
Kehamilan adalah masa penuh harapan sekaligus tanggung jawab besar bagi setiap calon ibu. Selama sembilan bulan, berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan memastikan tumbuh kembang bayi berlangsung optimal.
Namun, ada satu langkah penting yang masih sering terlewatkan, yaitu vaksinasi selama kehamilan.
Banyak ibu hamil bertanya:
Faktanya, vaksinasi tidak hanya membantu melindungi ibu dari penyakit tertentu, tetapi juga dapat memberikan perlindungan awal bagi bayi bahkan sebelum ia lahir. Kabar baiknya, ada cara sederhana untuk mencegahnya: vaksinasi selama kehamilan (1).
Saat hamil, sistem imun ibu mengalami perubahan agar tubuh dapat menerima janin. Di satu sisi, ini penting untuk perkembangan bayi. Tapi di sisi lain, kondisi ini membuat ibu lebih mudah terkena infeksi, termasuk influenza (2).
Jika terkena infeksi, risikonya bukan hanya dirasakan ibu—tetapi juga bisa berdampak pada bayi, seperti meningkatkan risiko kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah (1).
Banyak orang menganggap influenza hanya penyakit ringan. Padahal, pada ibu hamil, flu bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, bahkan membutuhkan perawatan di rumah sakit (1). Selain itu, infeksi influenza juga dapat memengaruhi kondisi janin selama kehamilan (1)
Berbeda dengan influenza, pertusis atau batuk rejan justru lebih berbahaya bagi bayi yang baru lahir. Bayi belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat dan belum mendapatkan imunisasi lengkap. Akibatnya, infeksi pertusis bisa menyebabkan komplikasi berat (3). Inilah alasan mengapa perlindungan perlu dimulai sejak bayi masih dalam kandungan.
Vaksin influenza membantu melindungi ibu dari risiko sakit berat selama kehamilan (1). Menariknya, manfaatnya tidak berhenti di ibu saja. Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi dapat diteruskan ke bayi melalui plasenta (4). Artinya, bayi sudah mendapatkan perlindungan bahkan sebelum ia lahir
Vaksin Tdap berfungsi melindungi bayi dari pertusis di awal kehidupannya. Ketika ibu menerima vaksin ini saat hamil, tubuh akan membentuk antibodi yang kemudian ditransfer ke bayi (4). Hasilnya, bayi memiliki perlindungan awal sebelum mendapatkan vaksinasi sendiri setelah lahir.
Di Indonesia, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia juga merekomendasikan vaksinasi selama kehamilan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan ibu dan bayi (5). Rekomendasi ini sejalan dengan panduan global, sehingga ibu tidak perlu ragu untuk melakukan vaksinasi sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul.
Jawabannya: aman.
Berbagai penelitian dan rekomendasi global menunjukkan bahwa vaksin influenza dan Tdap aman diberikan selama kehamilan dan tidak meningkatkan risiko pada janin (2).
Karena vaksin bukan hanya melindungi ibu dari penyakit, tetapi juga memberikan “bekal perlindungan” pertama bagi bayi.
Sebelum bayi bisa menerima imunisasi lengkap, perlindungan dari ibu inilah yang menjadi tameng utamanya.
Dan semuanya bisa dimulai sejak masa kehamilan.
refferensi:
Ketahui pentingnya vaksin influenza dan Tdap untuk ibu hamil dalam melindungi ibu dan bayi sejak dalam kandungan secara aman dan efektif.

Ketika mendengar kata “vaksin”, banyak orang langsung membayangkan imunisasi bayi atau program vaksinasi anak di sekolah. Padahal, vaksin bukan hanya untuk anak-anak. Vaksin merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan sepanjang kehidupan, mulai dari bayi yang baru lahir hingga lansia. Di Indonesia, Cakupan Vaksin Imunisasi rutin sudah mencapai 94,9% pada 2023 menurut Kementerian Kesehatan RI terutama pada bayi & anak anak. Di sisi lain, cakupan vaksin dewasa masih sangat minim sekali, contohnya cakupan vaksin influenza di Indonesia hanya sekitar 0,5 per 1.000 penduduk dibandingkan Singapura (90 per 1.000 penduduk) & Jepang (Jepang 250 per 1.000 penduduk). Lalu, sebenarnya kenapa harus vaksin? Apa manfaatnya bagi kesehatan? Dan apakah vaksin masih diperlukan jika seseorang merasa sehat? Artikel ini akan membahasnya secara lengkap. Apa itu Vaksin? Vaksin adalah produk biologis yang dirancang untuk membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan penyakit tertentu. Ketika seseorang menerima vaksin, tubuh akan belajar mengenali virus atau bakteri penyebab penyakit tanpa harus mengalami penyakit tersebut terlebih dahulu. Dengan demikian, jika suatu saat tubuh terpapar penyakit yang sama, sistem imun sudah memiliki “ingatan” untuk memberikan respons yang lebih cepat dan efektif. Sederhananya, vaksin membantu tubuh melakukan latihan sebelum menghadapi ancaman yang sebenarnya. Bagaimana Cara Kerja Vaksin? Tubuh manusia memiliki sistem kekebalan yang bertugas melindungi dari berbagai penyakit. Namun, sistem imun tidak selalu langsung mengenali ancaman baru. Vaksin membantu sistem imun dengan memperkenalkan bagian tertentu dari virus atau bakteri yang telah dilemahkan, dimatikan, atau dibuat menyerupai penyebab penyakit. Setelah vaksin diberikan, tubuh akan: Mengenali ancaman tersebut. Membentuk antibodi sebagai perlindungan. Menyimpan memori imun untuk jangka panjang. Ketika paparan penyakit terjadi di kemudian hari, tubuh dapat merespons lebih cepat sehingga risiko sakit berat dapat berkurang. Kenapa Vaksin Penting? Membantu Mencegah Penyakit Banyak penyakit menular dapat dicegah melalui vaksinasi, seperti: Campak Hepatitis B Influenza Pneumonia Meningitis HPV Polio Rubella Pencegahan selalu lebih baik dibandingkan pengobatan setelah penyakit terjadi. Mengurangi Risiko Komplikasi Serius Beberapa penyakit tidak hanya menyebabkan gejala ringan, tetapi juga dapat menimbulkan komplikasi serius. Contohnya: Pneumonia dapat menyebabkan rawat inap. Hepatitis B dapat menyebabkan kerusakan hati kronis. HPV dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker. Meningitis dapat menyebabkan kecacatan permanen bahkan kematian. Vaksin membantu mengurangi risiko tersebut. Sakit tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga aktivitas sehari-hari. Ketika seseorang mengalami penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, dampaknya bisa berupa: Kehilangan waktu kerja. Kehilangan waktu belajar. Pengeluaran biaya pengobatan. Gangguan aktivitas keluarga. Vaksinasi merupakan salah satu bentuk investasi kesehatan jangka panjang. Melindungi Orang-Orang di Sekitar Kita Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit tertentu, seperti: Bayi yang masih sangat kecil. Lansia. Ibu hamil. Penderita penyakit kronis. Individu dengan daya tahan tubuh yang lemah. Dengan melakukan vaksinasi sesuai rekomendasi, seseorang juga turut membantu mengurangi risiko penularan kepada orang-orang di sekitarnya. Vaksin Bukan Hanya untuk Anak Salah satu kesalahpahaman yang masih sering ditemukan adalah anggapan bahwa vaksin hanya diperlukan pada masa bayi dan anak-anak. Faktanya, organisasi kesehatan dunia dan berbagai organisasi profesi kesehatan mendorong konsep vaksinasi sepanjang hayat atau life-course immunization. Artinya, kebutuhan vaksin dapat berubah sesuai usia dan kondisi seseorang. Karena itu, vaksinasi tidak berhenti setelah masa kanak-kanak. Kenapa Bayi Harus Vaksin? Bayi memiliki sistem kekebalan yang masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap berbagai penyakit menular. Vaksin pada masa bayi bertujuan memberikan perlindungan sejak dini terhadap penyakit yang berpotensi serius. Beberapa vaksin yang umumnya diberikan sejak awal kehidupan antara lain: Hepatitis B Polio BCG DTP Hib Rotavirus Pneumokokus (PCV) Masa awal kehidupan merupakan periode penting untuk membangun perlindungan kesehatan jangka panjang. Kenapa Anak Tetap Membutuhkan Vaksin? Ketika anak mulai aktif bermain dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, risiko paparan penyakit juga meningkat. Pada tahap ini, beberapa vaksin lanjutan atau booster dapat direkomendasikan untuk membantu mempertahankan perlindungan yang sudah terbentuk sebelumnya. Selain itu, lingkungan sekolah dan aktivitas sosial membuat anak lebih sering berinteraksi dengan banyak orang. Kenapa Remaja Perlu Vaksin? Masa remaja merupakan periode transisi menuju usia dewasa. Pada tahap ini, beberapa vaksin dapat membantu memberikan perlindungan tambahan yang penting untuk masa depan. Vaksinasi pada remaja sering dikaitkan dengan: Pencegahan penyakit tertentu. Perlindungan kesehatan reproduksi. Pemeliharaan kekebalan yang telah dibangun sejak masa kanak-kanak. Remaja juga perlu memahami bahwa menjaga kesehatan tidak hanya dilakukan ketika sakit, tetapi juga melalui upaya pencegahan. Kenapa Orang Dewasa Masih Perlu Vaksin? Banyak orang dewasa menganggap dirinya tidak lagi membutuhkan vaksin karena sudah pernah mendapatkan imunisasi saat kecil. Padahal, beberapa perlindungan dapat berkurang seiring waktu dan ada vaksin tertentu yang memang direkomendasikan saat dewasa. Orang dewasa memiliki berbagai faktor risiko seperti: Mobilitas tinggi. Aktivitas kerja yang padat. Perjalanan ke berbagai daerah atau negara. Interaksi dengan banyak orang. Karena itu, vaksinasi tetap menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan. Kenapa Lansia Perlu Vaksin? Seiring bertambahnya usia, kemampuan sistem kekebalan tubuh dapat mengalami penurunan. Hal ini membuat lansia lebih rentan mengalami komplikasi serius akibat penyakit tertentu. Penyakit yang mungkin berdampak lebih berat pada lansia antara lain: Influenza. Pneumonia. Herpes zoster. Infeksi saluran pernapasan tertentu. Karena itu, vaksinasi menjadi salah satu langkah yang dapat membantu menjaga kualitas hidup pada usia lanjut. Vaksin Berdasarkan Tahap Kehidupan Selain usia, kebutuhan vaksin juga dapat dipengaruhi oleh tahap kehidupan, aktivitas, maupun kondisi kesehatan seseorang. Berikut beberapa contoh kelompok yang sering memiliki kebutuhan vaksinasi khusus: Tahap Kehidupan / KondisiMengapa Perlu Perhatian Khusus?Contoh Vaksin yang Mungkin Direkomendasikan*Calon PengantinMembantu mempersiapkan kesehatan jangka panjang pasangan dan keluarga yang akan dibangun.HPV, Hepatitis B, MMR/MR (sesuai kondisi dan riwayat vaksinasi)Merencanakan KehamilanBeberapa penyakit dapat berdampak pada ibu maupun calon bayi selama masa kehamilan.MMR/MR, Hepatitis B, Influenza (sesuai rekomendasi tenaga kesehatan)Ibu HamilMelindungi kesehatan ibu dan membantu memberikan perlindungan awal bagi bayi yang akan lahir.Influenza, Tdap (sesuai rekomendasi dokter dan usia kehamilan)Orang Tua dengan Bayi Baru LahirMembantu mengurangi risiko penularan penyakit kepada bayi yang sistem imunnya masih berkembang.Influenza, Tdap (sesuai rekomendasi tenaga kesehatan)Jamaah Haji dan UmrahBerinteraksi dengan jutaan orang dari berbagai negara meningkatkan risiko paparan penyakit menular.Meningitis, Influenza, COVID-19 atau vaksin lain sesuai ketentuan yang berlakuPelancong Internasional (Traveller)Beberapa negara memiliki risiko penyakit tertentu atau persyaratan vaksinasi khusus.Bergantung pada negara tujuan dan kondisi kesehatan individuPenderita DiabetesRisiko infeksi dan komplikasi penyakit tertentu dapat lebih tinggi dibanding populasi umum.Influenza, Pneumokokus, Hepatitis B (sesuai rekomendasi dokter)Penderita Penyakit JantungInfeksi tertentu dapat memperburuk kondisi jantung yang sudah ada.Influenza, Pneumokokus (sesuai rekomendasi dokter)Penderita Penyakit Paru KronisMemiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat infeksi saluran pernapasan.Influenza, Pneumokokus, RSV pada kelompok tertentuPenderita Penyakit Ginjal KronisSistem kekebalan tubuh dapat lebih rentan sehingga perlindungan tambahan perlu dipertimbangkan.Hepatitis B, Influenza, Pneumokokus (sesuai rekomendasi dokter)LansiaSeiring bertambahnya usia, kemampuan sistem imun dapat mengalami penurunan.Influenza, Pneumokokus, Herpes Zoster, RSV (sesuai rekomendasi dokter) * Jenis vaksin yang direkomendasikan dapat berbeda pada setiap individu tergantung usia, kondisi kesehatan, riwayat vaksinasi, serta rekomendasi tenaga kesehatan. Hal yang Perlu Diingat Kebutuhan vaksin setiap orang tidak selalu sama. Dua orang dengan usia yang sama bisa saja memiliki rekomendasi vaksin yang berbeda karena faktor seperti riwayat kesehatan, pekerjaan, gaya hidup, rencana kehamilan, maupun tujuan perjalanan. Oleh karena itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi langkah terbaik untuk menentukan vaksin yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Apakah Vaksin Aman? Keamanan vaksin merupakan salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan masyarakat. Sebelum digunakan, vaksin melalui proses penelitian, pengembangan, dan evaluasi yang ketat. Seperti produk kesehatan lainnya, vaksin dapat menimbulkan efek samping ringan pada sebagian orang, misalnya: Nyeri di area suntikan. Kemerahan. Demam ringan. Rasa lelah sementara. Efek tersebut umumnya bersifat sementara dan dapat menjadi tanda bahwa sistem imun sedang memberikan respons terhadap vaksin. Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu atau pertanyaan mengenai vaksinasi, konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang kompeten. Kenapa Banyak Orang Belum Mendapatkan Vaksin? Ada beberapa alasan yang sering ditemukan. Kurangnya InformasiBanyak orang belum mengetahui bahwa vaksin tersedia untuk berbagai kelompok usia. Merasa Masih SehatSebagian orang menganggap vaksin tidak diperlukan karena jarang sakit.Padahal tujuan utama vaksin adalah pencegahan. Takut Efek SampingInformasi yang tidak lengkap sering kali menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan. Tidak Tahu Harus Mulai Dari Mana Banyak orang tidak mengetahui vaksin apa yang sesuai dengan usia atau kondisi mereka. Karena itu, edukasi yang tepat sangat penting. Bagaimana Mengetahui Vaksin yang Dibutuhkan? Kebutuhan vaksin setiap orang dapat berbeda. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain: Usia. Riwayat vaksinasi sebelumnya. Kondisi kesehatan. Pekerjaan. Rencana kehamilan. Rencana perjalanan. Aktivitas sosial. Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan vaksin yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kesimpulan Vaksin merupakan salah satu langkah pencegahan yang penting untuk menjaga kesehatan sepanjang kehidupan. Manfaat vaksin tidak hanya dirasakan oleh bayi dan anak-anak, tetapi juga oleh remaja, orang dewasa, hingga lansia. Kebutuhan vaksin dapat berubah sesuai usia, kondisi kesehatan, dan tahap kehidupan seseorang. Oleh karena itu, memahami pentingnya vaksinasi merupakan langkah awal untuk melindungi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Karena pada akhirnya, vaksin bukan hanya tentang mencegah penyakit hari ini, tetapi juga tentang menjaga kualitas hidup di masa depan.

Bagi banyak orang, diabetes sering hanya dikaitkan dengan gula darah. Padahal, ada risiko lain yang jauh lebih serius dan sering tidak disadari: penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke. Yang lebih mengejutkan, infeksi sederhana seperti influenza ternyata bisa menjadi “pemicu” yang memperburuk kondisi ini. Di sinilah vaksin influenza memiliki peran yang sering terlewatkan—bukan hanya mencegah flu, tetapi juga membantu melindungi jantung. Diabetes dan Risiko Kardiovaskular: Hubungan yang Erat Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dibandingkan populasi umum. Hal ini terjadi karena kombinasi beberapa faktor, seperti peradangan kronis, gangguan metabolisme, dan kerusakan pembuluh darah (2). Selain itu, sistem imun pada pasien diabetes juga cenderung lebih lemah, sehingga lebih rentan terhadap infeksi (2). Akibatnya, ketika terjadi infeksi seperti influenza, dampaknya bisa lebih berat dan memicu komplikasi serius. Influenza: Bukan Sekadar Penyakit Pernapasan Banyak orang menganggap influenza hanya menyerang saluran napas. Padahal, infeksi influenza dapat memicu respons inflamasi sistemik yang berdampak pada seluruh tubuh, termasuk sistem kardiovaskular (3). Beberapa studi menunjukkan bahwa: ● Risiko serangan jantung meningkat signifikan dalam waktu singkat setelah infeksi influenza (3) ● Risiko stroke juga meningkat dalam periode yang sama (3) Artinya, influenza bisa menjadi “trigger” bagi kejadian kardiovaskular, terutama pada individu dengan kondisi kronis seperti diabetes. Risiko Lebih Tinggi pada Diabetes dan Prediabetes Baik diabetes maupun prediabetes sama-sama meningkatkan risiko komplikasi. Pada kondisi ini, tubuh sudah mengalami gangguan metabolisme yang membuat respons terhadap infeksi menjadi lebih berat (2). Ketika influenza terjadi, kombinasi antara peradangan, peningkatan beban kerja jantung, dan gangguan pembuluh darah dapat memperburuk kondisi kardiovaskular (3). Peran Vaksin Influenza: Lebih dari Sekadar Pencegahan Flu Vaksin influenza tidak hanya melindungi dari infeksi, tetapi juga membantu mengurangi risiko komplikasi serius, termasuk yang berkaitan dengan jantung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa vaksin influenza dapat: ● Menurunkan risiko kejadian kardiovaskular ● Mengurangi angka rawat inap ● Menurunkan risiko kematian pada pasien dengan penyakit kronis (4) Dengan kata lain, vaksin influenza dapat menjadi bagian dari strategi perlindungan jangka panjang bagi pasien diabetes. Mengapa Vaksin Penting untuk Pasien Diabetes? Pada pasien diabetes, risiko dasar terhadap komplikasi sudah lebih tinggi. Artinya, manfaat vaksin menjadi lebih signifikan dibandingkan pada populasi umum. Vaksin influenza juga direkomendasikan sebagai bagian dari pencegahan pada kelompok berisiko tinggi oleh berbagai organisasi kesehatan global (1). Siapa yang Dianjurkan Mendapatkan Vaksin? Kelompok yang dianjurkan untuk mendapatkan vaksin influenza meliputi: ● Pasien diabetes ● Individu dengan prediabetes ● Pasien dengan penyakit kardiovaskular Vaksinasi tahunan menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi kesehatan tetap stabil dan mencegah komplikasi. Kesimpulan Diabetes bukan hanya tentang gula darah—tetapi juga tentang risiko komplikasi serius, terutama penyakit jantung. Infeksi influenza dapat memperburuk kondisi tersebut dan meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular. Melalui vaksinasi influenza, risiko ini dapat ditekan secara signifikan. Karena itu, vaksin influenza bukan hanya perlindungan dari flu, tetapi juga bagian penting dari perlindungan jantung. Referensi 1. World Health Organization. (2023). Influenza and noncommunicable diseases. https://www.who.int (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Kurniawan, R., & Tahapary, D. L. (2024). Manfaat vaksinasi influenza bagi pasien diabetes melitus. Cermin Dunia Kedokteran. https://cdkjournal.com/index.php/cdk/article/download/1025/876 (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Barnes, M., et al. (2015). Influenza and cardiovascular risk. Acta Medica Indonesiana. https://actamedindones.org (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Modin, D., et al. (2020). Influenza vaccination and cardiovascular outcomes in diabetes. Diabetes Care, 43(9). https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32647052/ (dikutip pada tanggal 20 April 2026).

Kehamilan adalah masa penuh harapan sekaligus tanggung jawab besar bagi setiap calon ibu. Selama sembilan bulan, berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan memastikan tumbuh kembang bayi berlangsung optimal. Namun, ada satu langkah penting yang masih sering terlewatkan, yaitu vaksinasi selama kehamilan. Banyak ibu hamil bertanya: Apakah vaksin aman saat hamil? Vaksin apa saja yang direkomendasikan? Apakah vaksin bisa melindungi bayi? Kapan waktu terbaik untuk vaksinasi? Faktanya, vaksinasi tidak hanya membantu melindungi ibu dari penyakit tertentu, tetapi juga dapat memberikan perlindungan awal bagi bayi bahkan sebelum ia lahir. Kabar baiknya, ada cara sederhana untuk mencegahnya: vaksinasi selama kehamilan (1). Kenapa Ibu Hamil Lebih Rentan Sakit? Saat hamil, sistem imun ibu mengalami perubahan agar tubuh dapat menerima janin. Di satu sisi, ini penting untuk perkembangan bayi. Tapi di sisi lain, kondisi ini membuat ibu lebih mudah terkena infeksi, termasuk influenza (2). Jika terkena infeksi, risikonya bukan hanya dirasakan ibu—tetapi juga bisa berdampak pada bayi, seperti meningkatkan risiko kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah (1). Flu Biasa yang Bisa Jadi Tidak Biasa Banyak orang menganggap influenza hanya penyakit ringan. Padahal, pada ibu hamil, flu bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, bahkan membutuhkan perawatan di rumah sakit (1). Selain itu, infeksi influenza juga dapat memengaruhi kondisi janin selama kehamilan (1) Ancaman Lain: Batuk Rejan pada Bayi Berbeda dengan influenza, pertusis atau batuk rejan justru lebih berbahaya bagi bayi yang baru lahir. Bayi belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat dan belum mendapatkan imunisasi lengkap. Akibatnya, infeksi pertusis bisa menyebabkan komplikasi berat (3). Inilah alasan mengapa perlindungan perlu dimulai sejak bayi masih dalam kandungan. Solusinya: Vaksin Influenza dan Tdap Vaksin Influenza Vaksin influenza membantu melindungi ibu dari risiko sakit berat selama kehamilan (1). Menariknya, manfaatnya tidak berhenti di ibu saja. Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi dapat diteruskan ke bayi melalui plasenta (4). Artinya, bayi sudah mendapatkan perlindungan bahkan sebelum ia lahir Vaksin Tdap Vaksin Tdap berfungsi melindungi bayi dari pertusis di awal kehidupannya. Ketika ibu menerima vaksin ini saat hamil, tubuh akan membentuk antibodi yang kemudian ditransfer ke bayi (4). Hasilnya, bayi memiliki perlindungan awal sebelum mendapatkan vaksinasi sendiri setelah lahir. Rekomendasi di Indonesia Di Indonesia, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia juga merekomendasikan vaksinasi selama kehamilan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan ibu dan bayi (5). Rekomendasi ini sejalan dengan panduan global, sehingga ibu tidak perlu ragu untuk melakukan vaksinasi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Aman atau Tidak? Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul. Jawabannya: aman. Berbagai penelitian dan rekomendasi global menunjukkan bahwa vaksin influenza dan Tdap aman diberikan selama kehamilan dan tidak meningkatkan risiko pada janin (2). Jadi, Kenapa Harus Vaksin Itu Penting? Karena vaksin bukan hanya melindungi ibu dari penyakit, tetapi juga memberikan “bekal perlindungan” pertama bagi bayi. Sebelum bayi bisa menerima imunisasi lengkap, perlindungan dari ibu inilah yang menjadi tameng utamanya. Dan semuanya bisa dimulai sejak masa kehamilan. refferensi: Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Guidelines for vaccinating pregnant women. https://www.cdc.gov/vaccines/pregnancy/index.html (dikutip pada tanggal 20 April 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2022). Maternal immunization. https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance (dikutip pada tanggal 20 April 2026). World Health Organization. (2015). Pertussis vaccines: WHO position paper. https://www.who.int/publications/i/item/WER9035 (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Nunes, M. C., & Madhi, S. A. (2018). Prevention of influenza-related illness in young infants by maternal vaccination. The Lancet Infectious Diseases, 18(6), e177–e185. https://doi.org/10.1016/S1473-3099(18)30090-3 (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. (2023). Rekomendasi imunisasi pada ibu hamil. https://pogi.or.id (dikutip pada tanggal 20 April 2026).