal. Apabila ibu diketahui terinfeksi hepatitis B, bayi membutuhkan tata laksana pencegahan khusus segera setelah lahir sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. 4. Vaksin COVID-19 Mengikuti Panduan Terbaru Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan virus, bukti ilmiah, jenis vaksin yang tersedia, dan kebijakan pemerintah. Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak hanya menggunakan jadwal dari artikel lama. Diskusikan dengan dokter apakah ibu memerlukan dosis primer, dosis lanjutan, atau belum membutuhkan dosis tambahan berdasarkan: riwayat vaksin COVID-19; riwayat infeksi sebelumnya; penyakit penyerta; risiko paparan; jenis vaksin yang tersedia; panduan resmi terbaru di Indonesia. Vaksin yang Tidak Diberikan Secara Rutin kepada Semua Ibu Hamil Beberapa vaksin dapat dipertimbangkan hanya ketika risiko penyakit dinilai lebih tinggi daripada potensi risikonya. Contohnya dapat mencakup vaksin hepatitis A, meningokokus, rabies, atau vaksin perjalanan tertentu. Pertimbangan tersebut mungkin diperlukan ketika ibu: akan bepergian ke wilayah dengan risiko penyakit tertentu; mengalami gigitan hewan yang berisiko menularkan rabies; tinggal atau bekerja di lingkungan dengan paparan khusus; memiliki penyakit kronis atau kondisi medis tertentu; belum menyelesaikan vaksinasi sebelum hamil. Keputusan tidak hanya ditentukan oleh usia kehamilan. Jenis vaksin, tingkat paparan, keparahan penyakit, dan ketersediaan alternatif pencegahan juga harus dipertimbangkan. Vaksin Apa yang Perlu Ditunda Saat Hamil? Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya tidak diberikan selama kehamilan karena terdapat risiko teoretis terhadap janin. Contohnya meliputi: vaksin MMR; vaksin varisela atau cacar air; vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung; beberapa vaksin perjalanan hidup. Vaksin HPV juga tidak direkomendasikan untuk diberikan selama kehamilan, meskipun bukan vaksin hidup. Dosis yang belum selesai biasanya dapat dilanjutkan setelah persalinan tanpa harus mengulang seri dari awal. (3)(6) Apabila seorang perempuan menerima vaksin tersebut sebelum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil, jangan langsung panik. Catat tanggal dan nama vaksinnya, lalu konsultasikan kepada dokter kandungan untuk evaluasi lebih lanjut. Apakah Vaksin pada Trimester 2 Aman untuk Bayi? Keamanan bergantung pada jenis vaksin. Vaksin nonhidup yang direkomendasikan selama kehamilan telah dipelajari melalui pemantauan keamanan dan penelitian dalam jumlah besar. Namun, istilah “aman” tidak berarti sama sekali tanpa kemungkinan efek samping. Efek samping ringan dapat terjadi karena sistem imun sedang merespons vaksin. Efek samping yang umumnya dapat muncul antara lain: nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan; lelah; sakit kepala; nyeri otot; demam ringan; rasa tidak enak badan. Reaksi tersebut umumnya bersifat sementara. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa KIPI ringan dapat berupa reaksi lokal maupun sistemik dan biasanya membaik dalam waktu singkat. Reaksi serius dapat terjadi, tetapi jauh lebih jarang. (7) Kapan Harus Segera Mencari Bantuan Medis? Segera cari pertolongan medis apabila setelah vaksinasi muncul: kesulitan bernapas; pembengkakan pada wajah, bibir, atau tenggorokan; ruam luas yang berkembang cepat; pingsan atau penurunan kesadaran; demam tinggi atau menetap; kejang; keluhan kehamilan yang terasa berat atau tidak biasa; gerakan janin berkurang setelah sebelumnya sudah terasa teratur. Keluhan tersebut belum tentu disebabkan oleh vaksin, tetapi tetap memerlukan pemeriksaan segera. Checklist Sebelum Vaksinasi pada Trimester Kedua Sebelum datang ke fasilitas kesehatan, siapkan informasi berikut: Usia kehamilan saat ini Buku KIA atau catatan pemeriksaan kehamilan Riwayat vaksin sebelum dan selama kehamilan Nama vaksin serta tanggal dosis terakhir Riwayat alergi berat atau anafilaksis Reaksi setelah vaksin sebelumnya Penyakit kronis atau gangguan sistem imun Obat dan suplemen yang sedang digunakan Riwayat infeksi atau demam baru-baru ini Rencana perjalanan selama kehamilan Ibu dengan pilek ringan belum tentu harus menunda vaksin. Sebaliknya, demam atau penyakit akut sedang hingga berat mungkin menjadi alasan untuk menjadwalkan ulang vaksinasi. Keputusan sebaiknya dibuat oleh tenaga kesehatan setelah menilai kondisi ibu. Pertanyaan yang Dapat Diajukan kepada Dokter Agar konsultasi lebih terarah, ibu dapat menanyakan: Apakah saya memerlukan vaksin pada trimester kedua? Bagaimana status imunisasi tetanus saya? Apakah saya perlu Tdap, Td, atau TT? Kapan waktu terbaik mendapatkan vaksin tersebut? Apakah vaksin influenza yang tersedia merupakan vaksin inaktif? Apakah kondisi kesehatan saya memengaruhi jadwal vaksin? Apakah vaksin dapat diberikan bersamaan? Efek samping apa yang perlu saya pantau? Kapan saya harus kembali untuk dosis berikutnya? Vaksin apa yang perlu diberikan setelah melahirkan? Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil Trimester 2? Vaksin untuk ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan pemeriksaan kehamilan dan layanan vaksinasi, seperti: puskesmas; rumah sakit; klinik ibu dan anak; praktik dokter kandungan; klinik vaksinasi resmi; fasilitas kesehatan lain yang memiliki tenaga dan penyimpanan vaksin sesuai standar. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, waktu pemberian, status imunisasi sebelumnya, serta kondisi kehamilan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 2 dapat membantu melindungi kesehatan ibu sekaligus memberikan antibodi awal kepada bayi. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada setiap trimester, sedangkan vaksin yang melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis perlu dijadwalkan berdasarkan jenis vaksin, usia kehamilan, riwayat imunisasi, serta panduan yang berlaku. Vaksin hepatitis B, COVID-19, dan vaksin lain dapat diberikan berdasarkan indikasi dan rekomendasi terbaru. Sebaliknya, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya ditunda hingga setelah persalinan. Tidak ada satu jadwal yang sesuai untuk semua ibu hamil. Bawalah catatan vaksin saat pemeriksaan antenatal dan konsultasikan setiap keputusan vaksinasi kepada dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Referensi Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). 2026 maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Vaccine safety for moms-to-be.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/moms-to-be/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Strategi komunikasi nasional imunisasi 2022–2025.https://www.kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/16653827576343b965228c40.04885132.pdf(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Pregnancy and vaccines.https://www.cdc.gov/vaccine-safety/about/pregnancy.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu KIPI: Penyebab, gejala, pencegahan, dan pengobatan.https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-Y6ZD (08/26)
Vaksin influenza adalah vaksin yang membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap virus influenza musiman. Vaksin ini tidak memberikan perlindungan 100%, tetapi dapat membantu mengurangi risiko sakit influenza, gejala berat, rawat inap, dan komplikasi terutama pada kelompok berisiko tinggi. (1)(2) Secara umum, vaksin influenza dapat diberikan mulai usia 6 bulan dan dianjurkan diulang setiap tahun karena virus influenza dapat berubah dari waktu ke waktu. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan melalui UPK Kemenkes juga menjelaskan bahwa vaksin influenza dapat dimulai sejak usia 6 bulan dan dilanjutkan satu tahun sekali. (3) Kelompok yang perlu lebih mempertimbangkan vaksin influenza antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis, tenaga kesehatan, pekerja aktif, pelancong, dan orang yang tinggal atau bekerja di lingkungan padat. (1)(4) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apa Itu Influenza dan Mengapa Perlu Diwaspadai? Influenza adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Gejalanya bisa berupa demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, lemas, dan rasa tidak enak badan. Pada banyak orang, influenza dapat membaik dalam beberapa hari. Namun, pada kelompok tertentu, influenza bisa berkembang menjadi penyakit yang lebih berat. (1) Influenza berbeda dengan pilek biasa. Pilek umumnya lebih ringan, sedangkan influenza dapat menyebabkan demam tinggi, tubuh sangat lemas, dan risiko komplikasi seperti pneumonia, perburukan penyakit jantung, gangguan paru, hingga rawat inap pada kelompok berisiko. (1)(2) Baca juga: Influenza Bukan Flu Biasa & Dampaknya Sering Terabaikanhttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/beban-influenza-dampak-komplikasi Apa Itu Vaksin Influenza? Vaksin influenza adalah vaksin yang dirancang untuk membantu sistem imun mengenali virus influenza. Setelah vaksinasi, tubuh membentuk respons imun sehingga ketika terpapar virus influenza di kemudian hari, tubuh dapat merespons lebih cepat. (2) Namun, penting dipahami bahwa vaksin influenza bukan berarti seseorang pasti tidak akan terkena flu sama sekali. Manfaat utamanya adalah membantu mengurangi risiko infeksi, mengurangi keparahan gejala, dan menurunkan risiko komplikasi serius. (2) Karena virus influenza sering berubah, komposisi vaksin influenza dievaluasi secara berkala oleh badan kesehatan global seperti WHO. Inilah alasan vaksin influenza umumnya dianjurkan setiap tahun. WHO secara rutin menerbitkan rekomendasi komposisi vaksin influenza sesuai pemantauan virus yang beredar. (5) Manfaat Vaksin Influenza Vaksin influenza dapat memberikan beberapa manfaat penting, terutama bila diberikan sesuai usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan. ManfaatPenjelasan SederhanaMembantu mencegah influenzaVaksin membantu tubuh mengenali virus influenza dan membentuk perlindungan.Mengurangi risiko gejala beratJika tetap terinfeksi, vaksin dapat membantu menurunkan risiko sakit berat.Menurunkan risiko komplikasiInfluenza dapat menyebabkan pneumonia atau memperburuk penyakit kronis pada sebagian orang.Melindungi kelompok rentanAnak kecil, lansia, ibu hamil, dan pasien komorbid lebih berisiko mengalami komplikasi.Mengurangi dampak sosialInfluenza dapat menyebabkan absen sekolah, absen kerja, dan gangguan aktivitas keluarga. CDC menyebut vaksin influenza dapat mengurangi risiko flu dan komplikasi serius akibat flu. (2) Siapa yang Dianjurkan Mendapatkan Vaksin Influenza? Secara umum, CDC merekomendasikan vaksin influenza tahunan untuk semua orang usia 6 bulan ke atas yang tidak memiliki kontraindikasi. (2) Dalam konteks Indonesia, rekomendasi juga perlu mempertimbangkan panduan dokter, IDAI untuk anak, PAPDI untuk dewasa, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Kelompok berikut perlu lebih memperhatikan vaksin influenza: 1. Anak-anak Anak-anak dapat tertular dan menularkan influenza dengan mudah, terutama di sekolah, daycare, atau lingkungan bermain. Vaksin influenza dapat mulai diberikan sejak usia 6 bulan. Untuk anak usia <9 th diberikan 2 dosis dg jarak 1 bulan, selanjutnya diberikan 1 th sekali. Untuk baru pertama kali menerima vaksin influenza, Dokter biasanya merekomendasikan dua dosis pada awal pemberian, kemudian dilanjutkan setiap tahun. (3)(6) 2. Orang Dewasa Aktif dan Pekerja Orang dewasa yang sering beraktivitas di kantor, transportasi umum, sekolah, fasilitas publik, atau bertemu banyak orang memiliki peluang paparan yang lebih tinggi. Vaksinasi dapat menjadi bagian dari perlindungan diri sekaligus membantu mengurangi risiko menularkan influenza kepada keluarga di rumah. 3. Lansia Lansia lebih berisiko mengalami komplikasi influenza karena daya tahan tubuh cenderung menurun seiring usia. Pada kelompok ini, influenza dapat memperburuk kondisi yang sudah ada, seperti penyakit jantung, diabetes, atau gangguan paru. (1)(4) 4. Ibu Hamil Ibu hamil termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami komplikasi influenza. Vaksin influenza inaktif umumnya direkomendasikan untuk ibu hamil sesuai penilaian tenaga kesehatan karena dapat membantu melindungi ibu dan memberi perlindungan awal pada bayi melalui antibodi ibu. (7)(8) Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayihttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/vaksin-ibu-hamil-influenza-tdap 5. Orang dengan Penyakit Kronis atau Komorbid Orang dengan diabetes, penyakit jantung, penyakit paru kronis, penyakit ginjal kronis, obesitas berat, kanker, HIV/AIDS, atau kondisi imunokompromais perlu berdiskusi dengan dokter tentang vaksin influenza. PAPDI mencantumkan beberapa kelompok dewasa yang sangat dianjurkan mendapat vaksin influenza, termasuk orang dengan penyakit pernapasan kronik, penyakit ginjal kronik, gangguan kardiovaskular, diabetes, imunokompromais, lansia, tenaga kesehatan, pelancong, dan calon jemaah haji/umrah. (4) Baca juga: Peran Vaksin Influenza pada Diabetes dan Risiko Jantunghttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/diabetes-risiko-jantung-vaksin-influenza Jadwal Vaksin Influenza Jadwal vaksin influenza dapat berbeda sesuai usia, riwayat vaksin sebelumnya, kondisi kesehatan, dan jenis vaksin yang tersedia. Tabel berikut dapat menjadi panduan umum, tetapi keputusan akhir tetap perlu mengikuti rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan. KelompokJadwal UmumAnak mulai usia 6 bulanDapat mulai diberikan sejak usia 6 bulan. Pada pemberian pertama, sebagian anak membutuhkan 2 dosis dengan jarak minimal sekitar 4 minggu, lalu diulang setiap tahun. (2)(3)Anak usia lebih besar dan remajaUmumnya 1 dosis setiap tahun, kecuali ada kondisi khusus sesuai penilaian dokter.DewasaUmumnya 1 dosis setiap tahun.LansiaUmumnya 1 dosis setiap tahun; jenis vaksin dapat disesuaikan dengan rekomendasi dokter dan ketersediaan.Ibu hamiltrimester 1, 2, atau 3 selama kehamilan disesuaikan dengan rekomendasi dokter, terutama dengan vaksin influenza inaktif. (7)(8)Komorbid atau imunokompromaisPerlu konsultasi dokter untuk menyesuaikan waktu dan jenis vaksin. Di negara tropis seperti Indonesia, influenza dapat beredar sepanjang tahun. Karena itu, PAPDI menyebut vaksin influenza dapat diberikan sepanjang tahun. (4) Jenis Vaksin Influenza Jenis vaksin influenza dapat dibedakan berdasarkan cara pembuatan, kandungan, dan jumlah strain virus yang ditargetkan. Masyarakat tidak perlu memilih sendiri tanpa arahan; tenaga kesehatan akan membantu menyesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, kehamilan, alergi, dan ketersediaan vaksin. 1. Vaksin Influenza Inaktif Vaksin influenza inaktif berisi virus yang sudah dimatikan sehingga tidak dapat menyebabkan influenza. Jenis ini umum digunakan dan dapat dipertimbangkan untuk banyak kelompok, termasuk ibu hamil sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. (7)(8) 2. Vaksin Influenza Trivalen Vaksin trivalen dirancang untuk membantu melindungi terhadap tiga strain utama virus influenza. CDC menjelaskan bahwa vaksin influenza musim 2025–2026 di Amerika Serikat diformulasikan sebagai trivalen untuk melindungi terhadap tiga virus influenza musiman utama, yaitu A(H1N1), A(H3N2), dan B/Victoria. (9) 3. Vaksin Influenza Quadrivalent Vaksin quadrivalent dirancang untuk mencakup empat strain virus influenza. Namun, komposisi vaksin dapat berubah mengikuti rekomendasi global dan ketersediaan di masing-masing negara. Karena itu, pembaca perlu mengikuti informasi terbaru dari dokter, fasilitas vaksinasi, dan otoritas kesehatan resmi. 4. Vaksin Nasal Spray Di beberapa negara, ada vaksin influenza semprot hidung yang berisi virus hidup yang dilemahkan. Namun, tidak semua orang dapat menggunakan jenis ini, misalnya ibu hamil atau orang dengan kondisi imun tertentu. Ketersediaannya juga berbeda antarnegara. Untuk Indonesia, tanyakan langsung kepada fasilitas kesehatan mengenai jenis vaksin yang tersedia. Efek Samping Vaksin Influenza Sebagian besar efek samping vaksin influenza bersifat ringan dan sementara. Efek samping umum dapat meliputi: (10) Nyeri, kemerahan, atau bengkak di area suntikan Demam ringan Nyeri otot Sakit kepala Lelah Rasa tidak nyaman selama 1–2 hari Efek samping serius jarang terjadi, tetapi tetap perlu dikenali. Reaksi alergi berat dapat terjadi pada sebagian sangat kecil orang, terutama bila memiliki riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin. CDC juga menyebut adanya kemungkinan kecil peningkatan risiko Guillain-Barré Syndrome setelah vaksin flu pada sebagian orang, meskipun kondisi ini jarang. (11) Segera cari bantuan medis bila setelah vaksin muncul gejala seperti: Sesak napas Bengkak pada wajah atau bibir Ruam berat menyebar Pusing berat atau pingsan Lemah mendadak Gejala neurologis yang tidak biasa Siapa yang Perlu Konsultasi Dulu Sebelum Vaksin Influenza? Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan jika Anda atau anggota keluarga memiliki kondisi berikut: Riwayat alergi berat terhadap vaksin sebelumnya Riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin Sedang demam tinggi atau sakit akut sedang-berat Riwayat Guillain-Barré Syndrome Sedang hamil Memiliki penyakit autoimun atau imunokompromais Sedang menjalani kemoterapi atau terapi imunosupresif Bayi atau anak dengan kondisi medis khusus Lansia dengan banyak komorbid Konsultasi bukan berarti vaksin pasti tidak boleh diberikan. Tujuannya adalah memastikan waktu, jenis vaksin, dan pemantauan setelah vaksinasi lebih sesuai dengan kondisi masing-masing. Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Influenza? Vaksin influenza dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan imunisasi atau vaksinasi dewasa, seperti puskesmas tertentu, klinik, rumah sakit, praktik dokter, atau fasilitas vaksinasi resmi. Sebelum vaksinasi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk anak, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbid, atau orang yang memiliki riwayat alergi berat. Konsultasi membantu memastikan jadwal, jenis vaksin, dan kondisi kesehatan sudah sesuai. Cari Lokasi Vaksinasi Terdekat? Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin influenza di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin influenza adalah salah satu langkah pencegahan yang dapat membantu mengurangi risiko influenza, gejala berat, rawat inap, dan komplikasi pada kelompok berisiko. Vaksin ini umumnya diberikan mulai usia 6 bulan dan diulang setiap tahun karena virus influenza dapat berubah dari waktu ke waktu. (2)(3) Kelompok seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, tenaga kesehatan, pekerja aktif, pelancong, dan orang dengan penyakit kronis perlu lebih memperhatikan vaksin influenza. Meski umumnya aman, vaksin tetap perlu diberikan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan, terutama pada orang dengan riwayat alergi berat, komorbid, kehamilan, atau kondisi imun tertentu. Dengan memahami manfaat, jadwal, jenis, dan efek samping vaksin influenza, keluarga dapat mengambil keputusan kesehatan yang lebih tenang, rasional, dan berbasis informasi tepercaya. Referensi World Health Organization. (2025). Influenza (seasonal).https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal)(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2026). ACIP recommendations summary: Influenza.https://www.cdc.gov/flu/hcp/vax-summary/acip-recommendations.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Unit Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Vaksinasi influenza di UPK, 17 Januari 2024.https://upk.kemkes.go.id/new/vaksinasi-influenza-di-upk-17-januari-2024(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI. (2024). Jadwal imunisasi dewasa PAPDI 2024.https://imuni.id/wp-content/uploads/2024/07/Jadwal-Vaksinasi-Dewasa-PAPDI-2024.pdf(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). World Health Organization. (2026). Recommendations for influenza vaccine composition.https://www.who.int/teams/global-influenza-programme/vaccines/who-recommendations(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2025). Jadwal imunisasi anak usia 0–18 tahun rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2024.https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Flu vaccine safety and pregnancy.https://www.cdc.gov/flu/vaccine-safety/vaccine-pregnant.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2024). Influenza in pregnancy: Prevention and treatment.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-statement/articles/2024/02/influenza-in-pregnancy-prevention-and-treatment(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2026). 2025–2026 flu season.https://www.cdc.gov/flu/season/2025-2026.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Influenza (flu) vaccine safety.https://www.cdc.gov/vaccine-safety/vaccines/flu.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Key facts about seasonal flu vaccine.https://www.cdc.gov/flu/vaccines/keyfacts.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Kode promat: ID-VAX-2026-07-5BTW (07/27)