
Bagi banyak orang, diabetes sering hanya dikaitkan dengan gula darah. Padahal, ada risiko lain yang jauh lebih serius dan sering tidak disadari: penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke. Yang lebih mengejutkan, infeksi sederhana seperti influenza ternyata bisa menjadi “pemicu” yang memperburuk kondisi ini.
Di sinilah vaksin influenza memiliki peran yang sering terlewatkan—bukan hanya mencegah flu, tetapi juga membantu melindungi jantung.
Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dibandingkan populasi umum. Hal ini terjadi karena kombinasi beberapa faktor, seperti peradangan kronis, gangguan metabolisme, dan kerusakan pembuluh darah (2).
Selain itu, sistem imun pada pasien diabetes juga cenderung lebih lemah, sehingga lebih rentan terhadap infeksi (2). Akibatnya, ketika terjadi infeksi seperti influenza, dampaknya bisa lebih berat dan memicu komplikasi serius.
Banyak orang menganggap influenza hanya menyerang saluran napas. Padahal, infeksi influenza dapat memicu respons inflamasi sistemik yang berdampak pada seluruh tubuh, termasuk sistem kardiovaskular (3). Beberapa studi menunjukkan bahwa:
● Risiko serangan jantung meningkat signifikan dalam waktu singkat setelah infeksi influenza (3)
● Risiko stroke juga meningkat dalam periode yang sama (3)
Artinya, influenza bisa menjadi “trigger” bagi kejadian kardiovaskular, terutama pada individu dengan kondisi kronis seperti diabetes.
Baik diabetes maupun prediabetes sama-sama meningkatkan risiko komplikasi. Pada kondisi ini, tubuh sudah mengalami gangguan metabolisme yang membuat respons terhadap infeksi menjadi lebih berat (2).
Ketika influenza terjadi, kombinasi antara peradangan, peningkatan beban kerja jantung, dan gangguan pembuluh darah dapat memperburuk kondisi kardiovaskular (3).
Vaksin influenza tidak hanya melindungi dari infeksi, tetapi juga membantu mengurangi risiko komplikasi serius, termasuk yang berkaitan dengan jantung.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa vaksin influenza dapat:
● Menurunkan risiko kejadian kardiovaskular
● Mengurangi angka rawat inap
● Menurunkan risiko kematian pada pasien dengan penyakit kronis (4)
Dengan kata lain, vaksin influenza dapat menjadi bagian dari strategi perlindungan jangka panjang bagi pasien diabetes.
Pada pasien diabetes, risiko dasar terhadap komplikasi sudah lebih tinggi.
Artinya, manfaat vaksin menjadi lebih signifikan dibandingkan pada populasi umum. Vaksin influenza juga direkomendasikan sebagai bagian dari pencegahan pada kelompok berisiko tinggi oleh berbagai organisasi kesehatan global (1).
Kelompok yang dianjurkan untuk mendapatkan vaksin influenza meliputi:
● Pasien diabetes
● Individu dengan prediabetes
● Pasien dengan penyakit kardiovaskular
Vaksinasi tahunan menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi kesehatan tetap stabil dan mencegah komplikasi.
Diabetes bukan hanya tentang gula darah—tetapi juga tentang risiko komplikasi serius, terutama penyakit jantung. Infeksi influenza dapat memperburuk kondisi tersebut dan meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular.
Melalui vaksinasi influenza, risiko ini dapat ditekan secara signifikan.
Karena itu, vaksin influenza bukan hanya perlindungan dari flu, tetapi juga bagian penting dari perlindungan jantung.
Referensi


Ketahui langkah perlindungan yang dapat membantu mengurangi risiko komplikasi serius pada penderita diabetes.
Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Flu Singapura (istilah awam yang digunakan) adalah penyakit tangan, kaki, dan mulut. Penyakit ini disebabkan oleh kelompok virus enterovirus, terutama Coxsackievirus dan Enterovirus 71 atau EV71. Flu Singapura paling sering menyerang bayi dan anak kecil, tetapi orang dewasa juga tetap bisa tertular. (1)(2) Gejala khas HFMD biasanya meliputi demam, sakit tenggorokan, sariawan atau luka di mulut, serta ruam atau lepuh kecil di telapak tangan, telapak kaki, dan kadang area bokong, lengan, atau tungkai. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan membaik dalam 7–10 hari, tetapi anak tetap perlu dipantau karena sariawan dapat membuat anak sulit minum dan berisiko dehidrasi. (2)(3) HFMD mudah menular melalui air liur, cairan hidung dan tenggorokan, percikan batuk atau bersin, cairan dari lepuh, tinja, serta permukaan benda yang terkontaminasi. Karena itu, kebersihan tangan, disinfeksi mainan, dan menghindari kontak dekat saat sakit menjadi langkah pencegahan penting. (1)(2) Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, dokter anak, bidan, atau tenaga kesehatan. Gejala, tingkat keparahan, pemeriksaan, pengobatan, dan rekomendasi pencegahan dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, status imun, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, serta ketersediaan layanan atau vaksin di fasilitas kesehatan. Jika anak tampak lemas, sulit minum, demam tinggi, kejang, sesak, atau gejala memburuk, segera konsultasikan ke tenaga kesehatan. Apa Itu Flu Singapura atau HFMD? Flu Singapura atau HFMD adalah penyakit infeksi virus yang menyerang area mulut, tangan, dan kaki. Walaupun namanya mengandung kata “flu”, penyakit ini bukan influenza. HFMD juga berbeda dari penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan. HFMD pada manusia tidak sama dengan PMK pada sapi, kambing, atau hewan ternak, dan penyebabnya juga berbeda. (1)(2) Penyakit ini sering muncul pada anak-anak, terutama usia balita, karena anak pada usia ini masih sering memasukkan tangan atau benda ke mulut, bermain berdekatan, dan belum selalu konsisten menjaga kebersihan tangan. Di lingkungan seperti daycare, PAUD, TK, sekolah, atau rumah dengan beberapa anak, penularan bisa terjadi lebih cepat bila kebersihan tidak dijaga dengan baik. (2)(3) Sebagian orang tua mengenal penyakit ini sebagai “flu Singapura” karena istilah tersebut sudah populer di masyarakat. Namun secara medis, istilah yang lebih tepat adalah HFMD atau penyakit tangan, kaki, dan mulut. Mengapa HFMD Perlu Diwaspadai? Pada banyak kasus, HFMD bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri. Namun, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena sangat mudah menular, terutama pada anak-anak yang beraktivitas di lingkungan bersama seperti sekolah, daycare, atau tempat bermain. Anak yang sedang sakit juga bisa merasa sangat tidak nyaman karena sariawan membuat makan dan minum menjadi sulit. Hal yang paling sering dikhawatirkan pada anak dengan HFMD adalah dehidrasi. Dehidrasi dapat terjadi ketika anak menolak minum karena luka di mulut terasa perih. Pada sebagian kecil kasus, HFMD juga dapat menimbulkan komplikasi yang lebih berat, terutama bila berkaitan dengan jenis virus tertentu seperti EV71. Komplikasi berat seperti gangguan saraf, meningitis, atau ensefalitis memang jarang, tetapi tetap perlu diperhatikan. (4)(5) Karena itu, orang tua tidak perlu panik, tetapi perlu memahami gejala, cara penularan, langkah pencegahan, dan tanda kapan anak harus diperiksa dokter. Penyebab HFMD HFMD disebabkan oleh virus dari keluarga enterovirus. Beberapa jenis virus yang sering dikaitkan dengan HFMD antara lain: PenyebabKeterangan SingkatCoxsackievirus A16Salah satu penyebab umum HFMD.Coxsackievirus A6Dapat menyebabkan gejala yang lebih luas atau tidak khas pada sebagian kasus.Enterovirus 71 atau EV71Dapat dikaitkan dengan kasus yang lebih berat, termasuk komplikasi saraf yang jarang terjadi. Karena HFMD disebabkan oleh virus, antibiotik umumnya tidak diperlukan. Antibiotik hanya bekerja untuk infeksi bakteri, bukan infeksi virus. Pengobatan HFMD biasanya bersifat suportif, yaitu membantu meredakan gejala, menjaga anak tetap nyaman, dan mencegah dehidrasi. (3)(6) Gejala HFMD yang Perlu Dikenali Gejala HFMD biasanya muncul beberapa hari setelah anak terpapar virus. Pada awalnya, gejala bisa mirip infeksi virus biasa, seperti demam, sakit tenggorokan, dan anak tampak tidak enak badan. Setelah itu, biasanya muncul luka di mulut dan ruam pada tangan atau kaki. (2)(3) Gejala yang umum meliputi: Demam Sakit tenggorokan Anak tampak lemas atau tidak nyaman Nafsu makan menurun Sariawan atau luka di mulut Nyeri saat menelan Ruam atau bintik merah di telapak tangan dan kaki Lepuh kecil yang kadang muncul di bokong, lengan, tungkai, atau sekitar area kemaluan IDAI menjelaskan bahwa HFMD umumnya diawali demam, nyeri tenggorokan atau nyeri menelan, nafsu makan menurun, lalu 1–2 hari kemudian muncul bintik merah di rongga mulut yang dapat pecah menjadi sariawan. Setelah itu, ruam dapat muncul di telapak tangan dan kaki. (5) Tabel Ringkas Gejala HFMD Fase GejalaYang Bisa TerjadiCatatan untuk Orang TuaAwalDemam, sakit tenggorokan, tidak enak badanMirip infeksi virus biasa.MulutSariawan, luka kecil, nyeri menelanAnak bisa menolak makan atau minum.KulitRuam atau lepuh di tangan, kaki, bokongJangan memecahkan lepuh. Jaga tetap bersih.PemulihanGejala membaik bertahapUmumnya membaik dalam 7–10 hari. Bagaimana HFMD Menular? HFMD termasuk penyakit yang mudah menular. Virus dapat menyebar melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi. Penularan dapat terjadi dari: Percikan batuk, bersin, atau saat berbicara Air liur Cairan dari lepuh kulit Tinja, terutama saat mengganti popok atau setelah anak buang air Mainan, gagang pintu, meja, alat makan, atau permukaan yang terkontaminasi Kontak dekat seperti berpelukan, mencium, atau berbagi alat makan dan minum (2)(3) Orang dengan HFMD biasanya paling mudah menularkan pada minggu pertama sakit. Namun, virus masih bisa keluar melalui tinja selama beberapa waktu setelah gejala membaik. Karena itu, kebiasaan cuci tangan tetap penting meskipun anak sudah tampak sehat. (2)(6) Apakah HFMD Berbahaya? Pada banyak anak, HFMD bersifat ringan dan dapat membaik dalam 7–10 hari. Namun, bukan berarti penyakit ini boleh diabaikan. Risiko yang paling sering dikhawatirkan adalah dehidrasi, terutama bila sariawan membuat anak sulit minum, menolak menyusu, atau menangis saat menelan. (3)(6) Komplikasi berat tergolong jarang, tetapi bisa terjadi pada sebagian kecil kasus, terutama yang terkait jenis virus tertentu seperti EV71. Karena itu, orang tua perlu memahami tanda bahaya dan tidak ragu berkonsultasi jika kondisi anak tampak tidak biasa. (4)(5) HFMD juga dapat menular dalam lingkungan keluarga. Bila satu anak terkena, saudara kandung atau anggota keluarga lain bisa ikut tertular, terutama bila berbagi alat makan, handuk, mainan, atau tidak mencuci tangan setelah kontak dengan cairan tubuh anak yang sakit. Baca juga: Panduan Vaksinasi untuk Keluarga Indonesia Perawatan HFMD di Rumah: Apa yang Bisa Dilakukan? Tidak ada terapi antivirus spesifik yang secara rutin digunakan untuk menyembuhkan HFMD. Perawatan biasanya bertujuan membantu anak lebih nyaman, menjaga asupan cairan, dan meredakan gejala. (3)(6) Yang bisa dilakukan di rumah: Pastikan anak cukup minum. Berikan makanan lembut seperti bubur, sup hangat suam-suam kuku, yoghurt, atau makanan yang mudah ditelan. Hindari makanan terlalu panas, pedas, asam, atau asin karena bisa memperparah nyeri sariawan. Gunakan obat penurun demam atau nyeri hanya sesuai dosis usia dan anjuran tenaga kesehatan. Jangan memecahkan lepuh. Jaga kuku anak tetap pendek agar tidak menggaruk lepuh. Bersihkan mainan, meja, gagang pintu, dan permukaan yang sering disentuh. Ajarkan anak menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin. Jika anak masih bayi, sulit minum, muntah terus, atau tampak lemas, sebaiknya jangan menunggu terlalu lama untuk berkonsultasi ke dokter. Kapan Harus Konsultasi ke Dokter? Konsultasi dokter diperlukan bila gejala anak tidak membaik, memburuk, atau muncul tanda yang mengkhawatirkan. NHS menyarankan pemeriksaan bila gejala tidak membaik setelah 7–10 hari, anak tidak mau minum, muncul tanda dehidrasi, demam sangat tinggi, atau ada gejala berat seperti kejang, kebingungan, kelemahan, atau penurunan kesadaran. (6)(7) Segera konsultasikan ke dokter jika: KondisiMengapa Perlu DiperiksaAnak sulit atau tidak mau minumRisiko dehidrasi meningkat.Buang air kecil jauh berkurangBisa menjadi tanda kekurangan cairan.Demam tinggi atau demam tidak membaikPerlu evaluasi penyebab dan kondisi umum anak.Anak sangat lemas, mengantuk terus, atau tampak tidak responsifBisa menandakan kondisi lebih serius.Kejang, bingung, leher kaku, atau kelemahan anggota gerakPerlu pemeriksaan segera.Ruam tampak bernanah, sangat merah, bengkak, atau nyeriBisa mengarah ke infeksi kulit sekunder.Bayi kecil, anak dengan daya tahan tubuh lemah, atau anak dengan penyakit kronisPerlu pemantauan lebih hati-hati.Ibu hamil terpapar atau mengalami HFMDSebaiknya konsultasi karena kondisi tiap kehamilan berbeda. Ibu hamil yang terpapar anak dengan HFMD sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, terutama bila mengalami demam, ruam, luka mulut, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Konsultasi membantu memastikan kondisi ibu dan janin tetap terpantau dengan baik. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanannya Pencegahan HFMD di Rumah, Sekolah, dan Daycare Pencegahan HFMD berfokus pada kebersihan dan mengurangi kontak dengan sumber penularan. Karena virus dapat berada di tangan, tinja, cairan hidung, air liur, dan permukaan benda, langkah sederhana yang dilakukan konsisten bisa sangat membantu. (2)(6) Checklist Pencegahan Harian Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah dari toilet, mengganti popok, sebelum makan, dan setelah membersihkan ingus anak. Ajarkan anak tidak berbagi gelas, botol minum, sendok, garpu, atau handuk. Bersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh. Gunakan tisu saat batuk atau bersin, lalu buang tisu dan cuci tangan. Hindari mencium atau memeluk anak yang sedang sakit HFMD. Jika anak sedang tidak enak badan, beri waktu istirahat di rumah. Beri tahu sekolah atau daycare bila anak didiagnosis HFMD agar kebersihan lingkungan dapat diperkuat. Di rumah, orang tua juga bisa memisahkan sementara alat makan, handuk, dan perlengkapan pribadi anak yang sedang sakit. Setelah mengganti popok atau membantu anak ke toilet, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Langkah sederhana ini penting karena virus HFMD dapat menyebar melalui tinja. (2)(6) Baca juga: HFMD pada Anak: Bahaya EV71 dan Pentingnya Vaksin Pencegahan Kapan Anak Boleh Masuk Sekolah Lagi? Secara umum, anak sebaiknya beristirahat di rumah saat masih demam, lemas, sangat rewel, atau belum mampu mengikuti aktivitas sekolah dengan nyaman. NHS menyebut anak dapat kembali ke sekolah atau nursery ketika sudah merasa lebih baik, dan tidak selalu harus menunggu semua lepuh hilang. Namun, kebijakan sekolah atau daycare bisa berbeda, sehingga orang tua sebaiknya mengikuti arahan fasilitas pendidikan dan dokter yang memeriksa. (6) Yang paling penting, pastikan anak: Sudah tidak demam Kondisi umum membaik Sudah bisa makan dan minum lebih baik Mampu menjaga kebersihan dasar Tidak membutuhkan perawatan intensif di rumah Jika sekolah atau daycare memiliki aturan khusus terkait HFMD, ikuti kebijakan tersebut untuk membantu melindungi anak lain dan mencegah penularan lebih luas. Apakah Ada Vaksin untuk HFMD? HFMD dapat disebabkan oleh beberapa jenis enterovirus. Karena penyebabnya beragam, pencegahan tetap memerlukan kebersihan tangan, pembersihan benda yang sering disentuh, pengurangan kontak saat sakit, dan konsultasi dengan tenaga kesehatan. Vaksin EV71 dapat dipertimbangkan untuk membantu mencegah HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71 sesuai indikasi yang disetujui. Vaksin ini tidak melindungi dari semua penyebab HFMD dan tidak memberikan perlindungan 100%. Keputusan vaksinasi sebaiknya dilakukan bersama dokter dengan mempertimbangkan usia anak, kondisi kesehatan, riwayat alergi, ketersediaan vaksin, dan informasi produk yang disetujui. (2)(4) Jika orang tua mempertimbangkan vaksin EV71 untuk pencegahan HFMD berat, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter anak atau fasilitas vaksinasi resmi. Tenaga kesehatan dapat membantu menjelaskan manfaat, keterbatasan perlindungan, jadwal pemberian, kemungkinan efek samping, serta apakah anak termasuk kandidat yang sesuai. Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin atau Konsultasi Pencegahan HFMD? Sebelum vaksinasi atau konsultasi pencegahan HFMD, sebaiknya diskusikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk bayi, anak kecil, anak dengan komorbid, anak dengan riwayat alergi berat, atau anak dengan daya tahan tubuh lemah. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, jadwal, manfaat, keterbatasan perlindungan, dan kondisi kesehatan anak sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, klinik anak, atau klinik vaksinasi resmi di sekitar wilayah Anda. Pastikan fasilitas yang dipilih memiliki tenaga kesehatan kompeten dan mengikuti regulasi yang berlaku. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Flu Singapura atau HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease) adalah penyakit infeksi virus yang sering menyerang anak, terutama balita. Gejalanya dapat berupa demam, sariawan, nyeri menelan, serta ruam atau lepuh di tangan, kaki, dan kadang area tubuh lain. Sebagian besar kasus membaik dalam 7–10 hari, tetapi orang tua tetap perlu waspada terhadap tanda dehidrasi, demam tinggi, kejang, penurunan kesadaran, atau gejala yang memburuk. (2)(3)(6) Pencegahan HFMD dilakukan dengan cuci tangan, membersihkan permukaan dan mainan, tidak berbagi alat makan, menghindari kontak dekat saat sakit, serta berkonsultasi ke dokter bila anak berisiko atau gejala mengkhawatirkan. Vaksin EV71 untuk pencegahan HFMD berat, tetapi keputusan vaksinasi sebaiknya dilakukan bersama tenaga kesehatan sesuai usia, kondisi anak, ketersediaan vaksin, dan regulasi terbaru. Referensi (1) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kenali Penyakit Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) pada Anak di Masa Peralihan Musim.https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2023/kenali-penyakit-hand-foot-and-mouth-disease-hfmd-pada-anak-di-masa-peralihan-musim(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (2) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Hand, Foot, and Mouth Disease.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (3) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). HFMD Symptoms and Complications.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/signs-symptoms/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (4) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). HFMD: Causes and How It Spreads.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/causes/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (5) Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD).https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/hand-foot-mouth-and-disease-hfmd(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (6) NHS. (2024). Hand, foot and mouth disease.https://www.nhs.uk/conditions/hand-foot-mouth-disease/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (7) NHS Inform. (2026). Hand, foot and mouth disease.https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/infections-and-poisoning/hand-foot-and-mouth-disease/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (8) MSD Manual Professional Edition. (2025). Hand-Foot-and-Mouth Disease (HFMD).https://www.msdmanuals.com/professional/infectious-diseases/enteroviruses/hand-foot-and-mouth-disease-hfmd(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Kode promat: ID-INL-2026-07-CXHP(07/27)

Memasuki trimester kedua, sebagian ibu mulai merasa lebih nyaman menjalani kehamilan. Keluhan mual biasanya mulai berkurang, sementara pemeriksaan kehamilan semakin berfokus pada perkembangan janin dan persiapan menuju trimester berikutnya. Pada tahap ini, riwayat vaksinasi ibu juga penting untuk diperiksa. Vaksin ibu hamil trimester 2 adalah vaksin yang dapat diberikan atau mulai direncanakan pada usia kehamilan sekitar 14–27 minggu, sesuai jenis vaksin, riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko paparan, serta rekomendasi dokter. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada setiap trimester. Imunisasi yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, atau pertusis dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat vaksin dan pedoman yang digunakan. Dalam sejumlah panduan internasional, Tdap dianjurkan pada setiap kehamilan, terutama pada usia 27–36 minggu agar transfer antibodi kepada bayi berlangsung optimal. (1)(2) Tidak semua ibu hamil membutuhkan jenis vaksin yang sama. Vaksin hepatitis B dan beberapa vaksin nonhidup lainnya biasanya diberikan berdasarkan faktor risiko atau indikasi medis. Sementara itu, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya ditunda sampai setelah persalinan. (1)(3) Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, risiko paparan, regulasi, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Mengapa Vaksinasi Penting pada Trimester Kedua? Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut diperlukan untuk mendukung pertumbuhan janin, tetapi pada saat bersamaan dapat membuat ibu lebih berisiko mengalami penyakit berat akibat infeksi tertentu, termasuk influenza. (1)(4) Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan dua bentuk perlindungan: Perlindungan bagi ibu, dengan membantu sistem imun mengenali penyebab penyakit tertentu. Perlindungan awal bagi bayi, melalui antibodi ibu yang dapat ditransfer melalui plasenta. Antibodi yang diterima bayi tidak memberikan perlindungan seumur hidup. Namun, perlindungan pasif tersebut dapat membantu pada masa awal kehidupan ketika bayi masih terlalu muda untuk menerima beberapa vaksin secara lengkap. Vaksin juga tidak selalu mencegah infeksi 100%. Tujuannya adalah membantu menurunkan risiko tertular, mengalami penyakit berat, komplikasi, atau perawatan di rumah sakit, bergantung pada jenis penyakit dan vaksin. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanan Apa Saja Vaksin Ibu Hamil Trimester 2? Berikut gambaran umum vaksin yang dapat dibahas dengan dokter pada trimester kedua. Jenis vaksinWaktu yang perlu diperhatikanTujuan utamaCatatanInfluenza inaktifDapat diberikan pada setiap trimesterMembantu melindungi ibu dari influenza dan komplikasinyaHindari vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung selama kehamilanTdapSejumlah panduan menganjurkan usia 27–36 mingguMembantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusisJadwal dan ketersediaannya perlu dikonfirmasi di IndonesiaTT atau TdBerdasarkan status imunisasi tetanus ibuMembantu mencegah tetanus maternal dan neonatalJumlah dosis bergantung pada riwayat imunisasiHepatitis BBerdasarkan indikasi dan faktor risikoMembantu mencegah infeksi hepatitis BKehamilan bukan kontraindikasi mutlakCOVID-19Mengikuti rekomendasi resmi terbaruMembantu mengurangi risiko penyakit beratJenis, dosis, dan waktu perlu mengikuti kebijakan terkiniVaksin lainHanya berdasarkan indikasi khususDisesuaikan dengan penyakit atau paparanMemerlukan penilaian manfaat dan risiko oleh dokter Tabel tersebut bukan jadwal vaksin pribadi. Dokter perlu memeriksa buku imunisasi, usia kehamilan, hasil pemeriksaan, penyakit penyerta, serta kemungkinan paparan sebelum menentukan kebutuhan vaksin. 1. Vaksin Influenza Inaktif Influenza bukan sekadar pilek biasa. Pada ibu hamil, influenza dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berat karena perubahan sistem imun dan fungsi pernapasan selama kehamilan. WHO dan CDC mendukung penggunaan vaksin influenza inaktif selama kehamilan. Vaksin ini dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, atau ketiga, terutama ketika influenza sedang beredar. (1)(4) Manfaat vaksin influenza bagi ibu hamil dapat mencakup: membantu menurunkan risiko influenza; membantu mengurangi risiko komplikasi akibat influenza; membantu mengurangi kemungkinan penyakit berat; membentuk antibodi yang dapat diteruskan kepada bayi. Jenis yang digunakan adalah vaksin influenza inaktif atau nonhidup, bukan vaksin influenza hidup dalam bentuk semprot hidung. Baca juga: Vaksin Influenza Saat Hamil: Rekomendasi untuk Ibu dan Bayi. 2. Vaksin Tdap, Td, atau TT Istilah Tdap, Td, dan TT sering membuat pembaca bingung. Ketiganya tidak sepenuhnya sama. TT memberikan perlindungan terhadap tetanus. Td memberikan perlindungan terhadap tetanus dan difteri dengan komponen difteri dosis rendah. Tdap memberikan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis atau batuk rejan. Dalam panduan ACOG dan CDC, Tdap direkomendasikan pada setiap kehamilan, terutama pada awal rentang usia kehamilan 27–36 minggu. Waktu ini dipilih untuk membantu pembentukan dan pemindahan antibodi pertusis kepada bayi sebelum lahir. (1)(2) Usia 27 minggu berada di peralihan akhir trimester kedua menuju trimester ketiga, tergantung cara penghitungan trimester yang digunakan. Karena itu, trimester kedua merupakan waktu yang baik untuk membahas dan merencanakan Tdap bersama dokter, bukan menentukan jadwal secara mandiri. Di Indonesia, ibu hamil juga dapat menjalani skrining status imunisasi tetanus. Kebutuhan TT atau Td bergantung pada jumlah dosis yang pernah diterima sebelumnya. Imunisasi tetanus pada perempuan usia subur dan ibu hamil telah berperan dalam upaya eliminasi tetanus maternal dan neonatal di Indonesia. (5) 3. Vaksin Hepatitis B Berdasarkan Indikasi Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyerang hati. Kehamilan bukan merupakan kontraindikasi untuk vaksin hepatitis B karena vaksin ini tidak mengandung virus hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. (1) Vaksin hepatitis B dapat dipertimbangkan apabila ibu: belum pernah menerima seri vaksin hepatitis B; belum memiliki riwayat imunisasi yang jelas; memiliki pasangan atau anggota rumah tangga dengan hepatitis B; bekerja di lingkungan dengan risiko paparan darah; memiliki faktor risiko lain berdasarkan pemeriksaan dokter. Vaksinasi ibu tidak menggantikan pemeriksaan hepatitis B dalam layanan antenatal. Apabila ibu diketahui terinfeksi hepatitis B, bayi membutuhkan tata laksana pencegahan khusus segera setelah lahir sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. 4. Vaksin COVID-19 Mengikuti Panduan Terbaru Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan virus, bukti ilmiah, jenis vaksin yang tersedia, dan kebijakan pemerintah. Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak hanya menggunakan jadwal dari artikel lama. Diskusikan dengan dokter apakah ibu memerlukan dosis primer, dosis lanjutan, atau belum membutuhkan dosis tambahan berdasarkan: riwayat vaksin COVID-19; riwayat infeksi sebelumnya; penyakit penyerta; risiko paparan; jenis vaksin yang tersedia; panduan resmi terbaru di Indonesia. Vaksin yang Tidak Diberikan Secara Rutin kepada Semua Ibu Hamil Beberapa vaksin dapat dipertimbangkan hanya ketika risiko penyakit dinilai lebih tinggi daripada potensi risikonya. Contohnya dapat mencakup vaksin hepatitis A, meningokokus, rabies, atau vaksin perjalanan tertentu. Pertimbangan tersebut mungkin diperlukan ketika ibu: akan bepergian ke wilayah dengan risiko penyakit tertentu; mengalami gigitan hewan yang berisiko menularkan rabies; tinggal atau bekerja di lingkungan dengan paparan khusus; memiliki penyakit kronis atau kondisi medis tertentu; belum menyelesaikan vaksinasi sebelum hamil. Keputusan tidak hanya ditentukan oleh usia kehamilan. Jenis vaksin, tingkat paparan, keparahan penyakit, dan ketersediaan alternatif pencegahan juga harus dipertimbangkan. Vaksin Apa yang Perlu Ditunda Saat Hamil? Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya tidak diberikan selama kehamilan karena terdapat risiko teoretis terhadap janin. Contohnya meliputi: vaksin MMR; vaksin varisela atau cacar air; vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung; beberapa vaksin perjalanan hidup. Vaksin HPV juga tidak direkomendasikan untuk diberikan selama kehamilan, meskipun bukan vaksin hidup. Dosis yang belum selesai biasanya dapat dilanjutkan setelah persalinan tanpa harus mengulang seri dari awal. (3)(6) Apabila seorang perempuan menerima vaksin tersebut sebelum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil, jangan langsung panik. Catat tanggal dan nama vaksinnya, lalu konsultasikan kepada dokter kandungan untuk evaluasi lebih lanjut. Apakah Vaksin pada Trimester 2 Aman untuk Bayi? Keamanan bergantung pada jenis vaksin. Vaksin nonhidup yang direkomendasikan selama kehamilan telah dipelajari melalui pemantauan keamanan dan penelitian dalam jumlah besar. Namun, istilah “aman” tidak berarti sama sekali tanpa kemungkinan efek samping. Efek samping ringan dapat terjadi karena sistem imun sedang merespons vaksin. Efek samping yang umumnya dapat muncul antara lain: nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan; lelah; sakit kepala; nyeri otot; demam ringan; rasa tidak enak badan. Reaksi tersebut umumnya bersifat sementara. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa KIPI ringan dapat berupa reaksi lokal maupun sistemik dan biasanya membaik dalam waktu singkat. Reaksi serius dapat terjadi, tetapi jauh lebih jarang. (7) Kapan Harus Segera Mencari Bantuan Medis? Segera cari pertolongan medis apabila setelah vaksinasi muncul: kesulitan bernapas; pembengkakan pada wajah, bibir, atau tenggorokan; ruam luas yang berkembang cepat; pingsan atau penurunan kesadaran; demam tinggi atau menetap; kejang; keluhan kehamilan yang terasa berat atau tidak biasa; gerakan janin berkurang setelah sebelumnya sudah terasa teratur. Keluhan tersebut belum tentu disebabkan oleh vaksin, tetapi tetap memerlukan pemeriksaan segera. Checklist Sebelum Vaksinasi pada Trimester Kedua Sebelum datang ke fasilitas kesehatan, siapkan informasi berikut: Usia kehamilan saat ini Buku KIA atau catatan pemeriksaan kehamilan Riwayat vaksin sebelum dan selama kehamilan Nama vaksin serta tanggal dosis terakhir Riwayat alergi berat atau anafilaksis Reaksi setelah vaksin sebelumnya Penyakit kronis atau gangguan sistem imun Obat dan suplemen yang sedang digunakan Riwayat infeksi atau demam baru-baru ini Rencana perjalanan selama kehamilan Ibu dengan pilek ringan belum tentu harus menunda vaksin. Sebaliknya, demam atau penyakit akut sedang hingga berat mungkin menjadi alasan untuk menjadwalkan ulang vaksinasi. Keputusan sebaiknya dibuat oleh tenaga kesehatan setelah menilai kondisi ibu. Pertanyaan yang Dapat Diajukan kepada Dokter Agar konsultasi lebih terarah, ibu dapat menanyakan: Apakah saya memerlukan vaksin pada trimester kedua? Bagaimana status imunisasi tetanus saya? Apakah saya perlu Tdap, Td, atau TT? Kapan waktu terbaik mendapatkan vaksin tersebut? Apakah vaksin influenza yang tersedia merupakan vaksin inaktif? Apakah kondisi kesehatan saya memengaruhi jadwal vaksin? Apakah vaksin dapat diberikan bersamaan? Efek samping apa yang perlu saya pantau? Kapan saya harus kembali untuk dosis berikutnya? Vaksin apa yang perlu diberikan setelah melahirkan? Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil Trimester 2? Vaksin untuk ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan pemeriksaan kehamilan dan layanan vaksinasi, seperti: puskesmas; rumah sakit; klinik ibu dan anak; praktik dokter kandungan; klinik vaksinasi resmi; fasilitas kesehatan lain yang memiliki tenaga dan penyimpanan vaksin sesuai standar. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, waktu pemberian, status imunisasi sebelumnya, serta kondisi kehamilan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 2 dapat membantu melindungi kesehatan ibu sekaligus memberikan antibodi awal kepada bayi. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada setiap trimester, sedangkan vaksin yang melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis perlu dijadwalkan berdasarkan jenis vaksin, usia kehamilan, riwayat imunisasi, serta panduan yang berlaku. Vaksin hepatitis B, COVID-19, dan vaksin lain dapat diberikan berdasarkan indikasi dan rekomendasi terbaru. Sebaliknya, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya ditunda hingga setelah persalinan. Tidak ada satu jadwal yang sesuai untuk semua ibu hamil. Bawalah catatan vaksin saat pemeriksaan antenatal dan konsultasikan setiap keputusan vaksinasi kepada dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Referensi Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). 2026 maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Vaccine safety for moms-to-be.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/moms-to-be/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Strategi komunikasi nasional imunisasi 2022–2025.https://www.kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/16653827576343b965228c40.04885132.pdf(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Pregnancy and vaccines.https://www.cdc.gov/vaccine-safety/about/pregnancy.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu KIPI: Penyebab, gejala, pencegahan, dan pengobatan.https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-Y6ZD (08/26)
Efek samping vaksin adalah reaksi yang dapat muncul setelah seseorang menerima vaksin. Keluhan yang paling umum biasanya ringan, seperti nyeri di area suntikan, kemerahan, bengkak ringan, demam ringan, lelah, sakit kepala, atau pegal. Pada banyak orang, keluhan ini membaik dalam beberapa hari. (1)(2) Meski umumnya ringan, efek samping vaksin tetap perlu dipantau. Segera cari bantuan medis bila muncul tanda alergi berat seperti sesak napas, bengkak pada wajah atau bibir, ruam menyeluruh, pingsan, kejang, atau kondisi yang tampak berat dan tidak membaik. (2)(3) Penting untuk diingat: tidak semua keluhan yang muncul setelah vaksin pasti disebabkan oleh vaksin. Dalam istilah medis, keluhan setelah imunisasi disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI, dan penyebabnya perlu dinilai oleh tenaga kesehatan. (4) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apa Itu Efek Samping Vaksin atau KIPI? Efek samping vaksin adalah respons tubuh yang muncul setelah vaksinasi. Respons ini dapat terjadi karena sistem imun sedang mengenali komponen vaksin dan membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu. (1) Di Indonesia, istilah yang sering digunakan adalah KIPI, yaitu Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. KIPI berarti setiap kejadian medis yang terjadi setelah imunisasi, baik yang ringan maupun serius. Namun, KIPI tidak otomatis berarti vaksin menjadi penyebab langsung. Penilaian medis diperlukan untuk melihat waktu kejadian, gejala, riwayat kesehatan, kemungkinan penyakit lain, dan faktor lain yang menyertai. (2)(4) Dengan memahami hal ini, pembaca tidak perlu langsung panik ketika muncul keluhan ringan. Namun, pembaca juga tetap perlu waspada bila muncul gejala berat atau keluhan yang tidak biasa. Baca juga: Kenapa Harus Vaksin? Panduan dan Manfaat untuk Semua Usia Efek Samping Vaksin yang Umum Terjadi Efek samping vaksin yang umum biasanya bersifat ringan dan sementara. Tidak semua orang mengalaminya. Ada orang yang merasa pegal dan demam ringan, ada juga yang tidak merasakan keluhan apa pun setelah vaksinasi. Berikut beberapa efek samping vaksin yang sering dilaporkan: Efek Samping UmumPenjelasan SederhanaBiasanya Apa yang Bisa Dilakukan?Nyeri di area suntikanArea bekas suntikan terasa pegal, nyeri, atau tidak nyamanKompres dingin, gerakkan lengan perlahan, istirahatKemerahan atau bengkak ringanReaksi lokal di tempat suntikanPantau ukuran bengkak, hindari menggarukDemam ringanRespons tubuh saat sistem imun bekerjaCukup minum, istirahat, gunakan obat sesuai arahan tenaga kesehatanLelah atau mengantukTubuh sedang beradaptasi setelah vaksinKurangi aktivitas berat sementaraSakit kepala atau pegalDapat terjadi pada sebagian orangIstirahat, cukup cairanRewel pada anakAnak merasa tidak nyaman setelah imunisasiPeluk, tenangkan, beri ASI atau cairan sesuai usiaNafsu makan menurun sementaraBisa terjadi pada sebagian bayi atau anakPantau asupan cairan dan kondisi umum anak CDC menjelaskan bahwa efek samping vaksin pada umumnya ringan, misalnya nyeri lengan atau demam ringan, dan biasanya hilang dalam beberapa hari. (1) Mengapa Tubuh Bisa Demam atau Nyeri Setelah Vaksin? Demam ringan, pegal, atau nyeri setelah vaksin dapat terjadi karena sistem imun sedang merespons vaksin. Respons ini tidak selalu berarti tubuh sedang sakit berat. Pada sebagian orang, respons imun dapat terasa sebagai keluhan ringan selama beberapa jam hingga beberapa hari. (1)(2) Namun, berat-ringannya keluhan dapat berbeda pada tiap orang. Faktor usia, jenis vaksin, kondisi tubuh saat vaksinasi, riwayat alergi, dan penyakit penyerta dapat memengaruhi respons tubuh. Pada anak, beberapa vaksin dapat menimbulkan demam, rewel, atau nyeri bekas suntikan. IDAI menjelaskan bahwa beberapa reaksi pascaimunisasi seperti demam, nyeri, kemerahan, dan pembengkakan dapat terjadi dan biasanya membaik, tetapi bila reaksi berat atau menetap, anak sebaiknya dibawa ke dokter. (5) Cara Memantau Efek Samping Vaksin di Rumah Setelah vaksinasi, luangkan waktu untuk memantau kondisi tubuh. Banyak fasilitas kesehatan juga meminta penerima vaksin menunggu beberapa saat setelah vaksinasi untuk memastikan tidak ada reaksi alergi segera. Hal yang bisa dilakukan di rumah: Catat waktu munculnya keluhan. Ukur suhu tubuh dengan termometer bila terasa demam. Pantau area suntikan: apakah bengkak bertambah besar, nyeri makin berat, atau muncul nanah. Pastikan cukup minum dan istirahat. Hindari aktivitas berat bila tubuh terasa tidak fit. Untuk anak, perhatikan apakah anak masih mau minum, masih responsif, dan tidak tampak sangat lemas. Gunakan obat penurun demam atau pereda nyeri hanya sesuai usia, dosis, dan arahan tenaga kesehatan, terutama pada bayi, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit tertentu. Jangan mengoleskan bahan yang tidak dianjurkan ke area suntikan. Jika area bekas suntikan terasa nyeri, kompres dingin dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman. (5) Kapan Efek Samping Vaksin Masih Bisa Dipantau di Rumah? Keluhan biasanya masih dapat dipantau di rumah bila: Demam ringan dan kondisi umum tetap baik. Nyeri atau bengkak di area suntikan tidak bertambah berat. Lelah atau pegal membaik setelah istirahat. Anak masih mau minum, masih responsif, dan tidak tampak sesak. Keluhan berangsur membaik dalam beberapa hari. Namun, tetap gunakan penilaian yang hati-hati. Bila Anda merasa khawatir atau keluhan tampak tidak biasa, lebih aman untuk mengunjungi dokter. Kapan Perlu ke Dokter Setelah Vaksin? Anda sebaiknya menghubungi dokter atau fasilitas kesehatan bila efek samping vaksin terasa mengkhawatirkan, tidak membaik dalam beberapa hari, atau kemerahan dan nyeri di area suntikan justru memburuk setelah 24 jam. CDC memberikan arahan serupa untuk menghubungi tenaga kesehatan bila efek samping terasa mengkhawatirkan atau tidak tampak membaik. (6) Segera kunjungi ke dokter bila mengalami: Demam tinggi atau demam tidak membaik. Nyeri, kemerahan, atau bengkak yang makin berat. Area suntikan terasa sangat panas, bernanah, atau nyeri berat. Anak menangis terus-menerus dan sulit ditenangkan. Anak tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak mau minum. Muntah berulang atau diare berat setelah vaksin. Keluhan berlangsung lebih lama dari yang dijelaskan tenaga kesehatan. Ada riwayat alergi berat atau reaksi berat pada vaksin sebelumnya. Untuk bayi kecil, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbid, atau orang dengan sistem imun lemah, jangan ragu tanya dokter lebih awal karena kebutuhan pemantauan bisa berbeda. Baca juga: Peran Vaksin Influenza pada Diabetes dan Risiko Jantung Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera ke IGD? Efek samping serius setelah vaksin jarang terjadi, tetapi tetap penting dikenali. Reaksi alergi berat atau anafilaksis biasanya muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah vaksinasi dan perlu penanganan segera. NHS menjelaskan bahwa reaksi alergi berat setelah vaksin sangat jarang dan petugas vaksinasi terlatih untuk menanganinya. (3) Segera ke IGD atau cari bantuan darurat bila muncul: Tanda BahayaMengapa Perlu Segera Ditangani?Sesak napas atau napas berbunyiBisa menjadi tanda reaksi alergi beratBengkak pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokanBisa mengganggu jalan napasRuam luas disertai lemas atau pusing beratDapat mengarah ke reaksi alergi beratPingsan atau penurunan kesadaranPerlu evaluasi segeraKejangPerlu penanganan medis segeraNyeri dada, jantung berdebar berat, atau tampak sangat lemahPerlu pemeriksaan untuk memastikan penyebabBayi tampak sangat lemas, kebiruan, atau sulit bernapasTermasuk kondisi darurat Jangan menunggu gejala menjadi lebih berat bila tanda-tanda di atas muncul. Apakah Efek Samping Berarti Vaksinnya Berbahaya? Tidak selalu. Efek samping ringan seperti nyeri bekas suntikan, demam ringan, atau lelah sementara dapat terjadi pada sebagian orang dan umumnya membaik. Vaksin, seperti produk kesehatan lain, dapat menimbulkan reaksi, tetapi manfaat vaksinasi adalah membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu dan membantu mengurangi risiko sakit berat sesuai jenis vaksinnya. (1)(7) Namun, vaksin tidak memberikan perlindungan 100%. Seseorang masih mungkin terkena penyakit setelah vaksinasi, tetapi pada banyak vaksin, tujuan pentingnya adalah membantu mengurangi risiko infeksi berat, komplikasi, rawat inap, atau penularan, tergantung jenis penyakit dan vaksin yang diberikan. (7) Keamanan vaksin juga dipantau melalui sistem pengawasan. WHO memiliki pendekatan penilaian kausalitas KIPI untuk membantu menilai apakah suatu kejadian setelah imunisasi berkaitan dengan vaksin atau ada penyebab lain. (4) Kelompok Perlu Perhatian Khusus Sebagian besar orang dapat menerima vaksin sesuai rekomendasi usia dan kondisi kesehatan. Namun, beberapa kelompok sebaiknya mengujungi dokter lebih dulu agar jenis dan waktu vaksinasi lebih tepat. kunjungi dokter bila Anda atau anggota keluarga: Pernah mengalami reaksi alergi berat terhadap vaksin sebelumnya. Memiliki alergi berat terhadap komponen vaksin tertentu. Sedang sakit sedang atau berat. Sedang hamil atau merencanakan kehamilan. Memiliki penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, atau gangguan paru. Mengalami gangguan sistem imun atau sedang memakai obat imunosupresif. Memiliki riwayat kejang atau gangguan saraf tertentu. Sedang menjalani terapi kanker atau transplantasi. Lansia dengan beberapa kondisi kesehatan sekaligus. CDC menjelaskan bahwa riwayat reaksi alergi berat terhadap dosis sebelumnya atau komponen vaksin dapat menjadi kontraindikasi pada beberapa vaksin, sedangkan sakit sedang atau berat dapat menjadi alasan untuk menunda vaksinasi hingga kondisi membaik. (8) Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayi Tips Agar Lebih Tenang Setelah Vaksinasi Agar pemantauan setelah vaksin lebih mudah, lakukan beberapa langkah sederhana berikut: Tanyakan kepada tenaga kesehatan efek samping apa yang mungkin muncul dari vaksin yang diterima. Tanyakan kapan harus kembali atau menghubungi fasilitas kesehatan. Simpan kartu atau catatan vaksinasi. Jangan langsung melakukan aktivitas berat bila tubuh terasa tidak nyaman. Minum cukup air. Untuk anak, siapkan termometer dan pantau suhu tubuh. Jangan memberikan obat pada bayi atau anak tanpa memastikan dosis yang tepat. Bila punya riwayat alergi, sampaikan sebelum vaksinasi. Tunggu di fasilitas vaksinasi sesuai arahan petugas setelah menerima vaksin. Sikap terbaik adalah tenang, tetapi tetap waspada. Tidak perlu panik terhadap keluhan ringan, tetapi jangan mengabaikan tanda bahaya. Cari Lokasi Vaksinasi Terdekat? Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, Puskesmas, atau klinik penyedia vaksin influenza di sekitar wilayah Anda. Cek Daftar Lokasi Klinik Kesimpulan Efek samping vaksin yang umum biasanya ringan dan sementara, seperti nyeri di area suntikan, bengkak ringan, demam ringan, lelah, sakit kepala, atau pegal. Keluhan ini umumnya membaik dalam beberapa hari dan dapat dipantau dengan istirahat, cukup cairan, serta perawatan sederhana sesuai arahan tenaga kesehatan. (1)(2) Namun, segera hubungi dokter bila keluhan terasa mengkhawatirkan, tidak membaik, atau justru memburuk. Segera cari pertolongan darurat bila muncul tanda alergi berat seperti sesak napas, bengkak wajah atau bibir, pingsan, kejang, atau penurunan kesadaran. (3)(6) Memahami efek samping vaksin dapat membantu keluarga mengambil keputusan dengan lebih tenang. Vaksinasi tetap perlu dilakukan sesuai usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan karena manfaatnya penting untuk membantu mengurangi risiko penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. (7) Referensi (1) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Possible side effects from vaccines.https://www.cdc.gov/vaccines/basics/possible-side-effects.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (2) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu KIPI: Penyebab, gejala, pencegahan dan penanganannya. Ayo Sehat Kemenkes.https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (3) National Health Service. (2023). 6-in-1 vaccine.https://www.nhs.uk/vaccinations/6-in-1-vaccine/(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (4) World Health Organization. (2021). Causality assessment of an adverse event following immunization (AEFI): User manual for the revised WHO classification, 2nd ed., 2019 update.https://www.who.int/publications/i/item/9789241516990(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (5) Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2013). Penjelasan kepada orangtua mengenai imunisasi.https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/penjelasan-kepada-orangtua-mengenai-imunisasi(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (6) Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Getting your COVID-19 vaccine.https://www.cdc.gov/covid/vaccines/getting-your-covid-19-vaccine.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (7) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Vaksinasi COVID-19.https://layanandata.kemkes.go.id/katalog-data/covid-19/ketersediaan-data/vaksinasi-covid-19(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (8) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Contraindications and precautions: Vaccines & immunizations.https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/imz-best-practices/contraindications-precautions.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-D7QK (07/27)