Penularan HFMD pada anak terutama dapat terjadi melalui empat jalur, yaitu percikan dan cairan saluran pernapasan, kontak dengan tinja, cairan dari lepuhan kulit, serta benda atau permukaan yang telah terkontaminasi virus. Penularan lebih mudah terjadi ketika anak bermain atau berinteraksi dekat di rumah, sekolah, daycare, dan tempat bermain.
HFMD atau Hand, Foot, and Mouth Disease adalah penyakit infeksi virus yang paling sering menyerang anak kecil, terutama anak berusia di bawah lima tahun. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan dapat membaik, tetapi luka di mulut dapat membuat anak sulit minum hingga berisiko mengalami dehidrasi. (1)(2)
Mengetahui jalur penularannya dapat membantu orang tua melakukan pencegahan secara lebih tepat tanpa harus membatasi seluruh aktivitas anak secara berlebihan.
Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan. Pemeriksaan, penanganan, serta rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia anak, gejala, kondisi kesehatan, riwayat alergi, riwayat vaksin sebelumnya, dan pertimbangan klinis dokter.
Segera konsultasikan kondisi anak apabila anak sulit minum, tampak sangat lemas, mengalami penurunan kesadaran, kejang, sesak, demam menetap, atau menunjukkan tanda dehidrasi.

HFMD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kelompok virus enterovirus. Virus yang sering dikaitkan dengan penyakit ini antara lain Coxsackievirus A16, Coxsackievirus A6, dan Enterovirus 71 atau EV71. (1)(3)
Gejala HFMD umumnya meliputi:
HFMD pada manusia berbeda dengan penyakit mulut dan kuku pada hewan. Penyebabnya berbeda dan HFMD tidak ditularkan dari hewan ternak kepada manusia. (3)(4)
Penyakit ini lebih sering ditemukan pada bayi dan anak kecil, tetapi anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa juga dapat terinfeksi. Bahkan, seseorang yang terinfeksi dapat tidak menunjukkan gejala tetapi tetap berpotensi membawa dan menyebarkan virus. (1)(2)
Anak kecil sering menyentuh mainan, memasukkan tangan ke mulut, berbagi benda, atau bermain dengan jarak yang sangat dekat. Kebiasaan tersebut merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang, tetapi juga mempermudah perpindahan virus.
Tempat dengan interaksi anak yang cukup intensif dapat menjadi lokasi penularan, seperti:
Seseorang yang terkena HFMD biasanya paling mudah menularkan penyakit pada minggu pertama. Namun, virus masih dapat ditemukan dalam tubuh, terutama pada tinja, selama beberapa waktu setelah gejalanya membaik. Karena itu, kebiasaan mencuci tangan tetap perlu dilanjutkan meskipun anak sudah terlihat sehat. (4)(5)
Virus penyebab HFMD dapat ditemukan dalam air liur, lendir hidung, dan cairan tenggorokan orang yang terinfeksi. Percikan kecil dapat keluar ketika anak batuk, bersin, berbicara, atau menangis dari jarak dekat. (1)(3)
Penularan dapat terjadi ketika anak:
HFMD memang dapat menyebar melalui percikan pernapasan. Namun, penyebutannya sebagai “penularan melalui udara” perlu dipahami secara hati-hati. Penularan terutama berkaitan dengan percikan dan kontak dekat, bukan berarti virus selalu menyebar jauh melalui udara seperti asap.
Cara mengurangi risikonya:
Virus penyebab HFMD dapat keluar bersama tinja orang yang terinfeksi. Penularan ini sering disebut jalur fekal-oral, yaitu ketika partikel virus dari tinja berpindah ke tangan, benda, makanan, atau mulut orang lain. (2)(4)
Situasi yang perlu diperhatikan antara lain:
Jumlah kotoran yang terlihat tidak harus banyak agar terjadi kontaminasi. Karena itu, tangan yang tampak bersih tetap perlu dicuci dengan sabun dan air mengalir.
| Situasi | Langkah pencegahan |
| Mengganti popok | Buang popok dengan benar dan cuci tangan setelahnya |
| Membersihkan pispot | Bersihkan alat dan area di sekitarnya |
| Membantu anak di toilet | Pastikan anak dan pendamping mencuci tangan |
| Menyiapkan makanan | Cuci tangan terlebih dahulu |
| Membersihkan tinja atau muntahan | Gunakan sarung tangan bila tersedia, lalu cuci tangan |
Mencuci tangan sangat penting setelah mengganti popok, setelah menggunakan toilet, sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, dan setelah membersihkan cairan tubuh anak.
Ruam HFMD dapat berkembang menjadi lepuhan kecil yang berisi cairan. Cairan dari lepuhan tersebut dapat mengandung virus dan berpotensi menularkan infeksi jika mengenai tangan atau kulit orang lain. (1)(5)
Risiko penularan dapat meningkat ketika:
Lepuhan tidak perlu sengaja dipecahkan. Memecahkan atau menggaruk lepuhan dapat menyebabkan iritasi, luka terbuka, dan meningkatkan risiko infeksi bakteri sekunder.
Langkah yang dapat dilakukan:
Virus dapat berpindah ke benda ketika seseorang yang terinfeksi menyentuhnya dengan tangan yang terkontaminasi atau ketika percikan cairan tubuh mengenai permukaan tersebut. Anak lain kemudian dapat menyentuh benda yang sama dan memasukkan tangan ke mulut, hidung, atau mata. (1)(2)
Benda yang sering disentuh bersama meliputi:
Benda tidak selalu tampak kotor meskipun telah terkontaminasi. Oleh karena itu, membersihkan benda yang sering disentuh menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan.
Prioritas pembersihan di rumah atau daycare:
Gunakan produk pembersih atau disinfektan sesuai petunjuk pada label. Jangan mencampur berbagai cairan pembersih karena dapat menghasilkan uap berbahaya.
| Cara penularan | Contoh sehari-hari | Pencegahan utama |
| Percikan dan cairan pernapasan | Batuk, bersin, air liur, berbagi alat makan | Etika batuk dan hindari berbagi barang pribadi |
| Tinja | Mengganti popok dan membantu anak di toilet | Cuci tangan dengan sabun |
| Cairan lepuhan | Menyentuh atau memecahkan lepuhan | Hindari menyentuh dan jaga kulit tetap bersih |
| Benda terkontaminasi | Mainan, meja, gagang pintu, botol minum | Bersihkan permukaan yang sering disentuh |
Baca juga: Panduan Vaksinasi Keluarga Indonesia: Anak, Dewasa, dan Lansia
Tidak semua paparan dapat dicegah sepenuhnya. Namun, beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi risiko penyebaran.
Sabun dan air mengalir penting terutama ketika tangan terlihat kotor, setelah menggunakan toilet, dan setelah mengganti popok. Pembersih tangan berbasis alkohol dapat digunakan dalam kondisi tertentu, tetapi tidak selalu menggantikan kebutuhan mencuci tangan dengan sabun.
Anak yang sedang demam, tampak tidak sehat, memiliki luka mulut yang menyebabkan air liur sulit dikendalikan, atau tidak mampu mengikuti kegiatan sebaiknya beristirahat di rumah dan diperiksakan bila diperlukan.
Keputusan kembali ke sekolah atau daycare perlu mempertimbangkan:
Virus dapat tetap dikeluarkan setelah gejala membaik. Karena itu, menunggu hingga virus sama sekali tidak ditemukan biasanya tidak praktis. Kebersihan tangan, toilet, mainan, dan permukaan tetap menjadi langkah utama setelah anak kembali beraktivitas. (2)(5)
Vaksin EV71 telah terdaftar di Indonesia untuk membantu Mencegah HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Namun, vaksin ini tidak melindungi terhadap seluruh virus penyebab HFMD, seperti Coxsackievirus A16 atau tipe enterovirus lainnya. Penggunaannya perlu berdasarkan usia yang disetujui, kondisi kesehatan anak, dan rekomendasi dokter. (6)
Artinya, anak yang telah menerima vaksin EV71 tetap perlu menjalankan kebiasaan pencegahan seperti mencuci tangan, membersihkan mainan, dan menghindari berbagi alat makan.
Vaksin juga tidak memberi perlindungan 100%. Tujuannya adalah membantu tubuh membentuk respons imun terhadap virus yang menjadi target vaksin.
Efek samping setelah vaksinasi umumnya dapat berupa reaksi ringan seperti nyeri atau kemerahan di lokasi suntikan dan demam. Efek samping serius dapat terjadi tetapi jarang. Orang tua perlu mengikuti petunjuk observasi setelah vaksinasi dan mencari bantuan medis jika muncul sesak, pembengkakan berat, penurunan kesadaran, atau tanda reaksi alergi berat. (6)
Baca juga: Artikel Edukasi Vaksin dan Pencegahan Penyakit
Sebagian besar anak dapat membaik dengan perawatan suportif. Namun, orang tua perlu memperhatikan kemampuan anak minum dan kondisi umumnya.
Konsultasikan anak kepada dokter apabila:
Segera cari pertolongan medis apabila anak mengalami kejang, kesulitan bernapas, penurunan kesadaran, kelemahan anggota tubuh, sakit kepala berat, leher kaku, atau kondisi memburuk dengan cepat. Komplikasi berat HFMD jarang terjadi, tetapi memerlukan pemeriksaan dan penanganan segera. (2)(3)
Vaksin EV71 dapat ditanyakan di rumah sakit, klinik anak, atau fasilitas vaksinasi resmi yang menyediakan layanan tersebut. Ketersediaannya dapat berbeda di setiap fasilitas dan wilayah.
Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan. Konsultasi diperlukan untuk memastikan bahwa usia anak, kondisi kesehatan, riwayat alergi, jadwal pemberian, dan jenis vaksin telah sesuai.
Perlu dipahami bahwa vaksin EV71 ditujukan untuk membantu melindungi dari HFMD akibat EV71, bukan seluruh penyebab HFMD. Pencegahan melalui kebersihan tangan, pengelolaan popok, pembersihan mainan, dan pembatasan kontak ketika sakit tetap diperlukan.
Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, klinik anak, atau fasilitas vaksinasi resmi di sekitar wilayah Anda.
Cari Klinik Vaksinasi Terdekat
Empat cara penularan HFMD pada anak adalah melalui percikan dan cairan saluran pernapasan, kontak dengan tinja, cairan lepuhan, serta benda atau permukaan yang terkontaminasi. Penularan mudah terjadi ketika anak berinteraksi dekat, berbagi benda, atau belum terbiasa menjaga kebersihan tangan.
Pencegahan tidak harus dilakukan dengan rasa panik. Kebiasaan mencuci tangan, membersihkan mainan dan permukaan, tidak berbagi alat makan, mengelola popok dengan aman, serta mengistirahatkan anak yang sedang sakit dapat membantu mengurangi risiko penyebaran.
Orang tua juga dapat berdiskusi dengan dokter mengenai pilihan perlindungan tambahan, termasuk vaksin EV71 sesuai usia dan kondisi anak. Vaksin tidak melindungi dari seluruh penyebab HFMD sehingga tetap perlu disertai perilaku hidup bersih.
Kode promat: ID-GEN-2026-07-BCNV (07/27)
Kebiasaan Menjaga kebersihan akan membantu mengurangi penyebaran HFMD. Vaksinasi EV71 dapat didiskusikan dengan dokter sebagai salah satu opsi pencegahan sesuai usia dan kondisi anak .

Kehamilan adalah momen di mana seorang ibu tidak hanya menjaga dirinya sendiri, tetapi juga kehidupan yang sedang tumbuh di dalamnya. Namun, di masa ini, tubuh ibu mengalami perubahan yang membuatnya lebih rentan terhadap infeksi—termasuk influenza. Yang sering tidak disadari, influenza pada ibu hamil bukan sekadar flu biasa. Dampaknya bisa lebih serius, baik untuk ibu maupun bayi. Karena itu, kini vaksin influenza menjadi salah satu rekomendasi penting dalam perawatan kehamilan. Mengapa Influenza Lebih Berisiko Saat Hamil? Selama kehamilan, sistem imun, jantung, dan paru-paru mengalami perubahan fisiologis. Kondisi ini membuat ibu hamil:● Lebih mudah terinfeksi virus● Lebih berisiko mengalami komplikasi berat seperti pneumonia● Lebih rentan mengalami rawat inap akibat influenza (2)(10) Tidak hanya itu, infeksi influenza juga dapat berdampak pada janin, seperti meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah (10). Rekomendasi Terbaru: Ibu Hamil Termasuk Prioritas Vaksinasi Organisasi kesehatan dunia menempatkan ibu hamil sebagai kelompok prioritas utama untuk vaksin influenza (1). Rekomendasi ini didasarkan pada:● Tingginya risiko komplikasi influenza pada ibu hamil● Keamanan vaksin yang sudah terbukti● Manfaat perlindungan ganda bagi ibu dan bayi Vaksin influenza, khususnya jenis inaktif, direkomendasikan untuk diberikan pada semua trimester kehamilan (2)(9). Tidak Hanya untuk Ibu, Tapi Juga untuk Bayi Salah satu keunggulan vaksin influenza saat hamil adalah efek perlindungan ganda. Setelah vaksin diberikan, tubuh ibu akan membentuk antibodi yang kemudian ditransfer ke bayi melalui plasenta (4). Artinya:● Bayi sudah memiliki perlindungan sejak lahir● Perlindungan ini dapat bertahan hingga beberapa bulan pertama kehidupan Ini sangat penting karena bayi belum bisa langsung menerima vaksin influenza di usia awal. Seberapa Efektif Vaksin Influenza? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa vaksin influenza pada ibu hamil memiliki manfaat signifikan:● Mencegah infeksi influenza pada ibu hingga 35–70% (5)● Memberikan perlindungan pada bayi hingga usia 6 bulan (4)● Mengurangi risiko komplikasi serius akibat influenza Dengan kata lain, vaksinasi bukan hanya melindungi satu individu—tetapi dua sekaligus. Apakah Vaksin Influenza Aman untuk Ibu Hamil? Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul. Jawabannya: aman. Vaksin influenza yang digunakan pada ibu hamil adalah vaksin inaktif (tidak mengandung virus hidup), sehingga tidak dapat menyebabkan infeksi (11). Berbagai studi dan rekomendasi global juga menunjukkan bahwa vaksin ini:● Tidak meningkatkan risiko cacat lahir● Tidak meningkatkan risiko keguguran● Aman diberikan di semua trimester (2)(9) Rekomendasi di Indonesia Di Indonesia, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia juga merekomendasikan vaksin influenza sebagai bagian dari perawatan kehamilan (3). Vaksin ini dinilai efektif untuk:● Mengurangi risiko infeksi pada ibu● Mencegah komplikasi selama kehamilan● Memberikan perlindungan awal bagi bayi Rekomendasi ini sejalan dengan WHO, CDC, dan ACOG. Kapan Waktu Terbaik untuk Vaksin? Vaksin influenza dapat diberikan kapan saja selama kehamilan. Namun, idealnya dilakukan sebelum atau selama musim influenza untuk memberikan perlindungan optimal (2). Karena virus influenza terus berubah, vaksinasi dianjurkan dilakukan setiap tahun. Kesimpulan Influenza saat kehamilan bukanlah kondisi yang bisa dianggap ringan. Dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi, pencegahan menjadi langkah yang sangat penting. Vaksin influenza hadir sebagai solusi sederhana namun efektif—melindungi ibu dari penyakit berat sekaligus memberikan perlindungan awal bagi bayi sejak dalam kandungan. Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan ibu adalah langkah pertama untuk melindungi masa depan bayi. Referensi World Health Organization. (2023). Influenza immunization.https://www.who.int/teams/immunization-vaccines-and-biologicals/diseases/seasonal-influenza (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Flu vaccine safety and pregnancy. https://www.cdc.gov/flu/vaccine-safety/vaccine-pregnant.html (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Kalventis. (2025). Vaksin influenza untuk ibu hamil: Amankah dan apa manfaatnya.https://www.kalventis.co.id/artikel/vaksin-influenza-untuk-ibu-hamil-amankah-dan-apa-manfaatnya (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Australian Government Department of Health. (2024). Influenza vaccination in pregnancy. https://www.health.gov.au/influenza-vaccination-in-pregnancy (dikutip pada tanggal 20 April 2026). World Health Organization. (2016). How to implement influenza vaccination of pregnant women. https://www.who.int/publications/i/item/WHO-IVB-16.06 (dikutip pada tanggal 20 April 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2025). Influenza in pregnancy: Prevention and treatment. https://www.acog.org (dikutip pada tanggal 20 April 2026).

Banyak orang menganggap influenza hanyalah “flu biasa” yang akan sembuh dalam beberapa hari. Padahal, di balik gejala seperti demam dan batuk, influenza menyimpan dampak yang jauhlebih luas—baik bagi individu maupun sistem kesehatan. Setiap tahunnya, influenza menyebabkan jutaan kasus penyakit dan ratusan ribu kematian di seluruh dunia (1).Artinya, influenza bukan hanya penyakit ringan, tetapi beban kesehatan global yang sering terabaikan Lebih dari Sekadar Penyakit Pernapasan Influenza dikenal sebagai penyakit saluran pernapasan. Namun, efeknya tidak berhenti di paru-paru. Infeksi influenza dapat memicu respons peradangan di seluruh tubuh yang berdampak pada berbagai organ, termasuk jantung dan pembuluh darah (2). Dalam beberapa kasus, influenza dapat menyebabkan komplikasi serius seperti:● Pneumonia● Sepsis● Gangguan kardiovaskular● Perburukan penyakit kronis yang sudah ada (1,3)Inilah yang membuat influenza menjadi lebih berbahaya, terutama pada kelompok berisiko tinggi Siapa yang Paling Berisiko? Tidak semua orang mengalami influenza dengan tingkat keparahan yang sama. Kelompok yang lebih rentan mengalami komplikasi meliputi:● Anak usia di bawah 5 tahun● Lansia● Ibu hamil● Individu dengan penyakit kronis (seperti diabetes, penyakit jantung, atau gangguan paru) (1) Pada kelompok ini, influenza tidak hanya menyebabkan gejala berat, tetapi juga dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada. Dampak yang Sering Tidak Terlihat Selain dampak klinis, influenza juga membawa beban sosial dan ekonomi yang besar. Selama musim influenza:● Tingkat absensi kerja dan sekolah meningkat● Produktivitas menurun● Fasilitas kesehatan dapat mengalami lonjakan pasien (1)Hal ini menunjukkan bahwa influenza bukan hanya masalah individu, tetapi juga berdampak pada masyarakat secara luas. Influenza dan Risiko Penyakit Serius Salah satu dampak yang sering tidak disadari adalah hubungan antara influenza dan penyakit kardiovaskular. Infeksi influenza dapat:● Memicu peradangan sistemik● Mengganggu stabilitas plak pada pembuluh darah● Meningkatkan risiko pembekuan darah Akibatnya, risiko kejadian seperti serangan jantung dan stroke dapat meningkat setelah infeksi influenza (2,4). Mengapa Pencegahan Itu Penting? Karena influenza menyebar dengan sangat mudah, terutama di lingkungan padat seperti sekolah, kantor, atau transportasi umum (1). Penularan terjadi melalui droplet saat batuk atau bersin, serta melalui tangan atau permukaan yang terkontaminasi.Artinya, tanpa pencegahan yang tepat, penyebaran influenza dapat terjadi dengan cepat. Peran Vaksin Influenza Vaksin influenza merupakan cara paling efektif untuk mencegah infeksi dan mengurangi risiko komplikasi (1). Selain mencegah penyakit, vaksin juga dapat:● Mengurangi keparahan gejala● Menurunkan risiko rawat inap● Mengurangi komplikasi serius, termasuk yang berkaitan dengan jantung (5) Karena virus influenza terus berubah, vaksinasi dianjurkan dilakukan setiap tahun untuk perlindungan optimal. Kesimpulan Influenza bukan sekadar flu biasa. Di balik gejala yang tampak ringan, terdapat risiko komplikasi serius dan beban kesehatanyang besar, baik bagi individu maupun masyarakat. Dengan memahami dampaknya yang luas, langkah pencegahan seperti vaksinasi menjadi semakin penting—bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga orang di sekitar kita. Karena pada akhirnya, influenza adalah penyakit yang terlihat sederhana, tetapi berdampak besar. Referensi World Health Organization. (2025). Influenza (seasonal).https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal) (dikutip padatanggal 20 April 2026). Skaarup, K. G., et al. (2023). Influenza and cardiovascular disease pathophysiology.European Heart Journal Supplements.https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10021500/ (dikutip pada tanggal 20 April2026). Neyestanaki, M. H. K., et al. (2024). Influenza and its cardiovascular complications.Acta Angiologica. https://journals.viamedica.pl/acta_angiologica/article/view/99211(dikutip pada tanggal 20 April 2026). Estabragh, Z. R., & Mamas, M. A. (2013). The cardiovascular manifestations ofinfluenza. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0167527313003537(dikutip pada tanggal 20 April 2026). Hasibuan, A. S., et al. (2025). Benefit of influenza vaccination in patients withcardiovascular disease. Acta Medica Indonesiana.https://actamedindones.org/index.php/ijim/article/view/3230 (dikutip pada tanggal 20April 2026).
Vaksin influenza adalah vaksin yang membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap virus influenza musiman. Vaksin ini tidak memberikan perlindungan 100%, tetapi dapat membantu mengurangi risiko sakit influenza, gejala berat, rawat inap, dan komplikasi terutama pada kelompok berisiko tinggi. (1)(2) Secara umum, vaksin influenza dapat diberikan mulai usia 6 bulan dan dianjurkan diulang setiap tahun karena virus influenza dapat berubah dari waktu ke waktu. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan melalui UPK Kemenkes juga menjelaskan bahwa vaksin influenza dapat dimulai sejak usia 6 bulan dan dilanjutkan satu tahun sekali. (3) Kelompok yang perlu lebih mempertimbangkan vaksin influenza antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis, tenaga kesehatan, pekerja aktif, pelancong, dan orang yang tinggal atau bekerja di lingkungan padat. (1)(4) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apa Itu Influenza dan Mengapa Perlu Diwaspadai? Influenza adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Gejalanya bisa berupa demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, lemas, dan rasa tidak enak badan. Pada banyak orang, influenza dapat membaik dalam beberapa hari. Namun, pada kelompok tertentu, influenza bisa berkembang menjadi penyakit yang lebih berat. (1) Influenza berbeda dengan pilek biasa. Pilek umumnya lebih ringan, sedangkan influenza dapat menyebabkan demam tinggi, tubuh sangat lemas, dan risiko komplikasi seperti pneumonia, perburukan penyakit jantung, gangguan paru, hingga rawat inap pada kelompok berisiko. (1)(2) Baca juga: Influenza Bukan Flu Biasa & Dampaknya Sering Terabaikanhttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/beban-influenza-dampak-komplikasi Apa Itu Vaksin Influenza? Vaksin influenza adalah vaksin yang dirancang untuk membantu sistem imun mengenali virus influenza. Setelah vaksinasi, tubuh membentuk respons imun sehingga ketika terpapar virus influenza di kemudian hari, tubuh dapat merespons lebih cepat. (2) Namun, penting dipahami bahwa vaksin influenza bukan berarti seseorang pasti tidak akan terkena flu sama sekali. Manfaat utamanya adalah membantu mengurangi risiko infeksi, mengurangi keparahan gejala, dan menurunkan risiko komplikasi serius. (2) Karena virus influenza sering berubah, komposisi vaksin influenza dievaluasi secara berkala oleh badan kesehatan global seperti WHO. Inilah alasan vaksin influenza umumnya dianjurkan setiap tahun. WHO secara rutin menerbitkan rekomendasi komposisi vaksin influenza sesuai pemantauan virus yang beredar. (5) Manfaat Vaksin Influenza Vaksin influenza dapat memberikan beberapa manfaat penting, terutama bila diberikan sesuai usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan. ManfaatPenjelasan SederhanaMembantu mencegah influenzaVaksin membantu tubuh mengenali virus influenza dan membentuk perlindungan.Mengurangi risiko gejala beratJika tetap terinfeksi, vaksin dapat membantu menurunkan risiko sakit berat.Menurunkan risiko komplikasiInfluenza dapat menyebabkan pneumonia atau memperburuk penyakit kronis pada sebagian orang.Melindungi kelompok rentanAnak kecil, lansia, ibu hamil, dan pasien komorbid lebih berisiko mengalami komplikasi.Mengurangi dampak sosialInfluenza dapat menyebabkan absen sekolah, absen kerja, dan gangguan aktivitas keluarga. CDC menyebut vaksin influenza dapat mengurangi risiko flu dan komplikasi serius akibat flu. (2) Siapa yang Dianjurkan Mendapatkan Vaksin Influenza? Secara umum, CDC merekomendasikan vaksin influenza tahunan untuk semua orang usia 6 bulan ke atas yang tidak memiliki kontraindikasi. (2) Dalam konteks Indonesia, rekomendasi juga perlu mempertimbangkan panduan dokter, IDAI untuk anak, PAPDI untuk dewasa, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Kelompok berikut perlu lebih memperhatikan vaksin influenza: 1. Anak-anak Anak-anak dapat tertular dan menularkan influenza dengan mudah, terutama di sekolah, daycare, atau lingkungan bermain. Vaksin influenza dapat mulai diberikan sejak usia 6 bulan. Untuk anak usia <9 th diberikan 2 dosis dg jarak 1 bulan, selanjutnya diberikan 1 th sekali. Untuk baru pertama kali menerima vaksin influenza, Dokter biasanya merekomendasikan dua dosis pada awal pemberian, kemudian dilanjutkan setiap tahun. (3)(6) 2. Orang Dewasa Aktif dan Pekerja Orang dewasa yang sering beraktivitas di kantor, transportasi umum, sekolah, fasilitas publik, atau bertemu banyak orang memiliki peluang paparan yang lebih tinggi. Vaksinasi dapat menjadi bagian dari perlindungan diri sekaligus membantu mengurangi risiko menularkan influenza kepada keluarga di rumah. 3. Lansia Lansia lebih berisiko mengalami komplikasi influenza karena daya tahan tubuh cenderung menurun seiring usia. Pada kelompok ini, influenza dapat memperburuk kondisi yang sudah ada, seperti penyakit jantung, diabetes, atau gangguan paru. (1)(4) 4. Ibu Hamil Ibu hamil termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami komplikasi influenza. Vaksin influenza inaktif umumnya direkomendasikan untuk ibu hamil sesuai penilaian tenaga kesehatan karena dapat membantu melindungi ibu dan memberi perlindungan awal pada bayi melalui antibodi ibu. (7)(8) Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayihttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/vaksin-ibu-hamil-influenza-tdap 5. Orang dengan Penyakit Kronis atau Komorbid Orang dengan diabetes, penyakit jantung, penyakit paru kronis, penyakit ginjal kronis, obesitas berat, kanker, HIV/AIDS, atau kondisi imunokompromais perlu berdiskusi dengan dokter tentang vaksin influenza. PAPDI mencantumkan beberapa kelompok dewasa yang sangat dianjurkan mendapat vaksin influenza, termasuk orang dengan penyakit pernapasan kronik, penyakit ginjal kronik, gangguan kardiovaskular, diabetes, imunokompromais, lansia, tenaga kesehatan, pelancong, dan calon jemaah haji/umrah. (4) Baca juga: Peran Vaksin Influenza pada Diabetes dan Risiko Jantunghttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/diabetes-risiko-jantung-vaksin-influenza Jadwal Vaksin Influenza Jadwal vaksin influenza dapat berbeda sesuai usia, riwayat vaksin sebelumnya, kondisi kesehatan, dan jenis vaksin yang tersedia. Tabel berikut dapat menjadi panduan umum, tetapi keputusan akhir tetap perlu mengikuti rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan. KelompokJadwal UmumAnak mulai usia 6 bulanDapat mulai diberikan sejak usia 6 bulan. Pada pemberian pertama, sebagian anak membutuhkan 2 dosis dengan jarak minimal sekitar 4 minggu, lalu diulang setiap tahun. (2)(3)Anak usia lebih besar dan remajaUmumnya 1 dosis setiap tahun, kecuali ada kondisi khusus sesuai penilaian dokter.DewasaUmumnya 1 dosis setiap tahun.LansiaUmumnya 1 dosis setiap tahun; jenis vaksin dapat disesuaikan dengan rekomendasi dokter dan ketersediaan.Ibu hamiltrimester 1, 2, atau 3 selama kehamilan disesuaikan dengan rekomendasi dokter, terutama dengan vaksin influenza inaktif. (7)(8)Komorbid atau imunokompromaisPerlu konsultasi dokter untuk menyesuaikan waktu dan jenis vaksin. Di negara tropis seperti Indonesia, influenza dapat beredar sepanjang tahun. Karena itu, PAPDI menyebut vaksin influenza dapat diberikan sepanjang tahun. (4) Jenis Vaksin Influenza Jenis vaksin influenza dapat dibedakan berdasarkan cara pembuatan, kandungan, dan jumlah strain virus yang ditargetkan. Masyarakat tidak perlu memilih sendiri tanpa arahan; tenaga kesehatan akan membantu menyesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, kehamilan, alergi, dan ketersediaan vaksin. 1. Vaksin Influenza Inaktif Vaksin influenza inaktif berisi virus yang sudah dimatikan sehingga tidak dapat menyebabkan influenza. Jenis ini umum digunakan dan dapat dipertimbangkan untuk banyak kelompok, termasuk ibu hamil sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. (7)(8) 2. Vaksin Influenza Trivalen Vaksin trivalen dirancang untuk membantu melindungi terhadap tiga strain utama virus influenza. CDC menjelaskan bahwa vaksin influenza musim 2025–2026 di Amerika Serikat diformulasikan sebagai trivalen untuk melindungi terhadap tiga virus influenza musiman utama, yaitu A(H1N1), A(H3N2), dan B/Victoria. (9) 3. Vaksin Influenza Quadrivalent Vaksin quadrivalent dirancang untuk mencakup empat strain virus influenza. Namun, komposisi vaksin dapat berubah mengikuti rekomendasi global dan ketersediaan di masing-masing negara. Karena itu, pembaca perlu mengikuti informasi terbaru dari dokter, fasilitas vaksinasi, dan otoritas kesehatan resmi. 4. Vaksin Nasal Spray Di beberapa negara, ada vaksin influenza semprot hidung yang berisi virus hidup yang dilemahkan. Namun, tidak semua orang dapat menggunakan jenis ini, misalnya ibu hamil atau orang dengan kondisi imun tertentu. Ketersediaannya juga berbeda antarnegara. Untuk Indonesia, tanyakan langsung kepada fasilitas kesehatan mengenai jenis vaksin yang tersedia. Efek Samping Vaksin Influenza Sebagian besar efek samping vaksin influenza bersifat ringan dan sementara. Efek samping umum dapat meliputi: (10) Nyeri, kemerahan, atau bengkak di area suntikan Demam ringan Nyeri otot Sakit kepala Lelah Rasa tidak nyaman selama 1–2 hari Efek samping serius jarang terjadi, tetapi tetap perlu dikenali. Reaksi alergi berat dapat terjadi pada sebagian sangat kecil orang, terutama bila memiliki riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin. CDC juga menyebut adanya kemungkinan kecil peningkatan risiko Guillain-Barré Syndrome setelah vaksin flu pada sebagian orang, meskipun kondisi ini jarang. (11) Segera cari bantuan medis bila setelah vaksin muncul gejala seperti: Sesak napas Bengkak pada wajah atau bibir Ruam berat menyebar Pusing berat atau pingsan Lemah mendadak Gejala neurologis yang tidak biasa Siapa yang Perlu Konsultasi Dulu Sebelum Vaksin Influenza? Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan jika Anda atau anggota keluarga memiliki kondisi berikut: Riwayat alergi berat terhadap vaksin sebelumnya Riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin Sedang demam tinggi atau sakit akut sedang-berat Riwayat Guillain-Barré Syndrome Sedang hamil Memiliki penyakit autoimun atau imunokompromais Sedang menjalani kemoterapi atau terapi imunosupresif Bayi atau anak dengan kondisi medis khusus Lansia dengan banyak komorbid Konsultasi bukan berarti vaksin pasti tidak boleh diberikan. Tujuannya adalah memastikan waktu, jenis vaksin, dan pemantauan setelah vaksinasi lebih sesuai dengan kondisi masing-masing. Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Influenza? Vaksin influenza dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan imunisasi atau vaksinasi dewasa, seperti puskesmas tertentu, klinik, rumah sakit, praktik dokter, atau fasilitas vaksinasi resmi. Sebelum vaksinasi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk anak, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbid, atau orang yang memiliki riwayat alergi berat. Konsultasi membantu memastikan jadwal, jenis vaksin, dan kondisi kesehatan sudah sesuai. Cari Lokasi Vaksinasi Terdekat? Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin influenza di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin influenza adalah salah satu langkah pencegahan yang dapat membantu mengurangi risiko influenza, gejala berat, rawat inap, dan komplikasi pada kelompok berisiko. Vaksin ini umumnya diberikan mulai usia 6 bulan dan diulang setiap tahun karena virus influenza dapat berubah dari waktu ke waktu. (2)(3) Kelompok seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, tenaga kesehatan, pekerja aktif, pelancong, dan orang dengan penyakit kronis perlu lebih memperhatikan vaksin influenza. Meski umumnya aman, vaksin tetap perlu diberikan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan, terutama pada orang dengan riwayat alergi berat, komorbid, kehamilan, atau kondisi imun tertentu. Dengan memahami manfaat, jadwal, jenis, dan efek samping vaksin influenza, keluarga dapat mengambil keputusan kesehatan yang lebih tenang, rasional, dan berbasis informasi tepercaya. Referensi World Health Organization. (2025). Influenza (seasonal).https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal)(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2026). ACIP recommendations summary: Influenza.https://www.cdc.gov/flu/hcp/vax-summary/acip-recommendations.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Unit Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Vaksinasi influenza di UPK, 17 Januari 2024.https://upk.kemkes.go.id/new/vaksinasi-influenza-di-upk-17-januari-2024(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI. (2024). Jadwal imunisasi dewasa PAPDI 2024.https://imuni.id/wp-content/uploads/2024/07/Jadwal-Vaksinasi-Dewasa-PAPDI-2024.pdf(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). World Health Organization. (2026). Recommendations for influenza vaccine composition.https://www.who.int/teams/global-influenza-programme/vaccines/who-recommendations(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2025). Jadwal imunisasi anak usia 0–18 tahun rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2024.https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Flu vaccine safety and pregnancy.https://www.cdc.gov/flu/vaccine-safety/vaccine-pregnant.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2024). Influenza in pregnancy: Prevention and treatment.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-statement/articles/2024/02/influenza-in-pregnancy-prevention-and-treatment(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2026). 2025–2026 flu season.https://www.cdc.gov/flu/season/2025-2026.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Influenza (flu) vaccine safety.https://www.cdc.gov/vaccine-safety/vaccines/flu.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Key facts about seasonal flu vaccine.https://www.cdc.gov/flu/vaccines/keyfacts.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Kode promat: ID-VAX-2026-07-5BTW (07/27)