
Memasuki trimester ketiga, perhatian calon orang tua biasanya mulai tertuju pada persiapan persalinan, perlengkapan bayi, pilihan fasilitas kesehatan, dan rencana menyusui. Selain berbagai persiapan tersebut, riwayat vaksinasi ibu juga perlu ditinjau bersama dokter atau bidan.
Vaksin ibu hamil trimester 3 dapat membantu melindungi ibu dari penyakit tertentu sekaligus memberikan antibodi awal kepada bayi melalui plasenta. Antibodi tersebut dapat membantu memberikan perlindungan pasif pada masa awal kehidupan, ketika sistem kekebalan bayi masih berkembang dan jadwal imunisasinya belum lengkap. (1)(2)
Vaksin yang dapat dipertimbangkan pada trimester ketiga antara lain vaksin yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis, serta vaksin influenza inaktif. Jenis dan jadwalnya tidak sama untuk setiap ibu karena perlu disesuaikan dengan usia kehamilan, riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, rekomendasi dokter, ketersediaan vaksin, dan kebijakan yang berlaku di Indonesia.
Dalam sejumlah pedoman internasional, vaksin Tdap dianjurkan pada usia kehamilan 27–36 minggu, terutama pada bagian awal rentang tersebut, agar tubuh ibu memiliki waktu membentuk antibodi dan menyalurkannya kepada janin. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, maupun ketiga apabila sesuai dengan rekomendasi tenaga kesehatan. (2)(3)
“Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.”

Trimester ketiga umumnya dimulai pada sekitar minggu ke-28 dan berlangsung hingga persalinan. Pada periode ini, tubuh ibu terus mengalami perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut merupakan bagian normal dari kehamilan, tetapi dapat membuat dampak infeksi tertentu menjadi lebih berat pada sebagian ibu. (3)(4)
Mendekati kelahiran, bayi juga belum dapat langsung menerima seluruh vaksin yang dibutuhkannya. Sebagai contoh, vaksinasi bayi terhadap pertusis baru dimulai sesuai jadwal imunisasi setelah bayi lahir. Karena itu, perlindungan melalui antibodi ibu dapat membantu mengisi masa rentan sebelum bayi membentuk kekebalannya sendiri. (2)
Vaksinasi selama kehamilan tidak memberikan perlindungan 100%. Namun, vaksin dapat membantu mengurangi risiko terjadinya penyakit atau komplikasi berat sesuai penyakit yang ditargetkan.
Setelah menerima vaksin yang sesuai, sistem kekebalan ibu mengenali antigen dan membentuk antibodi. Sebagian antibodi tersebut dapat berpindah dari ibu kepada janin melalui plasenta, terutama pada bagian akhir kehamilan.
Proses ini disebut transfer antibodi maternal. Perlindungan yang diterima bayi bersifat sementara, tetapi penting untuk membantu menghadapi masa awal kehidupan sebelum imunisasi bayi lengkap. (1)(2)
Manfaat yang diharapkan meliputi:
Bayi tetap harus mendapatkan imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan setelah lahir karena antibodi dari ibu akan berkurang secara bertahap.
Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayi
Berikut adalah gambaran umum vaksin yang sering dibahas menjelang persalinan. Keputusan pemberian tetap harus berdasarkan pemeriksaan dan rekomendasi tenaga kesehatan.
| Jenis vaksin | Waktu pemberian umum | Tujuan utama | Catatan penting |
| Tdap | Umumnya minggu ke-27–36 menurut beberapa pedoman internasional | Membantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis serta memberikan antibodi pertusis kepada bayi | Ketersediaan dan rekomendasi di Indonesia perlu dikonfirmasi kepada dokter |
| Td atau vaksin yang mengandung toksoid tetanus | Berdasarkan status imunisasi tetanus ibu | Membantu mencegah tetanus pada ibu dan bayi baru lahir | Jumlah dosis bergantung pada riwayat imunisasi |
| Influenza inaktif | Dapat diberikan pada trimester mana pun | Membantu mengurangi risiko influenza dan komplikasinya | Hindari vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung selama kehamilan |
| Vaksin lain | Berdasarkan risiko khusus | Menyesuaikan penyakit, paparan, pekerjaan, perjalanan, atau kondisi medis | Memerlukan penilaian individual oleh dokter |
Tdap merupakan vaksin kombinasi yang membantu memberikan perlindungan terhadap:
CDC dan ACOG menganjurkan Tdap pada setiap kehamilan, umumnya antara minggu ke-27 dan ke-36. Pemberian pada bagian awal rentang tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan pembentukan serta transfer antibodi kepada bayi. (2)(5)
Kebijakan, ketersediaan, dan praktik vaksinasi maternal di Indonesia dapat berbeda dari pedoman Amerika Serikat. Oleh karena itu, ibu tidak perlu membeli atau memilih vaksin sendiri. Tanyakan kepada dokter kandungan apakah Tdap tersedia dan sesuai dengan kondisi kehamilan.
Di Indonesia, skrining status imunisasi tetanus merupakan salah satu bagian penting dalam pelayanan antenatal. Tenaga kesehatan dapat memeriksa riwayat imunisasi ibu melalui wawancara, buku KIA, kartu imunisasi, atau catatan fasilitas kesehatan. (6)
Vaksin TT berfokus pada perlindungan terhadap tetanus, sedangkan Td memberikan perlindungan terhadap tetanus dan difteri. Dalam program imunisasi, jenis vaksin yang digunakan dapat mengikuti kebijakan dan ketersediaan terbaru.
Ibu mungkin tidak perlu mengulang seluruh rangkaian apabila sudah memiliki status imunisasi yang lengkap. Sebaliknya, ibu dengan riwayat yang belum lengkap atau tidak diketahui mungkin memerlukan jadwal lanjutan. Jarak antardosis perlu ditentukan tenaga kesehatan dan tidak boleh diputuskan hanya berdasarkan usia kehamilan.
Ibu hamil dapat mengalami risiko komplikasi influenza yang lebih tinggi dibandingkan perempuan tidak hamil karena adanya perubahan fisiologis selama kehamilan. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, atau ketiga sesuai evaluasi tenaga kesehatan. (3)(4)
Vaksin ini dapat membantu:
Vaksin influenza biasanya diperbarui secara berkala karena virus influenza terus mengalami perubahan. Oleh sebab itu, riwayat vaksin pada tahun sebelumnya perlu disampaikan kepada dokter.
Jenis vaksin influenza hidup yang diberikan melalui semprotan hidung umumnya tidak digunakan selama kehamilan. Ibu hamil biasanya diarahkan pada vaksin influenza inaktif melalui suntikan. (3)
Baca juga: Panduan Vaksin Influenza: Manfaat, Jadwal, Jenis, dan Untuk Siapa
Ketiga istilah ini sering membuat calon orang tua bingung.
| Singkatan | Perlindungan | Keterangan sederhana |
| TT | Tetanus | Mengandung toksoid tetanus |
| Td | Tetanus dan difteri | Mengandung perlindungan tetanus dan difteri dengan komponen difteri dosis lebih rendah |
| Tdap | Tetanus, difteri, dan pertusis | Ditambah komponen pertusis untuk membantu melindungi dari batuk rejan |
Vaksin tersebut tidak selalu dapat dipertukarkan tanpa pertimbangan medis. Dokter akan menilai jenis yang dibutuhkan berdasarkan riwayat imunisasi, tujuan perlindungan, regulasi, dan ketersediaan vaksin.
Belum tentu. Namun, manfaat yang diperoleh dapat dipengaruhi oleh jarak antara vaksinasi dan waktu persalinan.
Tubuh memerlukan waktu untuk membentuk antibodi setelah vaksinasi. Antibodi juga memerlukan waktu untuk berpindah melalui plasenta. Karena itu, beberapa pedoman merekomendasikan Tdap pada awal rentang minggu ke-27–36, bukan menunggu hingga hari perkiraan lahir sangat dekat. (2)(5)
Bila usia kehamilan sudah lebih dari 36 minggu atau persalinan diperkirakan terjadi dalam waktu dekat:
Keputusan dapat berbeda menurut vaksin, kondisi ibu, serta riwayat imunisasinya.
Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya tidak diberikan selama kehamilan karena adanya pertimbangan teoretis terhadap janin. Contohnya antara lain vaksin MMR dan vaksin varisela. (7)
Apabila ibu belum memiliki perlindungan terhadap penyakit tersebut, dokter dapat menyarankan vaksinasi setelah persalinan. Vaksinasi pascapersalinan dapat membantu melindungi ibu pada kehamilan berikutnya.
Menerima vaksin hidup secara tidak sengaja ketika belum mengetahui sedang hamil tidak otomatis berarti janin akan mengalami masalah. Segera konsultasikan kepada dokter agar kondisi dapat dievaluasi dengan tepat dan ibu tidak mengambil keputusan berdasarkan rasa takut.
Efek samping yang paling sering terjadi umumnya ringan dan membaik dalam beberapa hari, seperti:
Reaksi tersebut menunjukkan sistem imun sedang merespons vaksin, tetapi tingkat efek samping tidak menentukan seberapa baik perlindungan yang terbentuk.
Efek samping serius seperti reaksi alergi berat dapat terjadi, tetapi jarang. Fasilitas vaksinasi biasanya meminta penerima vaksin menunggu untuk observasi setelah penyuntikan.
Segera cari pertolongan medis apabila muncul:
Gejala kehamilan darurat tidak boleh dianggap sebagai efek samping vaksin tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan.
Semua ibu hamil sebaiknya berkonsultasi sebelum vaksinasi. Penilaian lebih khusus dibutuhkan apabila ibu:
Sakit ringan tanpa demam tinggi tidak selalu menjadi alasan untuk menunda vaksin, tetapi keputusan tetap harus dibuat oleh tenaga kesehatan.
Bawa atau siapkan informasi berikut saat kontrol kehamilan:
Pertanyaan yang dapat diajukan:
Vaksin merupakan salah satu bagian dari persiapan kesehatan, bukan satu-satunya langkah. Menjelang persalinan, keluarga juga dapat:
Orang yang akan sering berinteraksi dengan bayi sebaiknya menjaga kesehatan dan membicarakan kebutuhan vaksinasinya dengan tenaga kesehatan. Pendekatan ini kadang disebut perlindungan lingkungan atau cocooning, tetapi tidak menggantikan vaksinasi ibu dan imunisasi bayi.
Vaksinasi ibu hamil dapat tersedia di puskesmas, rumah sakit, klinik kebidanan dan kandungan, praktik dokter, atau fasilitas vaksinasi resmi. Jenis vaksin yang tersedia dapat berbeda pada setiap fasilitas.
Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, waktu pemberian, riwayat imunisasi, kondisi kehamilan, dan perkiraan persalinan sudah dipertimbangkan.
Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia layanan vaksinasi di sekitar wilayah Anda.
Cari Klinik Vaksinasi Terdekat
Vaksin ibu hamil trimester 3 merupakan salah satu hal yang dapat ditinjau sebagai bagian dari persiapan menjelang persalinan. Vaksin yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis serta vaksin influenza inaktif dapat dipertimbangkan sesuai riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, usia kehamilan, dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Pada beberapa vaksin, antibodi yang dibentuk tubuh ibu dapat berpindah melalui plasenta dan membantu memberikan perlindungan awal kepada bayi. Namun, vaksin tidak memberi perlindungan 100% dan tidak menggantikan imunisasi bayi setelah lahir.
Karena panduan, jenis vaksin, dan ketersediaannya dapat berubah, bawa buku KIA serta riwayat imunisasi saat kontrol. Dokter atau bidan akan membantu menentukan apakah vaksin masih diperlukan dan kapan waktu pemberian yang paling sesuai.
ID-GEN-2026-08-J9MX (08/26)


Meninjau riwayat vaksin pada trimester ketiga dapat membantu ibu mempersiapkan perlindungan diri sekaligus memberikan antibodi awal kepada bayi sebelum lahir.

Pernah merasakan gejala batuk, pilek, demam, serta tubuh yang terasa lemas? Banyak orang menganggap gejala tersebut sebagai pilek (common cold), padahal bisa jadi itu influenza A. Akan tetapi, tahukah bila keduanya memiliki perbedaan yang signifikan? Yuk, simak perbedaan influenza A dan common cold berikut ini! Common cold atau sering dikenal dengan selesma merupakan gangguan saluran pernapasan atas yang biasanya disebabkan oleh infeksi Rhinovirus. Di negara-negara tropis, seperti Indonesia, flu musiman dapat terjadi sepanjang tahun. Penyakit ini mudah menular melalui transmisi udara dan percikan (droplet) dari penderitanya dengan masa inkubasi selama 2 – 3 hari. Dalam periode tersebut, penderita akan mulai merasakan gejala seperti (1): Demam ringan Hidung berair dan tersumbat Batuk Bersin-bersin Tenggorokan terasa tidak nyaman Sakit kepala Walaupun sering dianggap sepele, kondisi tersebut dapat memicu keparahan akibat komorbid yang dimiliki oleh penderita antara lain (1): Asma Bronkitis Bronkiolitis Pneumonia Penyakit jantung koroner (PJK), dan lain sebagainya Lalu, apa sih yang membedakan selesma (common cold) dengan influenza A? Pada dasarnya, virus penyebab common cold dan influenza A berbeda. Namun, virus influenza A bukan virus yang jarang ditemukan. Subtipe virus ini justru sering bersirkulasi di masyarakat, seperti H1N1 dan H3N2. Akan tetapi, terdapat salah satu subtipe yang berasal dari hewan dan dapat menginfeksi manusia, yaitu H5N1 (Flu Burung). Virus influenza A mengandung dua protein kunci, yaitu Hemagglutinin (H) dan Neuraminidase (N) yang berperan dalam menentukan jalur masuk virus ke dalam sel tubuh dan cara virus menginfeksi sel lainnya. Jenis virus ini memiliki kemampuan untuk bermutasi setiap tahunnya, sehingga dapat menembus kekebalan tubuh manusia sebagai inangnya (host) (5). Menurut data WHO, angka kematian akibat influenza A mencapai 650.000 jiwa setiap tahunnya (3). Virus influenza A memiliki kemampuan mutasi titik secara akumulatif dalam genom virus, sehingga menghasilkan adanya perubahan varian pada virus. Proses ini disebut dengan antigenic drift. Hal tersebut memungkinkan terjadinya infeksi ulang pada orang yang sudah pernah terinfeksi (5). Gejala Influenza A yang Perlu Diwaspadai: Demam tinggi mendadak (38°C – 40°C) Nyeri pada beberapa bagian otot, utamanya punggung, paha, dan lengan Sakit kepala Kelelahan tubuh Batuk kering dan nyeri tenggorokan Hidung berair atau tersumbat Hal inilah yang membuat virus influenza A terasa lebih parah dibandingkan common cold. Selain itu, virus ini juga memiliki kemampuan antigenic shift yang memungkinkan adanya perubahan besar dalam waktu singkat pada komponen virus. Mekanisme ini terjadi akibat bergabungnya materi genetik dari dua virus yang berbeda. Hasil dari proses inilah yang kerap menyebabkan pandemi, seperti pandemi flu tahun 1918 (H1N1) dan pandemi flu babi tahun 2009 (H1N1pdm09) (5) (6). Update Kasus Influenza A di Indonesia Di Indonesia, terdapat 56% kasus positif influenza A dari 265 spesimen yang diperiksa Kemenkes hingga akhir September 2026. Walaupun terdapat peningkatan kasus, namun pola ini masih mengikuti pola musiman di Indonesia. Peningkatan kasus ini dapat dipengaruhi oleh pergantian musim, mobilitas yang meningkat, dan penularan dari subtipe virus yang sedang banyak bersirkulasi (6). Namun, sebagian besar kasus dari influenza dapat sembuh tanpa membutuhkan rawat inap. Penderita biasanya akan disarankan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut (6): Istirahat total Konsumsi makanan dengan gizi seimbang Minum air putih yang cukup Gunakan masker apabila bepergian/kontak langsung dengan orang banyak Berikut Langkah Preventif Sederhana yang Dapat Dilakukan: Hindari kontak langsung dengan penderita untuk meminimalisasi penularan melalui percikan (droplets) Cuci tangan secara berkala dengan sabun dan air mengalir Menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) Hindari menyentuh area mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan Menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup hidung dan mulut dengan tisu atau lipatan siku Melakukan vaksinasi influenza 1 tahun sekali Baca juga: Alasan Vaksinasi Flu Perlu Diulang Setiap Tahun Sudah Pernah Kena Influenza A, Masih Perlu Vaksin? Ya. Walaupun sistem imun orang yang pernah terkena influenza sudah membentuk antibodi, virus influenza terus bermutasi setiap tahun. Vaksin influenza memberikan perlindungan optimal hingga durasi 12 bulan dengan efektivitas 50 – 60% (7). Oleh karena itu, tubuh membutuhkan pembaruan dosis vaksin setiap tahunnya. Vaksinasi influenza mencegah terjadinya komplikasi, utamanya pada kelompok rentan, seperti lansia usia lebih dari 65 tahun, anak di bawah usia 5 tahun, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan penderita obesitas (6). Vaksinasi dilakukan setelah pasien sembuh total dari influenza dan belum mendapatkan vaksin influenza tahunan. Rekomendasi WHO: Vaksin Influenza Trivalen World Health Organization merekomendasikan adanya transisi dari penggunaan vaksin influenza kuadrivalen (QIV) menjadi vaksin influenza trivalen (TIV). Hal ini ditetapkan karena tidak ditemukannya virus B/Yamagata di sirkulasi pada beberapa tahun terakhir, sehingga peralihan tersebut disarankan sebagai perlindungan dari strain yang relevan (8) (9). Selain itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga merekomendasikan orang tua untuk rutin memberikan vaksinasi influenza kepada anak mulai usia 6 bulan (10). Pada anak 6 bulan – 8 tahun yang baru pertama kali divaksinasi, dosis kedua dapat diberikan dengan jarak minimal 4 – 6 minggu (10). Vaksinasi influenza sejak dini mencegah terjadinya influenza pada anak dan membentuk titer antibodi terhadap penyakit tersebut. Di Mana Vaksinasi Dapat Dilakukan? Vaksinasi influenza dapat diperoleh melalui fasilitas kesehatan setempat, seperti klinik dan rumah sakit. Silakan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter, perawat, atau bidan terdekat sebelum pelaksanaan vaksinasi. Lindungi Keluarga dengan Vaksinasi Segera Influenza A bisa menyerang siapa saja, dan gejalanya jauh lebih berat daripada pilek biasa. Jangan tunggu sampai sakit! Lindungi diri dan keluarga dengan vaksin influenza setiap tahun, terutama untuk anak usia 6 bulan ke atas, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. REFERENSI: Centers for Disease Control and Prevention. (2026). About the Common Cold. https://www.cdc.gov/common-cold/about/index.html (dikutip pada tanggal 06 Oktober 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Tanya Jawab (FAQ) Seputar Influenza. https://ayosehat.kemkes.go.id/tanya-jawab-faq-seputar-influenza (dikutip pada tanggal 06 Oktober 2026). World Health Organization. (2025). Influenza (Seasonal). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal). (dikutip pada tanggal 07 Oktober 2026). The University of Chicago. (2025). Where Does the Flu Come From Every Year?. https://www.uchicagomedicine.org/forefront/biological-sciences-articles/where-does-the-flu-come-from-every-year (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kemenkes Labkesmas Makassar 1. (2025). Lebih dari Sekadar Flu Biasa yang Perlu Diwaspadai.https://bblabkesmasmakassar.go.id/influenza-a-gejala-penularan-komplikasi-pencegahan/ (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). FAQ Influenza: Informasi, Penanganan, dan Pencegahan. https://www.kemkes.go.id/id/faq-influenza-gejala-penanganan-pencegahan (dikutip pada 07 Oktober 2026). Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia. (2026). Mengenal Vaksinasi Influenza dan Manfaatnya. https://peralmuni.org/mengenal-vaksinasi-influenza-dan-manfaatnya/ (dikutip pada 07 Oktober 2026). World Health Organization. (2025). Recommended Composition of Influenza Virus Vaccines For Use in The 2025 – 2026 Northern Hemisphere Influenza Season. https://www.who.int/publications/m/item/recommended-composition-of-influenza-virus-vaccines-for-use-in-the-2025-2026-nh-influenza-season (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kalventis. (2026). Kalventis Hadirkan Vaksin Influenza Trivalent Sesuai Rekomendasi WHO.https://www.kalventis.co.id/post/kalventis-hadirkan-vaksin-influenza-trivalent-sesuai-rekomendasi-who (dikutip pada 07 Oktober 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2015). Melengkapi/Mengejar Imunisasi (Bagian III). https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-iii (dikutip pada 07 Oktober 2026). ID-GEN-2026-10-LBKE (10/26)

Vaksin ibu hamil trimester 1 dapat diberikan dalam kondisi tertentu, tetapi jenis dan waktunya harus disesuaikan dengan riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko tertular penyakit, dan rekomendasi dokter. Vaksin influenza yang tidak mengandung virus hidup, misalnya, dapat diberikan pada trimester mana pun selama kehamilan. (1)(2) Namun, tidak semua vaksin perlu diberikan pada trimester pertama. Vaksin Tdap umumnya dijadwalkan pada usia kehamilan 27–36 minggu agar transfer antibodi kepada bayi berlangsung optimal. Sementara itu, vaksin hidup seperti MMR dan varisela tidak diberikan selama kehamilan dan biasanya ditunda sampai setelah persalinan. (3)(4) Karena kebutuhan setiap ibu berbeda, sebaiknya jangan menentukan jenis atau jadwal vaksin hanya berdasarkan usia kehamilan. Bawalah catatan vaksinasi saat melakukan pemeriksaan antenatal agar dokter atau bidan dapat menilai vaksin yang sudah lengkap, perlu dilanjutkan, dijadwalkan kemudian, atau ditunda. Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, risiko pajanan penyakit, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apakah Ibu Hamil Trimester 1 Boleh Mendapatkan Vaksin? Ibu hamil trimester pertama boleh mendapatkan vaksin tertentu apabila manfaatnya dinilai lebih besar daripada risikonya dan vaksin tersebut sesuai untuk digunakan selama kehamilan. Trimester pertama berlangsung sejak awal kehamilan hingga sekitar minggu ke-13. Pada masa ini, organ-organ janin mulai terbentuk sehingga banyak ibu merasa khawatir terhadap obat, makanan, maupun tindakan medis, termasuk vaksinasi. Kekhawatiran tersebut dapat dipahami. Namun, keputusan vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh trimester. Dokter juga akan mempertimbangkan: apakah vaksin mengandung mikroorganisme hidup atau tidak; riwayat vaksinasi sebelum hamil; kondisi kesehatan ibu; riwayat alergi berat; pekerjaan dan lingkungan tempat tinggal; risiko bepergian atau terpapar penyakit; kemungkinan dampak penyakit terhadap ibu dan janin; rekomendasi kesehatan yang berlaku. Vaksin inaktif atau vaksin yang tidak menggunakan virus atau bakteri hidup umumnya memiliki pertimbangan berbeda dari vaksin hidup. Karena itu, istilah “vaksin aman untuk ibu hamil” tetap perlu dibaca berdasarkan jenis vaksin, indikasi, dan kondisi masing-masing ibu. Mengapa Vaksinasi Penting Selama Kehamilan? Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut merupakan bagian normal dari kehamilan, tetapi dapat membuat ibu lebih rentan mengalami penyakit tertentu atau komplikasi yang lebih berat. Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan dua lapis manfaat. 1. Membantu melindungi kesehatan ibu Vaksin membantu sistem kekebalan mengenali penyebab penyakit tertentu. Perlindungan ini tidak selalu mencegah infeksi sepenuhnya, tetapi dapat membantu mengurangi risiko sakit berat, komplikasi, atau perawatan di rumah sakit. 2. Membantu memberikan antibodi kepada bayi Sebagian antibodi yang terbentuk pada tubuh ibu dapat berpindah melalui plasenta kepada janin. Antibodi tersebut dapat membantu memberikan perlindungan sementara kepada bayi pada awal kehidupannya, sebelum bayi cukup umur untuk menerima vaksin tertentu. (3)(5) Manfaat vaksin tetap tidak berarti perlindungan 100%. Ibu masih perlu menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, menjaga pola hidup sehat, serta mengikuti pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanan Jenis Vaksin yang Dapat Dipertimbangkan pada Trimester Pertama Tidak ada satu daftar vaksin trimester pertama yang berlaku sama untuk semua ibu. Berikut gambaran umum yang dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan dokter. Jenis vaksinPertimbangan pada trimester pertamaCatatan pentingInfluenza inaktifDapat diberikan pada trimester mana punGunakan jenis vaksin yang direkomendasikan untuk kehamilanTd atau tetanus-difteriDapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat imunisasi dan program pelayanan ibu hamilJadwal ditentukan tenaga kesehatanHepatitis BDapat dipertimbangkan bila memiliki indikasi atau risiko penularanMemerlukan penilaian faktor risikoCOVID-19Bergantung pada rekomendasi terbaru, kondisi ibu, dan penilaian dokterKebijakan dan rekomendasi dapat berubahVaksin lain karena kondisi khususHanya berdasarkan indikasi medis atau risiko pajananMisalnya karena pekerjaan atau perjalanan tertentu Vaksin influenza inaktif Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama maupun trimester lainnya. Vaksin ini tidak mengandung virus influenza hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. Influenza pada kehamilan tidak selalu hanya menimbulkan gejala ringan. Pada sebagian ibu, penyakit ini dapat meningkatkan risiko komplikasi saluran pernapasan dan perawatan di rumah sakit. Karena itu, vaksin influenza menjadi salah satu vaksin yang sering dibahas dalam pelayanan kehamilan. (1)(2) Pemberian vaksin perlu memperhatikan jenis vaksin yang digunakan. Vaksin influenza hidup yang diberikan melalui semprotan hidung tidak dianjurkan selama kehamilan. (4) Vaksin tetanus dan difteri Di Indonesia, perlindungan terhadap tetanus bagi perempuan usia subur dan ibu hamil merupakan bagian penting dari upaya mencegah tetanus maternal dan tetanus pada bayi baru lahir. Riwayat imunisasi sebelumnya perlu diperiksa untuk menentukan apakah ibu membutuhkan dosis tambahan dan kapan dosis tersebut diberikan. (6) Tenaga kesehatan dapat menggunakan riwayat vaksinasi, catatan pelayanan antenatal, dan pedoman yang berlaku untuk menentukan jadwal vaksin Td atau vaksin yang mengandung komponen tetanus. Perlu dibedakan antara vaksin Td atau tetanus-difteri dan Tdap, yang juga memberikan perlindungan terhadap pertusis atau batuk rejan. Dalam sejumlah pedoman internasional, Tdap diberikan pada setiap kehamilan dan biasanya dijadwalkan pada minggu ke-27 hingga ke-36, bukan secara rutin pada trimester pertama. (3)(4) Vaksin hepatitis B Vaksin hepatitis B bukan vaksin hidup. Vaksin ini dapat dipertimbangkan selama kehamilan apabila ibu belum memiliki perlindungan dan mempunyai faktor risiko terpapar hepatitis B. Faktor risiko dapat mencakup: tinggal serumah atau memiliki pasangan dengan hepatitis B; paparan darah atau cairan tubuh melalui pekerjaan; menjalani tindakan medis tertentu; memiliki kondisi lain yang meningkatkan risiko infeksi; bepergian ke wilayah dengan risiko penularan yang lebih tinggi. Dokter mungkin menyarankan pemeriksaan hepatitis B sebagai bagian dari pemeriksaan kehamilan. Hasil pemeriksaan tersebut membantu menentukan perlindungan yang dibutuhkan ibu dan langkah pencegahan penularan kepada bayi. Vaksin COVID-19 Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan bukti ilmiah, varian virus, kebijakan otoritas kesehatan, kondisi kesehatan ibu, serta ketersediaan vaksin. Sejumlah organisasi profesi kebidanan masih memasukkan vaksinasi COVID-19 sebagai bagian dari perlindungan yang dapat dipertimbangkan selama kehamilan. Namun, keputusan individual sebaiknya dibuat bersama dokter dengan memperhatikan riwayat vaksin, infeksi sebelumnya, komorbid, dan tingkat risiko pajanan. (5)(7) Ikuti panduan terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, BPOM, dokter kandungan, atau fasilitas vaksinasi resmi sebelum menerima vaksin. Vaksin yang Biasanya Tidak Diberikan pada Trimester Pertama Sebagian vaksin bukan dilarang sepanjang kehamilan, tetapi dijadwalkan pada usia kehamilan yang berbeda. Tdap biasanya diberikan pada trimester ketiga Tdap membantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis. Pemberian pada usia kehamilan 27–36 minggu bertujuan mengoptimalkan pembentukan dan perpindahan antibodi pertusis dari ibu kepada bayi. (3)(4) Bayi baru lahir belum dapat langsung menyelesaikan seri vaksinnya sendiri. Antibodi dari ibu dapat membantu memberikan perlindungan awal selama masa rentan tersebut. Dokter dapat mempertimbangkan waktu berbeda dalam kondisi tertentu, misalnya terdapat luka yang membutuhkan penanganan tetanus atau risiko khusus lainnya. Vaksin RSV mengikuti usia kehamilan dan kebijakan setempat Beberapa negara telah merekomendasikan vaksin RSV maternal pada rentang usia kehamilan tertentu. Namun, rekomendasi, registrasi produk, ketersediaan, dan penerapannya dapat berbeda antarnegara. Karena itu, vaksin RSV tidak dapat dianggap sebagai vaksin rutin trimester pertama. Ibu perlu menanyakan ketersediaan dan rekomendasi terkini kepada dokter atau fasilitas kesehatan resmi. Vaksin yang Perlu Ditunda Selama Kehamilan Vaksin hidup umumnya tidak diberikan kepada ibu hamil karena mengandung mikroorganisme hidup yang telah dilemahkan. Walaupun risiko terhadap janin sering kali bersifat teoretis, vaksin ini biasanya ditunda sebagai langkah kehati-hatian. Jenis vaksin yang umumnya ditunda meliputi: MMR atau campak, gondongan, dan rubela; varisela atau cacar air; vaksin influenza hidup melalui semprotan hidung; vaksin hidup lain yang tidak memiliki indikasi khusus selama kehamilan. Vaksin HPV juga tidak direkomendasikan untuk dilanjutkan selama kehamilan. Apabila seri vaksin belum selesai, dosis berikutnya dapat dilanjutkan setelah kehamilan tanpa perlu mengulang seri dari awal. (4) Vaksin tertentu untuk perjalanan, seperti demam kuning, memerlukan penilaian khusus. Dokter akan membandingkan risiko vaksin dengan risiko tertular penyakit di negara tujuan. Bagaimana Jika Vaksin Diberikan Sebelum Mengetahui Sedang Hamil? Tidak sedikit perempuan menerima vaksin ketika belum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Dalam situasi ini, jangan langsung panik atau mengambil kesimpulan bahwa kehamilan pasti mengalami masalah. Langkah yang sebaiknya dilakukan adalah: Catat nama vaksin dan tanggal pemberiannya. Simpan kartu atau bukti vaksinasi. Sampaikan kepada dokter kandungan atau bidan. Ikuti pemeriksaan kehamilan sesuai rekomendasi. Jangan menerima dosis berikutnya sebelum jadwal dievaluasi. Paparan vaksin tertentu secara tidak sengaja tidak otomatis menjadi alasan untuk mengakhiri kehamilan. Penilaian harus dilakukan berdasarkan jenis vaksin, usia kehamilan, kondisi ibu, dan informasi medis yang tersedia. (4) Efek Samping Vaksin pada Ibu Hamil Efek samping vaksin pada ibu hamil umumnya serupa dengan efek yang dialami orang dewasa lainnya. Efek samping ringan dapat berupa: nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan; demam ringan; pegal; sakit kepala; rasa lelah; mual ringan. Keluhan tersebut biasanya membaik dalam satu hingga beberapa hari. Gunakan obat penurun demam atau pereda nyeri hanya sesuai arahan dokter, terutama selama kehamilan. Efek samping serius seperti reaksi alergi berat dapat terjadi, tetapi jarang. Program imunisasi dan fasilitas kesehatan memiliki prosedur observasi serta penanganan kejadian ikutan pascaimunisasi. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa keluhan ringan seperti demam, bengkak, dan nyeri dapat terjadi setelah imunisasi, sedangkan kejadian serius sangat jarang. (8) Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan Medis? Segera hubungi fasilitas kesehatan apabila setelah vaksinasi muncul: sesak napas; pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan; bentol atau ruam luas; pingsan atau penurunan kesadaran; demam tinggi atau tidak membaik; muntah terus-menerus; nyeri berat; perdarahan dari vagina; kram atau nyeri perut yang mengkhawatirkan; keluhan kehamilan lain yang terasa tidak biasa. Gejala tersebut belum tentu disebabkan oleh vaksin, tetapi perlu dinilai tenaga kesehatan agar penyebab dan penanganannya dapat ditentukan. Checklist Sebelum Konsultasi Vaksin Agar konsultasi lebih efektif, siapkan informasi berikut: kartu vaksinasi atau foto catatan vaksin; usia kehamilan; hasil pemeriksaan kehamilan terakhir; riwayat alergi, terutama alergi berat; penyakit kronis atau komorbid; obat dan suplemen yang sedang digunakan; riwayat reaksi setelah vaksin sebelumnya; pekerjaan dan kemungkinan paparan penyakit; rencana perjalanan; riwayat penyakit menular atau kontak erat. Jangan khawatir apabila kartu vaksinasi tidak lengkap. Dokter tetap dapat membantu menilai kebutuhan berdasarkan wawancara medis dan pemeriksaan yang diperlukan. Baca juga: Panduan Vaksinasi Keluarga Indonesia Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil? Vaksin untuk ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan pemeriksaan kehamilan dan vaksinasi, seperti: puskesmas; klinik; rumah sakit; praktik dokter kandungan; praktik bidan; fasilitas vaksinasi resmi. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, jadwal, kondisi kesehatan, riwayat alergi, dan usia kehamilan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 1 dapat diberikan apabila jenis vaksinnya sesuai dan terdapat manfaat yang jelas bagi ibu maupun kehamilan. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester mana pun. Vaksin hepatitis B atau tetanus dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat imunisasi dan faktor risiko. Tidak semua vaksin harus diberikan pada awal kehamilan. Tdap umumnya dijadwalkan pada usia kehamilan 27–36 minggu, sedangkan vaksin hidup seperti MMR dan varisela ditunda sampai setelah kehamilan. Keputusan terbaik bukan sekadar memilih antara “vaksin” atau “tidak vaksin”, melainkan menentukan vaksin yang tepat, pada waktu yang tepat, berdasarkan kondisi masing-masing ibu. Konsultasikan sejak pemeriksaan kehamilan awal dan bawalah catatan vaksin agar dokter atau bidan dapat menyusun rekomendasi yang aman dan sesuai. Referensi American College of Obstetricians and Gynecologists. (2025). Influenza in pregnancy: Prevention and treatment.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/practice-advisory/articles/2025/08/influenza-in-pregnancy-prevention-and-treatment(Dikutip pada 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2017). Tetanus, diphtheria, and pertussis vaccination.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2017/09/update-on-immunization-and-pregnancy-tetanus-diphtheria-and-pertussis-vaccination(Dikutip pada 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). 2026 maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(Dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Strategi komunikasi nasional imunisasi 2022–2025.https://www.kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/16653827576343b965228c40.04885132.pdf(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (n.d.). COVID-19 vaccines and pregnancy: Conversation guide for clinicians.https://www.acog.org/programs/immunization-infectious-disease-public-health/tools-and-resources/covid-19-vaccines-and-pregnancy-conversation-guide-for-clinicians(Dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Seputar imunisasi.https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/seputar-imunisasi(Dikutip pada 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-NEHV (08/26)

Flu bukan sekadar batuk dan pilek biasa. Vaksin influenza menjadi salah satu langkah penting untuk membantu melindungi diri dan keluarga dari influenza serta risiko komplikasi yang dapat menyertainya. Terlebih bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan jemaah haji atau umrah, perlindungan terhadap influenza perlu menjadi perhatian. Dalam semangat “Merdeka dari Flu”, mendapatkan vaksin saja bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Pemilihan vaksin influenza yang sesuai dengan perkembangan medis dan rekomendasi terkini juga penting. Salah satu pilihan yang dibahas dalam artikel ini adalah vaksin influenza trivalen dengan teknologi split virion. Mengapa Vaksin Influenza Penting? Influenza merupakan penyakit yang mudah menular melalui percikan udara atau droplet. Pada kelompok tertentu, infeksi influenza dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan menyebabkan komplikasi seperti pneumonia hingga kondisi yang mengancam jiwa. Oleh karena itu, vaksinasi influenza dapat menjadi bagian dari upaya perlindungan, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi. Siapa saja kelompok rentan tersebut? Anak-anak Sistem kekebalan tubuh anak masih berkembang sehingga anak termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dalam pencegahan influenza. Vaksinasi dapat membantu memberikan perlindungan sekaligus membantu mengurangi risiko penyebaran virus di lingkungan sekolah dan keluarga. Ibu Hamil Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem kekebalan tubuh, jantung, dan paru-paru. Kondisi tersebut dapat membuat ibu hamil lebih rentan terhadap komplikasi akibat influenza. Selain memberikan perlindungan bagi ibu, vaksinasi influenza selama kehamilan juga dapat memberikan kekebalan pasif kepada bayi melalui transfer antibodi. Perlindungan tersebut dapat membantu bayi pada beberapa bulan pertama setelah lahir, ketika bayi belum cukup umur untuk mendapatkan vaksinasi influenza. Lansia Seiring bertambahnya usia, fungsi sistem kekebalan tubuh dapat mengalami penurunan atau immunosenescence. Lansia juga lebih mungkin memiliki penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi yang dapat memperburuk kondisi ketika mengalami influenza. Jemaah Haji dan Umrah Ibadah haji dan umrah mempertemukan banyak orang dari berbagai negara dalam lingkungan yang padat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya penularan penyakit pernapasan, termasuk influenza. Oleh karena itu, vaksin influenza dapat menjadi salah satu langkah perlindungan agar jemaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih nyaman dan mengurangi risiko terkena infeksi saluran pernapasan. Vaksin Influenza Trivalen: Apa yang Perlu Diketahui? Perkembangan ilmu pengetahuan membuat formulasi vaksin influenza terus mengikuti perubahan virus yang beredar. Karena itu, pemilihan vaksin perlu mempertimbangkan rekomendasi dan pedoman terbaru. Salah satu perkembangan yang dibahas adalah penggunaan vaksin influenza trivalen. Mengapa Beralih ke Vaksin Trivalen? Sebelumnya, vaksin influenza quadrivalent yang memberikan perlindungan terhadap empat strain, yaitu dua influenza A dan dua influenza B, banyak digunakan. Namun, berdasarkan materi sumber, WHO merekomendasikan transisi kembali ke vaksin trivalen yang mencakup dua strain influenza A dan satu strain influenza B/Victoria. Salah satu alasannya adalah influenza B/Yamagata tidak lagi terdeteksi bersirkulasi sejak Maret 2020. Untuk rekomendasi WHO yang lebih mutakhir, WHO pada 2026 tetap menyatakan bahwa komponen B/Yamagata tidak lagi diperlukan dalam vaksin influenza. Vaksin Split Virion vs Subunit Selain formulasi vaksin, teknologi pembuatan vaksin influenza juga menjadi salah satu hal yang perlu diketahui. Dua teknologi yang disebutkan dalam materi adalah split virion dan subunit. Apa Itu Vaksin Split Virion? Vaksin influenza dengan teknologi split virion mengandung antigen permukaan sekaligus protein internal virus. Berdasarkan materi sumber, komponen tersebut ditujukan untuk memicu respons sistem imun yang lebih luas. Sementara itu, vaksin dengan teknologi subunit hanya mengandung antigen permukaan virus. Materi sumber menjelaskan bahwa respons kekebalan yang dihasilkan cenderung tidak seluas teknologi split virion. Bagi kelompok yang membutuhkan perlindungan terhadap influenza, seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan jemaah haji, teknologi vaksin juga menjadi salah satu aspek yang dapat dipertimbangkan saat berdiskusi dengan tenaga kesehatan. Jadi, Bagaimana Memilih Vaksin Influenza yang Tepat? Memilih vaksin influenza sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan nama atau jenis vaksin. Perkembangan virus influenza dan rekomendasi vaksin dapat berubah sehingga penting untuk mempertimbangkan pedoman terbaru. Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain: • Formulasi vaksin influenza yang digunakan.• Rekomendasi terbaru dari otoritas kesehatan.• Teknologi yang digunakan dalam pembuatan vaksin.• Kondisi dan kelompok usia penerima vaksin.• Kondisi kesehatan serta kebutuhan individu. Konsultasikan pilihan vaksin dengan dokter atau tenaga kesehatan agar vaksinasi dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan Anda. Merdeka dari Flu, Lindungi Diri dan Keluarga Kemerdekaan dari penyakit bukan berarti tidak pernah sakit sama sekali, tetapi juga tentang mengambil langkah pencegahan yang tepat. Vaksin influenza merupakan salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan untuk membantu memberikan perlindungan terhadap influenza. Terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta jemaah haji dan umrah, perlindungan terhadap influenza menjadi semakin penting. Kenali pilihan vaksin dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk menentukan vaksinasi yang sesuai. Dengan langkah pencegahan yang tepat, mari wujudkan semangat “Merdeka dari Flu” dan tetap aktif menjalani berbagai aktivitas bersama orang-orang tercinta. REFERENSI World Health Organization (WHO). (2023). Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the 2024 southern hemisphere influenza season. https://www.who.int/publications/m/item/recommended-composition-of-influenza-virus-vaccines-for-use-in-the-2024-southern-hemisphere-influenza-season. Last accessed: 7 October 2026. Zaman, K., et al. (2008). Effectiveness of Maternal Influenza Immunization in Mothers and Infants. New England Journal of Medicine, 359(15), 1555–1564. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa0708630. Last accessed: 7 October 2026. Gemmill, I., & Young, K., on behalf of the National Advisory Committee on Immunization (NACI). (2018). Summary of the NACI literature review on the comparative effectiveness of subunit and split virus inactivated influenza vaccines in older adults. Canada Communicable Disease Report, 44(6), 129–133. https://www.canada.ca/en/public-health/services/reports-publications/canada-communicable-disease-report-ccdr/monthly-issue/2018-44/issue-6-june-7-2018/article-2-summary-subunit-split-virus-influenza-vaccine.html. Last accessed: 9 October 2026. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 62 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Kesehatan Haji. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1875. https://peraturan.go.id/files/bn1875-2016.pdf. Last accessed: 9 October 2026. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 3 Juni). Ketua Tim Asistensi ingatkan jemaah haji kurangi aktivitas di siang hari dan lakukan vaksinasi. https://kemkes.go.id/id/ketua-tim-asistensi-ingatkan-jemaah-haji-kurangi-aktivitas-di-siang-hari-dan-lakukan-vaksinasi. Last accessed: 9 October 2026. ID-GEN-2026-10-GPYH (10/26)