
Ketika mendengar kata “vaksin”, banyak orang langsung membayangkan imunisasi bayi atau program vaksinasi anak di sekolah. Padahal, vaksin bukan hanya untuk anak-anak. Vaksin merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan sepanjang kehidupan, mulai dari bayi yang baru lahir hingga lansia.
Di Indonesia, Cakupan Vaksin Imunisasi rutin sudah mencapai 94,9% pada 2023 menurut Kementerian Kesehatan RI terutama pada bayi & anak anak. Di sisi lain, cakupan vaksin dewasa masih sangat minim sekali, contohnya cakupan vaksin influenza di Indonesia hanya sekitar 0,5 per 1.000 penduduk dibandingkan Singapura (90 per 1.000 penduduk) & Jepang (Jepang 250 per 1.000 penduduk).
Lalu, sebenarnya kenapa harus vaksin? Apa manfaatnya bagi kesehatan? Dan apakah vaksin masih diperlukan jika seseorang merasa sehat?
Artikel ini akan membahasnya secara lengkap.
Vaksin adalah produk biologis yang dirancang untuk membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan penyakit tertentu.
Ketika seseorang menerima vaksin, tubuh akan belajar mengenali virus atau bakteri penyebab penyakit tanpa harus mengalami penyakit tersebut terlebih dahulu. Dengan demikian, jika suatu saat tubuh terpapar penyakit yang sama, sistem imun sudah memiliki “ingatan” untuk memberikan respons yang lebih cepat dan efektif.
Sederhananya, vaksin membantu tubuh melakukan latihan sebelum menghadapi ancaman yang sebenarnya.
Tubuh manusia memiliki sistem kekebalan yang bertugas melindungi dari berbagai penyakit. Namun, sistem imun tidak selalu langsung mengenali ancaman baru.
Vaksin membantu sistem imun dengan memperkenalkan bagian tertentu dari virus atau bakteri yang telah dilemahkan, dimatikan, atau dibuat menyerupai penyebab penyakit.
Setelah vaksin diberikan, tubuh akan:
Ketika paparan penyakit terjadi di kemudian hari, tubuh dapat merespons lebih cepat sehingga risiko sakit berat dapat berkurang.
Banyak penyakit menular dapat dicegah melalui vaksinasi, seperti:
Pencegahan selalu lebih baik dibandingkan pengobatan setelah penyakit terjadi.
Beberapa penyakit tidak hanya menyebabkan gejala ringan, tetapi juga dapat menimbulkan komplikasi serius.
Contohnya:
Vaksin membantu mengurangi risiko tersebut.
Sakit tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga aktivitas sehari-hari.
Ketika seseorang mengalami penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, dampaknya bisa berupa:
Vaksinasi merupakan salah satu bentuk investasi kesehatan jangka panjang.
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit tertentu, seperti:
Dengan melakukan vaksinasi sesuai rekomendasi, seseorang juga turut membantu mengurangi risiko penularan kepada orang-orang di sekitarnya.
Salah satu kesalahpahaman yang masih sering ditemukan adalah anggapan bahwa vaksin hanya diperlukan pada masa bayi dan anak-anak.
Faktanya, organisasi kesehatan dunia dan berbagai organisasi profesi kesehatan mendorong konsep vaksinasi sepanjang hayat atau life-course immunization.
Artinya, kebutuhan vaksin dapat berubah sesuai usia dan kondisi seseorang.
Karena itu, vaksinasi tidak berhenti setelah masa kanak-kanak.
Bayi memiliki sistem kekebalan yang masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap berbagai penyakit menular.
Vaksin pada masa bayi bertujuan memberikan perlindungan sejak dini terhadap penyakit yang berpotensi serius.
Beberapa vaksin yang umumnya diberikan sejak awal kehidupan antara lain:
Masa awal kehidupan merupakan periode penting untuk membangun perlindungan kesehatan jangka panjang.
Ketika anak mulai aktif bermain dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, risiko paparan penyakit juga meningkat.
Pada tahap ini, beberapa vaksin lanjutan atau booster dapat direkomendasikan untuk membantu mempertahankan perlindungan yang sudah terbentuk sebelumnya.
Selain itu, lingkungan sekolah dan aktivitas sosial membuat anak lebih sering berinteraksi dengan banyak orang.
Masa remaja merupakan periode transisi menuju usia dewasa.
Pada tahap ini, beberapa vaksin dapat membantu memberikan perlindungan tambahan yang penting untuk masa depan.
Vaksinasi pada remaja sering dikaitkan dengan:
Remaja juga perlu memahami bahwa menjaga kesehatan tidak hanya dilakukan ketika sakit, tetapi juga melalui upaya pencegahan.
Banyak orang dewasa menganggap dirinya tidak lagi membutuhkan vaksin karena sudah pernah mendapatkan imunisasi saat kecil.
Padahal, beberapa perlindungan dapat berkurang seiring waktu dan ada vaksin tertentu yang memang direkomendasikan saat dewasa.
Orang dewasa memiliki berbagai faktor risiko seperti:
Karena itu, vaksinasi tetap menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan.
Seiring bertambahnya usia, kemampuan sistem kekebalan tubuh dapat mengalami penurunan.
Hal ini membuat lansia lebih rentan mengalami komplikasi serius akibat penyakit tertentu.
Penyakit yang mungkin berdampak lebih berat pada lansia antara lain:
Karena itu, vaksinasi menjadi salah satu langkah yang dapat membantu menjaga kualitas hidup pada usia lanjut.
Selain usia, kebutuhan vaksin juga dapat dipengaruhi oleh tahap kehidupan, aktivitas, maupun kondisi kesehatan seseorang. Berikut beberapa contoh kelompok yang sering memiliki kebutuhan vaksinasi khusus:
| Tahap Kehidupan / Kondisi | Mengapa Perlu Perhatian Khusus? | Contoh Vaksin yang Mungkin Direkomendasikan* |
| Calon Pengantin | Membantu mempersiapkan kesehatan jangka panjang pasangan dan keluarga yang akan dibangun. | HPV, Hepatitis B, MMR/MR (sesuai kondisi dan riwayat vaksinasi) |
| Merencanakan Kehamilan | Beberapa penyakit dapat berdampak pada ibu maupun calon bayi selama masa kehamilan. | MMR/MR, Hepatitis B, Influenza (sesuai rekomendasi tenaga kesehatan) |
| Ibu Hamil | Melindungi kesehatan ibu dan membantu memberikan perlindungan awal bagi bayi yang akan lahir. | Influenza, Tdap (sesuai rekomendasi dokter dan usia kehamilan) |
| Orang Tua dengan Bayi Baru Lahir | Membantu mengurangi risiko penularan penyakit kepada bayi yang sistem imunnya masih berkembang. | Influenza, Tdap (sesuai rekomendasi tenaga kesehatan) |
| Jamaah Haji dan Umrah | Berinteraksi dengan jutaan orang dari berbagai negara meningkatkan risiko paparan penyakit menular. | Meningitis, Influenza, COVID-19 atau vaksin lain sesuai ketentuan yang berlaku |
| Pelancong Internasional (Traveller) | Beberapa negara memiliki risiko penyakit tertentu atau persyaratan vaksinasi khusus. | Bergantung pada negara tujuan dan kondisi kesehatan individu |
| Penderita Diabetes | Risiko infeksi dan komplikasi penyakit tertentu dapat lebih tinggi dibanding populasi umum. | Influenza, Pneumokokus, Hepatitis B (sesuai rekomendasi dokter) |
| Penderita Penyakit Jantung | Infeksi tertentu dapat memperburuk kondisi jantung yang sudah ada. | Influenza, Pneumokokus (sesuai rekomendasi dokter) |
| Penderita Penyakit Paru Kronis | Memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat infeksi saluran pernapasan. | Influenza, Pneumokokus, RSV pada kelompok tertentu |
| Penderita Penyakit Ginjal Kronis | Sistem kekebalan tubuh dapat lebih rentan sehingga perlindungan tambahan perlu dipertimbangkan. | Hepatitis B, Influenza, Pneumokokus (sesuai rekomendasi dokter) |
| Lansia | Seiring bertambahnya usia, kemampuan sistem imun dapat mengalami penurunan. | Influenza, Pneumokokus, Herpes Zoster, RSV (sesuai rekomendasi dokter) |
* Jenis vaksin yang direkomendasikan dapat berbeda pada setiap individu tergantung usia, kondisi kesehatan, riwayat vaksinasi, serta rekomendasi tenaga kesehatan.
Kebutuhan vaksin setiap orang tidak selalu sama. Dua orang dengan usia yang sama bisa saja memiliki rekomendasi vaksin yang berbeda karena faktor seperti riwayat kesehatan, pekerjaan, gaya hidup, rencana kehamilan, maupun tujuan perjalanan. Oleh karena itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi langkah terbaik untuk menentukan vaksin yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Keamanan vaksin merupakan salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan masyarakat.
Sebelum digunakan, vaksin melalui proses penelitian, pengembangan, dan evaluasi yang ketat.
Seperti produk kesehatan lainnya, vaksin dapat menimbulkan efek samping ringan pada sebagian orang, misalnya:
Efek tersebut umumnya bersifat sementara dan dapat menjadi tanda bahwa sistem imun sedang memberikan respons terhadap vaksin.
Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu atau pertanyaan mengenai vaksinasi, konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang kompeten.
Ada beberapa alasan yang sering ditemukan.
Banyak orang tidak mengetahui vaksin apa yang sesuai dengan usia atau kondisi mereka. Karena itu, edukasi yang tepat sangat penting.
Kebutuhan vaksin setiap orang dapat berbeda.
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain:
Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan vaksin yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Vaksin merupakan salah satu langkah pencegahan yang penting untuk menjaga kesehatan sepanjang kehidupan. Manfaat vaksin tidak hanya dirasakan oleh bayi dan anak-anak, tetapi juga oleh remaja, orang dewasa, hingga lansia.
Kebutuhan vaksin dapat berubah sesuai usia, kondisi kesehatan, dan tahap kehidupan seseorang. Oleh karena itu, memahami pentingnya vaksinasi merupakan langkah awal untuk melindungi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Karena pada akhirnya, vaksin bukan hanya tentang mencegah penyakit hari ini, tetapi juga tentang menjaga kualitas hidup di masa depan.
Kebutuhan vaksin setiap orang berbeda. Cari tahu rekomendasi vaksin yang sesuai dengan usia, kondisi kesehatan, dan tahap kehidupan Anda.

Momentum bulan Juli selalu membawa semangat ganda: perayaan Hari Anak Nasional (HAN) dan kembalinya anak-anak ke bangku sekolah (back to school). Bagi orang tua yang peduli kesehatan anak, persiapan masuk sekolah bukan sekadar melengkapi alat tulis dan seragam, melainkan juga memastikan daya tahan tubuh anak dalam kondisi terbaik dengan perlindungan vaksin influenza trivalen. Di tengah tingginya interaksi di lingkungan sekolah, penyakit saluran pernapasan seperti influenza menjadi risiko nyata. Influenza bukan sekadar pilek biasa (common cold), dan vaksinasi rutin setiap tahun adalah langkah pencegahan yang penting. Kabar baiknya, ada pembaruan terkini pada pedoman vaksinasi influenza yang perlu orang tua ketahui. Berdasarkan pemantauan terbaru dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), komposisi vaksin influenza kini kembali difokuskan pada format trivalen. Berikut penjelasan mengapa komposisi ini dinilai paling sesuai dengan virus yang beredar saat ini — dan kenapa perubahannya bukan berarti penurunan mutu. Evolusi Vaksin Influenza: Mengapa Trivalen Menjadi Standar Baru? Selama beberapa tahun terakhir, vaksin influenza kuadrivalen (isi 4 jenis virus) banyak digunakan karena mencakup dua jenis virus influenza A (H1N1 dan H3N2) serta dua jenis virus influenza B (garis keturunan Victoria dan Yamagata). Namun, peta virus flu di dunia telah berubah setelah pandemi. Sejak Maret 2020, salah satu jenis virus flu, yaitu influenza B garis keturunan Yamagata, tidak lagi ditemukan beredar di seluruh dunia. Hal ini telah dikonfirmasi oleh berbagai pemantauan virus internasional. Karena virusnya sudah tidak ditemukan lagi, komponen ini dinilai tidak lagi diperlukan di dalam vaksin. Merespons hal tersebut, WHO merekomendasikan agar vaksin kembali ke bentuk trivalen (isi 3 jenis virus) yang kini secara spesifik menargetkan: Virus Influenza A (H1N1) Virus Influenza A (H3N2) Virus Influenza B (garis keturunan Victoria) Perlu dipahami, istilah kuadrivalen dan trivalen merujuk pada jumlah jenis virus di dalam vaksin, bukan merek dagang. Perubahan ini bukan penurunan kualitas, melainkan penyesuaian agar isi vaksin lebih sesuai dengan virus yang benar-benar beredar. Jenis influenza B yang masih aktif (Victoria) tetap tercakup. Investasi Kesehatan untuk Masa Depan Anak Tema Hari Anak Nasional mengingatkan kita untuk memberikan yang terbaik bagi anak, dan pondasi utamanya adalah kesehatan. Saat anak kembali menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kelas tertutup bersama puluhan temannya, risiko penularan lewat percikan air liur (droplet) meningkat. Perlindungan influenza bukan hanya tentang menghindarkan anak dari demam tinggi atau risiko komplikasi saluran napas, tetapi juga tentang melindungi waktu belajar mereka. Anak yang sehat terhindar dari ketidakhadiran sekolah (absen) yang dapat menghambat pencapaian akademis dan interaksi sosial mereka. Mari wujudkan momen back to school yang sehat, aman, dan produktif. Untuk memastikan pilihan yang paling sesuai dengan kondisi anak, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan mengenai vaksin influenza terbaru. Merayakan Hari Anak Nasional bisa dimulai dari langkah sederhana: memastikan anak terlindungi dari penyakit yang sebetulnya dapat dicegah — agar mereka bebas belajar, bermain, dan mengeksplorasi potensinya tanpa hambatan. Get the Right Flu Shot Catatan Penting Informasi ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan. Jenis, jadwal, dan anjuran vaksinasi dapat berbeda pada tiap anak, tergantung usia, kondisi kesehatan, riwayat alergi, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Baca juga: Panduan Vaksin Influenza: Jadwal, Jenis, dan Untuk Siapa Kenapa Vaksin Influenza Perlu Diulang Setiap Tahun? Referensi: World Health Organization (WHO). (2025). Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the 2026 southern hemisphere influenza season. Geneva: World Health Organization. (dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Koesnoe, S., & Kartasasmita, C. (2026). Transition from Quadrivalent to Trivalent Influenza Vaccination Compared with Continued Quadrivalent Vaccination for Preventing Severe Influenza Outcomes in Populations in Indonesia: Implications from the 2025–2026 Epidemiological Landscape. Acta Medica Indonesiana, 58(2). (dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). World Health Organization (WHO). (2026). Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the 2026–2027 northern hemisphere influenza season. Geneva: World Health Organization. (dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-J0FV (07/27)
Vaksin influenza adalah vaksin yang membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap virus influenza musiman. Vaksin ini tidak memberikan perlindungan 100%, tetapi dapat membantu mengurangi risiko sakit influenza, gejala berat, rawat inap, dan komplikasi terutama pada kelompok berisiko tinggi. (1)(2) Secara umum, vaksin influenza dapat diberikan mulai usia 6 bulan dan dianjurkan diulang setiap tahun karena virus influenza dapat berubah dari waktu ke waktu. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan melalui UPK Kemenkes juga menjelaskan bahwa vaksin influenza dapat dimulai sejak usia 6 bulan dan dilanjutkan satu tahun sekali. (3) Kelompok yang perlu lebih mempertimbangkan vaksin influenza antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis, tenaga kesehatan, pekerja aktif, pelancong, dan orang yang tinggal atau bekerja di lingkungan padat. (1)(4) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apa Itu Influenza dan Mengapa Perlu Diwaspadai? Influenza adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Gejalanya bisa berupa demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, lemas, dan rasa tidak enak badan. Pada banyak orang, influenza dapat membaik dalam beberapa hari. Namun, pada kelompok tertentu, influenza bisa berkembang menjadi penyakit yang lebih berat. (1) Influenza berbeda dengan pilek biasa. Pilek umumnya lebih ringan, sedangkan influenza dapat menyebabkan demam tinggi, tubuh sangat lemas, dan risiko komplikasi seperti pneumonia, perburukan penyakit jantung, gangguan paru, hingga rawat inap pada kelompok berisiko. (1)(2) Baca juga: Influenza Bukan Flu Biasa & Dampaknya Sering Terabaikanhttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/beban-influenza-dampak-komplikasi Apa Itu Vaksin Influenza? Vaksin influenza adalah vaksin yang dirancang untuk membantu sistem imun mengenali virus influenza. Setelah vaksinasi, tubuh membentuk respons imun sehingga ketika terpapar virus influenza di kemudian hari, tubuh dapat merespons lebih cepat. (2) Namun, penting dipahami bahwa vaksin influenza bukan berarti seseorang pasti tidak akan terkena flu sama sekali. Manfaat utamanya adalah membantu mengurangi risiko infeksi, mengurangi keparahan gejala, dan menurunkan risiko komplikasi serius. (2) Karena virus influenza sering berubah, komposisi vaksin influenza dievaluasi secara berkala oleh badan kesehatan global seperti WHO. Inilah alasan vaksin influenza umumnya dianjurkan setiap tahun. WHO secara rutin menerbitkan rekomendasi komposisi vaksin influenza sesuai pemantauan virus yang beredar. (5) Manfaat Vaksin Influenza Vaksin influenza dapat memberikan beberapa manfaat penting, terutama bila diberikan sesuai usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan. ManfaatPenjelasan SederhanaMembantu mencegah influenzaVaksin membantu tubuh mengenali virus influenza dan membentuk perlindungan.Mengurangi risiko gejala beratJika tetap terinfeksi, vaksin dapat membantu menurunkan risiko sakit berat.Menurunkan risiko komplikasiInfluenza dapat menyebabkan pneumonia atau memperburuk penyakit kronis pada sebagian orang.Melindungi kelompok rentanAnak kecil, lansia, ibu hamil, dan pasien komorbid lebih berisiko mengalami komplikasi.Mengurangi dampak sosialInfluenza dapat menyebabkan absen sekolah, absen kerja, dan gangguan aktivitas keluarga. CDC menyebut vaksin influenza dapat mengurangi risiko flu dan komplikasi serius akibat flu. (2) Siapa yang Dianjurkan Mendapatkan Vaksin Influenza? Secara umum, CDC merekomendasikan vaksin influenza tahunan untuk semua orang usia 6 bulan ke atas yang tidak memiliki kontraindikasi. (2) Dalam konteks Indonesia, rekomendasi juga perlu mempertimbangkan panduan dokter, IDAI untuk anak, PAPDI untuk dewasa, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Kelompok berikut perlu lebih memperhatikan vaksin influenza: 1. Anak-anak Anak-anak dapat tertular dan menularkan influenza dengan mudah, terutama di sekolah, daycare, atau lingkungan bermain. Vaksin influenza dapat mulai diberikan sejak usia 6 bulan. Untuk anak usia <9 th diberikan 2 dosis dg jarak 1 bulan, selanjutnya diberikan 1 th sekali. Untuk baru pertama kali menerima vaksin influenza, Dokter biasanya merekomendasikan dua dosis pada awal pemberian, kemudian dilanjutkan setiap tahun. (3)(6) 2. Orang Dewasa Aktif dan Pekerja Orang dewasa yang sering beraktivitas di kantor, transportasi umum, sekolah, fasilitas publik, atau bertemu banyak orang memiliki peluang paparan yang lebih tinggi. Vaksinasi dapat menjadi bagian dari perlindungan diri sekaligus membantu mengurangi risiko menularkan influenza kepada keluarga di rumah. 3. Lansia Lansia lebih berisiko mengalami komplikasi influenza karena daya tahan tubuh cenderung menurun seiring usia. Pada kelompok ini, influenza dapat memperburuk kondisi yang sudah ada, seperti penyakit jantung, diabetes, atau gangguan paru. (1)(4) 4. Ibu Hamil Ibu hamil termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami komplikasi influenza. Vaksin influenza inaktif umumnya direkomendasikan untuk ibu hamil sesuai penilaian tenaga kesehatan karena dapat membantu melindungi ibu dan memberi perlindungan awal pada bayi melalui antibodi ibu. (7)(8) Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayihttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/vaksin-ibu-hamil-influenza-tdap 5. Orang dengan Penyakit Kronis atau Komorbid Orang dengan diabetes, penyakit jantung, penyakit paru kronis, penyakit ginjal kronis, obesitas berat, kanker, HIV/AIDS, atau kondisi imunokompromais perlu berdiskusi dengan dokter tentang vaksin influenza. PAPDI mencantumkan beberapa kelompok dewasa yang sangat dianjurkan mendapat vaksin influenza, termasuk orang dengan penyakit pernapasan kronik, penyakit ginjal kronik, gangguan kardiovaskular, diabetes, imunokompromais, lansia, tenaga kesehatan, pelancong, dan calon jemaah haji/umrah. (4) Baca juga: Peran Vaksin Influenza pada Diabetes dan Risiko Jantunghttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/diabetes-risiko-jantung-vaksin-influenza Jadwal Vaksin Influenza Jadwal vaksin influenza dapat berbeda sesuai usia, riwayat vaksin sebelumnya, kondisi kesehatan, dan jenis vaksin yang tersedia. Tabel berikut dapat menjadi panduan umum, tetapi keputusan akhir tetap perlu mengikuti rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan. KelompokJadwal UmumAnak mulai usia 6 bulanDapat mulai diberikan sejak usia 6 bulan. Pada pemberian pertama, sebagian anak membutuhkan 2 dosis dengan jarak minimal sekitar 4 minggu, lalu diulang setiap tahun. (2)(3)Anak usia lebih besar dan remajaUmumnya 1 dosis setiap tahun, kecuali ada kondisi khusus sesuai penilaian dokter.DewasaUmumnya 1 dosis setiap tahun.LansiaUmumnya 1 dosis setiap tahun; jenis vaksin dapat disesuaikan dengan rekomendasi dokter dan ketersediaan.Ibu hamiltrimester 1, 2, atau 3 selama kehamilan disesuaikan dengan rekomendasi dokter, terutama dengan vaksin influenza inaktif. (7)(8)Komorbid atau imunokompromaisPerlu konsultasi dokter untuk menyesuaikan waktu dan jenis vaksin. Di negara tropis seperti Indonesia, influenza dapat beredar sepanjang tahun. Karena itu, PAPDI menyebut vaksin influenza dapat diberikan sepanjang tahun. (4) Jenis Vaksin Influenza Jenis vaksin influenza dapat dibedakan berdasarkan cara pembuatan, kandungan, dan jumlah strain virus yang ditargetkan. Masyarakat tidak perlu memilih sendiri tanpa arahan; tenaga kesehatan akan membantu menyesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, kehamilan, alergi, dan ketersediaan vaksin. 1. Vaksin Influenza Inaktif Vaksin influenza inaktif berisi virus yang sudah dimatikan sehingga tidak dapat menyebabkan influenza. Jenis ini umum digunakan dan dapat dipertimbangkan untuk banyak kelompok, termasuk ibu hamil sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. (7)(8) 2. Vaksin Influenza Trivalen Vaksin trivalen dirancang untuk membantu melindungi terhadap tiga strain utama virus influenza. CDC menjelaskan bahwa vaksin influenza musim 2025–2026 di Amerika Serikat diformulasikan sebagai trivalen untuk melindungi terhadap tiga virus influenza musiman utama, yaitu A(H1N1), A(H3N2), dan B/Victoria. (9) 3. Vaksin Influenza Quadrivalent Vaksin quadrivalent dirancang untuk mencakup empat strain virus influenza. Namun, komposisi vaksin dapat berubah mengikuti rekomendasi global dan ketersediaan di masing-masing negara. Karena itu, pembaca perlu mengikuti informasi terbaru dari dokter, fasilitas vaksinasi, dan otoritas kesehatan resmi. 4. Vaksin Nasal Spray Di beberapa negara, ada vaksin influenza semprot hidung yang berisi virus hidup yang dilemahkan. Namun, tidak semua orang dapat menggunakan jenis ini, misalnya ibu hamil atau orang dengan kondisi imun tertentu. Ketersediaannya juga berbeda antarnegara. Untuk Indonesia, tanyakan langsung kepada fasilitas kesehatan mengenai jenis vaksin yang tersedia. Efek Samping Vaksin Influenza Sebagian besar efek samping vaksin influenza bersifat ringan dan sementara. Efek samping umum dapat meliputi: (10) Nyeri, kemerahan, atau bengkak di area suntikan Demam ringan Nyeri otot Sakit kepala Lelah Rasa tidak nyaman selama 1–2 hari Efek samping serius jarang terjadi, tetapi tetap perlu dikenali. Reaksi alergi berat dapat terjadi pada sebagian sangat kecil orang, terutama bila memiliki riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin. CDC juga menyebut adanya kemungkinan kecil peningkatan risiko Guillain-Barré Syndrome setelah vaksin flu pada sebagian orang, meskipun kondisi ini jarang. (11) Segera cari bantuan medis bila setelah vaksin muncul gejala seperti: Sesak napas Bengkak pada wajah atau bibir Ruam berat menyebar Pusing berat atau pingsan Lemah mendadak Gejala neurologis yang tidak biasa Siapa yang Perlu Konsultasi Dulu Sebelum Vaksin Influenza? Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan jika Anda atau anggota keluarga memiliki kondisi berikut: Riwayat alergi berat terhadap vaksin sebelumnya Riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin Sedang demam tinggi atau sakit akut sedang-berat Riwayat Guillain-Barré Syndrome Sedang hamil Memiliki penyakit autoimun atau imunokompromais Sedang menjalani kemoterapi atau terapi imunosupresif Bayi atau anak dengan kondisi medis khusus Lansia dengan banyak komorbid Konsultasi bukan berarti vaksin pasti tidak boleh diberikan. Tujuannya adalah memastikan waktu, jenis vaksin, dan pemantauan setelah vaksinasi lebih sesuai dengan kondisi masing-masing. Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Influenza? Vaksin influenza dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan imunisasi atau vaksinasi dewasa, seperti puskesmas tertentu, klinik, rumah sakit, praktik dokter, atau fasilitas vaksinasi resmi. Sebelum vaksinasi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk anak, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbid, atau orang yang memiliki riwayat alergi berat. Konsultasi membantu memastikan jadwal, jenis vaksin, dan kondisi kesehatan sudah sesuai. Cari Lokasi Vaksinasi Terdekat? Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin influenza di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin influenza adalah salah satu langkah pencegahan yang dapat membantu mengurangi risiko influenza, gejala berat, rawat inap, dan komplikasi pada kelompok berisiko. Vaksin ini umumnya diberikan mulai usia 6 bulan dan diulang setiap tahun karena virus influenza dapat berubah dari waktu ke waktu. (2)(3) Kelompok seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, tenaga kesehatan, pekerja aktif, pelancong, dan orang dengan penyakit kronis perlu lebih memperhatikan vaksin influenza. Meski umumnya aman, vaksin tetap perlu diberikan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan, terutama pada orang dengan riwayat alergi berat, komorbid, kehamilan, atau kondisi imun tertentu. Dengan memahami manfaat, jadwal, jenis, dan efek samping vaksin influenza, keluarga dapat mengambil keputusan kesehatan yang lebih tenang, rasional, dan berbasis informasi tepercaya. Referensi World Health Organization. (2025). Influenza (seasonal).https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal)(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2026). ACIP recommendations summary: Influenza.https://www.cdc.gov/flu/hcp/vax-summary/acip-recommendations.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Unit Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Vaksinasi influenza di UPK, 17 Januari 2024.https://upk.kemkes.go.id/new/vaksinasi-influenza-di-upk-17-januari-2024(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI. (2024). Jadwal imunisasi dewasa PAPDI 2024.https://imuni.id/wp-content/uploads/2024/07/Jadwal-Vaksinasi-Dewasa-PAPDI-2024.pdf(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). World Health Organization. (2026). Recommendations for influenza vaccine composition.https://www.who.int/teams/global-influenza-programme/vaccines/who-recommendations(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2025). Jadwal imunisasi anak usia 0–18 tahun rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2024.https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Flu vaccine safety and pregnancy.https://www.cdc.gov/flu/vaccine-safety/vaccine-pregnant.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2024). Influenza in pregnancy: Prevention and treatment.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-statement/articles/2024/02/influenza-in-pregnancy-prevention-and-treatment(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2026). 2025–2026 flu season.https://www.cdc.gov/flu/season/2025-2026.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Influenza (flu) vaccine safety.https://www.cdc.gov/vaccine-safety/vaccines/flu.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Key facts about seasonal flu vaccine.https://www.cdc.gov/flu/vaccines/keyfacts.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Kode promat: ID-VAX-2026-07-5BTW (07/27)

Memasuki trimester kedua, sebagian ibu mulai merasa lebih nyaman menjalani kehamilan. Keluhan mual biasanya mulai berkurang, sementara pemeriksaan kehamilan semakin berfokus pada perkembangan janin dan persiapan menuju trimester berikutnya. Pada tahap ini, riwayat vaksinasi ibu juga penting untuk diperiksa. Vaksin ibu hamil trimester 2 adalah vaksin yang dapat diberikan atau mulai direncanakan pada usia kehamilan sekitar 14–27 minggu, sesuai jenis vaksin, riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko paparan, serta rekomendasi dokter. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada setiap trimester. Imunisasi yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, atau pertusis dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat vaksin dan pedoman yang digunakan. Dalam sejumlah panduan internasional, Tdap dianjurkan pada setiap kehamilan, terutama pada usia 27–36 minggu agar transfer antibodi kepada bayi berlangsung optimal. (1)(2) Tidak semua ibu hamil membutuhkan jenis vaksin yang sama. Vaksin hepatitis B dan beberapa vaksin nonhidup lainnya biasanya diberikan berdasarkan faktor risiko atau indikasi medis. Sementara itu, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya ditunda sampai setelah persalinan. (1)(3) Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, risiko paparan, regulasi, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Mengapa Vaksinasi Penting pada Trimester Kedua? Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut diperlukan untuk mendukung pertumbuhan janin, tetapi pada saat bersamaan dapat membuat ibu lebih berisiko mengalami penyakit berat akibat infeksi tertentu, termasuk influenza. (1)(4) Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan dua bentuk perlindungan: Perlindungan bagi ibu, dengan membantu sistem imun mengenali penyebab penyakit tertentu. Perlindungan awal bagi bayi, melalui antibodi ibu yang dapat ditransfer melalui plasenta. Antibodi yang diterima bayi tidak memberikan perlindungan seumur hidup. Namun, perlindungan pasif tersebut dapat membantu pada masa awal kehidupan ketika bayi masih terlalu muda untuk menerima beberapa vaksin secara lengkap. Vaksin juga tidak selalu mencegah infeksi 100%. Tujuannya adalah membantu menurunkan risiko tertular, mengalami penyakit berat, komplikasi, atau perawatan di rumah sakit, bergantung pada jenis penyakit dan vaksin. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanan Apa Saja Vaksin Ibu Hamil Trimester 2? Berikut gambaran umum vaksin yang dapat dibahas dengan dokter pada trimester kedua. Jenis vaksinWaktu yang perlu diperhatikanTujuan utamaCatatanInfluenza inaktifDapat diberikan pada setiap trimesterMembantu melindungi ibu dari influenza dan komplikasinyaHindari vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung selama kehamilanTdapSejumlah panduan menganjurkan usia 27–36 mingguMembantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusisJadwal dan ketersediaannya perlu dikonfirmasi di IndonesiaTT atau TdBerdasarkan status imunisasi tetanus ibuMembantu mencegah tetanus maternal dan neonatalJumlah dosis bergantung pada riwayat imunisasiHepatitis BBerdasarkan indikasi dan faktor risikoMembantu mencegah infeksi hepatitis BKehamilan bukan kontraindikasi mutlakCOVID-19Mengikuti rekomendasi resmi terbaruMembantu mengurangi risiko penyakit beratJenis, dosis, dan waktu perlu mengikuti kebijakan terkiniVaksin lainHanya berdasarkan indikasi khususDisesuaikan dengan penyakit atau paparanMemerlukan penilaian manfaat dan risiko oleh dokter Tabel tersebut bukan jadwal vaksin pribadi. Dokter perlu memeriksa buku imunisasi, usia kehamilan, hasil pemeriksaan, penyakit penyerta, serta kemungkinan paparan sebelum menentukan kebutuhan vaksin. 1. Vaksin Influenza Inaktif Influenza bukan sekadar pilek biasa. Pada ibu hamil, influenza dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berat karena perubahan sistem imun dan fungsi pernapasan selama kehamilan. WHO dan CDC mendukung penggunaan vaksin influenza inaktif selama kehamilan. Vaksin ini dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, atau ketiga, terutama ketika influenza sedang beredar. (1)(4) Manfaat vaksin influenza bagi ibu hamil dapat mencakup: membantu menurunkan risiko influenza; membantu mengurangi risiko komplikasi akibat influenza; membantu mengurangi kemungkinan penyakit berat; membentuk antibodi yang dapat diteruskan kepada bayi. Jenis yang digunakan adalah vaksin influenza inaktif atau nonhidup, bukan vaksin influenza hidup dalam bentuk semprot hidung. Baca juga: Vaksin Influenza Saat Hamil: Rekomendasi untuk Ibu dan Bayi. 2. Vaksin Tdap, Td, atau TT Istilah Tdap, Td, dan TT sering membuat pembaca bingung. Ketiganya tidak sepenuhnya sama. TT memberikan perlindungan terhadap tetanus. Td memberikan perlindungan terhadap tetanus dan difteri dengan komponen difteri dosis rendah. Tdap memberikan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis atau batuk rejan. Dalam panduan ACOG dan CDC, Tdap direkomendasikan pada setiap kehamilan, terutama pada awal rentang usia kehamilan 27–36 minggu. Waktu ini dipilih untuk membantu pembentukan dan pemindahan antibodi pertusis kepada bayi sebelum lahir. (1)(2) Usia 27 minggu berada di peralihan akhir trimester kedua menuju trimester ketiga, tergantung cara penghitungan trimester yang digunakan. Karena itu, trimester kedua merupakan waktu yang baik untuk membahas dan merencanakan Tdap bersama dokter, bukan menentukan jadwal secara mandiri. Di Indonesia, ibu hamil juga dapat menjalani skrining status imunisasi tetanus. Kebutuhan TT atau Td bergantung pada jumlah dosis yang pernah diterima sebelumnya. Imunisasi tetanus pada perempuan usia subur dan ibu hamil telah berperan dalam upaya eliminasi tetanus maternal dan neonatal di Indonesia. (5) 3. Vaksin Hepatitis B Berdasarkan Indikasi Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyerang hati. Kehamilan bukan merupakan kontraindikasi untuk vaksin hepatitis B karena vaksin ini tidak mengandung virus hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. (1) Vaksin hepatitis B dapat dipertimbangkan apabila ibu: belum pernah menerima seri vaksin hepatitis B; belum memiliki riwayat imunisasi yang jelas; memiliki pasangan atau anggota rumah tangga dengan hepatitis B; bekerja di lingkungan dengan risiko paparan darah; memiliki faktor risiko lain berdasarkan pemeriksaan dokter. Vaksinasi ibu tidak menggantikan pemeriksaan hepatitis B dalam layanan antenatal. Apabila ibu diketahui terinfeksi hepatitis B, bayi membutuhkan tata laksana pencegahan khusus segera setelah lahir sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. 4. Vaksin COVID-19 Mengikuti Panduan Terbaru Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan virus, bukti ilmiah, jenis vaksin yang tersedia, dan kebijakan pemerintah. Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak hanya menggunakan jadwal dari artikel lama. Diskusikan dengan dokter apakah ibu memerlukan dosis primer, dosis lanjutan, atau belum membutuhkan dosis tambahan berdasarkan: riwayat vaksin COVID-19; riwayat infeksi sebelumnya; penyakit penyerta; risiko paparan; jenis vaksin yang tersedia; panduan resmi terbaru di Indonesia. Vaksin yang Tidak Diberikan Secara Rutin kepada Semua Ibu Hamil Beberapa vaksin dapat dipertimbangkan hanya ketika risiko penyakit dinilai lebih tinggi daripada potensi risikonya. Contohnya dapat mencakup vaksin hepatitis A, meningokokus, rabies, atau vaksin perjalanan tertentu. Pertimbangan tersebut mungkin diperlukan ketika ibu: akan bepergian ke wilayah dengan risiko penyakit tertentu; mengalami gigitan hewan yang berisiko menularkan rabies; tinggal atau bekerja di lingkungan dengan paparan khusus; memiliki penyakit kronis atau kondisi medis tertentu; belum menyelesaikan vaksinasi sebelum hamil. Keputusan tidak hanya ditentukan oleh usia kehamilan. Jenis vaksin, tingkat paparan, keparahan penyakit, dan ketersediaan alternatif pencegahan juga harus dipertimbangkan. Vaksin Apa yang Perlu Ditunda Saat Hamil? Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya tidak diberikan selama kehamilan karena terdapat risiko teoretis terhadap janin. Contohnya meliputi: vaksin MMR; vaksin varisela atau cacar air; vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung; beberapa vaksin perjalanan hidup. Vaksin HPV juga tidak direkomendasikan untuk diberikan selama kehamilan, meskipun bukan vaksin hidup. Dosis yang belum selesai biasanya dapat dilanjutkan setelah persalinan tanpa harus mengulang seri dari awal. (3)(6) Apabila seorang perempuan menerima vaksin tersebut sebelum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil, jangan langsung panik. Catat tanggal dan nama vaksinnya, lalu konsultasikan kepada dokter kandungan untuk evaluasi lebih lanjut. Apakah Vaksin pada Trimester 2 Aman untuk Bayi? Keamanan bergantung pada jenis vaksin. Vaksin nonhidup yang direkomendasikan selama kehamilan telah dipelajari melalui pemantauan keamanan dan penelitian dalam jumlah besar. Namun, istilah “aman” tidak berarti sama sekali tanpa kemungkinan efek samping. Efek samping ringan dapat terjadi karena sistem imun sedang merespons vaksin. Efek samping yang umumnya dapat muncul antara lain: nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan; lelah; sakit kepala; nyeri otot; demam ringan; rasa tidak enak badan. Reaksi tersebut umumnya bersifat sementara. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa KIPI ringan dapat berupa reaksi lokal maupun sistemik dan biasanya membaik dalam waktu singkat. Reaksi serius dapat terjadi, tetapi jauh lebih jarang. (7) Kapan Harus Segera Mencari Bantuan Medis? Segera cari pertolongan medis apabila setelah vaksinasi muncul: kesulitan bernapas; pembengkakan pada wajah, bibir, atau tenggorokan; ruam luas yang berkembang cepat; pingsan atau penurunan kesadaran; demam tinggi atau menetap; kejang; keluhan kehamilan yang terasa berat atau tidak biasa; gerakan janin berkurang setelah sebelumnya sudah terasa teratur. Keluhan tersebut belum tentu disebabkan oleh vaksin, tetapi tetap memerlukan pemeriksaan segera. Checklist Sebelum Vaksinasi pada Trimester Kedua Sebelum datang ke fasilitas kesehatan, siapkan informasi berikut: Usia kehamilan saat ini Buku KIA atau catatan pemeriksaan kehamilan Riwayat vaksin sebelum dan selama kehamilan Nama vaksin serta tanggal dosis terakhir Riwayat alergi berat atau anafilaksis Reaksi setelah vaksin sebelumnya Penyakit kronis atau gangguan sistem imun Obat dan suplemen yang sedang digunakan Riwayat infeksi atau demam baru-baru ini Rencana perjalanan selama kehamilan Ibu dengan pilek ringan belum tentu harus menunda vaksin. Sebaliknya, demam atau penyakit akut sedang hingga berat mungkin menjadi alasan untuk menjadwalkan ulang vaksinasi. Keputusan sebaiknya dibuat oleh tenaga kesehatan setelah menilai kondisi ibu. Pertanyaan yang Dapat Diajukan kepada Dokter Agar konsultasi lebih terarah, ibu dapat menanyakan: Apakah saya memerlukan vaksin pada trimester kedua? Bagaimana status imunisasi tetanus saya? Apakah saya perlu Tdap, Td, atau TT? Kapan waktu terbaik mendapatkan vaksin tersebut? Apakah vaksin influenza yang tersedia merupakan vaksin inaktif? Apakah kondisi kesehatan saya memengaruhi jadwal vaksin? Apakah vaksin dapat diberikan bersamaan? Efek samping apa yang perlu saya pantau? Kapan saya harus kembali untuk dosis berikutnya? Vaksin apa yang perlu diberikan setelah melahirkan? Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil Trimester 2? Vaksin untuk ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan pemeriksaan kehamilan dan layanan vaksinasi, seperti: puskesmas; rumah sakit; klinik ibu dan anak; praktik dokter kandungan; klinik vaksinasi resmi; fasilitas kesehatan lain yang memiliki tenaga dan penyimpanan vaksin sesuai standar. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, waktu pemberian, status imunisasi sebelumnya, serta kondisi kehamilan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 2 dapat membantu melindungi kesehatan ibu sekaligus memberikan antibodi awal kepada bayi. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada setiap trimester, sedangkan vaksin yang melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis perlu dijadwalkan berdasarkan jenis vaksin, usia kehamilan, riwayat imunisasi, serta panduan yang berlaku. Vaksin hepatitis B, COVID-19, dan vaksin lain dapat diberikan berdasarkan indikasi dan rekomendasi terbaru. Sebaliknya, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya ditunda hingga setelah persalinan. Tidak ada satu jadwal yang sesuai untuk semua ibu hamil. Bawalah catatan vaksin saat pemeriksaan antenatal dan konsultasikan setiap keputusan vaksinasi kepada dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Referensi Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). 2026 maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Vaccine safety for moms-to-be.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/moms-to-be/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Strategi komunikasi nasional imunisasi 2022–2025.https://www.kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/16653827576343b965228c40.04885132.pdf(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Pregnancy and vaccines.https://www.cdc.gov/vaccine-safety/about/pregnancy.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu KIPI: Penyebab, gejala, pencegahan, dan pengobatan.https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-Y6ZD (08/26)