
Memasuki trimester kedua, sebagian ibu mulai merasa lebih nyaman menjalani kehamilan. Keluhan mual biasanya mulai berkurang, sementara pemeriksaan kehamilan semakin berfokus pada perkembangan janin dan persiapan menuju trimester berikutnya. Pada tahap ini, riwayat vaksinasi ibu juga penting untuk diperiksa.
Vaksin ibu hamil trimester 2 adalah vaksin yang dapat diberikan atau mulai direncanakan pada usia kehamilan sekitar 14–27 minggu, sesuai jenis vaksin, riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko paparan, serta rekomendasi dokter.
Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada setiap trimester. Imunisasi yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, atau pertusis dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat vaksin dan pedoman yang digunakan. Dalam sejumlah panduan internasional, Tdap dianjurkan pada setiap kehamilan, terutama pada usia 27–36 minggu agar transfer antibodi kepada bayi berlangsung optimal. (1)(2)
Tidak semua ibu hamil membutuhkan jenis vaksin yang sama. Vaksin hepatitis B dan beberapa vaksin nonhidup lainnya biasanya diberikan berdasarkan faktor risiko atau indikasi medis. Sementara itu, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya ditunda sampai setelah persalinan. (1)(3)
Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, risiko paparan, regulasi, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.

Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut diperlukan untuk mendukung pertumbuhan janin, tetapi pada saat bersamaan dapat membuat ibu lebih berisiko mengalami penyakit berat akibat infeksi tertentu, termasuk influenza. (1)(4)
Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan dua bentuk perlindungan:
Antibodi yang diterima bayi tidak memberikan perlindungan seumur hidup. Namun, perlindungan pasif tersebut dapat membantu pada masa awal kehidupan ketika bayi masih terlalu muda untuk menerima beberapa vaksin secara lengkap.
Vaksin juga tidak selalu mencegah infeksi 100%. Tujuannya adalah membantu menurunkan risiko tertular, mengalami penyakit berat, komplikasi, atau perawatan di rumah sakit, bergantung pada jenis penyakit dan vaksin.
Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanan
Berikut gambaran umum vaksin yang dapat dibahas dengan dokter pada trimester kedua.
| Jenis vaksin | Waktu yang perlu diperhatikan | Tujuan utama | Catatan |
| Influenza inaktif | Dapat diberikan pada setiap trimester | Membantu melindungi ibu dari influenza dan komplikasinya | Hindari vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung selama kehamilan |
| Tdap | Sejumlah panduan menganjurkan usia 27–36 minggu | Membantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis | Jadwal dan ketersediaannya perlu dikonfirmasi di Indonesia |
| TT atau Td | Berdasarkan status imunisasi tetanus ibu | Membantu mencegah tetanus maternal dan neonatal | Jumlah dosis bergantung pada riwayat imunisasi |
| Hepatitis B | Berdasarkan indikasi dan faktor risiko | Membantu mencegah infeksi hepatitis B | Kehamilan bukan kontraindikasi mutlak |
| COVID-19 | Mengikuti rekomendasi resmi terbaru | Membantu mengurangi risiko penyakit berat | Jenis, dosis, dan waktu perlu mengikuti kebijakan terkini |
| Vaksin lain | Hanya berdasarkan indikasi khusus | Disesuaikan dengan penyakit atau paparan | Memerlukan penilaian manfaat dan risiko oleh dokter |
Tabel tersebut bukan jadwal vaksin pribadi. Dokter perlu memeriksa buku imunisasi, usia kehamilan, hasil pemeriksaan, penyakit penyerta, serta kemungkinan paparan sebelum menentukan kebutuhan vaksin.
Influenza bukan sekadar pilek biasa. Pada ibu hamil, influenza dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berat karena perubahan sistem imun dan fungsi pernapasan selama kehamilan.
WHO dan CDC mendukung penggunaan vaksin influenza inaktif selama kehamilan. Vaksin ini dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, atau ketiga, terutama ketika influenza sedang beredar. (1)(4)
Manfaat vaksin influenza bagi ibu hamil dapat mencakup:
Jenis yang digunakan adalah vaksin influenza inaktif atau nonhidup, bukan vaksin influenza hidup dalam bentuk semprot hidung.
Baca juga: Vaksin Influenza Saat Hamil: Rekomendasi untuk Ibu dan Bayi.
Istilah Tdap, Td, dan TT sering membuat pembaca bingung. Ketiganya tidak sepenuhnya sama.
Dalam panduan ACOG dan CDC, Tdap direkomendasikan pada setiap kehamilan, terutama pada awal rentang usia kehamilan 27–36 minggu. Waktu ini dipilih untuk membantu pembentukan dan pemindahan antibodi pertusis kepada bayi sebelum lahir. (1)(2)
Usia 27 minggu berada di peralihan akhir trimester kedua menuju trimester ketiga, tergantung cara penghitungan trimester yang digunakan. Karena itu, trimester kedua merupakan waktu yang baik untuk membahas dan merencanakan Tdap bersama dokter, bukan menentukan jadwal secara mandiri.
Di Indonesia, ibu hamil juga dapat menjalani skrining status imunisasi tetanus. Kebutuhan TT atau Td bergantung pada jumlah dosis yang pernah diterima sebelumnya. Imunisasi tetanus pada perempuan usia subur dan ibu hamil telah berperan dalam upaya eliminasi tetanus maternal dan neonatal di Indonesia. (5)
Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyerang hati. Kehamilan bukan merupakan kontraindikasi untuk vaksin hepatitis B karena vaksin ini tidak mengandung virus hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. (1)
Vaksin hepatitis B dapat dipertimbangkan apabila ibu:
Vaksinasi ibu tidak menggantikan pemeriksaan hepatitis B dalam layanan antenatal. Apabila ibu diketahui terinfeksi hepatitis B, bayi membutuhkan tata laksana pencegahan khusus segera setelah lahir sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan virus, bukti ilmiah, jenis vaksin yang tersedia, dan kebijakan pemerintah. Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak hanya menggunakan jadwal dari artikel lama.
Diskusikan dengan dokter apakah ibu memerlukan dosis primer, dosis lanjutan, atau belum membutuhkan dosis tambahan berdasarkan:
Beberapa vaksin dapat dipertimbangkan hanya ketika risiko penyakit dinilai lebih tinggi daripada potensi risikonya. Contohnya dapat mencakup vaksin hepatitis A, meningokokus, rabies, atau vaksin perjalanan tertentu.
Pertimbangan tersebut mungkin diperlukan ketika ibu:
Keputusan tidak hanya ditentukan oleh usia kehamilan. Jenis vaksin, tingkat paparan, keparahan penyakit, dan ketersediaan alternatif pencegahan juga harus dipertimbangkan.
Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya tidak diberikan selama kehamilan karena terdapat risiko teoretis terhadap janin. Contohnya meliputi:
Vaksin HPV juga tidak direkomendasikan untuk diberikan selama kehamilan, meskipun bukan vaksin hidup. Dosis yang belum selesai biasanya dapat dilanjutkan setelah persalinan tanpa harus mengulang seri dari awal. (3)(6)
Apabila seorang perempuan menerima vaksin tersebut sebelum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil, jangan langsung panik. Catat tanggal dan nama vaksinnya, lalu konsultasikan kepada dokter kandungan untuk evaluasi lebih lanjut.
Keamanan bergantung pada jenis vaksin. Vaksin nonhidup yang direkomendasikan selama kehamilan telah dipelajari melalui pemantauan keamanan dan penelitian dalam jumlah besar.
Namun, istilah “aman” tidak berarti sama sekali tanpa kemungkinan efek samping. Efek samping ringan dapat terjadi karena sistem imun sedang merespons vaksin.
Efek samping yang umumnya dapat muncul antara lain:
Reaksi tersebut umumnya bersifat sementara. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa KIPI ringan dapat berupa reaksi lokal maupun sistemik dan biasanya membaik dalam waktu singkat. Reaksi serius dapat terjadi, tetapi jauh lebih jarang. (7)
Segera cari pertolongan medis apabila setelah vaksinasi muncul:
Keluhan tersebut belum tentu disebabkan oleh vaksin, tetapi tetap memerlukan pemeriksaan segera.
Sebelum datang ke fasilitas kesehatan, siapkan informasi berikut:
Ibu dengan pilek ringan belum tentu harus menunda vaksin. Sebaliknya, demam atau penyakit akut sedang hingga berat mungkin menjadi alasan untuk menjadwalkan ulang vaksinasi. Keputusan sebaiknya dibuat oleh tenaga kesehatan setelah menilai kondisi ibu.
Agar konsultasi lebih terarah, ibu dapat menanyakan:
Vaksin untuk ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan pemeriksaan kehamilan dan layanan vaksinasi, seperti:
Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, waktu pemberian, status imunisasi sebelumnya, serta kondisi kehamilan sudah sesuai.
Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda.
Cari Klinik Vaksinasi Terdekat
Vaksin ibu hamil trimester 2 dapat membantu melindungi kesehatan ibu sekaligus memberikan antibodi awal kepada bayi. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada setiap trimester, sedangkan vaksin yang melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis perlu dijadwalkan berdasarkan jenis vaksin, usia kehamilan, riwayat imunisasi, serta panduan yang berlaku.
Vaksin hepatitis B, COVID-19, dan vaksin lain dapat diberikan berdasarkan indikasi dan rekomendasi terbaru. Sebaliknya, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya ditunda hingga setelah persalinan.
Tidak ada satu jadwal yang sesuai untuk semua ibu hamil. Bawalah catatan vaksin saat pemeriksaan antenatal dan konsultasikan setiap keputusan vaksinasi kepada dokter, bidan, atau tenaga kesehatan.
ID-GEN-2026-08-Y6ZD (08/26)
Jenis dan waktu pemberiannya perlu disesuaikan dengan usia kehamilan, kondisi kesehatan, faktor risiko, serta rekomendasi dokter.

Memasuki trimester ketiga, perhatian calon orang tua biasanya mulai tertuju pada persiapan persalinan, perlengkapan bayi, pilihan fasilitas kesehatan, dan rencana menyusui. Selain berbagai persiapan tersebut, riwayat vaksinasi ibu juga perlu ditinjau bersama dokter atau bidan. Vaksin ibu hamil trimester 3 dapat membantu melindungi ibu dari penyakit tertentu sekaligus memberikan antibodi awal kepada bayi melalui plasenta. Antibodi tersebut dapat membantu memberikan perlindungan pasif pada masa awal kehidupan, ketika sistem kekebalan bayi masih berkembang dan jadwal imunisasinya belum lengkap. (1)(2) Vaksin yang dapat dipertimbangkan pada trimester ketiga antara lain vaksin yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis, serta vaksin influenza inaktif. Jenis dan jadwalnya tidak sama untuk setiap ibu karena perlu disesuaikan dengan usia kehamilan, riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, rekomendasi dokter, ketersediaan vaksin, dan kebijakan yang berlaku di Indonesia. Dalam sejumlah pedoman internasional, vaksin Tdap dianjurkan pada usia kehamilan 27–36 minggu, terutama pada bagian awal rentang tersebut, agar tubuh ibu memiliki waktu membentuk antibodi dan menyalurkannya kepada janin. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, maupun ketiga apabila sesuai dengan rekomendasi tenaga kesehatan. (2)(3) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Mengapa Vaksinasi Perlu Ditinjau pada Trimester Ketiga? Trimester ketiga umumnya dimulai pada sekitar minggu ke-28 dan berlangsung hingga persalinan. Pada periode ini, tubuh ibu terus mengalami perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut merupakan bagian normal dari kehamilan, tetapi dapat membuat dampak infeksi tertentu menjadi lebih berat pada sebagian ibu. (3)(4) Mendekati kelahiran, bayi juga belum dapat langsung menerima seluruh vaksin yang dibutuhkannya. Sebagai contoh, vaksinasi bayi terhadap pertusis baru dimulai sesuai jadwal imunisasi setelah bayi lahir. Karena itu, perlindungan melalui antibodi ibu dapat membantu mengisi masa rentan sebelum bayi membentuk kekebalannya sendiri. (2) Vaksinasi selama kehamilan tidak memberikan perlindungan 100%. Namun, vaksin dapat membantu mengurangi risiko terjadinya penyakit atau komplikasi berat sesuai penyakit yang ditargetkan. Bagaimana Vaksin Ibu Hamil Dapat Membantu Melindungi Bayi? Setelah menerima vaksin yang sesuai, sistem kekebalan ibu mengenali antigen dan membentuk antibodi. Sebagian antibodi tersebut dapat berpindah dari ibu kepada janin melalui plasenta, terutama pada bagian akhir kehamilan. Proses ini disebut transfer antibodi maternal. Perlindungan yang diterima bayi bersifat sementara, tetapi penting untuk membantu menghadapi masa awal kehidupan sebelum imunisasi bayi lengkap. (1)(2) Manfaat yang diharapkan meliputi: Membantu melindungi ibu dari infeksi tertentu selama kehamilan Mengurangi kemungkinan ibu mengalami penyakit berat Memberikan antibodi awal kepada bayi sebelum lahir Membantu melindungi bayi pada minggu atau bulan pertama kehidupannya Melengkapi, bukan menggantikan, imunisasi bayi setelah lahir Bayi tetap harus mendapatkan imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan setelah lahir karena antibodi dari ibu akan berkurang secara bertahap. Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayi Vaksin Apa yang Dapat Dipertimbangkan pada Trimester Ketiga? Berikut adalah gambaran umum vaksin yang sering dibahas menjelang persalinan. Keputusan pemberian tetap harus berdasarkan pemeriksaan dan rekomendasi tenaga kesehatan. Jenis vaksinWaktu pemberian umumTujuan utamaCatatan pentingTdapUmumnya minggu ke-27–36 menurut beberapa pedoman internasionalMembantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis serta memberikan antibodi pertusis kepada bayiKetersediaan dan rekomendasi di Indonesia perlu dikonfirmasi kepada dokterTd atau vaksin yang mengandung toksoid tetanusBerdasarkan status imunisasi tetanus ibuMembantu mencegah tetanus pada ibu dan bayi baru lahirJumlah dosis bergantung pada riwayat imunisasiInfluenza inaktifDapat diberikan pada trimester mana punMembantu mengurangi risiko influenza dan komplikasinyaHindari vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung selama kehamilanVaksin lainBerdasarkan risiko khususMenyesuaikan penyakit, paparan, pekerjaan, perjalanan, atau kondisi medisMemerlukan penilaian individual oleh dokter 1. Vaksin Tdap Tdap merupakan vaksin kombinasi yang membantu memberikan perlindungan terhadap: Tetanus, infeksi serius akibat bakteri yang menyerang sistem saraf Difteri, infeksi bakteri yang dapat mengganggu saluran napas dan organ lain Pertusis, atau batuk rejan, yang dapat menjadi berat pada bayi kecil CDC dan ACOG menganjurkan Tdap pada setiap kehamilan, umumnya antara minggu ke-27 dan ke-36. Pemberian pada bagian awal rentang tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan pembentukan serta transfer antibodi kepada bayi. (2)(5) Kebijakan, ketersediaan, dan praktik vaksinasi maternal di Indonesia dapat berbeda dari pedoman Amerika Serikat. Oleh karena itu, ibu tidak perlu membeli atau memilih vaksin sendiri. Tanyakan kepada dokter kandungan apakah Tdap tersedia dan sesuai dengan kondisi kehamilan. 2. Imunisasi Tetanus: TT atau Td Di Indonesia, skrining status imunisasi tetanus merupakan salah satu bagian penting dalam pelayanan antenatal. Tenaga kesehatan dapat memeriksa riwayat imunisasi ibu melalui wawancara, buku KIA, kartu imunisasi, atau catatan fasilitas kesehatan. (6) Vaksin TT berfokus pada perlindungan terhadap tetanus, sedangkan Td memberikan perlindungan terhadap tetanus dan difteri. Dalam program imunisasi, jenis vaksin yang digunakan dapat mengikuti kebijakan dan ketersediaan terbaru. Ibu mungkin tidak perlu mengulang seluruh rangkaian apabila sudah memiliki status imunisasi yang lengkap. Sebaliknya, ibu dengan riwayat yang belum lengkap atau tidak diketahui mungkin memerlukan jadwal lanjutan. Jarak antardosis perlu ditentukan tenaga kesehatan dan tidak boleh diputuskan hanya berdasarkan usia kehamilan. 3. Vaksin Influenza Inaktif Ibu hamil dapat mengalami risiko komplikasi influenza yang lebih tinggi dibandingkan perempuan tidak hamil karena adanya perubahan fisiologis selama kehamilan. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, atau ketiga sesuai evaluasi tenaga kesehatan. (3)(4) Vaksin ini dapat membantu: Mengurangi risiko ibu terkena influenza Mengurangi kemungkinan penyakit influenza berat Menurunkan kemungkinan komplikasi dan perawatan di rumah sakit Memberikan antibodi influenza kepada bayi melalui plasenta Vaksin influenza biasanya diperbarui secara berkala karena virus influenza terus mengalami perubahan. Oleh sebab itu, riwayat vaksin pada tahun sebelumnya perlu disampaikan kepada dokter. Jenis vaksin influenza hidup yang diberikan melalui semprotan hidung umumnya tidak digunakan selama kehamilan. Ibu hamil biasanya diarahkan pada vaksin influenza inaktif melalui suntikan. (3) Baca juga: Panduan Vaksin Influenza: Manfaat, Jadwal, Jenis, dan Untuk Siapa Perbedaan TT, Td, dan Tdap Ketiga istilah ini sering membuat calon orang tua bingung. SingkatanPerlindunganKeterangan sederhanaTTTetanusMengandung toksoid tetanusTdTetanus dan difteriMengandung perlindungan tetanus dan difteri dengan komponen difteri dosis lebih rendahTdapTetanus, difteri, dan pertusisDitambah komponen pertusis untuk membantu melindungi dari batuk rejan Vaksin tersebut tidak selalu dapat dipertukarkan tanpa pertimbangan medis. Dokter akan menilai jenis yang dibutuhkan berdasarkan riwayat imunisasi, tujuan perlindungan, regulasi, dan ketersediaan vaksin. Apakah Sudah Terlambat Vaksin Jika Mendekati Persalinan? Belum tentu. Namun, manfaat yang diperoleh dapat dipengaruhi oleh jarak antara vaksinasi dan waktu persalinan. Tubuh memerlukan waktu untuk membentuk antibodi setelah vaksinasi. Antibodi juga memerlukan waktu untuk berpindah melalui plasenta. Karena itu, beberapa pedoman merekomendasikan Tdap pada awal rentang minggu ke-27–36, bukan menunggu hingga hari perkiraan lahir sangat dekat. (2)(5) Bila usia kehamilan sudah lebih dari 36 minggu atau persalinan diperkirakan terjadi dalam waktu dekat: Jangan memutuskan sendiri bahwa vaksin tidak lagi berguna Sampaikan usia kehamilan dan perkiraan persalinan kepada dokter Tanyakan manfaat vaksin bagi ibu meskipun transfer antibodi kepada bayi mungkin tidak optimal Diskusikan strategi perlindungan bayi setelah lahir Pastikan jadwal imunisasi bayi sudah dipahami keluarga Keputusan dapat berbeda menurut vaksin, kondisi ibu, serta riwayat imunisasinya. Vaksin yang Umumnya Dihindari Selama Kehamilan Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya tidak diberikan selama kehamilan karena adanya pertimbangan teoretis terhadap janin. Contohnya antara lain vaksin MMR dan vaksin varisela. (7) Apabila ibu belum memiliki perlindungan terhadap penyakit tersebut, dokter dapat menyarankan vaksinasi setelah persalinan. Vaksinasi pascapersalinan dapat membantu melindungi ibu pada kehamilan berikutnya. Menerima vaksin hidup secara tidak sengaja ketika belum mengetahui sedang hamil tidak otomatis berarti janin akan mengalami masalah. Segera konsultasikan kepada dokter agar kondisi dapat dievaluasi dengan tepat dan ibu tidak mengambil keputusan berdasarkan rasa takut. Efek Samping Vaksin pada Ibu Hamil Efek samping yang paling sering terjadi umumnya ringan dan membaik dalam beberapa hari, seperti: Nyeri atau kemerahan di area suntikan Bengkak ringan Pegal pada lengan Lelah Sakit kepala Nyeri otot Demam ringan Reaksi tersebut menunjukkan sistem imun sedang merespons vaksin, tetapi tingkat efek samping tidak menentukan seberapa baik perlindungan yang terbentuk. Efek samping serius seperti reaksi alergi berat dapat terjadi, tetapi jarang. Fasilitas vaksinasi biasanya meminta penerima vaksin menunggu untuk observasi setelah penyuntikan. Segera cari pertolongan medis apabila muncul: Sesak napas Bengkak pada wajah, bibir, atau tenggorokan Ruam luas yang berkembang cepat Pusing berat atau kehilangan kesadaran Jantung berdebar disertai kelemahan berat Demam tinggi atau keluhan yang terus memburuk Gerakan janin berkurang Kontraksi teratur, perdarahan, atau keluar cairan dari jalan lahir Gejala kehamilan darurat tidak boleh dianggap sebagai efek samping vaksin tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan. Siapa yang Perlu Berkonsultasi Lebih Dulu? Semua ibu hamil sebaiknya berkonsultasi sebelum vaksinasi. Penilaian lebih khusus dibutuhkan apabila ibu: Memiliki riwayat anafilaksis setelah vaksin Alergi berat terhadap komponen vaksin Sedang mengalami demam tinggi atau sakit akut sedang hingga berat Pernah mengalami reaksi serius setelah vaksinasi Memiliki gangguan imun atau penyakit autoimun Sedang menggunakan obat imunosupresif Mengalami kehamilan berisiko tinggi Memiliki riwayat persalinan prematur Tidak mengetahui riwayat imunisasi Baru menerima vaksin lain Diperkirakan melahirkan dalam waktu dekat Sakit ringan tanpa demam tinggi tidak selalu menjadi alasan untuk menunda vaksin, tetapi keputusan tetap harus dibuat oleh tenaga kesehatan. Checklist Konsultasi Vaksin Menjelang Persalinan Bawa atau siapkan informasi berikut saat kontrol kehamilan: Buku KIA dan catatan pemeriksaan kehamilan Kartu atau riwayat vaksin sebelumnya Daftar obat dan suplemen yang sedang digunakan Riwayat alergi Riwayat reaksi setelah vaksin Penyakit penyerta atau komplikasi kehamilan Usia kehamilan dan hari perkiraan lahir Rencana tempat persalinan Vaksin terakhir yang diterima beserta tanggalnya Pertanyaan yang dapat diajukan: Apakah status imunisasi tetanus saya sudah lengkap? Apakah saya memerlukan Td, TT, atau Tdap? Apakah vaksin influenza sesuai untuk saya? Berapa jarak vaksin dengan perkiraan persalinan? Efek samping apa yang perlu dipantau? Apa rencana imunisasi bayi setelah lahir? Persiapan Perlindungan Selain Vaksinasi Vaksin merupakan salah satu bagian dari persiapan kesehatan, bukan satu-satunya langkah. Menjelang persalinan, keluarga juga dapat: Melanjutkan pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal Menyiapkan rencana persalinan dan transportasi darurat Mengenali tanda bahaya kehamilan Membiasakan cuci tangan Membatasi kontak bayi dengan orang yang sedang sakit Memastikan anggota keluarga mengikuti vaksinasi yang dianjurkan Menyiapkan jadwal imunisasi bayi Mendiskusikan inisiasi menyusu dini dan pemberian ASI Orang yang akan sering berinteraksi dengan bayi sebaiknya menjaga kesehatan dan membicarakan kebutuhan vaksinasinya dengan tenaga kesehatan. Pendekatan ini kadang disebut perlindungan lingkungan atau cocooning, tetapi tidak menggantikan vaksinasi ibu dan imunisasi bayi. Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil Trimester 3? Vaksinasi ibu hamil dapat tersedia di puskesmas, rumah sakit, klinik kebidanan dan kandungan, praktik dokter, atau fasilitas vaksinasi resmi. Jenis vaksin yang tersedia dapat berbeda pada setiap fasilitas. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, waktu pemberian, riwayat imunisasi, kondisi kehamilan, dan perkiraan persalinan sudah dipertimbangkan. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia layanan vaksinasi di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 3 merupakan salah satu hal yang dapat ditinjau sebagai bagian dari persiapan menjelang persalinan. Vaksin yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis serta vaksin influenza inaktif dapat dipertimbangkan sesuai riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, usia kehamilan, dan rekomendasi tenaga kesehatan. Pada beberapa vaksin, antibodi yang dibentuk tubuh ibu dapat berpindah melalui plasenta dan membantu memberikan perlindungan awal kepada bayi. Namun, vaksin tidak memberi perlindungan 100% dan tidak menggantikan imunisasi bayi setelah lahir. Karena panduan, jenis vaksin, dan ketersediaannya dapat berubah, bawa buku KIA serta riwayat imunisasi saat kontrol. Dokter atau bidan akan membantu menentukan apakah vaksin masih diperlukan dan kapan waktu pemberian yang paling sesuai. Referensi World Health Organization. (2024). Vaccination before and during pregnancy.https://www.who.int/docs/librariesprovider2/default-document-library/factsheet_pregnancy.pdf(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Tdap vaccination for pregnant women.https://www.cdc.gov/pertussis/vaccines/tdap-vaccination-during-pregnancy.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). World Health Organization. (2024). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). Maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pentingnya pemeriksaan kehamilan di puskesmas.https://ayosehat.kemkes.go.id/pentingnya-pemeriksaan-kehamilan-anc-di-fasilitas-kesehatan(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Pregnancy and vaccines.https://www.cdc.gov/vaccine-safety/about/pregnancy.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-J9MX (08/26)
Efek samping vaksin adalah reaksi yang dapat muncul setelah seseorang menerima vaksin. Keluhan yang paling umum biasanya ringan, seperti nyeri di area suntikan, kemerahan, bengkak ringan, demam ringan, lelah, sakit kepala, atau pegal. Pada banyak orang, keluhan ini membaik dalam beberapa hari. (1)(2) Meski umumnya ringan, efek samping vaksin tetap perlu dipantau. Segera cari bantuan medis bila muncul tanda alergi berat seperti sesak napas, bengkak pada wajah atau bibir, ruam menyeluruh, pingsan, kejang, atau kondisi yang tampak berat dan tidak membaik. (2)(3) Penting untuk diingat: tidak semua keluhan yang muncul setelah vaksin pasti disebabkan oleh vaksin. Dalam istilah medis, keluhan setelah imunisasi disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI, dan penyebabnya perlu dinilai oleh tenaga kesehatan. (4) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apa Itu Efek Samping Vaksin atau KIPI? Efek samping vaksin adalah respons tubuh yang muncul setelah vaksinasi. Respons ini dapat terjadi karena sistem imun sedang mengenali komponen vaksin dan membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu. (1) Di Indonesia, istilah yang sering digunakan adalah KIPI, yaitu Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. KIPI berarti setiap kejadian medis yang terjadi setelah imunisasi, baik yang ringan maupun serius. Namun, KIPI tidak otomatis berarti vaksin menjadi penyebab langsung. Penilaian medis diperlukan untuk melihat waktu kejadian, gejala, riwayat kesehatan, kemungkinan penyakit lain, dan faktor lain yang menyertai. (2)(4) Dengan memahami hal ini, pembaca tidak perlu langsung panik ketika muncul keluhan ringan. Namun, pembaca juga tetap perlu waspada bila muncul gejala berat atau keluhan yang tidak biasa. Baca juga: Kenapa Harus Vaksin? Panduan dan Manfaat untuk Semua Usia Efek Samping Vaksin yang Umum Terjadi Efek samping vaksin yang umum biasanya bersifat ringan dan sementara. Tidak semua orang mengalaminya. Ada orang yang merasa pegal dan demam ringan, ada juga yang tidak merasakan keluhan apa pun setelah vaksinasi. Berikut beberapa efek samping vaksin yang sering dilaporkan: Efek Samping UmumPenjelasan SederhanaBiasanya Apa yang Bisa Dilakukan?Nyeri di area suntikanArea bekas suntikan terasa pegal, nyeri, atau tidak nyamanKompres dingin, gerakkan lengan perlahan, istirahatKemerahan atau bengkak ringanReaksi lokal di tempat suntikanPantau ukuran bengkak, hindari menggarukDemam ringanRespons tubuh saat sistem imun bekerjaCukup minum, istirahat, gunakan obat sesuai arahan tenaga kesehatanLelah atau mengantukTubuh sedang beradaptasi setelah vaksinKurangi aktivitas berat sementaraSakit kepala atau pegalDapat terjadi pada sebagian orangIstirahat, cukup cairanRewel pada anakAnak merasa tidak nyaman setelah imunisasiPeluk, tenangkan, beri ASI atau cairan sesuai usiaNafsu makan menurun sementaraBisa terjadi pada sebagian bayi atau anakPantau asupan cairan dan kondisi umum anak CDC menjelaskan bahwa efek samping vaksin pada umumnya ringan, misalnya nyeri lengan atau demam ringan, dan biasanya hilang dalam beberapa hari. (1) Mengapa Tubuh Bisa Demam atau Nyeri Setelah Vaksin? Demam ringan, pegal, atau nyeri setelah vaksin dapat terjadi karena sistem imun sedang merespons vaksin. Respons ini tidak selalu berarti tubuh sedang sakit berat. Pada sebagian orang, respons imun dapat terasa sebagai keluhan ringan selama beberapa jam hingga beberapa hari. (1)(2) Namun, berat-ringannya keluhan dapat berbeda pada tiap orang. Faktor usia, jenis vaksin, kondisi tubuh saat vaksinasi, riwayat alergi, dan penyakit penyerta dapat memengaruhi respons tubuh. Pada anak, beberapa vaksin dapat menimbulkan demam, rewel, atau nyeri bekas suntikan. IDAI menjelaskan bahwa beberapa reaksi pascaimunisasi seperti demam, nyeri, kemerahan, dan pembengkakan dapat terjadi dan biasanya membaik, tetapi bila reaksi berat atau menetap, anak sebaiknya dibawa ke dokter. (5) Cara Memantau Efek Samping Vaksin di Rumah Setelah vaksinasi, luangkan waktu untuk memantau kondisi tubuh. Banyak fasilitas kesehatan juga meminta penerima vaksin menunggu beberapa saat setelah vaksinasi untuk memastikan tidak ada reaksi alergi segera. Hal yang bisa dilakukan di rumah: Catat waktu munculnya keluhan. Ukur suhu tubuh dengan termometer bila terasa demam. Pantau area suntikan: apakah bengkak bertambah besar, nyeri makin berat, atau muncul nanah. Pastikan cukup minum dan istirahat. Hindari aktivitas berat bila tubuh terasa tidak fit. Untuk anak, perhatikan apakah anak masih mau minum, masih responsif, dan tidak tampak sangat lemas. Gunakan obat penurun demam atau pereda nyeri hanya sesuai usia, dosis, dan arahan tenaga kesehatan, terutama pada bayi, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit tertentu. Jangan mengoleskan bahan yang tidak dianjurkan ke area suntikan. Jika area bekas suntikan terasa nyeri, kompres dingin dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman. (5) Kapan Efek Samping Vaksin Masih Bisa Dipantau di Rumah? Keluhan biasanya masih dapat dipantau di rumah bila: Demam ringan dan kondisi umum tetap baik. Nyeri atau bengkak di area suntikan tidak bertambah berat. Lelah atau pegal membaik setelah istirahat. Anak masih mau minum, masih responsif, dan tidak tampak sesak. Keluhan berangsur membaik dalam beberapa hari. Namun, tetap gunakan penilaian yang hati-hati. Bila Anda merasa khawatir atau keluhan tampak tidak biasa, lebih aman untuk mengunjungi dokter. Kapan Perlu ke Dokter Setelah Vaksin? Anda sebaiknya menghubungi dokter atau fasilitas kesehatan bila efek samping vaksin terasa mengkhawatirkan, tidak membaik dalam beberapa hari, atau kemerahan dan nyeri di area suntikan justru memburuk setelah 24 jam. CDC memberikan arahan serupa untuk menghubungi tenaga kesehatan bila efek samping terasa mengkhawatirkan atau tidak tampak membaik. (6) Segera kunjungi ke dokter bila mengalami: Demam tinggi atau demam tidak membaik. Nyeri, kemerahan, atau bengkak yang makin berat. Area suntikan terasa sangat panas, bernanah, atau nyeri berat. Anak menangis terus-menerus dan sulit ditenangkan. Anak tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak mau minum. Muntah berulang atau diare berat setelah vaksin. Keluhan berlangsung lebih lama dari yang dijelaskan tenaga kesehatan. Ada riwayat alergi berat atau reaksi berat pada vaksin sebelumnya. Untuk bayi kecil, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbid, atau orang dengan sistem imun lemah, jangan ragu tanya dokter lebih awal karena kebutuhan pemantauan bisa berbeda. Baca juga: Peran Vaksin Influenza pada Diabetes dan Risiko Jantung Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera ke IGD? Efek samping serius setelah vaksin jarang terjadi, tetapi tetap penting dikenali. Reaksi alergi berat atau anafilaksis biasanya muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah vaksinasi dan perlu penanganan segera. NHS menjelaskan bahwa reaksi alergi berat setelah vaksin sangat jarang dan petugas vaksinasi terlatih untuk menanganinya. (3) Segera ke IGD atau cari bantuan darurat bila muncul: Tanda BahayaMengapa Perlu Segera Ditangani?Sesak napas atau napas berbunyiBisa menjadi tanda reaksi alergi beratBengkak pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokanBisa mengganggu jalan napasRuam luas disertai lemas atau pusing beratDapat mengarah ke reaksi alergi beratPingsan atau penurunan kesadaranPerlu evaluasi segeraKejangPerlu penanganan medis segeraNyeri dada, jantung berdebar berat, atau tampak sangat lemahPerlu pemeriksaan untuk memastikan penyebabBayi tampak sangat lemas, kebiruan, atau sulit bernapasTermasuk kondisi darurat Jangan menunggu gejala menjadi lebih berat bila tanda-tanda di atas muncul. Apakah Efek Samping Berarti Vaksinnya Berbahaya? Tidak selalu. Efek samping ringan seperti nyeri bekas suntikan, demam ringan, atau lelah sementara dapat terjadi pada sebagian orang dan umumnya membaik. Vaksin, seperti produk kesehatan lain, dapat menimbulkan reaksi, tetapi manfaat vaksinasi adalah membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu dan membantu mengurangi risiko sakit berat sesuai jenis vaksinnya. (1)(7) Namun, vaksin tidak memberikan perlindungan 100%. Seseorang masih mungkin terkena penyakit setelah vaksinasi, tetapi pada banyak vaksin, tujuan pentingnya adalah membantu mengurangi risiko infeksi berat, komplikasi, rawat inap, atau penularan, tergantung jenis penyakit dan vaksin yang diberikan. (7) Keamanan vaksin juga dipantau melalui sistem pengawasan. WHO memiliki pendekatan penilaian kausalitas KIPI untuk membantu menilai apakah suatu kejadian setelah imunisasi berkaitan dengan vaksin atau ada penyebab lain. (4) Kelompok Perlu Perhatian Khusus Sebagian besar orang dapat menerima vaksin sesuai rekomendasi usia dan kondisi kesehatan. Namun, beberapa kelompok sebaiknya mengujungi dokter lebih dulu agar jenis dan waktu vaksinasi lebih tepat. kunjungi dokter bila Anda atau anggota keluarga: Pernah mengalami reaksi alergi berat terhadap vaksin sebelumnya. Memiliki alergi berat terhadap komponen vaksin tertentu. Sedang sakit sedang atau berat. Sedang hamil atau merencanakan kehamilan. Memiliki penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, atau gangguan paru. Mengalami gangguan sistem imun atau sedang memakai obat imunosupresif. Memiliki riwayat kejang atau gangguan saraf tertentu. Sedang menjalani terapi kanker atau transplantasi. Lansia dengan beberapa kondisi kesehatan sekaligus. CDC menjelaskan bahwa riwayat reaksi alergi berat terhadap dosis sebelumnya atau komponen vaksin dapat menjadi kontraindikasi pada beberapa vaksin, sedangkan sakit sedang atau berat dapat menjadi alasan untuk menunda vaksinasi hingga kondisi membaik. (8) Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayi Tips Agar Lebih Tenang Setelah Vaksinasi Agar pemantauan setelah vaksin lebih mudah, lakukan beberapa langkah sederhana berikut: Tanyakan kepada tenaga kesehatan efek samping apa yang mungkin muncul dari vaksin yang diterima. Tanyakan kapan harus kembali atau menghubungi fasilitas kesehatan. Simpan kartu atau catatan vaksinasi. Jangan langsung melakukan aktivitas berat bila tubuh terasa tidak nyaman. Minum cukup air. Untuk anak, siapkan termometer dan pantau suhu tubuh. Jangan memberikan obat pada bayi atau anak tanpa memastikan dosis yang tepat. Bila punya riwayat alergi, sampaikan sebelum vaksinasi. Tunggu di fasilitas vaksinasi sesuai arahan petugas setelah menerima vaksin. Sikap terbaik adalah tenang, tetapi tetap waspada. Tidak perlu panik terhadap keluhan ringan, tetapi jangan mengabaikan tanda bahaya. Cari Lokasi Vaksinasi Terdekat? Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, Puskesmas, atau klinik penyedia vaksin influenza di sekitar wilayah Anda. Cek Daftar Lokasi Klinik Kesimpulan Efek samping vaksin yang umum biasanya ringan dan sementara, seperti nyeri di area suntikan, bengkak ringan, demam ringan, lelah, sakit kepala, atau pegal. Keluhan ini umumnya membaik dalam beberapa hari dan dapat dipantau dengan istirahat, cukup cairan, serta perawatan sederhana sesuai arahan tenaga kesehatan. (1)(2) Namun, segera hubungi dokter bila keluhan terasa mengkhawatirkan, tidak membaik, atau justru memburuk. Segera cari pertolongan darurat bila muncul tanda alergi berat seperti sesak napas, bengkak wajah atau bibir, pingsan, kejang, atau penurunan kesadaran. (3)(6) Memahami efek samping vaksin dapat membantu keluarga mengambil keputusan dengan lebih tenang. Vaksinasi tetap perlu dilakukan sesuai usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan karena manfaatnya penting untuk membantu mengurangi risiko penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. (7) Referensi (1) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Possible side effects from vaccines.https://www.cdc.gov/vaccines/basics/possible-side-effects.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (2) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu KIPI: Penyebab, gejala, pencegahan dan penanganannya. Ayo Sehat Kemenkes.https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (3) National Health Service. (2023). 6-in-1 vaccine.https://www.nhs.uk/vaccinations/6-in-1-vaccine/(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (4) World Health Organization. (2021). Causality assessment of an adverse event following immunization (AEFI): User manual for the revised WHO classification, 2nd ed., 2019 update.https://www.who.int/publications/i/item/9789241516990(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (5) Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2013). Penjelasan kepada orangtua mengenai imunisasi.https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/penjelasan-kepada-orangtua-mengenai-imunisasi(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (6) Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Getting your COVID-19 vaccine.https://www.cdc.gov/covid/vaccines/getting-your-covid-19-vaccine.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (7) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Vaksinasi COVID-19.https://layanandata.kemkes.go.id/katalog-data/covid-19/ketersediaan-data/vaksinasi-covid-19(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (8) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Contraindications and precautions: Vaccines & immunizations.https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/imz-best-practices/contraindications-precautions.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-D7QK (07/27)
Penularan HFMD pada anak terutama dapat terjadi melalui empat jalur, yaitu percikan dan cairan saluran pernapasan, kontak dengan tinja, cairan dari lepuhan kulit, serta benda atau permukaan yang telah terkontaminasi virus. Penularan lebih mudah terjadi ketika anak bermain atau berinteraksi dekat di rumah, sekolah, daycare, dan tempat bermain. HFMD atau Hand, Foot, and Mouth Disease adalah penyakit infeksi virus yang paling sering menyerang anak kecil, terutama anak berusia di bawah lima tahun. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan dapat membaik, tetapi luka di mulut dapat membuat anak sulit minum hingga berisiko mengalami dehidrasi. (1)(2) Mengetahui jalur penularannya dapat membantu orang tua melakukan pencegahan secara lebih tepat tanpa harus membatasi seluruh aktivitas anak secara berlebihan. Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan. Pemeriksaan, penanganan, serta rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia anak, gejala, kondisi kesehatan, riwayat alergi, riwayat vaksin sebelumnya, dan pertimbangan klinis dokter. Segera konsultasikan kondisi anak apabila anak sulit minum, tampak sangat lemas, mengalami penurunan kesadaran, kejang, sesak, demam menetap, atau menunjukkan tanda dehidrasi. Apa Itu HFMD pada Anak? HFMD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kelompok virus enterovirus. Virus yang sering dikaitkan dengan penyakit ini antara lain Coxsackievirus A16, Coxsackievirus A6, dan Enterovirus 71 atau EV71. (1)(3) Gejala HFMD umumnya meliputi: Demam. Nyeri tenggorokan. Nafsu makan berkurang. Sariawan atau luka yang terasa nyeri di dalam mulut. Ruam atau lepuhan kecil di telapak tangan dan telapak kaki. Ruam di bokong, lengan, tungkai, atau sekitar area genital pada sebagian anak. HFMD pada manusia berbeda dengan penyakit mulut dan kuku pada hewan. Penyebabnya berbeda dan HFMD tidak ditularkan dari hewan ternak kepada manusia. (3)(4) Penyakit ini lebih sering ditemukan pada bayi dan anak kecil, tetapi anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa juga dapat terinfeksi. Bahkan, seseorang yang terinfeksi dapat tidak menunjukkan gejala tetapi tetap berpotensi membawa dan menyebarkan virus. (1)(2) Mengapa HFMD Mudah Menular di Antara Anak? Anak kecil sering menyentuh mainan, memasukkan tangan ke mulut, berbagi benda, atau bermain dengan jarak yang sangat dekat. Kebiasaan tersebut merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang, tetapi juga mempermudah perpindahan virus. Tempat dengan interaksi anak yang cukup intensif dapat menjadi lokasi penularan, seperti: Rumah dengan beberapa anak. PAUD, taman kanak-kanak, dan sekolah. Daycare atau tempat penitipan anak. Playground dan ruang bermain bersama. Tempat makan atau kegiatan keluarga. Fasilitas umum dengan banyak benda yang disentuh bersama. Seseorang yang terkena HFMD biasanya paling mudah menularkan penyakit pada minggu pertama. Namun, virus masih dapat ditemukan dalam tubuh, terutama pada tinja, selama beberapa waktu setelah gejalanya membaik. Karena itu, kebiasaan mencuci tangan tetap perlu dilanjutkan meskipun anak sudah terlihat sehat. (4)(5) Waspadai 4 Cara Penularan HFMD pada Anak 1. Melalui Percikan dan Cairan Saluran Pernapasan Virus penyebab HFMD dapat ditemukan dalam air liur, lendir hidung, dan cairan tenggorokan orang yang terinfeksi. Percikan kecil dapat keluar ketika anak batuk, bersin, berbicara, atau menangis dari jarak dekat. (1)(3) Penularan dapat terjadi ketika anak: Berbicara atau bermain sangat dekat dengan anak yang sedang sakit. Terkena percikan batuk atau bersin. Berpelukan atau berciuman dengan orang yang terinfeksi. Berbagi gelas, sendok, botol minum, atau alat makan. Menggunakan saputangan atau handuk yang sama. HFMD memang dapat menyebar melalui percikan pernapasan. Namun, penyebutannya sebagai “penularan melalui udara” perlu dipahami secara hati-hati. Penularan terutama berkaitan dengan percikan dan kontak dekat, bukan berarti virus selalu menyebar jauh melalui udara seperti asap. Cara mengurangi risikonya: Ajarkan anak menutup batuk dan bersin dengan siku bagian dalam. Buang tisu bekas segera ke tempat sampah tertutup. Jangan berbagi alat makan dan botol minum. Kurangi kontak dekat dengan anak yang sedang mengalami gejala. Bersihkan tangan setelah menyeka hidung atau air liur anak. 2. Melalui Tinja dan Tangan yang Terkontaminasi Virus penyebab HFMD dapat keluar bersama tinja orang yang terinfeksi. Penularan ini sering disebut jalur fekal-oral, yaitu ketika partikel virus dari tinja berpindah ke tangan, benda, makanan, atau mulut orang lain. (2)(4) Situasi yang perlu diperhatikan antara lain: Mengganti popok anak yang terinfeksi. Membantu anak menggunakan toilet. Anak belum mencuci tangan setelah buang air. Membersihkan toilet atau pispot tanpa mencuci tangan sesudahnya. Menyiapkan makanan setelah mengganti popok. Anak menyentuh benda dengan tangan yang belum bersih. Jumlah kotoran yang terlihat tidak harus banyak agar terjadi kontaminasi. Karena itu, tangan yang tampak bersih tetap perlu dicuci dengan sabun dan air mengalir. SituasiLangkah pencegahanMengganti popokBuang popok dengan benar dan cuci tangan setelahnyaMembersihkan pispotBersihkan alat dan area di sekitarnyaMembantu anak di toiletPastikan anak dan pendamping mencuci tanganMenyiapkan makananCuci tangan terlebih dahuluMembersihkan tinja atau muntahanGunakan sarung tangan bila tersedia, lalu cuci tangan Mencuci tangan sangat penting setelah mengganti popok, setelah menggunakan toilet, sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, dan setelah membersihkan cairan tubuh anak. 3. Melalui Cairan dari Lepuhan Kulit Ruam HFMD dapat berkembang menjadi lepuhan kecil yang berisi cairan. Cairan dari lepuhan tersebut dapat mengandung virus dan berpotensi menularkan infeksi jika mengenai tangan atau kulit orang lain. (1)(5) Risiko penularan dapat meningkat ketika: Lepuhan disentuh atau digaruk. Lepuhan pecah dan cairannya mengenai tangan. Anak berbagi handuk, pakaian, atau perlengkapan pribadi. Cairan lepuhan mengenai seprai atau permukaan benda. Orang lain membersihkan kulit anak tanpa mencuci tangan setelahnya. Lepuhan tidak perlu sengaja dipecahkan. Memecahkan atau menggaruk lepuhan dapat menyebabkan iritasi, luka terbuka, dan meningkatkan risiko infeksi bakteri sekunder. Langkah yang dapat dilakukan: Jaga area ruam tetap bersih. Potong kuku anak agar tidak mudah melukai kulit. Hindari mengoleskan obat sembarangan. Jangan berbagi handuk dan pakaian. Cuci tangan setelah merawat atau menyentuh area ruam. Konsultasikan dengan dokter bila kulit menjadi sangat merah, bengkak, bernanah, atau terasa semakin nyeri. 4. Melalui Mainan, Alat Makan, dan Permukaan Terkontaminasi Virus dapat berpindah ke benda ketika seseorang yang terinfeksi menyentuhnya dengan tangan yang terkontaminasi atau ketika percikan cairan tubuh mengenai permukaan tersebut. Anak lain kemudian dapat menyentuh benda yang sama dan memasukkan tangan ke mulut, hidung, atau mata. (1)(2) Benda yang sering disentuh bersama meliputi: Mainan. Gagang pintu. Meja dan kursi. Botol minum. Peralatan makan. Alat tulis. Tablet atau telepon genggam. Pagar tempat tidur. Permukaan toilet. Peralatan bermain. Benda tidak selalu tampak kotor meskipun telah terkontaminasi. Oleh karena itu, membersihkan benda yang sering disentuh menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan. Prioritas pembersihan di rumah atau daycare: Mainan yang sering masuk ke mulut. Meja makan dan kursi anak. Gagang pintu dan sakelar. Toilet, pispot, dan area mengganti popok. Peralatan elektronik yang digunakan bersama. Botol minum dan alat makan. Gunakan produk pembersih atau disinfektan sesuai petunjuk pada label. Jangan mencampur berbagai cairan pembersih karena dapat menghasilkan uap berbahaya. Ringkasan Empat Jalur Penularan HFMD Cara penularanContoh sehari-hariPencegahan utamaPercikan dan cairan pernapasanBatuk, bersin, air liur, berbagi alat makanEtika batuk dan hindari berbagi barang pribadiTinjaMengganti popok dan membantu anak di toiletCuci tangan dengan sabunCairan lepuhanMenyentuh atau memecahkan lepuhanHindari menyentuh dan jaga kulit tetap bersihBenda terkontaminasiMainan, meja, gagang pintu, botol minumBersihkan permukaan yang sering disentuh Baca juga: Panduan Vaksinasi Keluarga Indonesia: Anak, Dewasa, dan Lansia Bagaimana Mencegah Penularan HFMD di Rumah? Tidak semua paparan dapat dicegah sepenuhnya. Namun, beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi risiko penyebaran. Checklist pencegahan untuk keluarga Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Dampingi anak kecil ketika mencuci tangan. Jangan berbagi sendok, gelas, botol minum, dan handuk. Bersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh. Cuci tangan setiap selesai mengganti popok. Ajarkan etika batuk dan bersin. Kurangi kontak erat ketika anggota keluarga sedang sakit. Jangan sengaja memecahkan lepuhan. Bersihkan peralatan makan dengan baik. Pantau anak lain di rumah jika mulai mengalami demam atau sariawan. Sabun dan air mengalir penting terutama ketika tangan terlihat kotor, setelah menggunakan toilet, dan setelah mengganti popok. Pembersih tangan berbasis alkohol dapat digunakan dalam kondisi tertentu, tetapi tidak selalu menggantikan kebutuhan mencuci tangan dengan sabun. Apakah Anak dengan HFMD Boleh Sekolah? Anak yang sedang demam, tampak tidak sehat, memiliki luka mulut yang menyebabkan air liur sulit dikendalikan, atau tidak mampu mengikuti kegiatan sebaiknya beristirahat di rumah dan diperiksakan bila diperlukan. Keputusan kembali ke sekolah atau daycare perlu mempertimbangkan: Kondisi umum anak. Ada atau tidaknya demam. Kemampuan makan dan minum. Kemampuan mengikuti kegiatan. Kebijakan sekolah atau daycare. Saran dokter atau tenaga kesehatan. Ketentuan dari dinas kesehatan setempat jika sedang terjadi peningkatan kasus. Virus dapat tetap dikeluarkan setelah gejala membaik. Karena itu, menunggu hingga virus sama sekali tidak ditemukan biasanya tidak praktis. Kebersihan tangan, toilet, mainan, dan permukaan tetap menjadi langkah utama setelah anak kembali beraktivitas. (2)(5) Apakah Ada Vaksin untuk HFMD? Vaksin EV71 telah terdaftar di Indonesia untuk membantu Mencegah HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Namun, vaksin ini tidak melindungi terhadap seluruh virus penyebab HFMD, seperti Coxsackievirus A16 atau tipe enterovirus lainnya. Penggunaannya perlu berdasarkan usia yang disetujui, kondisi kesehatan anak, dan rekomendasi dokter. (6) Artinya, anak yang telah menerima vaksin EV71 tetap perlu menjalankan kebiasaan pencegahan seperti mencuci tangan, membersihkan mainan, dan menghindari berbagi alat makan. Vaksin juga tidak memberi perlindungan 100%. Tujuannya adalah membantu tubuh membentuk respons imun terhadap virus yang menjadi target vaksin. Efek samping setelah vaksinasi umumnya dapat berupa reaksi ringan seperti nyeri atau kemerahan di lokasi suntikan dan demam. Efek samping serius dapat terjadi tetapi jarang. Orang tua perlu mengikuti petunjuk observasi setelah vaksinasi dan mencari bantuan medis jika muncul sesak, pembengkakan berat, penurunan kesadaran, atau tanda reaksi alergi berat. (6) Baca juga: Artikel Edukasi Vaksin dan Pencegahan Penyakit Kapan Anak dengan HFMD Perlu Dibawa ke Dokter? Sebagian besar anak dapat membaik dengan perawatan suportif. Namun, orang tua perlu memperhatikan kemampuan anak minum dan kondisi umumnya. Konsultasikan anak kepada dokter apabila: Anak sulit minum karena luka di mulut. Buang air kecil lebih sedikit daripada biasanya. Mulut dan bibir tampak kering. Anak tidak mengeluarkan air mata saat menangis. Anak tampak sangat lemas atau terus mengantuk. Demam menetap atau kondisi tidak membaik. Anak masih bayi, terutama berusia di bawah enam bulan. Anak memiliki gangguan sistem imun atau penyakit kronis. Ruam tampak bernanah, membengkak, atau semakin nyeri. Segera cari pertolongan medis apabila anak mengalami kejang, kesulitan bernapas, penurunan kesadaran, kelemahan anggota tubuh, sakit kepala berat, leher kaku, atau kondisi memburuk dengan cepat. Komplikasi berat HFMD jarang terjadi, tetapi memerlukan pemeriksaan dan penanganan segera. (2)(3) Dimana Bisa Mendapatkan Informasi Tentang Vaksin HFMD? Vaksin EV71 dapat ditanyakan di rumah sakit, klinik anak, atau fasilitas vaksinasi resmi yang menyediakan layanan tersebut. Ketersediaannya dapat berbeda di setiap fasilitas dan wilayah. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan. Konsultasi diperlukan untuk memastikan bahwa usia anak, kondisi kesehatan, riwayat alergi, jadwal pemberian, dan jenis vaksin telah sesuai. Perlu dipahami bahwa vaksin EV71 ditujukan untuk membantu melindungi dari HFMD akibat EV71, bukan seluruh penyebab HFMD. Pencegahan melalui kebersihan tangan, pengelolaan popok, pembersihan mainan, dan pembatasan kontak ketika sakit tetap diperlukan. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, klinik anak, atau fasilitas vaksinasi resmi di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Empat cara penularan HFMD pada anak adalah melalui percikan dan cairan saluran pernapasan, kontak dengan tinja, cairan lepuhan, serta benda atau permukaan yang terkontaminasi. Penularan mudah terjadi ketika anak berinteraksi dekat, berbagi benda, atau belum terbiasa menjaga kebersihan tangan. Pencegahan tidak harus dilakukan dengan rasa panik. Kebiasaan mencuci tangan, membersihkan mainan dan permukaan, tidak berbagi alat makan, mengelola popok dengan aman, serta mengistirahatkan anak yang sedang sakit dapat membantu mengurangi risiko penyebaran. Orang tua juga dapat berdiskusi dengan dokter mengenai pilihan perlindungan tambahan, termasuk vaksin EV71 sesuai usia dan kondisi anak. Vaksin tidak melindungi dari seluruh penyebab HFMD sehingga tetap perlu disertai perilaku hidup bersih. Referensi Centers for Disease Control and Prevention. (2024). HFMD: Causes and how it spreads.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/causes/index.html(dikutip pada 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About hand, foot, and mouth disease.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html(dikutip pada 16 Juli 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD).https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/hand-foot-mouth-and-disease-hfmd(dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kenali penyakit Hand Foot and Mouth Disease (HFMD) pada anak di masa peralihan musim.https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2023/kenali-penyakit-hand-foot-and-mouth-disease-hfmd-pada-anak-di-masa-peralihan-musim(dikutip pada 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Hand, foot and mouth disease in Viet Nam.https://www.who.int/vietnam/health-topics/hand-foot-and-mouth-disease-%28hfmd%29(dikutip pada 16 Juli 2026). Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2026). Informasi produk vaksin Enterovirus tipe 71, inaktif.https://registrasiobat.pom.go.id/files/assesment-reports/01771903571.pdf(dikutip pada 16 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-BCNV (07/27)