
Bagi banyak orang, diabetes sering hanya dikaitkan dengan gula darah. Padahal, ada risiko lain yang jauh lebih serius dan sering tidak disadari: penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke. Yang lebih mengejutkan, infeksi sederhana seperti influenza ternyata bisa menjadi “pemicu” yang memperburuk kondisi ini.
Di sinilah vaksin influenza memiliki peran yang sering terlewatkan—bukan hanya mencegah flu, tetapi juga membantu melindungi jantung.
Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dibandingkan populasi umum. Hal ini terjadi karena kombinasi beberapa faktor, seperti peradangan kronis, gangguan metabolisme, dan kerusakan pembuluh darah (2).
Selain itu, sistem imun pada pasien diabetes juga cenderung lebih lemah, sehingga lebih rentan terhadap infeksi (2). Akibatnya, ketika terjadi infeksi seperti influenza, dampaknya bisa lebih berat dan memicu komplikasi serius.
Banyak orang menganggap influenza hanya menyerang saluran napas. Padahal, infeksi influenza dapat memicu respons inflamasi sistemik yang berdampak pada seluruh tubuh, termasuk sistem kardiovaskular (3). Beberapa studi menunjukkan bahwa:
● Risiko serangan jantung meningkat signifikan dalam waktu singkat setelah infeksi influenza (3)
● Risiko stroke juga meningkat dalam periode yang sama (3)
Artinya, influenza bisa menjadi “trigger” bagi kejadian kardiovaskular, terutama pada individu dengan kondisi kronis seperti diabetes.
Baik diabetes maupun prediabetes sama-sama meningkatkan risiko komplikasi. Pada kondisi ini, tubuh sudah mengalami gangguan metabolisme yang membuat respons terhadap infeksi menjadi lebih berat (2).
Ketika influenza terjadi, kombinasi antara peradangan, peningkatan beban kerja jantung, dan gangguan pembuluh darah dapat memperburuk kondisi kardiovaskular (3).
Vaksin influenza tidak hanya melindungi dari infeksi, tetapi juga membantu mengurangi risiko komplikasi serius, termasuk yang berkaitan dengan jantung.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa vaksin influenza dapat:
● Menurunkan risiko kejadian kardiovaskular
● Mengurangi angka rawat inap
● Menurunkan risiko kematian pada pasien dengan penyakit kronis (4)
Dengan kata lain, vaksin influenza dapat menjadi bagian dari strategi perlindungan jangka panjang bagi pasien diabetes.
Pada pasien diabetes, risiko dasar terhadap komplikasi sudah lebih tinggi.
Artinya, manfaat vaksin menjadi lebih signifikan dibandingkan pada populasi umum. Vaksin influenza juga direkomendasikan sebagai bagian dari pencegahan pada kelompok berisiko tinggi oleh berbagai organisasi kesehatan global (1).
Kelompok yang dianjurkan untuk mendapatkan vaksin influenza meliputi:
● Pasien diabetes
● Individu dengan prediabetes
● Pasien dengan penyakit kardiovaskular
Vaksinasi tahunan menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi kesehatan tetap stabil dan mencegah komplikasi.
Diabetes bukan hanya tentang gula darah—tetapi juga tentang risiko komplikasi serius, terutama penyakit jantung. Infeksi influenza dapat memperburuk kondisi tersebut dan meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular.
Melalui vaksinasi influenza, risiko ini dapat ditekan secara signifikan.
Karena itu, vaksin influenza bukan hanya perlindungan dari flu, tetapi juga bagian penting dari perlindungan jantung.
Referensi
Ketahui langkah perlindungan yang dapat membantu mengurangi risiko komplikasi serius pada penderita diabetes.
Penularan HFMD pada anak terutama dapat terjadi melalui empat jalur, yaitu percikan dan cairan saluran pernapasan, kontak dengan tinja, cairan dari lepuhan kulit, serta benda atau permukaan yang telah terkontaminasi virus. Penularan lebih mudah terjadi ketika anak bermain atau berinteraksi dekat di rumah, sekolah, daycare, dan tempat bermain. HFMD atau Hand, Foot, and Mouth Disease adalah penyakit infeksi virus yang paling sering menyerang anak kecil, terutama anak berusia di bawah lima tahun. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan dapat membaik, tetapi luka di mulut dapat membuat anak sulit minum hingga berisiko mengalami dehidrasi. (1)(2) Mengetahui jalur penularannya dapat membantu orang tua melakukan pencegahan secara lebih tepat tanpa harus membatasi seluruh aktivitas anak secara berlebihan. Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan. Pemeriksaan, penanganan, serta rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia anak, gejala, kondisi kesehatan, riwayat alergi, riwayat vaksin sebelumnya, dan pertimbangan klinis dokter. Segera konsultasikan kondisi anak apabila anak sulit minum, tampak sangat lemas, mengalami penurunan kesadaran, kejang, sesak, demam menetap, atau menunjukkan tanda dehidrasi. Apa Itu HFMD pada Anak? HFMD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kelompok virus enterovirus. Virus yang sering dikaitkan dengan penyakit ini antara lain Coxsackievirus A16, Coxsackievirus A6, dan Enterovirus 71 atau EV71. (1)(3) Gejala HFMD umumnya meliputi: Demam. Nyeri tenggorokan. Nafsu makan berkurang. Sariawan atau luka yang terasa nyeri di dalam mulut. Ruam atau lepuhan kecil di telapak tangan dan telapak kaki. Ruam di bokong, lengan, tungkai, atau sekitar area genital pada sebagian anak. HFMD pada manusia berbeda dengan penyakit mulut dan kuku pada hewan. Penyebabnya berbeda dan HFMD tidak ditularkan dari hewan ternak kepada manusia. (3)(4) Penyakit ini lebih sering ditemukan pada bayi dan anak kecil, tetapi anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa juga dapat terinfeksi. Bahkan, seseorang yang terinfeksi dapat tidak menunjukkan gejala tetapi tetap berpotensi membawa dan menyebarkan virus. (1)(2) Mengapa HFMD Mudah Menular di Antara Anak? Anak kecil sering menyentuh mainan, memasukkan tangan ke mulut, berbagi benda, atau bermain dengan jarak yang sangat dekat. Kebiasaan tersebut merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang, tetapi juga mempermudah perpindahan virus. Tempat dengan interaksi anak yang cukup intensif dapat menjadi lokasi penularan, seperti: Rumah dengan beberapa anak. PAUD, taman kanak-kanak, dan sekolah. Daycare atau tempat penitipan anak. Playground dan ruang bermain bersama. Tempat makan atau kegiatan keluarga. Fasilitas umum dengan banyak benda yang disentuh bersama. Seseorang yang terkena HFMD biasanya paling mudah menularkan penyakit pada minggu pertama. Namun, virus masih dapat ditemukan dalam tubuh, terutama pada tinja, selama beberapa waktu setelah gejalanya membaik. Karena itu, kebiasaan mencuci tangan tetap perlu dilanjutkan meskipun anak sudah terlihat sehat. (4)(5) Waspadai 4 Cara Penularan HFMD pada Anak 1. Melalui Percikan dan Cairan Saluran Pernapasan Virus penyebab HFMD dapat ditemukan dalam air liur, lendir hidung, dan cairan tenggorokan orang yang terinfeksi. Percikan kecil dapat keluar ketika anak batuk, bersin, berbicara, atau menangis dari jarak dekat. (1)(3) Penularan dapat terjadi ketika anak: Berbicara atau bermain sangat dekat dengan anak yang sedang sakit. Terkena percikan batuk atau bersin. Berpelukan atau berciuman dengan orang yang terinfeksi. Berbagi gelas, sendok, botol minum, atau alat makan. Menggunakan saputangan atau handuk yang sama. HFMD memang dapat menyebar melalui percikan pernapasan. Namun, penyebutannya sebagai “penularan melalui udara” perlu dipahami secara hati-hati. Penularan terutama berkaitan dengan percikan dan kontak dekat, bukan berarti virus selalu menyebar jauh melalui udara seperti asap. Cara mengurangi risikonya: Ajarkan anak menutup batuk dan bersin dengan siku bagian dalam. Buang tisu bekas segera ke tempat sampah tertutup. Jangan berbagi alat makan dan botol minum. Kurangi kontak dekat dengan anak yang sedang mengalami gejala. Bersihkan tangan setelah menyeka hidung atau air liur anak. 2. Melalui Tinja dan Tangan yang Terkontaminasi Virus penyebab HFMD dapat keluar bersama tinja orang yang terinfeksi. Penularan ini sering disebut jalur fekal-oral, yaitu ketika partikel virus dari tinja berpindah ke tangan, benda, makanan, atau mulut orang lain. (2)(4) Situasi yang perlu diperhatikan antara lain: Mengganti popok anak yang terinfeksi. Membantu anak menggunakan toilet. Anak belum mencuci tangan setelah buang air. Membersihkan toilet atau pispot tanpa mencuci tangan sesudahnya. Menyiapkan makanan setelah mengganti popok. Anak menyentuh benda dengan tangan yang belum bersih. Jumlah kotoran yang terlihat tidak harus banyak agar terjadi kontaminasi. Karena itu, tangan yang tampak bersih tetap perlu dicuci dengan sabun dan air mengalir. SituasiLangkah pencegahanMengganti popokBuang popok dengan benar dan cuci tangan setelahnyaMembersihkan pispotBersihkan alat dan area di sekitarnyaMembantu anak di toiletPastikan anak dan pendamping mencuci tanganMenyiapkan makananCuci tangan terlebih dahuluMembersihkan tinja atau muntahanGunakan sarung tangan bila tersedia, lalu cuci tangan Mencuci tangan sangat penting setelah mengganti popok, setelah menggunakan toilet, sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, dan setelah membersihkan cairan tubuh anak. 3. Melalui Cairan dari Lepuhan Kulit Ruam HFMD dapat berkembang menjadi lepuhan kecil yang berisi cairan. Cairan dari lepuhan tersebut dapat mengandung virus dan berpotensi menularkan infeksi jika mengenai tangan atau kulit orang lain. (1)(5) Risiko penularan dapat meningkat ketika: Lepuhan disentuh atau digaruk. Lepuhan pecah dan cairannya mengenai tangan. Anak berbagi handuk, pakaian, atau perlengkapan pribadi. Cairan lepuhan mengenai seprai atau permukaan benda. Orang lain membersihkan kulit anak tanpa mencuci tangan setelahnya. Lepuhan tidak perlu sengaja dipecahkan. Memecahkan atau menggaruk lepuhan dapat menyebabkan iritasi, luka terbuka, dan meningkatkan risiko infeksi bakteri sekunder. Langkah yang dapat dilakukan: Jaga area ruam tetap bersih. Potong kuku anak agar tidak mudah melukai kulit. Hindari mengoleskan obat sembarangan. Jangan berbagi handuk dan pakaian. Cuci tangan setelah merawat atau menyentuh area ruam. Konsultasikan dengan dokter bila kulit menjadi sangat merah, bengkak, bernanah, atau terasa semakin nyeri. 4. Melalui Mainan, Alat Makan, dan Permukaan Terkontaminasi Virus dapat berpindah ke benda ketika seseorang yang terinfeksi menyentuhnya dengan tangan yang terkontaminasi atau ketika percikan cairan tubuh mengenai permukaan tersebut. Anak lain kemudian dapat menyentuh benda yang sama dan memasukkan tangan ke mulut, hidung, atau mata. (1)(2) Benda yang sering disentuh bersama meliputi: Mainan. Gagang pintu. Meja dan kursi. Botol minum. Peralatan makan. Alat tulis. Tablet atau telepon genggam. Pagar tempat tidur. Permukaan toilet. Peralatan bermain. Benda tidak selalu tampak kotor meskipun telah terkontaminasi. Oleh karena itu, membersihkan benda yang sering disentuh menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan. Prioritas pembersihan di rumah atau daycare: Mainan yang sering masuk ke mulut. Meja makan dan kursi anak. Gagang pintu dan sakelar. Toilet, pispot, dan area mengganti popok. Peralatan elektronik yang digunakan bersama. Botol minum dan alat makan. Gunakan produk pembersih atau disinfektan sesuai petunjuk pada label. Jangan mencampur berbagai cairan pembersih karena dapat menghasilkan uap berbahaya. Ringkasan Empat Jalur Penularan HFMD Cara penularanContoh sehari-hariPencegahan utamaPercikan dan cairan pernapasanBatuk, bersin, air liur, berbagi alat makanEtika batuk dan hindari berbagi barang pribadiTinjaMengganti popok dan membantu anak di toiletCuci tangan dengan sabunCairan lepuhanMenyentuh atau memecahkan lepuhanHindari menyentuh dan jaga kulit tetap bersihBenda terkontaminasiMainan, meja, gagang pintu, botol minumBersihkan permukaan yang sering disentuh Baca juga: Panduan Vaksinasi Keluarga Indonesia: Anak, Dewasa, dan Lansia Bagaimana Mencegah Penularan HFMD di Rumah? Tidak semua paparan dapat dicegah sepenuhnya. Namun, beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi risiko penyebaran. Checklist pencegahan untuk keluarga Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Dampingi anak kecil ketika mencuci tangan. Jangan berbagi sendok, gelas, botol minum, dan handuk. Bersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh. Cuci tangan setiap selesai mengganti popok. Ajarkan etika batuk dan bersin. Kurangi kontak erat ketika anggota keluarga sedang sakit. Jangan sengaja memecahkan lepuhan. Bersihkan peralatan makan dengan baik. Pantau anak lain di rumah jika mulai mengalami demam atau sariawan. Sabun dan air mengalir penting terutama ketika tangan terlihat kotor, setelah menggunakan toilet, dan setelah mengganti popok. Pembersih tangan berbasis alkohol dapat digunakan dalam kondisi tertentu, tetapi tidak selalu menggantikan kebutuhan mencuci tangan dengan sabun. Apakah Anak dengan HFMD Boleh Sekolah? Anak yang sedang demam, tampak tidak sehat, memiliki luka mulut yang menyebabkan air liur sulit dikendalikan, atau tidak mampu mengikuti kegiatan sebaiknya beristirahat di rumah dan diperiksakan bila diperlukan. Keputusan kembali ke sekolah atau daycare perlu mempertimbangkan: Kondisi umum anak. Ada atau tidaknya demam. Kemampuan makan dan minum. Kemampuan mengikuti kegiatan. Kebijakan sekolah atau daycare. Saran dokter atau tenaga kesehatan. Ketentuan dari dinas kesehatan setempat jika sedang terjadi peningkatan kasus. Virus dapat tetap dikeluarkan setelah gejala membaik. Karena itu, menunggu hingga virus sama sekali tidak ditemukan biasanya tidak praktis. Kebersihan tangan, toilet, mainan, dan permukaan tetap menjadi langkah utama setelah anak kembali beraktivitas. (2)(5) Apakah Ada Vaksin untuk HFMD? Vaksin EV71 telah terdaftar di Indonesia untuk membantu Mencegah HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Namun, vaksin ini tidak melindungi terhadap seluruh virus penyebab HFMD, seperti Coxsackievirus A16 atau tipe enterovirus lainnya. Penggunaannya perlu berdasarkan usia yang disetujui, kondisi kesehatan anak, dan rekomendasi dokter. (6) Artinya, anak yang telah menerima vaksin EV71 tetap perlu menjalankan kebiasaan pencegahan seperti mencuci tangan, membersihkan mainan, dan menghindari berbagi alat makan. Vaksin juga tidak memberi perlindungan 100%. Tujuannya adalah membantu tubuh membentuk respons imun terhadap virus yang menjadi target vaksin. Efek samping setelah vaksinasi umumnya dapat berupa reaksi ringan seperti nyeri atau kemerahan di lokasi suntikan dan demam. Efek samping serius dapat terjadi tetapi jarang. Orang tua perlu mengikuti petunjuk observasi setelah vaksinasi dan mencari bantuan medis jika muncul sesak, pembengkakan berat, penurunan kesadaran, atau tanda reaksi alergi berat. (6) Baca juga: Artikel Edukasi Vaksin dan Pencegahan Penyakit Kapan Anak dengan HFMD Perlu Dibawa ke Dokter? Sebagian besar anak dapat membaik dengan perawatan suportif. Namun, orang tua perlu memperhatikan kemampuan anak minum dan kondisi umumnya. Konsultasikan anak kepada dokter apabila: Anak sulit minum karena luka di mulut. Buang air kecil lebih sedikit daripada biasanya. Mulut dan bibir tampak kering. Anak tidak mengeluarkan air mata saat menangis. Anak tampak sangat lemas atau terus mengantuk. Demam menetap atau kondisi tidak membaik. Anak masih bayi, terutama berusia di bawah enam bulan. Anak memiliki gangguan sistem imun atau penyakit kronis. Ruam tampak bernanah, membengkak, atau semakin nyeri. Segera cari pertolongan medis apabila anak mengalami kejang, kesulitan bernapas, penurunan kesadaran, kelemahan anggota tubuh, sakit kepala berat, leher kaku, atau kondisi memburuk dengan cepat. Komplikasi berat HFMD jarang terjadi, tetapi memerlukan pemeriksaan dan penanganan segera. (2)(3) Dimana Bisa Mendapatkan Informasi Tentang Vaksin HFMD? Vaksin EV71 dapat ditanyakan di rumah sakit, klinik anak, atau fasilitas vaksinasi resmi yang menyediakan layanan tersebut. Ketersediaannya dapat berbeda di setiap fasilitas dan wilayah. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan. Konsultasi diperlukan untuk memastikan bahwa usia anak, kondisi kesehatan, riwayat alergi, jadwal pemberian, dan jenis vaksin telah sesuai. Perlu dipahami bahwa vaksin EV71 ditujukan untuk membantu melindungi dari HFMD akibat EV71, bukan seluruh penyebab HFMD. Pencegahan melalui kebersihan tangan, pengelolaan popok, pembersihan mainan, dan pembatasan kontak ketika sakit tetap diperlukan. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, klinik anak, atau fasilitas vaksinasi resmi di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Empat cara penularan HFMD pada anak adalah melalui percikan dan cairan saluran pernapasan, kontak dengan tinja, cairan lepuhan, serta benda atau permukaan yang terkontaminasi. Penularan mudah terjadi ketika anak berinteraksi dekat, berbagi benda, atau belum terbiasa menjaga kebersihan tangan. Pencegahan tidak harus dilakukan dengan rasa panik. Kebiasaan mencuci tangan, membersihkan mainan dan permukaan, tidak berbagi alat makan, mengelola popok dengan aman, serta mengistirahatkan anak yang sedang sakit dapat membantu mengurangi risiko penyebaran. Orang tua juga dapat berdiskusi dengan dokter mengenai pilihan perlindungan tambahan, termasuk vaksin EV71 sesuai usia dan kondisi anak. Vaksin tidak melindungi dari seluruh penyebab HFMD sehingga tetap perlu disertai perilaku hidup bersih. Referensi Centers for Disease Control and Prevention. (2024). HFMD: Causes and how it spreads.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/causes/index.html(dikutip pada 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About hand, foot, and mouth disease.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html(dikutip pada 16 Juli 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD).https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/hand-foot-mouth-and-disease-hfmd(dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kenali penyakit Hand Foot and Mouth Disease (HFMD) pada anak di masa peralihan musim.https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2023/kenali-penyakit-hand-foot-and-mouth-disease-hfmd-pada-anak-di-masa-peralihan-musim(dikutip pada 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Hand, foot and mouth disease in Viet Nam.https://www.who.int/vietnam/health-topics/hand-foot-and-mouth-disease-%28hfmd%29(dikutip pada 16 Juli 2026). Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2026). Informasi produk vaksin Enterovirus tipe 71, inaktif.https://registrasiobat.pom.go.id/files/assesment-reports/01771903571.pdf(dikutip pada 16 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-BCNV (07/27)
Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Flu Singapura (istilah awam yang digunakan) adalah penyakit tangan, kaki, dan mulut. Penyakit ini disebabkan oleh kelompok virus enterovirus, terutama Coxsackievirus dan Enterovirus 71 atau EV71. Flu Singapura paling sering menyerang bayi dan anak kecil, tetapi orang dewasa juga tetap bisa tertular. (1)(2) Gejala khas HFMD biasanya meliputi demam, sakit tenggorokan, sariawan atau luka di mulut, serta ruam atau lepuh kecil di telapak tangan, telapak kaki, dan kadang area bokong, lengan, atau tungkai. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan membaik dalam 7–10 hari, tetapi anak tetap perlu dipantau karena sariawan dapat membuat anak sulit minum dan berisiko dehidrasi. (2)(3) HFMD mudah menular melalui air liur, cairan hidung dan tenggorokan, percikan batuk atau bersin, cairan dari lepuh, tinja, serta permukaan benda yang terkontaminasi. Karena itu, kebersihan tangan, disinfeksi mainan, dan menghindari kontak dekat saat sakit menjadi langkah pencegahan penting. (1)(2) Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, dokter anak, bidan, atau tenaga kesehatan. Gejala, tingkat keparahan, pemeriksaan, pengobatan, dan rekomendasi pencegahan dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, status imun, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, serta ketersediaan layanan atau vaksin di fasilitas kesehatan. Jika anak tampak lemas, sulit minum, demam tinggi, kejang, sesak, atau gejala memburuk, segera konsultasikan ke tenaga kesehatan. Apa Itu Flu Singapura atau HFMD? Flu Singapura atau HFMD adalah penyakit infeksi virus yang menyerang area mulut, tangan, dan kaki. Walaupun namanya mengandung kata “flu”, penyakit ini bukan influenza. HFMD juga berbeda dari penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan. HFMD pada manusia tidak sama dengan PMK pada sapi, kambing, atau hewan ternak, dan penyebabnya juga berbeda. (1)(2) Penyakit ini sering muncul pada anak-anak, terutama usia balita, karena anak pada usia ini masih sering memasukkan tangan atau benda ke mulut, bermain berdekatan, dan belum selalu konsisten menjaga kebersihan tangan. Di lingkungan seperti daycare, PAUD, TK, sekolah, atau rumah dengan beberapa anak, penularan bisa terjadi lebih cepat bila kebersihan tidak dijaga dengan baik. (2)(3) Sebagian orang tua mengenal penyakit ini sebagai “flu Singapura” karena istilah tersebut sudah populer di masyarakat. Namun secara medis, istilah yang lebih tepat adalah HFMD atau penyakit tangan, kaki, dan mulut. Mengapa HFMD Perlu Diwaspadai? Pada banyak kasus, HFMD bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri. Namun, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena sangat mudah menular, terutama pada anak-anak yang beraktivitas di lingkungan bersama seperti sekolah, daycare, atau tempat bermain. Anak yang sedang sakit juga bisa merasa sangat tidak nyaman karena sariawan membuat makan dan minum menjadi sulit. Hal yang paling sering dikhawatirkan pada anak dengan HFMD adalah dehidrasi. Dehidrasi dapat terjadi ketika anak menolak minum karena luka di mulut terasa perih. Pada sebagian kecil kasus, HFMD juga dapat menimbulkan komplikasi yang lebih berat, terutama bila berkaitan dengan jenis virus tertentu seperti EV71. Komplikasi berat seperti gangguan saraf, meningitis, atau ensefalitis memang jarang, tetapi tetap perlu diperhatikan. (4)(5) Karena itu, orang tua tidak perlu panik, tetapi perlu memahami gejala, cara penularan, langkah pencegahan, dan tanda kapan anak harus diperiksa dokter. Penyebab HFMD HFMD disebabkan oleh virus dari keluarga enterovirus. Beberapa jenis virus yang sering dikaitkan dengan HFMD antara lain: PenyebabKeterangan SingkatCoxsackievirus A16Salah satu penyebab umum HFMD.Coxsackievirus A6Dapat menyebabkan gejala yang lebih luas atau tidak khas pada sebagian kasus.Enterovirus 71 atau EV71Dapat dikaitkan dengan kasus yang lebih berat, termasuk komplikasi saraf yang jarang terjadi. Karena HFMD disebabkan oleh virus, antibiotik umumnya tidak diperlukan. Antibiotik hanya bekerja untuk infeksi bakteri, bukan infeksi virus. Pengobatan HFMD biasanya bersifat suportif, yaitu membantu meredakan gejala, menjaga anak tetap nyaman, dan mencegah dehidrasi. (3)(6) Gejala HFMD yang Perlu Dikenali Gejala HFMD biasanya muncul beberapa hari setelah anak terpapar virus. Pada awalnya, gejala bisa mirip infeksi virus biasa, seperti demam, sakit tenggorokan, dan anak tampak tidak enak badan. Setelah itu, biasanya muncul luka di mulut dan ruam pada tangan atau kaki. (2)(3) Gejala yang umum meliputi: Demam Sakit tenggorokan Anak tampak lemas atau tidak nyaman Nafsu makan menurun Sariawan atau luka di mulut Nyeri saat menelan Ruam atau bintik merah di telapak tangan dan kaki Lepuh kecil yang kadang muncul di bokong, lengan, tungkai, atau sekitar area kemaluan IDAI menjelaskan bahwa HFMD umumnya diawali demam, nyeri tenggorokan atau nyeri menelan, nafsu makan menurun, lalu 1–2 hari kemudian muncul bintik merah di rongga mulut yang dapat pecah menjadi sariawan. Setelah itu, ruam dapat muncul di telapak tangan dan kaki. (5) Tabel Ringkas Gejala HFMD Fase GejalaYang Bisa TerjadiCatatan untuk Orang TuaAwalDemam, sakit tenggorokan, tidak enak badanMirip infeksi virus biasa.MulutSariawan, luka kecil, nyeri menelanAnak bisa menolak makan atau minum.KulitRuam atau lepuh di tangan, kaki, bokongJangan memecahkan lepuh. Jaga tetap bersih.PemulihanGejala membaik bertahapUmumnya membaik dalam 7–10 hari. Bagaimana HFMD Menular? HFMD termasuk penyakit yang mudah menular. Virus dapat menyebar melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi. Penularan dapat terjadi dari: Percikan batuk, bersin, atau saat berbicara Air liur Cairan dari lepuh kulit Tinja, terutama saat mengganti popok atau setelah anak buang air Mainan, gagang pintu, meja, alat makan, atau permukaan yang terkontaminasi Kontak dekat seperti berpelukan, mencium, atau berbagi alat makan dan minum (2)(3) Orang dengan HFMD biasanya paling mudah menularkan pada minggu pertama sakit. Namun, virus masih bisa keluar melalui tinja selama beberapa waktu setelah gejala membaik. Karena itu, kebiasaan cuci tangan tetap penting meskipun anak sudah tampak sehat. (2)(6) Apakah HFMD Berbahaya? Pada banyak anak, HFMD bersifat ringan dan dapat membaik dalam 7–10 hari. Namun, bukan berarti penyakit ini boleh diabaikan. Risiko yang paling sering dikhawatirkan adalah dehidrasi, terutama bila sariawan membuat anak sulit minum, menolak menyusu, atau menangis saat menelan. (3)(6) Komplikasi berat tergolong jarang, tetapi bisa terjadi pada sebagian kecil kasus, terutama yang terkait jenis virus tertentu seperti EV71. Karena itu, orang tua perlu memahami tanda bahaya dan tidak ragu berkonsultasi jika kondisi anak tampak tidak biasa. (4)(5) HFMD juga dapat menular dalam lingkungan keluarga. Bila satu anak terkena, saudara kandung atau anggota keluarga lain bisa ikut tertular, terutama bila berbagi alat makan, handuk, mainan, atau tidak mencuci tangan setelah kontak dengan cairan tubuh anak yang sakit. Baca juga: Panduan Vaksinasi untuk Keluarga Indonesia Perawatan HFMD di Rumah: Apa yang Bisa Dilakukan? Tidak ada terapi antivirus spesifik yang secara rutin digunakan untuk menyembuhkan HFMD. Perawatan biasanya bertujuan membantu anak lebih nyaman, menjaga asupan cairan, dan meredakan gejala. (3)(6) Yang bisa dilakukan di rumah: Pastikan anak cukup minum. Berikan makanan lembut seperti bubur, sup hangat suam-suam kuku, yoghurt, atau makanan yang mudah ditelan. Hindari makanan terlalu panas, pedas, asam, atau asin karena bisa memperparah nyeri sariawan. Gunakan obat penurun demam atau nyeri hanya sesuai dosis usia dan anjuran tenaga kesehatan. Jangan memecahkan lepuh. Jaga kuku anak tetap pendek agar tidak menggaruk lepuh. Bersihkan mainan, meja, gagang pintu, dan permukaan yang sering disentuh. Ajarkan anak menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin. Jika anak masih bayi, sulit minum, muntah terus, atau tampak lemas, sebaiknya jangan menunggu terlalu lama untuk berkonsultasi ke dokter. Kapan Harus Konsultasi ke Dokter? Konsultasi dokter diperlukan bila gejala anak tidak membaik, memburuk, atau muncul tanda yang mengkhawatirkan. NHS menyarankan pemeriksaan bila gejala tidak membaik setelah 7–10 hari, anak tidak mau minum, muncul tanda dehidrasi, demam sangat tinggi, atau ada gejala berat seperti kejang, kebingungan, kelemahan, atau penurunan kesadaran. (6)(7) Segera konsultasikan ke dokter jika: KondisiMengapa Perlu DiperiksaAnak sulit atau tidak mau minumRisiko dehidrasi meningkat.Buang air kecil jauh berkurangBisa menjadi tanda kekurangan cairan.Demam tinggi atau demam tidak membaikPerlu evaluasi penyebab dan kondisi umum anak.Anak sangat lemas, mengantuk terus, atau tampak tidak responsifBisa menandakan kondisi lebih serius.Kejang, bingung, leher kaku, atau kelemahan anggota gerakPerlu pemeriksaan segera.Ruam tampak bernanah, sangat merah, bengkak, atau nyeriBisa mengarah ke infeksi kulit sekunder.Bayi kecil, anak dengan daya tahan tubuh lemah, atau anak dengan penyakit kronisPerlu pemantauan lebih hati-hati.Ibu hamil terpapar atau mengalami HFMDSebaiknya konsultasi karena kondisi tiap kehamilan berbeda. Ibu hamil yang terpapar anak dengan HFMD sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, terutama bila mengalami demam, ruam, luka mulut, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Konsultasi membantu memastikan kondisi ibu dan janin tetap terpantau dengan baik. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanannya Pencegahan HFMD di Rumah, Sekolah, dan Daycare Pencegahan HFMD berfokus pada kebersihan dan mengurangi kontak dengan sumber penularan. Karena virus dapat berada di tangan, tinja, cairan hidung, air liur, dan permukaan benda, langkah sederhana yang dilakukan konsisten bisa sangat membantu. (2)(6) Checklist Pencegahan Harian Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah dari toilet, mengganti popok, sebelum makan, dan setelah membersihkan ingus anak. Ajarkan anak tidak berbagi gelas, botol minum, sendok, garpu, atau handuk. Bersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh. Gunakan tisu saat batuk atau bersin, lalu buang tisu dan cuci tangan. Hindari mencium atau memeluk anak yang sedang sakit HFMD. Jika anak sedang tidak enak badan, beri waktu istirahat di rumah. Beri tahu sekolah atau daycare bila anak didiagnosis HFMD agar kebersihan lingkungan dapat diperkuat. Di rumah, orang tua juga bisa memisahkan sementara alat makan, handuk, dan perlengkapan pribadi anak yang sedang sakit. Setelah mengganti popok atau membantu anak ke toilet, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Langkah sederhana ini penting karena virus HFMD dapat menyebar melalui tinja. (2)(6) Baca juga: HFMD pada Anak: Bahaya EV71 dan Pentingnya Vaksin Pencegahan Kapan Anak Boleh Masuk Sekolah Lagi? Secara umum, anak sebaiknya beristirahat di rumah saat masih demam, lemas, sangat rewel, atau belum mampu mengikuti aktivitas sekolah dengan nyaman. NHS menyebut anak dapat kembali ke sekolah atau nursery ketika sudah merasa lebih baik, dan tidak selalu harus menunggu semua lepuh hilang. Namun, kebijakan sekolah atau daycare bisa berbeda, sehingga orang tua sebaiknya mengikuti arahan fasilitas pendidikan dan dokter yang memeriksa. (6) Yang paling penting, pastikan anak: Sudah tidak demam Kondisi umum membaik Sudah bisa makan dan minum lebih baik Mampu menjaga kebersihan dasar Tidak membutuhkan perawatan intensif di rumah Jika sekolah atau daycare memiliki aturan khusus terkait HFMD, ikuti kebijakan tersebut untuk membantu melindungi anak lain dan mencegah penularan lebih luas. Apakah Ada Vaksin untuk HFMD? HFMD dapat disebabkan oleh beberapa jenis enterovirus. Karena penyebabnya beragam, pencegahan tetap memerlukan kebersihan tangan, pembersihan benda yang sering disentuh, pengurangan kontak saat sakit, dan konsultasi dengan tenaga kesehatan. Vaksin EV71 dapat dipertimbangkan untuk membantu mencegah HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71 sesuai indikasi yang disetujui. Vaksin ini tidak melindungi dari semua penyebab HFMD dan tidak memberikan perlindungan 100%. Keputusan vaksinasi sebaiknya dilakukan bersama dokter dengan mempertimbangkan usia anak, kondisi kesehatan, riwayat alergi, ketersediaan vaksin, dan informasi produk yang disetujui. (2)(4) Jika orang tua mempertimbangkan vaksin EV71 untuk pencegahan HFMD berat, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter anak atau fasilitas vaksinasi resmi. Tenaga kesehatan dapat membantu menjelaskan manfaat, keterbatasan perlindungan, jadwal pemberian, kemungkinan efek samping, serta apakah anak termasuk kandidat yang sesuai. Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin atau Konsultasi Pencegahan HFMD? Sebelum vaksinasi atau konsultasi pencegahan HFMD, sebaiknya diskusikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk bayi, anak kecil, anak dengan komorbid, anak dengan riwayat alergi berat, atau anak dengan daya tahan tubuh lemah. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, jadwal, manfaat, keterbatasan perlindungan, dan kondisi kesehatan anak sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, klinik anak, atau klinik vaksinasi resmi di sekitar wilayah Anda. Pastikan fasilitas yang dipilih memiliki tenaga kesehatan kompeten dan mengikuti regulasi yang berlaku. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Flu Singapura atau HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease) adalah penyakit infeksi virus yang sering menyerang anak, terutama balita. Gejalanya dapat berupa demam, sariawan, nyeri menelan, serta ruam atau lepuh di tangan, kaki, dan kadang area tubuh lain. Sebagian besar kasus membaik dalam 7–10 hari, tetapi orang tua tetap perlu waspada terhadap tanda dehidrasi, demam tinggi, kejang, penurunan kesadaran, atau gejala yang memburuk. (2)(3)(6) Pencegahan HFMD dilakukan dengan cuci tangan, membersihkan permukaan dan mainan, tidak berbagi alat makan, menghindari kontak dekat saat sakit, serta berkonsultasi ke dokter bila anak berisiko atau gejala mengkhawatirkan. Vaksin EV71 untuk pencegahan HFMD berat, tetapi keputusan vaksinasi sebaiknya dilakukan bersama tenaga kesehatan sesuai usia, kondisi anak, ketersediaan vaksin, dan regulasi terbaru. Referensi (1) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kenali Penyakit Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) pada Anak di Masa Peralihan Musim.https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2023/kenali-penyakit-hand-foot-and-mouth-disease-hfmd-pada-anak-di-masa-peralihan-musim(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (2) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Hand, Foot, and Mouth Disease.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (3) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). HFMD Symptoms and Complications.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/signs-symptoms/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (4) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). HFMD: Causes and How It Spreads.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/causes/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (5) Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD).https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/hand-foot-mouth-and-disease-hfmd(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (6) NHS. (2024). Hand, foot and mouth disease.https://www.nhs.uk/conditions/hand-foot-mouth-disease/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (7) NHS Inform. (2026). Hand, foot and mouth disease.https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/infections-and-poisoning/hand-foot-and-mouth-disease/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (8) MSD Manual Professional Edition. (2025). Hand-Foot-and-Mouth Disease (HFMD).https://www.msdmanuals.com/professional/infectious-diseases/enteroviruses/hand-foot-and-mouth-disease-hfmd(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Kode promat: ID-INL-2026-07-CXHP(07/27)

Memasuki trimester kedua, sebagian ibu mulai merasa lebih nyaman menjalani kehamilan. Keluhan mual biasanya mulai berkurang, sementara pemeriksaan kehamilan semakin berfokus pada perkembangan janin dan persiapan menuju trimester berikutnya. Pada tahap ini, riwayat vaksinasi ibu juga penting untuk diperiksa. Vaksin ibu hamil trimester 2 adalah vaksin yang dapat diberikan atau mulai direncanakan pada usia kehamilan sekitar 14–27 minggu, sesuai jenis vaksin, riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko paparan, serta rekomendasi dokter. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada setiap trimester. Imunisasi yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, atau pertusis dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat vaksin dan pedoman yang digunakan. Dalam sejumlah panduan internasional, Tdap dianjurkan pada setiap kehamilan, terutama pada usia 27–36 minggu agar transfer antibodi kepada bayi berlangsung optimal. (1)(2) Tidak semua ibu hamil membutuhkan jenis vaksin yang sama. Vaksin hepatitis B dan beberapa vaksin nonhidup lainnya biasanya diberikan berdasarkan faktor risiko atau indikasi medis. Sementara itu, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya ditunda sampai setelah persalinan. (1)(3) Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, risiko paparan, regulasi, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Mengapa Vaksinasi Penting pada Trimester Kedua? Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut diperlukan untuk mendukung pertumbuhan janin, tetapi pada saat bersamaan dapat membuat ibu lebih berisiko mengalami penyakit berat akibat infeksi tertentu, termasuk influenza. (1)(4) Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan dua bentuk perlindungan: Perlindungan bagi ibu, dengan membantu sistem imun mengenali penyebab penyakit tertentu. Perlindungan awal bagi bayi, melalui antibodi ibu yang dapat ditransfer melalui plasenta. Antibodi yang diterima bayi tidak memberikan perlindungan seumur hidup. Namun, perlindungan pasif tersebut dapat membantu pada masa awal kehidupan ketika bayi masih terlalu muda untuk menerima beberapa vaksin secara lengkap. Vaksin juga tidak selalu mencegah infeksi 100%. Tujuannya adalah membantu menurunkan risiko tertular, mengalami penyakit berat, komplikasi, atau perawatan di rumah sakit, bergantung pada jenis penyakit dan vaksin. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanan Apa Saja Vaksin Ibu Hamil Trimester 2? Berikut gambaran umum vaksin yang dapat dibahas dengan dokter pada trimester kedua. Jenis vaksinWaktu yang perlu diperhatikanTujuan utamaCatatanInfluenza inaktifDapat diberikan pada setiap trimesterMembantu melindungi ibu dari influenza dan komplikasinyaHindari vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung selama kehamilanTdapSejumlah panduan menganjurkan usia 27–36 mingguMembantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusisJadwal dan ketersediaannya perlu dikonfirmasi di IndonesiaTT atau TdBerdasarkan status imunisasi tetanus ibuMembantu mencegah tetanus maternal dan neonatalJumlah dosis bergantung pada riwayat imunisasiHepatitis BBerdasarkan indikasi dan faktor risikoMembantu mencegah infeksi hepatitis BKehamilan bukan kontraindikasi mutlakCOVID-19Mengikuti rekomendasi resmi terbaruMembantu mengurangi risiko penyakit beratJenis, dosis, dan waktu perlu mengikuti kebijakan terkiniVaksin lainHanya berdasarkan indikasi khususDisesuaikan dengan penyakit atau paparanMemerlukan penilaian manfaat dan risiko oleh dokter Tabel tersebut bukan jadwal vaksin pribadi. Dokter perlu memeriksa buku imunisasi, usia kehamilan, hasil pemeriksaan, penyakit penyerta, serta kemungkinan paparan sebelum menentukan kebutuhan vaksin. 1. Vaksin Influenza Inaktif Influenza bukan sekadar pilek biasa. Pada ibu hamil, influenza dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berat karena perubahan sistem imun dan fungsi pernapasan selama kehamilan. WHO dan CDC mendukung penggunaan vaksin influenza inaktif selama kehamilan. Vaksin ini dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, atau ketiga, terutama ketika influenza sedang beredar. (1)(4) Manfaat vaksin influenza bagi ibu hamil dapat mencakup: membantu menurunkan risiko influenza; membantu mengurangi risiko komplikasi akibat influenza; membantu mengurangi kemungkinan penyakit berat; membentuk antibodi yang dapat diteruskan kepada bayi. Jenis yang digunakan adalah vaksin influenza inaktif atau nonhidup, bukan vaksin influenza hidup dalam bentuk semprot hidung. Baca juga: Vaksin Influenza Saat Hamil: Rekomendasi untuk Ibu dan Bayi. 2. Vaksin Tdap, Td, atau TT Istilah Tdap, Td, dan TT sering membuat pembaca bingung. Ketiganya tidak sepenuhnya sama. TT memberikan perlindungan terhadap tetanus. Td memberikan perlindungan terhadap tetanus dan difteri dengan komponen difteri dosis rendah. Tdap memberikan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis atau batuk rejan. Dalam panduan ACOG dan CDC, Tdap direkomendasikan pada setiap kehamilan, terutama pada awal rentang usia kehamilan 27–36 minggu. Waktu ini dipilih untuk membantu pembentukan dan pemindahan antibodi pertusis kepada bayi sebelum lahir. (1)(2) Usia 27 minggu berada di peralihan akhir trimester kedua menuju trimester ketiga, tergantung cara penghitungan trimester yang digunakan. Karena itu, trimester kedua merupakan waktu yang baik untuk membahas dan merencanakan Tdap bersama dokter, bukan menentukan jadwal secara mandiri. Di Indonesia, ibu hamil juga dapat menjalani skrining status imunisasi tetanus. Kebutuhan TT atau Td bergantung pada jumlah dosis yang pernah diterima sebelumnya. Imunisasi tetanus pada perempuan usia subur dan ibu hamil telah berperan dalam upaya eliminasi tetanus maternal dan neonatal di Indonesia. (5) 3. Vaksin Hepatitis B Berdasarkan Indikasi Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyerang hati. Kehamilan bukan merupakan kontraindikasi untuk vaksin hepatitis B karena vaksin ini tidak mengandung virus hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. (1) Vaksin hepatitis B dapat dipertimbangkan apabila ibu: belum pernah menerima seri vaksin hepatitis B; belum memiliki riwayat imunisasi yang jelas; memiliki pasangan atau anggota rumah tangga dengan hepatitis B; bekerja di lingkungan dengan risiko paparan darah; memiliki faktor risiko lain berdasarkan pemeriksaan dokter. Vaksinasi ibu tidak menggantikan pemeriksaan hepatitis B dalam layanan antenatal. Apabila ibu diketahui terinfeksi hepatitis B, bayi membutuhkan tata laksana pencegahan khusus segera setelah lahir sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. 4. Vaksin COVID-19 Mengikuti Panduan Terbaru Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan virus, bukti ilmiah, jenis vaksin yang tersedia, dan kebijakan pemerintah. Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak hanya menggunakan jadwal dari artikel lama. Diskusikan dengan dokter apakah ibu memerlukan dosis primer, dosis lanjutan, atau belum membutuhkan dosis tambahan berdasarkan: riwayat vaksin COVID-19; riwayat infeksi sebelumnya; penyakit penyerta; risiko paparan; jenis vaksin yang tersedia; panduan resmi terbaru di Indonesia. Vaksin yang Tidak Diberikan Secara Rutin kepada Semua Ibu Hamil Beberapa vaksin dapat dipertimbangkan hanya ketika risiko penyakit dinilai lebih tinggi daripada potensi risikonya. Contohnya dapat mencakup vaksin hepatitis A, meningokokus, rabies, atau vaksin perjalanan tertentu. Pertimbangan tersebut mungkin diperlukan ketika ibu: akan bepergian ke wilayah dengan risiko penyakit tertentu; mengalami gigitan hewan yang berisiko menularkan rabies; tinggal atau bekerja di lingkungan dengan paparan khusus; memiliki penyakit kronis atau kondisi medis tertentu; belum menyelesaikan vaksinasi sebelum hamil. Keputusan tidak hanya ditentukan oleh usia kehamilan. Jenis vaksin, tingkat paparan, keparahan penyakit, dan ketersediaan alternatif pencegahan juga harus dipertimbangkan. Vaksin Apa yang Perlu Ditunda Saat Hamil? Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya tidak diberikan selama kehamilan karena terdapat risiko teoretis terhadap janin. Contohnya meliputi: vaksin MMR; vaksin varisela atau cacar air; vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung; beberapa vaksin perjalanan hidup. Vaksin HPV juga tidak direkomendasikan untuk diberikan selama kehamilan, meskipun bukan vaksin hidup. Dosis yang belum selesai biasanya dapat dilanjutkan setelah persalinan tanpa harus mengulang seri dari awal. (3)(6) Apabila seorang perempuan menerima vaksin tersebut sebelum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil, jangan langsung panik. Catat tanggal dan nama vaksinnya, lalu konsultasikan kepada dokter kandungan untuk evaluasi lebih lanjut. Apakah Vaksin pada Trimester 2 Aman untuk Bayi? Keamanan bergantung pada jenis vaksin. Vaksin nonhidup yang direkomendasikan selama kehamilan telah dipelajari melalui pemantauan keamanan dan penelitian dalam jumlah besar. Namun, istilah “aman” tidak berarti sama sekali tanpa kemungkinan efek samping. Efek samping ringan dapat terjadi karena sistem imun sedang merespons vaksin. Efek samping yang umumnya dapat muncul antara lain: nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan; lelah; sakit kepala; nyeri otot; demam ringan; rasa tidak enak badan. Reaksi tersebut umumnya bersifat sementara. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa KIPI ringan dapat berupa reaksi lokal maupun sistemik dan biasanya membaik dalam waktu singkat. Reaksi serius dapat terjadi, tetapi jauh lebih jarang. (7) Kapan Harus Segera Mencari Bantuan Medis? Segera cari pertolongan medis apabila setelah vaksinasi muncul: kesulitan bernapas; pembengkakan pada wajah, bibir, atau tenggorokan; ruam luas yang berkembang cepat; pingsan atau penurunan kesadaran; demam tinggi atau menetap; kejang; keluhan kehamilan yang terasa berat atau tidak biasa; gerakan janin berkurang setelah sebelumnya sudah terasa teratur. Keluhan tersebut belum tentu disebabkan oleh vaksin, tetapi tetap memerlukan pemeriksaan segera. Checklist Sebelum Vaksinasi pada Trimester Kedua Sebelum datang ke fasilitas kesehatan, siapkan informasi berikut: Usia kehamilan saat ini Buku KIA atau catatan pemeriksaan kehamilan Riwayat vaksin sebelum dan selama kehamilan Nama vaksin serta tanggal dosis terakhir Riwayat alergi berat atau anafilaksis Reaksi setelah vaksin sebelumnya Penyakit kronis atau gangguan sistem imun Obat dan suplemen yang sedang digunakan Riwayat infeksi atau demam baru-baru ini Rencana perjalanan selama kehamilan Ibu dengan pilek ringan belum tentu harus menunda vaksin. Sebaliknya, demam atau penyakit akut sedang hingga berat mungkin menjadi alasan untuk menjadwalkan ulang vaksinasi. Keputusan sebaiknya dibuat oleh tenaga kesehatan setelah menilai kondisi ibu. Pertanyaan yang Dapat Diajukan kepada Dokter Agar konsultasi lebih terarah, ibu dapat menanyakan: Apakah saya memerlukan vaksin pada trimester kedua? Bagaimana status imunisasi tetanus saya? Apakah saya perlu Tdap, Td, atau TT? Kapan waktu terbaik mendapatkan vaksin tersebut? Apakah vaksin influenza yang tersedia merupakan vaksin inaktif? Apakah kondisi kesehatan saya memengaruhi jadwal vaksin? Apakah vaksin dapat diberikan bersamaan? Efek samping apa yang perlu saya pantau? Kapan saya harus kembali untuk dosis berikutnya? Vaksin apa yang perlu diberikan setelah melahirkan? Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil Trimester 2? Vaksin untuk ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan pemeriksaan kehamilan dan layanan vaksinasi, seperti: puskesmas; rumah sakit; klinik ibu dan anak; praktik dokter kandungan; klinik vaksinasi resmi; fasilitas kesehatan lain yang memiliki tenaga dan penyimpanan vaksin sesuai standar. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, waktu pemberian, status imunisasi sebelumnya, serta kondisi kehamilan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 2 dapat membantu melindungi kesehatan ibu sekaligus memberikan antibodi awal kepada bayi. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada setiap trimester, sedangkan vaksin yang melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis perlu dijadwalkan berdasarkan jenis vaksin, usia kehamilan, riwayat imunisasi, serta panduan yang berlaku. Vaksin hepatitis B, COVID-19, dan vaksin lain dapat diberikan berdasarkan indikasi dan rekomendasi terbaru. Sebaliknya, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya ditunda hingga setelah persalinan. Tidak ada satu jadwal yang sesuai untuk semua ibu hamil. Bawalah catatan vaksin saat pemeriksaan antenatal dan konsultasikan setiap keputusan vaksinasi kepada dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Referensi Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). 2026 maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Vaccine safety for moms-to-be.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/moms-to-be/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Strategi komunikasi nasional imunisasi 2022–2025.https://www.kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/16653827576343b965228c40.04885132.pdf(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Pregnancy and vaccines.https://www.cdc.gov/vaccine-safety/about/pregnancy.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu KIPI: Penyebab, gejala, pencegahan, dan pengobatan.https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-Y6ZD (08/26)