
Momentum bulan Juli selalu membawa semangat ganda: perayaan Hari Anak Nasional (HAN) dan kembalinya anak-anak ke bangku sekolah (back to school). Bagi orang tua yang peduli kesehatan anak, persiapan masuk sekolah bukan sekadar melengkapi alat tulis dan seragam, melainkan juga memastikan daya tahan tubuh anak dalam kondisi terbaik dengan perlindungan vaksin influenza trivalen.
Di tengah tingginya interaksi di lingkungan sekolah, penyakit saluran pernapasan seperti influenza menjadi risiko nyata. Influenza bukan sekadar pilek biasa (common cold), dan vaksinasi rutin setiap tahun adalah langkah pencegahan yang penting. Kabar baiknya, ada pembaruan terkini pada pedoman vaksinasi influenza yang perlu orang tua ketahui.
Berdasarkan pemantauan terbaru dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), komposisi vaksin influenza kini kembali difokuskan pada format trivalen. Berikut penjelasan mengapa komposisi ini dinilai paling sesuai dengan virus yang beredar saat ini — dan kenapa perubahannya bukan berarti penurunan mutu.

Selama beberapa tahun terakhir, vaksin influenza kuadrivalen (isi 4 jenis virus) banyak digunakan karena mencakup dua jenis virus influenza A (H1N1 dan H3N2) serta dua jenis virus influenza B (garis keturunan Victoria dan Yamagata). Namun, peta virus flu di dunia telah berubah setelah pandemi.
Sejak Maret 2020, salah satu jenis virus flu, yaitu influenza B garis keturunan Yamagata, tidak lagi ditemukan beredar di seluruh dunia. Hal ini telah dikonfirmasi oleh berbagai pemantauan virus internasional. Karena virusnya sudah tidak ditemukan lagi, komponen ini dinilai tidak lagi diperlukan di dalam vaksin.
Merespons hal tersebut, WHO merekomendasikan agar vaksin kembali ke bentuk trivalen (isi 3 jenis virus) yang kini secara spesifik menargetkan:
Perlu dipahami, istilah kuadrivalen dan trivalen merujuk pada jumlah jenis virus di dalam vaksin, bukan merek dagang. Perubahan ini bukan penurunan kualitas, melainkan penyesuaian agar isi vaksin lebih sesuai dengan virus yang benar-benar beredar. Jenis influenza B yang masih aktif (Victoria) tetap tercakup.
Tema Hari Anak Nasional mengingatkan kita untuk memberikan yang terbaik bagi anak, dan pondasi utamanya adalah kesehatan. Saat anak kembali menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kelas tertutup bersama puluhan temannya, risiko penularan lewat percikan air liur (droplet) meningkat.
Perlindungan influenza bukan hanya tentang menghindarkan anak dari demam tinggi atau risiko komplikasi saluran napas, tetapi juga tentang melindungi waktu belajar mereka. Anak yang sehat terhindar dari ketidakhadiran sekolah (absen) yang dapat menghambat pencapaian akademis dan interaksi sosial mereka.
Mari wujudkan momen back to school yang sehat, aman, dan produktif. Untuk memastikan pilihan yang paling sesuai dengan kondisi anak, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan mengenai vaksin influenza terbaru. Merayakan Hari Anak Nasional bisa dimulai dari langkah sederhana: memastikan anak terlindungi dari penyakit yang sebetulnya dapat dicegah — agar mereka bebas belajar, bermain, dan mengeksplorasi potensinya tanpa hambatan. Get the Right Flu Shot
Catatan Penting Informasi ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan. Jenis, jadwal, dan anjuran vaksinasi dapat berbeda pada tiap anak, tergantung usia, kondisi kesehatan, riwayat alergi, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.
Baca juga:
Referensi:
Kode promat: ID-GEN-2026-07-J0FV (07/27)
Setiap anak berhak tumbuh sehat tanpa hambatan penyakit. Konsultasikan kebutuhan vaksin influenza anak Anda bersama tenaga kesehatan
Efek samping vaksin adalah reaksi yang dapat muncul setelah seseorang menerima vaksin. Keluhan yang paling umum biasanya ringan, seperti nyeri di area suntikan, kemerahan, bengkak ringan, demam ringan, lelah, sakit kepala, atau pegal. Pada banyak orang, keluhan ini membaik dalam beberapa hari. (1)(2) Meski umumnya ringan, efek samping vaksin tetap perlu dipantau. Segera cari bantuan medis bila muncul tanda alergi berat seperti sesak napas, bengkak pada wajah atau bibir, ruam menyeluruh, pingsan, kejang, atau kondisi yang tampak berat dan tidak membaik. (2)(3) Penting untuk diingat: tidak semua keluhan yang muncul setelah vaksin pasti disebabkan oleh vaksin. Dalam istilah medis, keluhan setelah imunisasi disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI, dan penyebabnya perlu dinilai oleh tenaga kesehatan. (4) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apa Itu Efek Samping Vaksin atau KIPI? Efek samping vaksin adalah respons tubuh yang muncul setelah vaksinasi. Respons ini dapat terjadi karena sistem imun sedang mengenali komponen vaksin dan membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu. (1) Di Indonesia, istilah yang sering digunakan adalah KIPI, yaitu Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. KIPI berarti setiap kejadian medis yang terjadi setelah imunisasi, baik yang ringan maupun serius. Namun, KIPI tidak otomatis berarti vaksin menjadi penyebab langsung. Penilaian medis diperlukan untuk melihat waktu kejadian, gejala, riwayat kesehatan, kemungkinan penyakit lain, dan faktor lain yang menyertai. (2)(4) Dengan memahami hal ini, pembaca tidak perlu langsung panik ketika muncul keluhan ringan. Namun, pembaca juga tetap perlu waspada bila muncul gejala berat atau keluhan yang tidak biasa. Baca juga: Kenapa Harus Vaksin? Panduan dan Manfaat untuk Semua Usia Efek Samping Vaksin yang Umum Terjadi Efek samping vaksin yang umum biasanya bersifat ringan dan sementara. Tidak semua orang mengalaminya. Ada orang yang merasa pegal dan demam ringan, ada juga yang tidak merasakan keluhan apa pun setelah vaksinasi. Berikut beberapa efek samping vaksin yang sering dilaporkan: Efek Samping UmumPenjelasan SederhanaBiasanya Apa yang Bisa Dilakukan?Nyeri di area suntikanArea bekas suntikan terasa pegal, nyeri, atau tidak nyamanKompres dingin, gerakkan lengan perlahan, istirahatKemerahan atau bengkak ringanReaksi lokal di tempat suntikanPantau ukuran bengkak, hindari menggarukDemam ringanRespons tubuh saat sistem imun bekerjaCukup minum, istirahat, gunakan obat sesuai arahan tenaga kesehatanLelah atau mengantukTubuh sedang beradaptasi setelah vaksinKurangi aktivitas berat sementaraSakit kepala atau pegalDapat terjadi pada sebagian orangIstirahat, cukup cairanRewel pada anakAnak merasa tidak nyaman setelah imunisasiPeluk, tenangkan, beri ASI atau cairan sesuai usiaNafsu makan menurun sementaraBisa terjadi pada sebagian bayi atau anakPantau asupan cairan dan kondisi umum anak CDC menjelaskan bahwa efek samping vaksin pada umumnya ringan, misalnya nyeri lengan atau demam ringan, dan biasanya hilang dalam beberapa hari. (1) Mengapa Tubuh Bisa Demam atau Nyeri Setelah Vaksin? Demam ringan, pegal, atau nyeri setelah vaksin dapat terjadi karena sistem imun sedang merespons vaksin. Respons ini tidak selalu berarti tubuh sedang sakit berat. Pada sebagian orang, respons imun dapat terasa sebagai keluhan ringan selama beberapa jam hingga beberapa hari. (1)(2) Namun, berat-ringannya keluhan dapat berbeda pada tiap orang. Faktor usia, jenis vaksin, kondisi tubuh saat vaksinasi, riwayat alergi, dan penyakit penyerta dapat memengaruhi respons tubuh. Pada anak, beberapa vaksin dapat menimbulkan demam, rewel, atau nyeri bekas suntikan. IDAI menjelaskan bahwa beberapa reaksi pascaimunisasi seperti demam, nyeri, kemerahan, dan pembengkakan dapat terjadi dan biasanya membaik, tetapi bila reaksi berat atau menetap, anak sebaiknya dibawa ke dokter. (5) Cara Memantau Efek Samping Vaksin di Rumah Setelah vaksinasi, luangkan waktu untuk memantau kondisi tubuh. Banyak fasilitas kesehatan juga meminta penerima vaksin menunggu beberapa saat setelah vaksinasi untuk memastikan tidak ada reaksi alergi segera. Hal yang bisa dilakukan di rumah: Catat waktu munculnya keluhan. Ukur suhu tubuh dengan termometer bila terasa demam. Pantau area suntikan: apakah bengkak bertambah besar, nyeri makin berat, atau muncul nanah. Pastikan cukup minum dan istirahat. Hindari aktivitas berat bila tubuh terasa tidak fit. Untuk anak, perhatikan apakah anak masih mau minum, masih responsif, dan tidak tampak sangat lemas. Gunakan obat penurun demam atau pereda nyeri hanya sesuai usia, dosis, dan arahan tenaga kesehatan, terutama pada bayi, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit tertentu. Jangan mengoleskan bahan yang tidak dianjurkan ke area suntikan. Jika area bekas suntikan terasa nyeri, kompres dingin dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman. (5) Kapan Efek Samping Vaksin Masih Bisa Dipantau di Rumah? Keluhan biasanya masih dapat dipantau di rumah bila: Demam ringan dan kondisi umum tetap baik. Nyeri atau bengkak di area suntikan tidak bertambah berat. Lelah atau pegal membaik setelah istirahat. Anak masih mau minum, masih responsif, dan tidak tampak sesak. Keluhan berangsur membaik dalam beberapa hari. Namun, tetap gunakan penilaian yang hati-hati. Bila Anda merasa khawatir atau keluhan tampak tidak biasa, lebih aman untuk mengunjungi dokter. Kapan Perlu ke Dokter Setelah Vaksin? Anda sebaiknya menghubungi dokter atau fasilitas kesehatan bila efek samping vaksin terasa mengkhawatirkan, tidak membaik dalam beberapa hari, atau kemerahan dan nyeri di area suntikan justru memburuk setelah 24 jam. CDC memberikan arahan serupa untuk menghubungi tenaga kesehatan bila efek samping terasa mengkhawatirkan atau tidak tampak membaik. (6) Segera kunjungi ke dokter bila mengalami: Demam tinggi atau demam tidak membaik. Nyeri, kemerahan, atau bengkak yang makin berat. Area suntikan terasa sangat panas, bernanah, atau nyeri berat. Anak menangis terus-menerus dan sulit ditenangkan. Anak tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak mau minum. Muntah berulang atau diare berat setelah vaksin. Keluhan berlangsung lebih lama dari yang dijelaskan tenaga kesehatan. Ada riwayat alergi berat atau reaksi berat pada vaksin sebelumnya. Untuk bayi kecil, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbid, atau orang dengan sistem imun lemah, jangan ragu tanya dokter lebih awal karena kebutuhan pemantauan bisa berbeda. Baca juga: Peran Vaksin Influenza pada Diabetes dan Risiko Jantung Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera ke IGD? Efek samping serius setelah vaksin jarang terjadi, tetapi tetap penting dikenali. Reaksi alergi berat atau anafilaksis biasanya muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah vaksinasi dan perlu penanganan segera. NHS menjelaskan bahwa reaksi alergi berat setelah vaksin sangat jarang dan petugas vaksinasi terlatih untuk menanganinya. (3) Segera ke IGD atau cari bantuan darurat bila muncul: Tanda BahayaMengapa Perlu Segera Ditangani?Sesak napas atau napas berbunyiBisa menjadi tanda reaksi alergi beratBengkak pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokanBisa mengganggu jalan napasRuam luas disertai lemas atau pusing beratDapat mengarah ke reaksi alergi beratPingsan atau penurunan kesadaranPerlu evaluasi segeraKejangPerlu penanganan medis segeraNyeri dada, jantung berdebar berat, atau tampak sangat lemahPerlu pemeriksaan untuk memastikan penyebabBayi tampak sangat lemas, kebiruan, atau sulit bernapasTermasuk kondisi darurat Jangan menunggu gejala menjadi lebih berat bila tanda-tanda di atas muncul. Apakah Efek Samping Berarti Vaksinnya Berbahaya? Tidak selalu. Efek samping ringan seperti nyeri bekas suntikan, demam ringan, atau lelah sementara dapat terjadi pada sebagian orang dan umumnya membaik. Vaksin, seperti produk kesehatan lain, dapat menimbulkan reaksi, tetapi manfaat vaksinasi adalah membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu dan membantu mengurangi risiko sakit berat sesuai jenis vaksinnya. (1)(7) Namun, vaksin tidak memberikan perlindungan 100%. Seseorang masih mungkin terkena penyakit setelah vaksinasi, tetapi pada banyak vaksin, tujuan pentingnya adalah membantu mengurangi risiko infeksi berat, komplikasi, rawat inap, atau penularan, tergantung jenis penyakit dan vaksin yang diberikan. (7) Keamanan vaksin juga dipantau melalui sistem pengawasan. WHO memiliki pendekatan penilaian kausalitas KIPI untuk membantu menilai apakah suatu kejadian setelah imunisasi berkaitan dengan vaksin atau ada penyebab lain. (4) Kelompok Perlu Perhatian Khusus Sebagian besar orang dapat menerima vaksin sesuai rekomendasi usia dan kondisi kesehatan. Namun, beberapa kelompok sebaiknya mengujungi dokter lebih dulu agar jenis dan waktu vaksinasi lebih tepat. kunjungi dokter bila Anda atau anggota keluarga: Pernah mengalami reaksi alergi berat terhadap vaksin sebelumnya. Memiliki alergi berat terhadap komponen vaksin tertentu. Sedang sakit sedang atau berat. Sedang hamil atau merencanakan kehamilan. Memiliki penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, atau gangguan paru. Mengalami gangguan sistem imun atau sedang memakai obat imunosupresif. Memiliki riwayat kejang atau gangguan saraf tertentu. Sedang menjalani terapi kanker atau transplantasi. Lansia dengan beberapa kondisi kesehatan sekaligus. CDC menjelaskan bahwa riwayat reaksi alergi berat terhadap dosis sebelumnya atau komponen vaksin dapat menjadi kontraindikasi pada beberapa vaksin, sedangkan sakit sedang atau berat dapat menjadi alasan untuk menunda vaksinasi hingga kondisi membaik. (8) Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayi Tips Agar Lebih Tenang Setelah Vaksinasi Agar pemantauan setelah vaksin lebih mudah, lakukan beberapa langkah sederhana berikut: Tanyakan kepada tenaga kesehatan efek samping apa yang mungkin muncul dari vaksin yang diterima. Tanyakan kapan harus kembali atau menghubungi fasilitas kesehatan. Simpan kartu atau catatan vaksinasi. Jangan langsung melakukan aktivitas berat bila tubuh terasa tidak nyaman. Minum cukup air. Untuk anak, siapkan termometer dan pantau suhu tubuh. Jangan memberikan obat pada bayi atau anak tanpa memastikan dosis yang tepat. Bila punya riwayat alergi, sampaikan sebelum vaksinasi. Tunggu di fasilitas vaksinasi sesuai arahan petugas setelah menerima vaksin. Sikap terbaik adalah tenang, tetapi tetap waspada. Tidak perlu panik terhadap keluhan ringan, tetapi jangan mengabaikan tanda bahaya. Cari Lokasi Vaksinasi Terdekat? Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, Puskesmas, atau klinik penyedia vaksin influenza di sekitar wilayah Anda. Cek Daftar Lokasi Klinik Kesimpulan Efek samping vaksin yang umum biasanya ringan dan sementara, seperti nyeri di area suntikan, bengkak ringan, demam ringan, lelah, sakit kepala, atau pegal. Keluhan ini umumnya membaik dalam beberapa hari dan dapat dipantau dengan istirahat, cukup cairan, serta perawatan sederhana sesuai arahan tenaga kesehatan. (1)(2) Namun, segera hubungi dokter bila keluhan terasa mengkhawatirkan, tidak membaik, atau justru memburuk. Segera cari pertolongan darurat bila muncul tanda alergi berat seperti sesak napas, bengkak wajah atau bibir, pingsan, kejang, atau penurunan kesadaran. (3)(6) Memahami efek samping vaksin dapat membantu keluarga mengambil keputusan dengan lebih tenang. Vaksinasi tetap perlu dilakukan sesuai usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan karena manfaatnya penting untuk membantu mengurangi risiko penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. (7) Referensi (1) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Possible side effects from vaccines.https://www.cdc.gov/vaccines/basics/possible-side-effects.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (2) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu KIPI: Penyebab, gejala, pencegahan dan penanganannya. Ayo Sehat Kemenkes.https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (3) National Health Service. (2023). 6-in-1 vaccine.https://www.nhs.uk/vaccinations/6-in-1-vaccine/(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (4) World Health Organization. (2021). Causality assessment of an adverse event following immunization (AEFI): User manual for the revised WHO classification, 2nd ed., 2019 update.https://www.who.int/publications/i/item/9789241516990(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (5) Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2013). Penjelasan kepada orangtua mengenai imunisasi.https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/penjelasan-kepada-orangtua-mengenai-imunisasi(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (6) Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Getting your COVID-19 vaccine.https://www.cdc.gov/covid/vaccines/getting-your-covid-19-vaccine.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (7) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Vaksinasi COVID-19.https://layanandata.kemkes.go.id/katalog-data/covid-19/ketersediaan-data/vaksinasi-covid-19(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (8) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Contraindications and precautions: Vaccines & immunizations.https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/imz-best-practices/contraindications-precautions.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-D7QK (07/27)
Vaksin EV71 adalah vaksin yang membantu tubuh membentuk respon imun terhadap Enterovirus 71, salah satu virus penyebab Hand, Foot, and Mouth Disease atau HFMD yang sering dikenal masyarakat sebagai Flu Singapura. EV71 penting diperhatikan karena pada sebagian kasus dapat berkaitan dengan penyakit yang lebih berat, terutama pada anak kecil. (1) Namun, vaksin EV71 tidak mencegah semua jenis HFMD. HFMD juga dapat disebabkan oleh virus lain, seperti Coxsackievirus A16 dan enterovirus lain. Artinya, anak yang sudah mendapat vaksin EV71 masih bisa terkena HFMD dari virus selain EV71, tetapi vaksin dapat membantu mengurangi risiko HFMD yang disebabkan oleh EV71 sesuai indikasi vaksin. (2) Vaksin EV71 biasanya dipertimbangkan untuk anak sesuai usia, kondisi kesehatan, ketersediaan vaksin, dan rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan. Orang tua sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum vaksinasi, terutama bila anak sedang demam, memiliki riwayat alergi berat, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, dokter anak, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Untuk keputusan vaksinasi anak, selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berwenang. Apa Itu HFMD atau Flu Singapura? Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Flu Singapura dalam istilah populer, yaitu infeksi virus yang sering menyerang bayi dan anak-anak. Gejalanya biasanya berupa demam, sariawan atau luka di mulut, serta ruam atau lepuhan kecil di telapak tangan, telapak kaki, dan kadang area bokong. (3) HFMD mudah menular melalui kontak dekat, percikan droplet, cairan dari lepuhan, tinja, atau permukaan benda yang terkontaminasi. Karena itu, penyakit ini sering menyebar di lingkungan anak seperti daycare, sekolah, tempat bermain, dan rumah dengan beberapa anak. (3) Sebagian besar kasus HFMD bersifat ringan dan membaik dengan perawatan suportif, seperti cukup cairan, istirahat, dan obat sesuai anjuran dokter. Namun, orang tua tetap perlu waspada karena anak dapat mengalami sulit makan dan minum akibat nyeri mulut, sehingga berisiko dehidrasi. Baca juga: Flu Singapura (HFMD): Gejala, Penularan, Pencegahan, dan Konsultasi Dokter Kenapa EV71 Perlu Diperhatikan? HFMD dapat disebabkan oleh beberapa virus. Salah satu yang penting adalah Enterovirus 71 atau EV71. Menurut WHO, EV71 dapat menyebabkan spektrum penyakit yang luas, mulai dari tanpa gejala, HFMD ringan, hingga penyakit neurologis berat pada sebagian kasus. (1) Anak usia dini termasuk kelompok yang perlu lebih diperhatikan karena sistem imun mereka masih berkembang dan mereka sering berinteraksi dekat dengan anak lain. Pada kasus yang jarang, infeksi EV71 dapat berkaitan dengan komplikasi serius, seperti gangguan sistem saraf pusat atau masalah jantung-paru. (1) Penting untuk dipahami: kewaspadaan terhadap EV71 bukan berarti semua HFMD akan menjadi berat. Banyak kasus tetap ringan. Namun, mengetahui penyebab, tanda bahaya, dan pilihan pencegahan dapat membantu orang tua mengambil langkah yang lebih tenang dan tepat. Apa Itu Vaksin EV71? Vaksin EV71 adalah vaksin yang dirancang untuk membantu tubuh membentuk respons imun terhadap Enterovirus 71. Vaksin EV71 yang telah dievaluasi regulator merupakan vaksin inaktif, sehingga tidak mengandung virus hidup yang dapat bereplikasi dan menyebabkan infeksi EV71. (2) Secara sederhana, cara kerja vaksin EV71 adalah: vaksin memperkenalkan komponen virus yang sudah diinaktivasi kepada sistem imun; tubuh belajar mengenali EV71; tubuh membentuk antibodi atau respons imun; ketika anak terpapar EV71 di kemudian hari, tubuh diharapkan lebih siap melawan virus tersebut. Vaksin EV71 dapat membantu mencegah HFMD yang disebabkan oleh EV71, tetapi tidak melindungi dari HFMD akibat virus lain. Ini adalah poin penting agar orang tua memiliki ekspektasi yang realistis. (2) Apakah Vaksin EV71 Bisa Mencegah Semua HFMD? Tidak. Vaksin EV71 tidak mencegah semua HFMD. HFMD dapat disebabkan oleh berbagai enterovirus. EV71 adalah salah satu penyebab yang penting karena lebih sering dikaitkan dengan risiko penyakit berat dibanding beberapa penyebab lain. Namun, virus lain seperti Coxsackievirus A16 juga dapat menyebabkan HFMD. (2)(3) Berikut ringkasan sederhananya: PertanyaanJawaban SingkatApakah vaksin EV71 membantu mencegah HFMD?Ya, untuk HFMD yang disebabkan oleh EV71 sesuai indikasi vaksin.Apakah vaksin EV71 mencegah semua penyebab HFMD?Tidak. HFMD juga bisa disebabkan virus lain.Apakah anak masih bisa terkena HFMD setelah vaksin?Bisa, terutama bila penyebabnya bukan EV71.Apakah kebersihan tetap penting setelah vaksin?Ya. Cuci tangan, disinfeksi mainan, dan isolasi saat sakit tetap penting. Dengan pemahaman ini, vaksin EV71 sebaiknya dilihat sebagai bagian dari strategi pencegahan, bukan satu-satunya perlindungan. Siapa yang Dapat Mempertimbangkan Vaksin EV71? Vaksin EV71 terutama relevan untuk anak usia dini sesuai indikasi yang berlaku dan rekomendasi tenaga kesehatan. Di Indonesia, informasi produk yang terdaftar menyebutkan vaksin EV71 digunakan untuk pencegahan HFMD yang disebabkan EV71, dengan jadwal dua dosis sesuai petunjuk produk dan rekomendasi resmi. (2) Orang tua dapat berdiskusi dengan dokter anak bila anak: berusia bayi atau prasekolah sesuai indikasi vaksin; mulai masuk daycare, PAUD, TK, atau sering bermain bersama banyak anak; tinggal serumah dengan saudara yang juga masih kecil; pernah mengalami HFMD dan orang tua ingin memahami opsi pencegahan ke depan; memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membutuhkan penilaian dokter sebelum vaksinasi. Vaksinasi sebaiknya ditunda atau dikonsultasikan terlebih dahulu bila anak sedang demam, sakit akut, atau memiliki riwayat reaksi alergi berat terhadap komponen vaksin. Informasi kontraindikasi dan kehati-hatian harus mengikuti petunjuk produk serta penilaian dokter. (2) Jadwal Vaksin EV71: Berapa Kali Diberikan? Berdasarkan informasi produk vaksin EV71 yang terdaftar, vaksin diberikan dalam dua dosis, masing-masing 0,5 mL, dengan jarak sekitar 1 bulan antara dosis pertama dan kedua. (2) Namun, jadwal vaksinasi anak tetap perlu dikonfirmasi dengan dokter atau fasilitas vaksinasi. Tenaga kesehatan akan menilai usia anak, kondisi kesehatan saat datang, riwayat alergi, riwayat vaksin sebelumnya, dan apakah anak sedang mengalami demam atau infeksi akut. Hal yang perlu diingat orang tua: dosis kedua penting untuk melengkapi jadwal vaksin; jangan memberikan vaksin saat anak sedang sakit tanpa penilaian tenaga kesehatan; simpan catatan vaksin anak agar jadwal tidak terlewat; tanyakan apakah vaksin EV71 sesuai untuk usia dan kondisi anak. Baca juga: Kasus HFMD Jadi Perhatian, BPOM Resmi Perluas Vaksin EV71 Manfaat Vaksin EV71 untuk Anak Manfaat utama vaksin EV71 adalah membantu memberikan perlindungan terhadap HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Dalam berbagai studi, vaksin EV71 inaktif menunjukkan perlindungan terhadap penyakit EV71, termasuk potensi manfaat dalam menurunkan risiko penyakit yang lebih berat akibat EV71. (4)(5) Manfaat yang dapat dipahami orang tua: Membantu mengurangi risiko HFMD akibat EV71Vaksin membantu tubuh mengenali EV71 dan membentuk respons imun. Membantu perlindungan pada usia rentanAnak kecil lebih sering terpapar di lingkungan bermain, sekolah, atau daycare. Menjadi bagian dari pencegahan berlapisVaksin tidak menggantikan cuci tangan, kebersihan mainan, dan isolasi saat sakit. Membantu orang tua mengambil langkah preventifDengan informasi yang jelas, orang tua bisa berdiskusi lebih terarah dengan dokter. Vaksin tidak memberikan perlindungan 100%. Namun, vaksinasi dapat menjadi langkah penting untuk membantu mengurangi risiko penyakit sesuai indikasi dan rekomendasi tenaga kesehatan. Efek Samping Vaksin EV71 yang Perlu Diketahui Seperti vaksin lain, vaksin EV71 dapat menimbulkan efek samping pada sebagian anak. Umumnya efek samping bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri atau kemerahan di area suntikan, demam ringan, rewel, atau rasa tidak nyaman setelah vaksinasi. (2) Efek samping yang perlu dipantau: Efek setelah vaksinApa yang bisa dilakukanNyeri atau kemerahan di area suntikanKompres sesuai anjuran tenaga kesehatan, jangan dipijat keras.Demam ringanPastikan anak cukup minum dan istirahat. Obat penurun demam digunakan sesuai anjuran dokter.Rewel atau tidak nyamanPantau kondisi umum anak dan berikan cairan cukup.Reaksi alergi beratSegera cari bantuan medis bila muncul sesak, bengkak wajah, lemas berat, atau ruam menyeluruh. Reaksi serius setelah vaksin jarang terjadi, tetapi tetap perlu diperhatikan. Setelah vaksinasi, biasanya fasilitas kesehatan akan meminta anak menunggu beberapa saat untuk memantau kemungkinan reaksi segera. Kapan Anak dengan HFMD Harus Segera ke Dokter? Sebagian besar HFMD dapat membaik dengan perawatan suportif. Namun, orang tua perlu segera membawa anak ke dokter atau fasilitas kesehatan bila muncul tanda bahaya. Segera konsultasi bila anak mengalami: demam tinggi atau demam yang tidak membaik; sulit minum atau tanda dehidrasi, seperti jarang buang air kecil, sangat lemas, atau mulut kering; muntah berulang; tampak sangat mengantuk, sulit dibangunkan, atau kejang; sakit kepala berat, kaku leher, atau tampak bingung; napas cepat, sesak, atau tampak kebiruan; anak masih bayi kecil atau memiliki kondisi kesehatan khusus. Tanda-tanda tersebut tidak boleh ditunda karena sebagian kecil kasus HFMD, terutama yang berkaitan dengan EV71, dapat berkembang lebih serius. (1)(3) Pencegahan HFMD Tidak Cukup Hanya dengan Vaksin Karena HFMD dapat disebabkan oleh berbagai virus, pencegahan tetap perlu dilakukan berlapis. Vaksin EV71 membantu terhadap EV71, tetapi kebiasaan hidup bersih tetap penting untuk menurunkan risiko penularan. Langkah pencegahan sehari-hari: ajarkan anak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir; cuci tangan setelah dari toilet, sebelum makan, dan setelah mengganti popok; bersihkan mainan, meja, gagang pintu, dan benda yang sering disentuh; hindari berbagi alat makan, botol minum, atau handuk; jauhkan sementara anak yang sakit dari sekolah atau daycare sesuai anjuran tenaga kesehatan; ajarkan etika batuk dan bersin; pantau gejala pada saudara atau teman serumah. CDC menekankan cuci tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit, serta membersihkan permukaan yang sering disentuh sebagai langkah pencegahan HFMD. (3) Apakah Vaksin EV71 Wajib? Status vaksin dapat berbeda berdasarkan kebijakan negara, rekomendasi profesi, ketersediaan vaksin, dan kondisi masing-masing anak. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya mengikuti informasi dari media sosial atau pengalaman orang lain. Pertanyaan yang bisa diajukan ke dokter: Apakah usia anak saya sesuai untuk vaksin EV71? Apakah anak saya perlu menunda vaksin karena sedang demam atau sakit? Apakah ada riwayat alergi yang perlu diperhatikan? Berapa jadwal dosis pertama dan kedua? Apa efek samping yang perlu dipantau di rumah? Kapan harus kembali kontrol? Pendekatan terbaik adalah mengambil keputusan berdasarkan informasi medis yang jelas, kondisi anak, dan rekomendasi tenaga kesehatan. Baca juga: Panduan Lengkap Vaksinasi untuk Keluarga Indonesia Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin EV71 untuk HFMD? Vaksin EV71 dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan vaksinasi anak, seperti klinik vaksinasi, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan resmi tertentu. Ketersediaan vaksin dapat berbeda di setiap wilayah dan fasilitas kesehatan. Sebelum vaksinasi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk bayi, anak dengan riwayat alergi berat, anak yang sedang demam, anak dengan penyakit kronis, atau anak dengan kondisi imun tertentu. Konsultasi membantu memastikan jadwal, jenis vaksin, dan kondisi kesehatan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin EV71 atau layanan vaksinasi anak di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin EV71 adalah vaksin yang membantu melindungi anak dari HFMD atau Hand, Foot, and Mouth Disease yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Vaksin ini penting dipahami karena EV71 merupakan salah satu penyebab HFMD yang dapat berkaitan dengan risiko penyakit lebih berat pada sebagian anak. (1) Namun, vaksin EV71 tidak mencegah semua penyebab HFMD. Anak tetap dapat terkena HFMD akibat virus lain, sehingga kebersihan tangan, disinfeksi mainan, etika batuk, dan menghindari kontak dekat dengan anak yang sedang sakit tetap perlu dilakukan. (2)(3) Untuk orang tua, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum vaksinasi. Dengan informasi yang tepat, vaksin EV71 dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari perlindungan kesehatan anak secara menyeluruh. Referensi World Health Organization. (n.d.). Enterovirus 71.https://www.who.int/teams/health-product-policy-and-standards/standards-and-specifications/norms-and-standards/vaccine-standardization/enterovirus-71(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2022). Informasi produk Inlive®: Inactivated enterovirus type 71 vaccine.https://registrasiobat.pom.go.id/files/assesment-reports/01698216830.pdf(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Hand, Foot, and Mouth Disease.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Zhang, Y., et al. (2024). Effectiveness of Enterovirus 71 inactivated vaccines against Enterovirus A71-associated hand, foot, and mouth disease.https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10984126/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Yan, X., et al. (2025). The efficacy and effectiveness of enterovirus A71 vaccines: A systematic review and meta-analysis.https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12097632/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-AE48 (07/27)
Vaksin influenza perlu diulang setiap tahun karena dua alasan utama: virus influenza mudah berubah dan perlindungan tubuh setelah vaksinasi dapat menurun seiring waktu. Karena itu, komposisi vaksin influenza ditinjau secara berkala agar lebih sesuai dengan jenis virus influenza yang diperkirakan banyak beredar pada musim berikutnya. (1)(2) Vaksin influenza tidak membuat seseorang kebal 100% dari flu. Namun, vaksinasi dapat membantu mengurangi risiko sakit influenza, menurunkan risiko komplikasi berat, dan membantu melindungi kelompok yang lebih rentan seperti anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis. (1)(3) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apa Itu Influenza dan Kenapa Tidak Bisa Dianggap Flu Biasa? Influenza adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Penyakit ini dapat menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Gejalanya bisa mirip batuk pilek biasa, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, lemas, dan nyeri otot. Namun, influenza dapat terasa lebih berat, muncul mendadak, dan pada kelompok tertentu dapat menyebabkan komplikasi serius. (1)(4) Pada sebagian besar orang sehat, influenza dapat membaik dengan istirahat, cairan yang cukup, dan perawatan suportif. Tetapi pada anak kecil, lansia, ibu hamil, orang dengan asma, diabetes, penyakit jantung, penyakit paru kronis, atau gangguan daya tahan tubuh, influenza dapat meningkatkan risiko pneumonia, rawat inap, atau perburukan penyakit yang sudah ada. (1)(3) Karena itulah vaksin influenza tahunan menjadi salah satu langkah pencegahan yang penting, terutama untuk kelompok yang berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi. Kenapa Vaksin Influenza Perlu Diulang Setiap Tahun? Ada dua alasan besar mengapa vaksin influenza berbeda dari beberapa vaksin lain yang mungkin hanya diberikan beberapa kali dalam hidup. 1. Virus Influenza Mudah Berubah Virus influenza, terutama influenza A dan B, dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan kecil pada virus ini dikenal sebagai antigenic drift. Sederhananya, virus influenza seperti “mengubah tampilan luarnya”, sehingga sistem imun yang sebelumnya sudah mengenali virus lama mungkin tidak seoptimal dulu dalam mengenali virus yang baru beredar. (2) Karena virusnya sering berubah, komposisi vaksin influenza juga perlu ditinjau dan disesuaikan secara berkala. WHO melalui jaringan pemantauan influenza global memberikan rekomendasi komposisi vaksin influenza berdasarkan virus yang diperkirakan akan banyak beredar pada musim berikutnya. (5) Artinya, vaksin influenza tahun ini bisa berbeda komposisinya dari tahun sebelumnya, karena target virus yang ingin dicegah juga dapat berubah. 2. Perlindungan Imun Dapat Menurun Seiring Waktu Setelah vaksinasi, tubuh membentuk respons imun, termasuk antibodi, untuk membantu melawan virus influenza. Namun, perlindungan ini dapat menurun seiring waktu. Karena itu, vaksinasi tahunan membantu tubuh mendapatkan “pengingat” agar perlindungan terhadap influenza tetap lebih optimal. (1)(3) Penurunan perlindungan ini bisa berbeda pada setiap orang. Faktor usia, kondisi kesehatan, daya tahan tubuh, dan kecocokan antara vaksin dengan virus yang beredar dapat memengaruhi seberapa baik perlindungan vaksin bekerja. Ringkasan Alasan Vaksin Influenza Diulang Tahunan AlasanPenjelasan sederhanaDampaknya bagi vaksinasiVirus influenza berubahVirus dapat mengalami perubahan kecil dari waktu ke waktuKomposisi vaksin perlu ditinjau dan diperbaruiPerlindungan tubuh menurunRespons imun setelah vaksinasi tidak selalu bertahan kuat sepanjang waktuVaksin tahunan membantu menjaga perlindunganVirus yang beredar bisa berbedaJenis influenza yang dominan dapat berubah dari tahun ke tahunVaksin disesuaikan dengan prediksi virus yang beredarKelompok rentan perlu perlindungan ekstraAnak kecil, lansia, ibu hamil, dan pasien komorbid lebih berisiko komplikasiVaksin tahunan membantu menurunkan risiko sakit berat Apakah Berarti Vaksin Tahun Lalu Tidak Berguna? Bukan begitu. Vaksin influenza tahun lalu tetap bermanfaat pada masanya. Namun, karena virus influenza dapat berubah dan perlindungan imun dapat menurun, vaksin tahun lalu mungkin tidak lagi memberikan perlindungan yang optimal untuk tahun berikutnya. (1)(2) Bayangkan seperti memperbarui sistem keamanan. Sistem lama tetap pernah membantu melindungi, tetapi ancaman yang muncul bisa berubah. Karena itu, perlindungan perlu diperbarui agar tetap relevan. Apakah Tetap Bisa Kena Flu Setelah Vaksin Influenza? Ya, seseorang masih bisa terkena influenza setelah vaksinasi. Vaksin influenza tidak memberikan perlindungan 100%. Namun, vaksinasi dapat membantu mengurangi risiko terkena influenza dan, bila tetap terinfeksi, dapat membantu menurunkan risiko sakit berat, komplikasi, rawat inap, atau kematian pada kelompok berisiko. (1)(3) Selain itu, tidak semua batuk pilek disebabkan oleh virus influenza. Ada banyak virus pernapasan lain yang bisa menyebabkan gejala mirip flu, seperti rhinovirus, RSV, atau virus penyebab infeksi saluran napas lainnya. Karena itu, seseorang mungkin merasa “kena flu” setelah vaksin, padahal penyebabnya bukan virus influenza. Siapa yang Perlu Lebih Mempertimbangkan Vaksin Influenza Tahunan? Vaksin influenza dapat dipertimbangkan untuk banyak kelompok usia sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Namun, beberapa kelompok perlu lebih waspada karena berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi influenza. (1)(3) Kelompok tersebut antara lain: Anak-anak, terutama usia kecil Lansia Ibu hamil Orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, asma, atau penyakit paru kronis Orang dengan daya tahan tubuh lemah Tenaga kesehatan Caregiver atau orang yang tinggal serumah dengan kelompok rentan Orang yang sering berada di lingkungan ramai, sekolah, kantor, asrama, atau fasilitas umum Untuk anak, rekomendasi imunisasi influenza dapat dimulai sejak usia 6 bulan dan jadwalnya perlu mengikuti panduan dokter anak atau rekomendasi IDAI yang berlaku. Pada anak yang baru pertama kali mendapat vaksin influenza, kebutuhan dosis dapat berbeda sesuai usia dan riwayat vaksin sebelumnya. (6) Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Penting Vaksin Influenza dan Tdap untuk Ibu & Bayihttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/vaksin-ibu-hamil-influenza-tdap Baca juga: Peran Vaksin Influenza pada Diabetes dan Risiko Jantunghttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/diabetes-risiko-jantung-vaksin-influenza Kapan Sebaiknya Vaksin Influenza Diulang? Secara umum, vaksin influenza diberikan setiap tahun. Waktu terbaik dapat berbeda tergantung negara, musim influenza, ketersediaan vaksin, usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan setempat. (1)(5) Di negara tropis seperti Indonesia, influenza dapat ditemukan sepanjang tahun, meskipun pada beberapa periode kasus dapat meningkat. Karena itu, waktu vaksinasi sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau fasilitas vaksinasi, terutama jika Anda termasuk kelompok berisiko, akan bepergian, sedang hamil, memiliki komorbid, atau tinggal dengan anggota keluarga rentan. Apakah Aman Mengulang Vaksin Influenza Setiap Tahun? Secara umum, vaksin influenza telah digunakan selama puluhan tahun dan memiliki profil keamanan yang baik. Efek samping yang umum biasanya ringan dan sementara, seperti nyeri, kemerahan, atau bengkak di area suntikan, demam ringan, lelah, sakit kepala, mual, atau nyeri otot. (1)(4)(7) Efek samping serius sangat jarang, tetapi tetap perlu diperhatikan. Segera cari bantuan medis jika setelah vaksin muncul gejala seperti sesak napas, bengkak pada wajah atau tenggorokan, jantung berdebar berat, pusing hebat, ruam menyeluruh, atau tanda reaksi alergi berat. Sebelum vaksinasi, beri tahu tenaga kesehatan jika Anda memiliki: Riwayat alergi berat terhadap vaksin atau komponen vaksin Riwayat reaksi berat setelah vaksinasi sebelumnya Sedang demam tinggi atau sakit akut Riwayat penyakit saraf tertentu seperti Guillain-Barré syndrome Kondisi imunokompromais Kehamilan atau penyakit kronis tertentu Informasi ini membantu tenaga kesehatan menentukan jenis vaksin, waktu pemberian, dan apakah vaksinasi perlu ditunda atau disesuaikan. Vaksin Influenza Tidak Berdiri Sendiri: Tetap Perlu Pencegahan Lain Vaksinasi adalah salah satu langkah penting, tetapi pencegahan influenza tetap perlu dilakukan secara menyeluruh. Kementerian Kesehatan RI juga menekankan pencegahan flu dengan kebiasaan hidup bersih dan mengurangi penularan. (4) Langkah sederhana yang dapat membantu: Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir Gunakan masker saat sakit atau berada di tempat ramai Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin Istirahat di rumah saat sedang sakit Hindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit Konsumsi makanan bergizi dan cukup cairan Bersihkan permukaan benda yang sering disentuh Konsultasi ke dokter jika gejala berat atau tidak membaik Kapan Harus Konsultasi ke Dokter? Segera konsultasikan ke dokter atau fasilitas kesehatan jika influenza disertai: Sesak napas Nyeri dada Demam tinggi yang tidak membaik Lemas berat atau penurunan kesadaran Bibir tampak kebiruan Dehidrasi Kejang Gejala memburuk setelah sempat membaik Terjadi pada bayi, lansia, ibu hamil, atau pasien komorbid Untuk kelompok berisiko, konsultasi lebih awal penting karena dokter dapat menilai apakah perlu pemeriksaan, obat antivirus, pemantauan khusus, atau tindakan lain sesuai kondisi pasien. (1)(3) Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Influenza? Vaksin influenza dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan imunisasi, seperti rumah sakit, klinik, puskesmas tertentu, praktik dokter, atau fasilitas vaksinasi resmi. Sebelum vaksinasi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk anak, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbid, atau orang yang memiliki riwayat alergi berat. Konsultasi membantu memastikan jadwal, jenis vaksin, dan kondisi kesehatan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin influenza di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi TerdekatKesimpulan Vaksin influenza perlu diulang setiap tahun karena virus influenza terus berubah dan perlindungan tubuh setelah vaksinasi dapat menurun seiring waktu. Vaksin tahunan membantu tubuh mendapatkan perlindungan yang lebih sesuai terhadap virus influenza yang diperkirakan beredar pada periode tersebut. (1)(2)(5) Vaksin influenza tidak menjamin seseorang tidak akan sakit sama sekali, tetapi dapat membantu mengurangi risiko influenza, sakit berat, komplikasi, dan rawat inap, terutama pada kelompok yang lebih rentan. Untuk mendapatkan rekomendasi yang sesuai, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika Anda memiliki kondisi khusus. Referensi World Health Organization. (2025). Influenza (seasonal).https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal)(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). How flu viruses can change: “Drift” and “Shift”.https://www.cdc.gov/flu/php/viruses/change.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Key facts about seasonal flu vaccine.https://www.cdc.gov/flu/vaccines/keyfacts.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Manfaat vaksin influenza bagi anak.https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1883/manfaat-vaksin-influenza-bagi-anak(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). World Health Organization. (2026). Recommendations for influenza vaccine composition.https://www.who.int/teams/global-influenza-programme/vaccines/who-recommendations(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Kaswandani, N., et al. (2025). Jadwal imunisasi anak usia 0–18 tahun rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2024. Sari Pediatri.https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/view/2843(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Selecting viruses for the seasonal influenza vaccine.https://www.cdc.gov/flu/vaccine-process/vaccine-selection.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Kode promat: ID-VAX-2026-07-VQTG (07/27)