
Kehamilan adalah masa penuh harapan sekaligus tanggung jawab besar bagi setiap calon ibu. Selama sembilan bulan, berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan memastikan tumbuh kembang bayi berlangsung optimal.
Namun, ada satu langkah penting yang masih sering terlewatkan, yaitu vaksinasi selama kehamilan.
Banyak ibu hamil bertanya:
Faktanya, vaksinasi tidak hanya membantu melindungi ibu dari penyakit tertentu, tetapi juga dapat memberikan perlindungan awal bagi bayi bahkan sebelum ia lahir. Kabar baiknya, ada cara sederhana untuk mencegahnya: vaksinasi selama kehamilan (1).
Saat hamil, sistem imun ibu mengalami perubahan agar tubuh dapat menerima janin. Di satu sisi, ini penting untuk perkembangan bayi. Tapi di sisi lain, kondisi ini membuat ibu lebih mudah terkena infeksi, termasuk influenza (2).
Jika terkena infeksi, risikonya bukan hanya dirasakan ibu—tetapi juga bisa berdampak pada bayi, seperti meningkatkan risiko kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah (1).
Banyak orang menganggap influenza hanya penyakit ringan. Padahal, pada ibu hamil, flu bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, bahkan membutuhkan perawatan di rumah sakit (1). Selain itu, infeksi influenza juga dapat memengaruhi kondisi janin selama kehamilan (1)
Berbeda dengan influenza, pertusis atau batuk rejan justru lebih berbahaya bagi bayi yang baru lahir. Bayi belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat dan belum mendapatkan imunisasi lengkap. Akibatnya, infeksi pertusis bisa menyebabkan komplikasi berat (3). Inilah alasan mengapa perlindungan perlu dimulai sejak bayi masih dalam kandungan.
Vaksin influenza membantu melindungi ibu dari risiko sakit berat selama kehamilan (1). Menariknya, manfaatnya tidak berhenti di ibu saja. Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi dapat diteruskan ke bayi melalui plasenta (4). Artinya, bayi sudah mendapatkan perlindungan bahkan sebelum ia lahir
Vaksin Tdap berfungsi melindungi bayi dari pertusis di awal kehidupannya. Ketika ibu menerima vaksin ini saat hamil, tubuh akan membentuk antibodi yang kemudian ditransfer ke bayi (4). Hasilnya, bayi memiliki perlindungan awal sebelum mendapatkan vaksinasi sendiri setelah lahir.
Di Indonesia, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia juga merekomendasikan vaksinasi selama kehamilan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan ibu dan bayi (5). Rekomendasi ini sejalan dengan panduan global, sehingga ibu tidak perlu ragu untuk melakukan vaksinasi sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul.
Jawabannya: aman.
Berbagai penelitian dan rekomendasi global menunjukkan bahwa vaksin influenza dan Tdap aman diberikan selama kehamilan dan tidak meningkatkan risiko pada janin (2).
Karena vaksin bukan hanya melindungi ibu dari penyakit, tetapi juga memberikan “bekal perlindungan” pertama bagi bayi.
Sebelum bayi bisa menerima imunisasi lengkap, perlindungan dari ibu inilah yang menjadi tameng utamanya.
Dan semuanya bisa dimulai sejak masa kehamilan.
refferensi:


Ketahui pentingnya vaksin influenza dan Tdap untuk ibu hamil dalam melindungi ibu dan bayi sejak dalam kandungan secara aman dan efektif.

Momentum bulan Juli selalu membawa semangat ganda: perayaan Hari Anak Nasional (HAN) dan kembalinya anak-anak ke bangku sekolah (back to school). Bagi orang tua yang peduli kesehatan anak, persiapan masuk sekolah bukan sekadar melengkapi alat tulis dan seragam, melainkan juga memastikan daya tahan tubuh anak dalam kondisi terbaik dengan perlindungan vaksin influenza trivalen. Di tengah tingginya interaksi di lingkungan sekolah, penyakit saluran pernapasan seperti influenza menjadi risiko nyata. Influenza bukan sekadar pilek biasa (common cold), dan vaksinasi rutin setiap tahun adalah langkah pencegahan yang penting. Kabar baiknya, ada pembaruan terkini pada pedoman vaksinasi influenza yang perlu orang tua ketahui. Berdasarkan pemantauan terbaru dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), komposisi vaksin influenza kini kembali difokuskan pada format trivalen. Berikut penjelasan mengapa komposisi ini dinilai paling sesuai dengan virus yang beredar saat ini — dan kenapa perubahannya bukan berarti penurunan mutu. Evolusi Vaksin Influenza: Mengapa Trivalen Menjadi Standar Baru? Selama beberapa tahun terakhir, vaksin influenza kuadrivalen (isi 4 jenis virus) banyak digunakan karena mencakup dua jenis virus influenza A (H1N1 dan H3N2) serta dua jenis virus influenza B (garis keturunan Victoria dan Yamagata). Namun, peta virus flu di dunia telah berubah setelah pandemi. Sejak Maret 2020, salah satu jenis virus flu, yaitu influenza B garis keturunan Yamagata, tidak lagi ditemukan beredar di seluruh dunia. Hal ini telah dikonfirmasi oleh berbagai pemantauan virus internasional. Karena virusnya sudah tidak ditemukan lagi, komponen ini dinilai tidak lagi diperlukan di dalam vaksin. Merespons hal tersebut, WHO merekomendasikan agar vaksin kembali ke bentuk trivalen (isi 3 jenis virus) yang kini secara spesifik menargetkan: Virus Influenza A (H1N1) Virus Influenza A (H3N2) Virus Influenza B (garis keturunan Victoria) Perlu dipahami, istilah kuadrivalen dan trivalen merujuk pada jumlah jenis virus di dalam vaksin, bukan merek dagang. Perubahan ini bukan penurunan kualitas, melainkan penyesuaian agar isi vaksin lebih sesuai dengan virus yang benar-benar beredar. Jenis influenza B yang masih aktif (Victoria) tetap tercakup. Investasi Kesehatan untuk Masa Depan Anak Tema Hari Anak Nasional mengingatkan kita untuk memberikan yang terbaik bagi anak, dan pondasi utamanya adalah kesehatan. Saat anak kembali menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kelas tertutup bersama puluhan temannya, risiko penularan lewat percikan air liur (droplet) meningkat. Perlindungan influenza bukan hanya tentang menghindarkan anak dari demam tinggi atau risiko komplikasi saluran napas, tetapi juga tentang melindungi waktu belajar mereka. Anak yang sehat terhindar dari ketidakhadiran sekolah (absen) yang dapat menghambat pencapaian akademis dan interaksi sosial mereka. Mari wujudkan momen back to school yang sehat, aman, dan produktif. Untuk memastikan pilihan yang paling sesuai dengan kondisi anak, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan mengenai vaksin influenza terbaru. Merayakan Hari Anak Nasional bisa dimulai dari langkah sederhana: memastikan anak terlindungi dari penyakit yang sebetulnya dapat dicegah — agar mereka bebas belajar, bermain, dan mengeksplorasi potensinya tanpa hambatan. Get the Right Flu Shot Catatan Penting Informasi ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan. Jenis, jadwal, dan anjuran vaksinasi dapat berbeda pada tiap anak, tergantung usia, kondisi kesehatan, riwayat alergi, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Baca juga: Panduan Vaksin Influenza: Jadwal, Jenis, dan Untuk Siapa Kenapa Vaksin Influenza Perlu Diulang Setiap Tahun? Referensi: World Health Organization (WHO). (2025). Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the 2026 southern hemisphere influenza season. Geneva: World Health Organization. (dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Koesnoe, S., & Kartasasmita, C. (2026). Transition from Quadrivalent to Trivalent Influenza Vaccination Compared with Continued Quadrivalent Vaccination for Preventing Severe Influenza Outcomes in Populations in Indonesia: Implications from the 2025–2026 Epidemiological Landscape. Acta Medica Indonesiana, 58(2). (dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). World Health Organization (WHO). (2026). Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the 2026–2027 northern hemisphere influenza season. Geneva: World Health Organization. (dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-J0FV (07/27)

Vaksin ibu hamil trimester 1 dapat diberikan dalam kondisi tertentu, tetapi jenis dan waktunya harus disesuaikan dengan riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko tertular penyakit, dan rekomendasi dokter. Vaksin influenza yang tidak mengandung virus hidup, misalnya, dapat diberikan pada trimester mana pun selama kehamilan. (1)(2) Namun, tidak semua vaksin perlu diberikan pada trimester pertama. Vaksin Tdap umumnya dijadwalkan pada usia kehamilan 27–36 minggu agar transfer antibodi kepada bayi berlangsung optimal. Sementara itu, vaksin hidup seperti MMR dan varisela tidak diberikan selama kehamilan dan biasanya ditunda sampai setelah persalinan. (3)(4) Karena kebutuhan setiap ibu berbeda, sebaiknya jangan menentukan jenis atau jadwal vaksin hanya berdasarkan usia kehamilan. Bawalah catatan vaksinasi saat melakukan pemeriksaan antenatal agar dokter atau bidan dapat menilai vaksin yang sudah lengkap, perlu dilanjutkan, dijadwalkan kemudian, atau ditunda. Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, risiko pajanan penyakit, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apakah Ibu Hamil Trimester 1 Boleh Mendapatkan Vaksin? Ibu hamil trimester pertama boleh mendapatkan vaksin tertentu apabila manfaatnya dinilai lebih besar daripada risikonya dan vaksin tersebut sesuai untuk digunakan selama kehamilan. Trimester pertama berlangsung sejak awal kehamilan hingga sekitar minggu ke-13. Pada masa ini, organ-organ janin mulai terbentuk sehingga banyak ibu merasa khawatir terhadap obat, makanan, maupun tindakan medis, termasuk vaksinasi. Kekhawatiran tersebut dapat dipahami. Namun, keputusan vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh trimester. Dokter juga akan mempertimbangkan: apakah vaksin mengandung mikroorganisme hidup atau tidak; riwayat vaksinasi sebelum hamil; kondisi kesehatan ibu; riwayat alergi berat; pekerjaan dan lingkungan tempat tinggal; risiko bepergian atau terpapar penyakit; kemungkinan dampak penyakit terhadap ibu dan janin; rekomendasi kesehatan yang berlaku. Vaksin inaktif atau vaksin yang tidak menggunakan virus atau bakteri hidup umumnya memiliki pertimbangan berbeda dari vaksin hidup. Karena itu, istilah “vaksin aman untuk ibu hamil” tetap perlu dibaca berdasarkan jenis vaksin, indikasi, dan kondisi masing-masing ibu. Mengapa Vaksinasi Penting Selama Kehamilan? Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut merupakan bagian normal dari kehamilan, tetapi dapat membuat ibu lebih rentan mengalami penyakit tertentu atau komplikasi yang lebih berat. Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan dua lapis manfaat. 1. Membantu melindungi kesehatan ibu Vaksin membantu sistem kekebalan mengenali penyebab penyakit tertentu. Perlindungan ini tidak selalu mencegah infeksi sepenuhnya, tetapi dapat membantu mengurangi risiko sakit berat, komplikasi, atau perawatan di rumah sakit. 2. Membantu memberikan antibodi kepada bayi Sebagian antibodi yang terbentuk pada tubuh ibu dapat berpindah melalui plasenta kepada janin. Antibodi tersebut dapat membantu memberikan perlindungan sementara kepada bayi pada awal kehidupannya, sebelum bayi cukup umur untuk menerima vaksin tertentu. (3)(5) Manfaat vaksin tetap tidak berarti perlindungan 100%. Ibu masih perlu menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, menjaga pola hidup sehat, serta mengikuti pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanan Jenis Vaksin yang Dapat Dipertimbangkan pada Trimester Pertama Tidak ada satu daftar vaksin trimester pertama yang berlaku sama untuk semua ibu. Berikut gambaran umum yang dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan dokter. Jenis vaksinPertimbangan pada trimester pertamaCatatan pentingInfluenza inaktifDapat diberikan pada trimester mana punGunakan jenis vaksin yang direkomendasikan untuk kehamilanTd atau tetanus-difteriDapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat imunisasi dan program pelayanan ibu hamilJadwal ditentukan tenaga kesehatanHepatitis BDapat dipertimbangkan bila memiliki indikasi atau risiko penularanMemerlukan penilaian faktor risikoCOVID-19Bergantung pada rekomendasi terbaru, kondisi ibu, dan penilaian dokterKebijakan dan rekomendasi dapat berubahVaksin lain karena kondisi khususHanya berdasarkan indikasi medis atau risiko pajananMisalnya karena pekerjaan atau perjalanan tertentu Vaksin influenza inaktif Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama maupun trimester lainnya. Vaksin ini tidak mengandung virus influenza hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. Influenza pada kehamilan tidak selalu hanya menimbulkan gejala ringan. Pada sebagian ibu, penyakit ini dapat meningkatkan risiko komplikasi saluran pernapasan dan perawatan di rumah sakit. Karena itu, vaksin influenza menjadi salah satu vaksin yang sering dibahas dalam pelayanan kehamilan. (1)(2) Pemberian vaksin perlu memperhatikan jenis vaksin yang digunakan. Vaksin influenza hidup yang diberikan melalui semprotan hidung tidak dianjurkan selama kehamilan. (4) Vaksin tetanus dan difteri Di Indonesia, perlindungan terhadap tetanus bagi perempuan usia subur dan ibu hamil merupakan bagian penting dari upaya mencegah tetanus maternal dan tetanus pada bayi baru lahir. Riwayat imunisasi sebelumnya perlu diperiksa untuk menentukan apakah ibu membutuhkan dosis tambahan dan kapan dosis tersebut diberikan. (6) Tenaga kesehatan dapat menggunakan riwayat vaksinasi, catatan pelayanan antenatal, dan pedoman yang berlaku untuk menentukan jadwal vaksin Td atau vaksin yang mengandung komponen tetanus. Perlu dibedakan antara vaksin Td atau tetanus-difteri dan Tdap, yang juga memberikan perlindungan terhadap pertusis atau batuk rejan. Dalam sejumlah pedoman internasional, Tdap diberikan pada setiap kehamilan dan biasanya dijadwalkan pada minggu ke-27 hingga ke-36, bukan secara rutin pada trimester pertama. (3)(4) Vaksin hepatitis B Vaksin hepatitis B bukan vaksin hidup. Vaksin ini dapat dipertimbangkan selama kehamilan apabila ibu belum memiliki perlindungan dan mempunyai faktor risiko terpapar hepatitis B. Faktor risiko dapat mencakup: tinggal serumah atau memiliki pasangan dengan hepatitis B; paparan darah atau cairan tubuh melalui pekerjaan; menjalani tindakan medis tertentu; memiliki kondisi lain yang meningkatkan risiko infeksi; bepergian ke wilayah dengan risiko penularan yang lebih tinggi. Dokter mungkin menyarankan pemeriksaan hepatitis B sebagai bagian dari pemeriksaan kehamilan. Hasil pemeriksaan tersebut membantu menentukan perlindungan yang dibutuhkan ibu dan langkah pencegahan penularan kepada bayi. Vaksin COVID-19 Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan bukti ilmiah, varian virus, kebijakan otoritas kesehatan, kondisi kesehatan ibu, serta ketersediaan vaksin. Sejumlah organisasi profesi kebidanan masih memasukkan vaksinasi COVID-19 sebagai bagian dari perlindungan yang dapat dipertimbangkan selama kehamilan. Namun, keputusan individual sebaiknya dibuat bersama dokter dengan memperhatikan riwayat vaksin, infeksi sebelumnya, komorbid, dan tingkat risiko pajanan. (5)(7) Ikuti panduan terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, BPOM, dokter kandungan, atau fasilitas vaksinasi resmi sebelum menerima vaksin. Vaksin yang Biasanya Tidak Diberikan pada Trimester Pertama Sebagian vaksin bukan dilarang sepanjang kehamilan, tetapi dijadwalkan pada usia kehamilan yang berbeda. Tdap biasanya diberikan pada trimester ketiga Tdap membantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis. Pemberian pada usia kehamilan 27–36 minggu bertujuan mengoptimalkan pembentukan dan perpindahan antibodi pertusis dari ibu kepada bayi. (3)(4) Bayi baru lahir belum dapat langsung menyelesaikan seri vaksinnya sendiri. Antibodi dari ibu dapat membantu memberikan perlindungan awal selama masa rentan tersebut. Dokter dapat mempertimbangkan waktu berbeda dalam kondisi tertentu, misalnya terdapat luka yang membutuhkan penanganan tetanus atau risiko khusus lainnya. Vaksin RSV mengikuti usia kehamilan dan kebijakan setempat Beberapa negara telah merekomendasikan vaksin RSV maternal pada rentang usia kehamilan tertentu. Namun, rekomendasi, registrasi produk, ketersediaan, dan penerapannya dapat berbeda antarnegara. Karena itu, vaksin RSV tidak dapat dianggap sebagai vaksin rutin trimester pertama. Ibu perlu menanyakan ketersediaan dan rekomendasi terkini kepada dokter atau fasilitas kesehatan resmi. Vaksin yang Perlu Ditunda Selama Kehamilan Vaksin hidup umumnya tidak diberikan kepada ibu hamil karena mengandung mikroorganisme hidup yang telah dilemahkan. Walaupun risiko terhadap janin sering kali bersifat teoretis, vaksin ini biasanya ditunda sebagai langkah kehati-hatian. Jenis vaksin yang umumnya ditunda meliputi: MMR atau campak, gondongan, dan rubela; varisela atau cacar air; vaksin influenza hidup melalui semprotan hidung; vaksin hidup lain yang tidak memiliki indikasi khusus selama kehamilan. Vaksin HPV juga tidak direkomendasikan untuk dilanjutkan selama kehamilan. Apabila seri vaksin belum selesai, dosis berikutnya dapat dilanjutkan setelah kehamilan tanpa perlu mengulang seri dari awal. (4) Vaksin tertentu untuk perjalanan, seperti demam kuning, memerlukan penilaian khusus. Dokter akan membandingkan risiko vaksin dengan risiko tertular penyakit di negara tujuan. Bagaimana Jika Vaksin Diberikan Sebelum Mengetahui Sedang Hamil? Tidak sedikit perempuan menerima vaksin ketika belum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Dalam situasi ini, jangan langsung panik atau mengambil kesimpulan bahwa kehamilan pasti mengalami masalah. Langkah yang sebaiknya dilakukan adalah: Catat nama vaksin dan tanggal pemberiannya. Simpan kartu atau bukti vaksinasi. Sampaikan kepada dokter kandungan atau bidan. Ikuti pemeriksaan kehamilan sesuai rekomendasi. Jangan menerima dosis berikutnya sebelum jadwal dievaluasi. Paparan vaksin tertentu secara tidak sengaja tidak otomatis menjadi alasan untuk mengakhiri kehamilan. Penilaian harus dilakukan berdasarkan jenis vaksin, usia kehamilan, kondisi ibu, dan informasi medis yang tersedia. (4) Efek Samping Vaksin pada Ibu Hamil Efek samping vaksin pada ibu hamil umumnya serupa dengan efek yang dialami orang dewasa lainnya. Efek samping ringan dapat berupa: nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan; demam ringan; pegal; sakit kepala; rasa lelah; mual ringan. Keluhan tersebut biasanya membaik dalam satu hingga beberapa hari. Gunakan obat penurun demam atau pereda nyeri hanya sesuai arahan dokter, terutama selama kehamilan. Efek samping serius seperti reaksi alergi berat dapat terjadi, tetapi jarang. Program imunisasi dan fasilitas kesehatan memiliki prosedur observasi serta penanganan kejadian ikutan pascaimunisasi. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa keluhan ringan seperti demam, bengkak, dan nyeri dapat terjadi setelah imunisasi, sedangkan kejadian serius sangat jarang. (8) Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan Medis? Segera hubungi fasilitas kesehatan apabila setelah vaksinasi muncul: sesak napas; pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan; bentol atau ruam luas; pingsan atau penurunan kesadaran; demam tinggi atau tidak membaik; muntah terus-menerus; nyeri berat; perdarahan dari vagina; kram atau nyeri perut yang mengkhawatirkan; keluhan kehamilan lain yang terasa tidak biasa. Gejala tersebut belum tentu disebabkan oleh vaksin, tetapi perlu dinilai tenaga kesehatan agar penyebab dan penanganannya dapat ditentukan. Checklist Sebelum Konsultasi Vaksin Agar konsultasi lebih efektif, siapkan informasi berikut: kartu vaksinasi atau foto catatan vaksin; usia kehamilan; hasil pemeriksaan kehamilan terakhir; riwayat alergi, terutama alergi berat; penyakit kronis atau komorbid; obat dan suplemen yang sedang digunakan; riwayat reaksi setelah vaksin sebelumnya; pekerjaan dan kemungkinan paparan penyakit; rencana perjalanan; riwayat penyakit menular atau kontak erat. Jangan khawatir apabila kartu vaksinasi tidak lengkap. Dokter tetap dapat membantu menilai kebutuhan berdasarkan wawancara medis dan pemeriksaan yang diperlukan. Baca juga: Panduan Vaksinasi Keluarga Indonesia Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil? Vaksin untuk ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan pemeriksaan kehamilan dan vaksinasi, seperti: puskesmas; klinik; rumah sakit; praktik dokter kandungan; praktik bidan; fasilitas vaksinasi resmi. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, jadwal, kondisi kesehatan, riwayat alergi, dan usia kehamilan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 1 dapat diberikan apabila jenis vaksinnya sesuai dan terdapat manfaat yang jelas bagi ibu maupun kehamilan. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester mana pun. Vaksin hepatitis B atau tetanus dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat imunisasi dan faktor risiko. Tidak semua vaksin harus diberikan pada awal kehamilan. Tdap umumnya dijadwalkan pada usia kehamilan 27–36 minggu, sedangkan vaksin hidup seperti MMR dan varisela ditunda sampai setelah kehamilan. Keputusan terbaik bukan sekadar memilih antara “vaksin” atau “tidak vaksin”, melainkan menentukan vaksin yang tepat, pada waktu yang tepat, berdasarkan kondisi masing-masing ibu. Konsultasikan sejak pemeriksaan kehamilan awal dan bawalah catatan vaksin agar dokter atau bidan dapat menyusun rekomendasi yang aman dan sesuai. Referensi American College of Obstetricians and Gynecologists. (2025). Influenza in pregnancy: Prevention and treatment.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/practice-advisory/articles/2025/08/influenza-in-pregnancy-prevention-and-treatment(Dikutip pada 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2017). Tetanus, diphtheria, and pertussis vaccination.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2017/09/update-on-immunization-and-pregnancy-tetanus-diphtheria-and-pertussis-vaccination(Dikutip pada 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). 2026 maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(Dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Strategi komunikasi nasional imunisasi 2022–2025.https://www.kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/16653827576343b965228c40.04885132.pdf(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (n.d.). COVID-19 vaccines and pregnancy: Conversation guide for clinicians.https://www.acog.org/programs/immunization-infectious-disease-public-health/tools-and-resources/covid-19-vaccines-and-pregnancy-conversation-guide-for-clinicians(Dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Seputar imunisasi.https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/seputar-imunisasi(Dikutip pada 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-NEHV (08/26)

Pernah merasakan gejala batuk, pilek, demam, serta tubuh yang terasa lemas? Banyak orang menganggap gejala tersebut sebagai pilek (common cold), padahal bisa jadi itu influenza A. Akan tetapi, tahukah bila keduanya memiliki perbedaan yang signifikan? Yuk, simak perbedaan influenza A dan common cold berikut ini! Common cold atau sering dikenal dengan selesma merupakan gangguan saluran pernapasan atas yang biasanya disebabkan oleh infeksi Rhinovirus. Di negara-negara tropis, seperti Indonesia, flu musiman dapat terjadi sepanjang tahun. Penyakit ini mudah menular melalui transmisi udara dan percikan (droplet) dari penderitanya dengan masa inkubasi selama 2 – 3 hari. Dalam periode tersebut, penderita akan mulai merasakan gejala seperti (1): Demam ringan Hidung berair dan tersumbat Batuk Bersin-bersin Tenggorokan terasa tidak nyaman Sakit kepala Walaupun sering dianggap sepele, kondisi tersebut dapat memicu keparahan akibat komorbid yang dimiliki oleh penderita antara lain (1): Asma Bronkitis Bronkiolitis Pneumonia Penyakit jantung koroner (PJK), dan lain sebagainya Lalu, apa sih yang membedakan selesma (common cold) dengan influenza A? Pada dasarnya, virus penyebab common cold dan influenza A berbeda. Namun, virus influenza A bukan virus yang jarang ditemukan. Subtipe virus ini justru sering bersirkulasi di masyarakat, seperti H1N1 dan H3N2. Akan tetapi, terdapat salah satu subtipe yang berasal dari hewan dan dapat menginfeksi manusia, yaitu H5N1 (Flu Burung). Virus influenza A mengandung dua protein kunci, yaitu Hemagglutinin (H) dan Neuraminidase (N) yang berperan dalam menentukan jalur masuk virus ke dalam sel tubuh dan cara virus menginfeksi sel lainnya. Jenis virus ini memiliki kemampuan untuk bermutasi setiap tahunnya, sehingga dapat menembus kekebalan tubuh manusia sebagai inangnya (host) (5). Menurut data WHO, angka kematian akibat influenza A mencapai 650.000 jiwa setiap tahunnya (3). Virus influenza A memiliki kemampuan mutasi titik secara akumulatif dalam genom virus, sehingga menghasilkan adanya perubahan varian pada virus. Proses ini disebut dengan antigenic drift. Hal tersebut memungkinkan terjadinya infeksi ulang pada orang yang sudah pernah terinfeksi (5). Gejala Influenza A yang Perlu Diwaspadai: Demam tinggi mendadak (38°C – 40°C) Nyeri pada beberapa bagian otot, utamanya punggung, paha, dan lengan Sakit kepala Kelelahan tubuh Batuk kering dan nyeri tenggorokan Hidung berair atau tersumbat Hal inilah yang membuat virus influenza A terasa lebih parah dibandingkan common cold. Selain itu, virus ini juga memiliki kemampuan antigenic shift yang memungkinkan adanya perubahan besar dalam waktu singkat pada komponen virus. Mekanisme ini terjadi akibat bergabungnya materi genetik dari dua virus yang berbeda. Hasil dari proses inilah yang kerap menyebabkan pandemi, seperti pandemi flu tahun 1918 (H1N1) dan pandemi flu babi tahun 2009 (H1N1pdm09) (5) (6). Update Kasus Influenza A di Indonesia Di Indonesia, terdapat 56% kasus positif influenza A dari 265 spesimen yang diperiksa Kemenkes hingga akhir September 2026. Walaupun terdapat peningkatan kasus, namun pola ini masih mengikuti pola musiman di Indonesia. Peningkatan kasus ini dapat dipengaruhi oleh pergantian musim, mobilitas yang meningkat, dan penularan dari subtipe virus yang sedang banyak bersirkulasi (6). Namun, sebagian besar kasus dari influenza dapat sembuh tanpa membutuhkan rawat inap. Penderita biasanya akan disarankan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut (6): Istirahat total Konsumsi makanan dengan gizi seimbang Minum air putih yang cukup Gunakan masker apabila bepergian/kontak langsung dengan orang banyak Berikut Langkah Preventif Sederhana yang Dapat Dilakukan: Hindari kontak langsung dengan penderita untuk meminimalisasi penularan melalui percikan (droplets) Cuci tangan secara berkala dengan sabun dan air mengalir Menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) Hindari menyentuh area mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan Menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup hidung dan mulut dengan tisu atau lipatan siku Melakukan vaksinasi influenza 1 tahun sekali Baca juga: Alasan Vaksinasi Flu Perlu Diulang Setiap Tahun Sudah Pernah Kena Influenza A, Masih Perlu Vaksin? Ya. Walaupun sistem imun orang yang pernah terkena influenza sudah membentuk antibodi, virus influenza terus bermutasi setiap tahun. Vaksin influenza memberikan perlindungan optimal hingga durasi 12 bulan dengan efektivitas 50 – 60% (7). Oleh karena itu, tubuh membutuhkan pembaruan dosis vaksin setiap tahunnya. Vaksinasi influenza mencegah terjadinya komplikasi, utamanya pada kelompok rentan, seperti lansia usia lebih dari 65 tahun, anak di bawah usia 5 tahun, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan penderita obesitas (6). Vaksinasi dilakukan setelah pasien sembuh total dari influenza dan belum mendapatkan vaksin influenza tahunan. Rekomendasi WHO: Vaksin Influenza Trivalen World Health Organization merekomendasikan adanya transisi dari penggunaan vaksin influenza kuadrivalen (QIV) menjadi vaksin influenza trivalen (TIV). Hal ini ditetapkan karena tidak ditemukannya virus B/Yamagata di sirkulasi pada beberapa tahun terakhir, sehingga peralihan tersebut disarankan sebagai perlindungan dari strain yang relevan (8) (9). Selain itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga merekomendasikan orang tua untuk rutin memberikan vaksinasi influenza kepada anak mulai usia 6 bulan (10). Pada anak 6 bulan – 8 tahun yang baru pertama kali divaksinasi, dosis kedua dapat diberikan dengan jarak minimal 4 – 6 minggu (10). Vaksinasi influenza sejak dini mencegah terjadinya influenza pada anak dan membentuk titer antibodi terhadap penyakit tersebut. Di Mana Vaksinasi Dapat Dilakukan? Vaksinasi influenza dapat diperoleh melalui fasilitas kesehatan setempat, seperti klinik dan rumah sakit. Silakan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter, perawat, atau bidan terdekat sebelum pelaksanaan vaksinasi. Lindungi Keluarga dengan Vaksinasi Segera Influenza A bisa menyerang siapa saja, dan gejalanya jauh lebih berat daripada pilek biasa. Jangan tunggu sampai sakit! Lindungi diri dan keluarga dengan vaksin influenza setiap tahun, terutama untuk anak usia 6 bulan ke atas, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. REFERENSI: Centers for Disease Control and Prevention. (2026). About the Common Cold. https://www.cdc.gov/common-cold/about/index.html (dikutip pada tanggal 06 Oktober 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Tanya Jawab (FAQ) Seputar Influenza. https://ayosehat.kemkes.go.id/tanya-jawab-faq-seputar-influenza (dikutip pada tanggal 06 Oktober 2026). World Health Organization. (2025). Influenza (Seasonal). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal). (dikutip pada tanggal 07 Oktober 2026). The University of Chicago. (2025). Where Does the Flu Come From Every Year?. https://www.uchicagomedicine.org/forefront/biological-sciences-articles/where-does-the-flu-come-from-every-year (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kemenkes Labkesmas Makassar 1. (2025). Lebih dari Sekadar Flu Biasa yang Perlu Diwaspadai.https://bblabkesmasmakassar.go.id/influenza-a-gejala-penularan-komplikasi-pencegahan/ (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). FAQ Influenza: Informasi, Penanganan, dan Pencegahan. https://www.kemkes.go.id/id/faq-influenza-gejala-penanganan-pencegahan (dikutip pada 07 Oktober 2026). Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia. (2026). Mengenal Vaksinasi Influenza dan Manfaatnya. https://peralmuni.org/mengenal-vaksinasi-influenza-dan-manfaatnya/ (dikutip pada 07 Oktober 2026). World Health Organization. (2025). Recommended Composition of Influenza Virus Vaccines For Use in The 2025 – 2026 Northern Hemisphere Influenza Season. https://www.who.int/publications/m/item/recommended-composition-of-influenza-virus-vaccines-for-use-in-the-2025-2026-nh-influenza-season (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kalventis. (2026). Kalventis Hadirkan Vaksin Influenza Trivalent Sesuai Rekomendasi WHO.https://www.kalventis.co.id/post/kalventis-hadirkan-vaksin-influenza-trivalent-sesuai-rekomendasi-who (dikutip pada 07 Oktober 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2015). Melengkapi/Mengejar Imunisasi (Bagian III). https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-iii (dikutip pada 07 Oktober 2026). ID-GEN-2026-10-LBKE (10/26)