Vaksin influenza perlu diulang setiap tahun karena dua alasan utama: virus influenza mudah berubah dan perlindungan tubuh setelah vaksinasi dapat menurun seiring waktu. Karena itu, komposisi vaksin influenza ditinjau secara berkala agar lebih sesuai dengan jenis virus influenza yang diperkirakan banyak beredar pada musim berikutnya. (1)(2)
Vaksin influenza tidak membuat seseorang kebal 100% dari flu. Namun, vaksinasi dapat membantu mengurangi risiko sakit influenza, menurunkan risiko komplikasi berat, dan membantu melindungi kelompok yang lebih rentan seperti anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis. (1)(3)
“Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.”

Influenza adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Penyakit ini dapat menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Gejalanya bisa mirip batuk pilek biasa, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, lemas, dan nyeri otot. Namun, influenza dapat terasa lebih berat, muncul mendadak, dan pada kelompok tertentu dapat menyebabkan komplikasi serius. (1)(4)
Pada sebagian besar orang sehat, influenza dapat membaik dengan istirahat, cairan yang cukup, dan perawatan suportif. Tetapi pada anak kecil, lansia, ibu hamil, orang dengan asma, diabetes, penyakit jantung, penyakit paru kronis, atau gangguan daya tahan tubuh, influenza dapat meningkatkan risiko pneumonia, rawat inap, atau perburukan penyakit yang sudah ada. (1)(3)
Karena itulah vaksin influenza tahunan menjadi salah satu langkah pencegahan yang penting, terutama untuk kelompok yang berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Ada dua alasan besar mengapa vaksin influenza berbeda dari beberapa vaksin lain yang mungkin hanya diberikan beberapa kali dalam hidup.
Virus influenza, terutama influenza A dan B, dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan kecil pada virus ini dikenal sebagai antigenic drift. Sederhananya, virus influenza seperti “mengubah tampilan luarnya”, sehingga sistem imun yang sebelumnya sudah mengenali virus lama mungkin tidak seoptimal dulu dalam mengenali virus yang baru beredar. (2)
Karena virusnya sering berubah, komposisi vaksin influenza juga perlu ditinjau dan disesuaikan secara berkala. WHO melalui jaringan pemantauan influenza global memberikan rekomendasi komposisi vaksin influenza berdasarkan virus yang diperkirakan akan banyak beredar pada musim berikutnya. (5)
Artinya, vaksin influenza tahun ini bisa berbeda komposisinya dari tahun sebelumnya, karena target virus yang ingin dicegah juga dapat berubah.
Setelah vaksinasi, tubuh membentuk respons imun, termasuk antibodi, untuk membantu melawan virus influenza. Namun, perlindungan ini dapat menurun seiring waktu. Karena itu, vaksinasi tahunan membantu tubuh mendapatkan “pengingat” agar perlindungan terhadap influenza tetap lebih optimal. (1)(3)
Penurunan perlindungan ini bisa berbeda pada setiap orang. Faktor usia, kondisi kesehatan, daya tahan tubuh, dan kecocokan antara vaksin dengan virus yang beredar dapat memengaruhi seberapa baik perlindungan vaksin bekerja.
| Alasan | Penjelasan sederhana | Dampaknya bagi vaksinasi |
| Virus influenza berubah | Virus dapat mengalami perubahan kecil dari waktu ke waktu | Komposisi vaksin perlu ditinjau dan diperbarui |
| Perlindungan tubuh menurun | Respons imun setelah vaksinasi tidak selalu bertahan kuat sepanjang waktu | Vaksin tahunan membantu menjaga perlindungan |
| Virus yang beredar bisa berbeda | Jenis influenza yang dominan dapat berubah dari tahun ke tahun | Vaksin disesuaikan dengan prediksi virus yang beredar |
| Kelompok rentan perlu perlindungan ekstra | Anak kecil, lansia, ibu hamil, dan pasien komorbid lebih berisiko komplikasi | Vaksin tahunan membantu menurunkan risiko sakit berat |
Bukan begitu. Vaksin influenza tahun lalu tetap bermanfaat pada masanya. Namun, karena virus influenza dapat berubah dan perlindungan imun dapat menurun, vaksin tahun lalu mungkin tidak lagi memberikan perlindungan yang optimal untuk tahun berikutnya. (1)(2)
Bayangkan seperti memperbarui sistem keamanan. Sistem lama tetap pernah membantu melindungi, tetapi ancaman yang muncul bisa berubah. Karena itu, perlindungan perlu diperbarui agar tetap relevan.
Ya, seseorang masih bisa terkena influenza setelah vaksinasi. Vaksin influenza tidak memberikan perlindungan 100%. Namun, vaksinasi dapat membantu mengurangi risiko terkena influenza dan, bila tetap terinfeksi, dapat membantu menurunkan risiko sakit berat, komplikasi, rawat inap, atau kematian pada kelompok berisiko. (1)(3)
Selain itu, tidak semua batuk pilek disebabkan oleh virus influenza. Ada banyak virus pernapasan lain yang bisa menyebabkan gejala mirip flu, seperti rhinovirus, RSV, atau virus penyebab infeksi saluran napas lainnya. Karena itu, seseorang mungkin merasa “kena flu” setelah vaksin, padahal penyebabnya bukan virus influenza.
Vaksin influenza dapat dipertimbangkan untuk banyak kelompok usia sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Namun, beberapa kelompok perlu lebih waspada karena berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi influenza. (1)(3)
Kelompok tersebut antara lain:
Untuk anak, rekomendasi imunisasi influenza dapat dimulai sejak usia 6 bulan dan jadwalnya perlu mengikuti panduan dokter anak atau rekomendasi IDAI yang berlaku. Pada anak yang baru pertama kali mendapat vaksin influenza, kebutuhan dosis dapat berbeda sesuai usia dan riwayat vaksin sebelumnya. (6)
Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Penting Vaksin Influenza dan Tdap untuk Ibu & Bayi
https://kenapaharusvaksin.com/artikel/vaksin-ibu-hamil-influenza-tdap
Baca juga: Peran Vaksin Influenza pada Diabetes dan Risiko Jantung
https://kenapaharusvaksin.com/artikel/diabetes-risiko-jantung-vaksin-influenza
Secara umum, vaksin influenza diberikan setiap tahun. Waktu terbaik dapat berbeda tergantung negara, musim influenza, ketersediaan vaksin, usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan setempat. (1)(5)
Di negara tropis seperti Indonesia, influenza dapat ditemukan sepanjang tahun, meskipun pada beberapa periode kasus dapat meningkat. Karena itu, waktu vaksinasi sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau fasilitas vaksinasi, terutama jika Anda termasuk kelompok berisiko, akan bepergian, sedang hamil, memiliki komorbid, atau tinggal dengan anggota keluarga rentan.
Secara umum, vaksin influenza telah digunakan selama puluhan tahun dan memiliki profil keamanan yang baik. Efek samping yang umum biasanya ringan dan sementara, seperti nyeri, kemerahan, atau bengkak di area suntikan, demam ringan, lelah, sakit kepala, mual, atau nyeri otot. (1)(4)(7)
Efek samping serius sangat jarang, tetapi tetap perlu diperhatikan. Segera cari bantuan medis jika setelah vaksin muncul gejala seperti sesak napas, bengkak pada wajah atau tenggorokan, jantung berdebar berat, pusing hebat, ruam menyeluruh, atau tanda reaksi alergi berat.
Sebelum vaksinasi, beri tahu tenaga kesehatan jika Anda memiliki:
Informasi ini membantu tenaga kesehatan menentukan jenis vaksin, waktu pemberian, dan apakah vaksinasi perlu ditunda atau disesuaikan.
Vaksinasi adalah salah satu langkah penting, tetapi pencegahan influenza tetap perlu dilakukan secara menyeluruh. Kementerian Kesehatan RI juga menekankan pencegahan flu dengan kebiasaan hidup bersih dan mengurangi penularan. (4)
Langkah sederhana yang dapat membantu:
Segera konsultasikan ke dokter atau fasilitas kesehatan jika influenza disertai:
Untuk kelompok berisiko, konsultasi lebih awal penting karena dokter dapat menilai apakah perlu pemeriksaan, obat antivirus, pemantauan khusus, atau tindakan lain sesuai kondisi pasien. (1)(3)
Vaksin influenza dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan imunisasi, seperti rumah sakit, klinik, puskesmas tertentu, praktik dokter, atau fasilitas vaksinasi resmi.
Sebelum vaksinasi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk anak, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbid, atau orang yang memiliki riwayat alergi berat. Konsultasi membantu memastikan jadwal, jenis vaksin, dan kondisi kesehatan sudah sesuai.
Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin influenza di sekitar wilayah Anda.
Cari Klinik Vaksinasi Terdekat
Kesimpulan
Vaksin influenza perlu diulang setiap tahun karena virus influenza terus berubah dan perlindungan tubuh setelah vaksinasi dapat menurun seiring waktu. Vaksin tahunan membantu tubuh mendapatkan perlindungan yang lebih sesuai terhadap virus influenza yang diperkirakan beredar pada periode tersebut. (1)(2)(5)
Vaksin influenza tidak menjamin seseorang tidak akan sakit sama sekali, tetapi dapat membantu mengurangi risiko influenza, sakit berat, komplikasi, dan rawat inap, terutama pada kelompok yang lebih rentan. Untuk mendapatkan rekomendasi yang sesuai, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika Anda memiliki kondisi khusus.
Kode promat: ID-VAX-2026-07-VQTG (07/27)
Influenza dapat menyerang siapa saja, tetapi sebagian orang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.

Momentum bulan Juli selalu membawa semangat ganda: perayaan Hari Anak Nasional (HAN) dan kembalinya anak-anak ke bangku sekolah (back to school). Bagi orang tua yang peduli kesehatan anak, persiapan masuk sekolah bukan sekadar melengkapi alat tulis dan seragam, melainkan juga memastikan daya tahan tubuh anak dalam kondisi terbaik dengan perlindungan vaksin influenza trivalen. Di tengah tingginya interaksi di lingkungan sekolah, penyakit saluran pernapasan seperti influenza menjadi risiko nyata. Influenza bukan sekadar pilek biasa (common cold), dan vaksinasi rutin setiap tahun adalah langkah pencegahan yang penting. Kabar baiknya, ada pembaruan terkini pada pedoman vaksinasi influenza yang perlu orang tua ketahui. Berdasarkan pemantauan terbaru dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), komposisi vaksin influenza kini kembali difokuskan pada format trivalen. Berikut penjelasan mengapa komposisi ini dinilai paling sesuai dengan virus yang beredar saat ini — dan kenapa perubahannya bukan berarti penurunan mutu. Evolusi Vaksin Influenza: Mengapa Trivalen Menjadi Standar Baru? Selama beberapa tahun terakhir, vaksin influenza kuadrivalen (isi 4 jenis virus) banyak digunakan karena mencakup dua jenis virus influenza A (H1N1 dan H3N2) serta dua jenis virus influenza B (garis keturunan Victoria dan Yamagata). Namun, peta virus flu di dunia telah berubah setelah pandemi. Sejak Maret 2020, salah satu jenis virus flu, yaitu influenza B garis keturunan Yamagata, tidak lagi ditemukan beredar di seluruh dunia. Hal ini telah dikonfirmasi oleh berbagai pemantauan virus internasional. Karena virusnya sudah tidak ditemukan lagi, komponen ini dinilai tidak lagi diperlukan di dalam vaksin. Merespons hal tersebut, WHO merekomendasikan agar vaksin kembali ke bentuk trivalen (isi 3 jenis virus) yang kini secara spesifik menargetkan: Virus Influenza A (H1N1) Virus Influenza A (H3N2) Virus Influenza B (garis keturunan Victoria) Perlu dipahami, istilah kuadrivalen dan trivalen merujuk pada jumlah jenis virus di dalam vaksin, bukan merek dagang. Perubahan ini bukan penurunan kualitas, melainkan penyesuaian agar isi vaksin lebih sesuai dengan virus yang benar-benar beredar. Jenis influenza B yang masih aktif (Victoria) tetap tercakup. Investasi Kesehatan untuk Masa Depan Anak Tema Hari Anak Nasional mengingatkan kita untuk memberikan yang terbaik bagi anak, dan pondasi utamanya adalah kesehatan. Saat anak kembali menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kelas tertutup bersama puluhan temannya, risiko penularan lewat percikan air liur (droplet) meningkat. Perlindungan influenza bukan hanya tentang menghindarkan anak dari demam tinggi atau risiko komplikasi saluran napas, tetapi juga tentang melindungi waktu belajar mereka. Anak yang sehat terhindar dari ketidakhadiran sekolah (absen) yang dapat menghambat pencapaian akademis dan interaksi sosial mereka. Mari wujudkan momen back to school yang sehat, aman, dan produktif. Untuk memastikan pilihan yang paling sesuai dengan kondisi anak, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan mengenai vaksin influenza terbaru. Merayakan Hari Anak Nasional bisa dimulai dari langkah sederhana: memastikan anak terlindungi dari penyakit yang sebetulnya dapat dicegah — agar mereka bebas belajar, bermain, dan mengeksplorasi potensinya tanpa hambatan. Get the Right Flu Shot Catatan Penting Informasi ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan. Jenis, jadwal, dan anjuran vaksinasi dapat berbeda pada tiap anak, tergantung usia, kondisi kesehatan, riwayat alergi, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Baca juga: Panduan Vaksin Influenza: Jadwal, Jenis, dan Untuk Siapa Kenapa Vaksin Influenza Perlu Diulang Setiap Tahun? Referensi: World Health Organization (WHO). (2025). Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the 2026 southern hemisphere influenza season. Geneva: World Health Organization. (dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Koesnoe, S., & Kartasasmita, C. (2026). Transition from Quadrivalent to Trivalent Influenza Vaccination Compared with Continued Quadrivalent Vaccination for Preventing Severe Influenza Outcomes in Populations in Indonesia: Implications from the 2025–2026 Epidemiological Landscape. Acta Medica Indonesiana, 58(2). (dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). World Health Organization (WHO). (2026). Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the 2026–2027 northern hemisphere influenza season. Geneva: World Health Organization. (dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-J0FV (07/27)

Vaksin ibu hamil trimester 1 dapat diberikan dalam kondisi tertentu, tetapi jenis dan waktunya harus disesuaikan dengan riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko tertular penyakit, dan rekomendasi dokter. Vaksin influenza yang tidak mengandung virus hidup, misalnya, dapat diberikan pada trimester mana pun selama kehamilan. (1)(2) Namun, tidak semua vaksin perlu diberikan pada trimester pertama. Vaksin Tdap umumnya dijadwalkan pada usia kehamilan 27–36 minggu agar transfer antibodi kepada bayi berlangsung optimal. Sementara itu, vaksin hidup seperti MMR dan varisela tidak diberikan selama kehamilan dan biasanya ditunda sampai setelah persalinan. (3)(4) Karena kebutuhan setiap ibu berbeda, sebaiknya jangan menentukan jenis atau jadwal vaksin hanya berdasarkan usia kehamilan. Bawalah catatan vaksinasi saat melakukan pemeriksaan antenatal agar dokter atau bidan dapat menilai vaksin yang sudah lengkap, perlu dilanjutkan, dijadwalkan kemudian, atau ditunda. Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, risiko pajanan penyakit, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apakah Ibu Hamil Trimester 1 Boleh Mendapatkan Vaksin? Ibu hamil trimester pertama boleh mendapatkan vaksin tertentu apabila manfaatnya dinilai lebih besar daripada risikonya dan vaksin tersebut sesuai untuk digunakan selama kehamilan. Trimester pertama berlangsung sejak awal kehamilan hingga sekitar minggu ke-13. Pada masa ini, organ-organ janin mulai terbentuk sehingga banyak ibu merasa khawatir terhadap obat, makanan, maupun tindakan medis, termasuk vaksinasi. Kekhawatiran tersebut dapat dipahami. Namun, keputusan vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh trimester. Dokter juga akan mempertimbangkan: apakah vaksin mengandung mikroorganisme hidup atau tidak; riwayat vaksinasi sebelum hamil; kondisi kesehatan ibu; riwayat alergi berat; pekerjaan dan lingkungan tempat tinggal; risiko bepergian atau terpapar penyakit; kemungkinan dampak penyakit terhadap ibu dan janin; rekomendasi kesehatan yang berlaku. Vaksin inaktif atau vaksin yang tidak menggunakan virus atau bakteri hidup umumnya memiliki pertimbangan berbeda dari vaksin hidup. Karena itu, istilah “vaksin aman untuk ibu hamil” tetap perlu dibaca berdasarkan jenis vaksin, indikasi, dan kondisi masing-masing ibu. Mengapa Vaksinasi Penting Selama Kehamilan? Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut merupakan bagian normal dari kehamilan, tetapi dapat membuat ibu lebih rentan mengalami penyakit tertentu atau komplikasi yang lebih berat. Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan dua lapis manfaat. 1. Membantu melindungi kesehatan ibu Vaksin membantu sistem kekebalan mengenali penyebab penyakit tertentu. Perlindungan ini tidak selalu mencegah infeksi sepenuhnya, tetapi dapat membantu mengurangi risiko sakit berat, komplikasi, atau perawatan di rumah sakit. 2. Membantu memberikan antibodi kepada bayi Sebagian antibodi yang terbentuk pada tubuh ibu dapat berpindah melalui plasenta kepada janin. Antibodi tersebut dapat membantu memberikan perlindungan sementara kepada bayi pada awal kehidupannya, sebelum bayi cukup umur untuk menerima vaksin tertentu. (3)(5) Manfaat vaksin tetap tidak berarti perlindungan 100%. Ibu masih perlu menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, menjaga pola hidup sehat, serta mengikuti pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanan Jenis Vaksin yang Dapat Dipertimbangkan pada Trimester Pertama Tidak ada satu daftar vaksin trimester pertama yang berlaku sama untuk semua ibu. Berikut gambaran umum yang dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan dokter. Jenis vaksinPertimbangan pada trimester pertamaCatatan pentingInfluenza inaktifDapat diberikan pada trimester mana punGunakan jenis vaksin yang direkomendasikan untuk kehamilanTd atau tetanus-difteriDapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat imunisasi dan program pelayanan ibu hamilJadwal ditentukan tenaga kesehatanHepatitis BDapat dipertimbangkan bila memiliki indikasi atau risiko penularanMemerlukan penilaian faktor risikoCOVID-19Bergantung pada rekomendasi terbaru, kondisi ibu, dan penilaian dokterKebijakan dan rekomendasi dapat berubahVaksin lain karena kondisi khususHanya berdasarkan indikasi medis atau risiko pajananMisalnya karena pekerjaan atau perjalanan tertentu Vaksin influenza inaktif Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama maupun trimester lainnya. Vaksin ini tidak mengandung virus influenza hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. Influenza pada kehamilan tidak selalu hanya menimbulkan gejala ringan. Pada sebagian ibu, penyakit ini dapat meningkatkan risiko komplikasi saluran pernapasan dan perawatan di rumah sakit. Karena itu, vaksin influenza menjadi salah satu vaksin yang sering dibahas dalam pelayanan kehamilan. (1)(2) Pemberian vaksin perlu memperhatikan jenis vaksin yang digunakan. Vaksin influenza hidup yang diberikan melalui semprotan hidung tidak dianjurkan selama kehamilan. (4) Vaksin tetanus dan difteri Di Indonesia, perlindungan terhadap tetanus bagi perempuan usia subur dan ibu hamil merupakan bagian penting dari upaya mencegah tetanus maternal dan tetanus pada bayi baru lahir. Riwayat imunisasi sebelumnya perlu diperiksa untuk menentukan apakah ibu membutuhkan dosis tambahan dan kapan dosis tersebut diberikan. (6) Tenaga kesehatan dapat menggunakan riwayat vaksinasi, catatan pelayanan antenatal, dan pedoman yang berlaku untuk menentukan jadwal vaksin Td atau vaksin yang mengandung komponen tetanus. Perlu dibedakan antara vaksin Td atau tetanus-difteri dan Tdap, yang juga memberikan perlindungan terhadap pertusis atau batuk rejan. Dalam sejumlah pedoman internasional, Tdap diberikan pada setiap kehamilan dan biasanya dijadwalkan pada minggu ke-27 hingga ke-36, bukan secara rutin pada trimester pertama. (3)(4) Vaksin hepatitis B Vaksin hepatitis B bukan vaksin hidup. Vaksin ini dapat dipertimbangkan selama kehamilan apabila ibu belum memiliki perlindungan dan mempunyai faktor risiko terpapar hepatitis B. Faktor risiko dapat mencakup: tinggal serumah atau memiliki pasangan dengan hepatitis B; paparan darah atau cairan tubuh melalui pekerjaan; menjalani tindakan medis tertentu; memiliki kondisi lain yang meningkatkan risiko infeksi; bepergian ke wilayah dengan risiko penularan yang lebih tinggi. Dokter mungkin menyarankan pemeriksaan hepatitis B sebagai bagian dari pemeriksaan kehamilan. Hasil pemeriksaan tersebut membantu menentukan perlindungan yang dibutuhkan ibu dan langkah pencegahan penularan kepada bayi. Vaksin COVID-19 Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan bukti ilmiah, varian virus, kebijakan otoritas kesehatan, kondisi kesehatan ibu, serta ketersediaan vaksin. Sejumlah organisasi profesi kebidanan masih memasukkan vaksinasi COVID-19 sebagai bagian dari perlindungan yang dapat dipertimbangkan selama kehamilan. Namun, keputusan individual sebaiknya dibuat bersama dokter dengan memperhatikan riwayat vaksin, infeksi sebelumnya, komorbid, dan tingkat risiko pajanan. (5)(7) Ikuti panduan terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, BPOM, dokter kandungan, atau fasilitas vaksinasi resmi sebelum menerima vaksin. Vaksin yang Biasanya Tidak Diberikan pada Trimester Pertama Sebagian vaksin bukan dilarang sepanjang kehamilan, tetapi dijadwalkan pada usia kehamilan yang berbeda. Tdap biasanya diberikan pada trimester ketiga Tdap membantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis. Pemberian pada usia kehamilan 27–36 minggu bertujuan mengoptimalkan pembentukan dan perpindahan antibodi pertusis dari ibu kepada bayi. (3)(4) Bayi baru lahir belum dapat langsung menyelesaikan seri vaksinnya sendiri. Antibodi dari ibu dapat membantu memberikan perlindungan awal selama masa rentan tersebut. Dokter dapat mempertimbangkan waktu berbeda dalam kondisi tertentu, misalnya terdapat luka yang membutuhkan penanganan tetanus atau risiko khusus lainnya. Vaksin RSV mengikuti usia kehamilan dan kebijakan setempat Beberapa negara telah merekomendasikan vaksin RSV maternal pada rentang usia kehamilan tertentu. Namun, rekomendasi, registrasi produk, ketersediaan, dan penerapannya dapat berbeda antarnegara. Karena itu, vaksin RSV tidak dapat dianggap sebagai vaksin rutin trimester pertama. Ibu perlu menanyakan ketersediaan dan rekomendasi terkini kepada dokter atau fasilitas kesehatan resmi. Vaksin yang Perlu Ditunda Selama Kehamilan Vaksin hidup umumnya tidak diberikan kepada ibu hamil karena mengandung mikroorganisme hidup yang telah dilemahkan. Walaupun risiko terhadap janin sering kali bersifat teoretis, vaksin ini biasanya ditunda sebagai langkah kehati-hatian. Jenis vaksin yang umumnya ditunda meliputi: MMR atau campak, gondongan, dan rubela; varisela atau cacar air; vaksin influenza hidup melalui semprotan hidung; vaksin hidup lain yang tidak memiliki indikasi khusus selama kehamilan. Vaksin HPV juga tidak direkomendasikan untuk dilanjutkan selama kehamilan. Apabila seri vaksin belum selesai, dosis berikutnya dapat dilanjutkan setelah kehamilan tanpa perlu mengulang seri dari awal. (4) Vaksin tertentu untuk perjalanan, seperti demam kuning, memerlukan penilaian khusus. Dokter akan membandingkan risiko vaksin dengan risiko tertular penyakit di negara tujuan. Bagaimana Jika Vaksin Diberikan Sebelum Mengetahui Sedang Hamil? Tidak sedikit perempuan menerima vaksin ketika belum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Dalam situasi ini, jangan langsung panik atau mengambil kesimpulan bahwa kehamilan pasti mengalami masalah. Langkah yang sebaiknya dilakukan adalah: Catat nama vaksin dan tanggal pemberiannya. Simpan kartu atau bukti vaksinasi. Sampaikan kepada dokter kandungan atau bidan. Ikuti pemeriksaan kehamilan sesuai rekomendasi. Jangan menerima dosis berikutnya sebelum jadwal dievaluasi. Paparan vaksin tertentu secara tidak sengaja tidak otomatis menjadi alasan untuk mengakhiri kehamilan. Penilaian harus dilakukan berdasarkan jenis vaksin, usia kehamilan, kondisi ibu, dan informasi medis yang tersedia. (4) Efek Samping Vaksin pada Ibu Hamil Efek samping vaksin pada ibu hamil umumnya serupa dengan efek yang dialami orang dewasa lainnya. Efek samping ringan dapat berupa: nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan; demam ringan; pegal; sakit kepala; rasa lelah; mual ringan. Keluhan tersebut biasanya membaik dalam satu hingga beberapa hari. Gunakan obat penurun demam atau pereda nyeri hanya sesuai arahan dokter, terutama selama kehamilan. Efek samping serius seperti reaksi alergi berat dapat terjadi, tetapi jarang. Program imunisasi dan fasilitas kesehatan memiliki prosedur observasi serta penanganan kejadian ikutan pascaimunisasi. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa keluhan ringan seperti demam, bengkak, dan nyeri dapat terjadi setelah imunisasi, sedangkan kejadian serius sangat jarang. (8) Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan Medis? Segera hubungi fasilitas kesehatan apabila setelah vaksinasi muncul: sesak napas; pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan; bentol atau ruam luas; pingsan atau penurunan kesadaran; demam tinggi atau tidak membaik; muntah terus-menerus; nyeri berat; perdarahan dari vagina; kram atau nyeri perut yang mengkhawatirkan; keluhan kehamilan lain yang terasa tidak biasa. Gejala tersebut belum tentu disebabkan oleh vaksin, tetapi perlu dinilai tenaga kesehatan agar penyebab dan penanganannya dapat ditentukan. Checklist Sebelum Konsultasi Vaksin Agar konsultasi lebih efektif, siapkan informasi berikut: kartu vaksinasi atau foto catatan vaksin; usia kehamilan; hasil pemeriksaan kehamilan terakhir; riwayat alergi, terutama alergi berat; penyakit kronis atau komorbid; obat dan suplemen yang sedang digunakan; riwayat reaksi setelah vaksin sebelumnya; pekerjaan dan kemungkinan paparan penyakit; rencana perjalanan; riwayat penyakit menular atau kontak erat. Jangan khawatir apabila kartu vaksinasi tidak lengkap. Dokter tetap dapat membantu menilai kebutuhan berdasarkan wawancara medis dan pemeriksaan yang diperlukan. Baca juga: Panduan Vaksinasi Keluarga Indonesia Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil? Vaksin untuk ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan pemeriksaan kehamilan dan vaksinasi, seperti: puskesmas; klinik; rumah sakit; praktik dokter kandungan; praktik bidan; fasilitas vaksinasi resmi. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, jadwal, kondisi kesehatan, riwayat alergi, dan usia kehamilan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 1 dapat diberikan apabila jenis vaksinnya sesuai dan terdapat manfaat yang jelas bagi ibu maupun kehamilan. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester mana pun. Vaksin hepatitis B atau tetanus dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat imunisasi dan faktor risiko. Tidak semua vaksin harus diberikan pada awal kehamilan. Tdap umumnya dijadwalkan pada usia kehamilan 27–36 minggu, sedangkan vaksin hidup seperti MMR dan varisela ditunda sampai setelah kehamilan. Keputusan terbaik bukan sekadar memilih antara “vaksin” atau “tidak vaksin”, melainkan menentukan vaksin yang tepat, pada waktu yang tepat, berdasarkan kondisi masing-masing ibu. Konsultasikan sejak pemeriksaan kehamilan awal dan bawalah catatan vaksin agar dokter atau bidan dapat menyusun rekomendasi yang aman dan sesuai. Referensi American College of Obstetricians and Gynecologists. (2025). Influenza in pregnancy: Prevention and treatment.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/practice-advisory/articles/2025/08/influenza-in-pregnancy-prevention-and-treatment(Dikutip pada 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2017). Tetanus, diphtheria, and pertussis vaccination.https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2017/09/update-on-immunization-and-pregnancy-tetanus-diphtheria-and-pertussis-vaccination(Dikutip pada 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). 2026 maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(Dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Strategi komunikasi nasional imunisasi 2022–2025.https://www.kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/16653827576343b965228c40.04885132.pdf(Dikutip pada 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (n.d.). COVID-19 vaccines and pregnancy: Conversation guide for clinicians.https://www.acog.org/programs/immunization-infectious-disease-public-health/tools-and-resources/covid-19-vaccines-and-pregnancy-conversation-guide-for-clinicians(Dikutip pada 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Seputar imunisasi.https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/seputar-imunisasi(Dikutip pada 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-NEHV (08/26)
Vaksin influenza perlu diulang setiap tahun karena dua alasan utama: virus influenza mudah berubah dan perlindungan tubuh setelah vaksinasi dapat menurun seiring waktu. Karena itu, komposisi vaksin influenza ditinjau secara berkala agar lebih sesuai dengan jenis virus influenza yang diperkirakan banyak beredar pada musim berikutnya. (1)(2) Vaksin influenza tidak membuat seseorang kebal 100% dari flu. Namun, vaksinasi dapat membantu mengurangi risiko sakit influenza, menurunkan risiko komplikasi berat, dan membantu melindungi kelompok yang lebih rentan seperti anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis. (1)(3) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apa Itu Influenza dan Kenapa Tidak Bisa Dianggap Flu Biasa? Influenza adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Penyakit ini dapat menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Gejalanya bisa mirip batuk pilek biasa, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, lemas, dan nyeri otot. Namun, influenza dapat terasa lebih berat, muncul mendadak, dan pada kelompok tertentu dapat menyebabkan komplikasi serius. (1)(4) Pada sebagian besar orang sehat, influenza dapat membaik dengan istirahat, cairan yang cukup, dan perawatan suportif. Tetapi pada anak kecil, lansia, ibu hamil, orang dengan asma, diabetes, penyakit jantung, penyakit paru kronis, atau gangguan daya tahan tubuh, influenza dapat meningkatkan risiko pneumonia, rawat inap, atau perburukan penyakit yang sudah ada. (1)(3) Karena itulah vaksin influenza tahunan menjadi salah satu langkah pencegahan yang penting, terutama untuk kelompok yang berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi. Kenapa Vaksin Influenza Perlu Diulang Setiap Tahun? Ada dua alasan besar mengapa vaksin influenza berbeda dari beberapa vaksin lain yang mungkin hanya diberikan beberapa kali dalam hidup. 1. Virus Influenza Mudah Berubah Virus influenza, terutama influenza A dan B, dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan kecil pada virus ini dikenal sebagai antigenic drift. Sederhananya, virus influenza seperti “mengubah tampilan luarnya”, sehingga sistem imun yang sebelumnya sudah mengenali virus lama mungkin tidak seoptimal dulu dalam mengenali virus yang baru beredar. (2) Karena virusnya sering berubah, komposisi vaksin influenza juga perlu ditinjau dan disesuaikan secara berkala. WHO melalui jaringan pemantauan influenza global memberikan rekomendasi komposisi vaksin influenza berdasarkan virus yang diperkirakan akan banyak beredar pada musim berikutnya. (5) Artinya, vaksin influenza tahun ini bisa berbeda komposisinya dari tahun sebelumnya, karena target virus yang ingin dicegah juga dapat berubah. 2. Perlindungan Imun Dapat Menurun Seiring Waktu Setelah vaksinasi, tubuh membentuk respons imun, termasuk antibodi, untuk membantu melawan virus influenza. Namun, perlindungan ini dapat menurun seiring waktu. Karena itu, vaksinasi tahunan membantu tubuh mendapatkan “pengingat” agar perlindungan terhadap influenza tetap lebih optimal. (1)(3) Penurunan perlindungan ini bisa berbeda pada setiap orang. Faktor usia, kondisi kesehatan, daya tahan tubuh, dan kecocokan antara vaksin dengan virus yang beredar dapat memengaruhi seberapa baik perlindungan vaksin bekerja. Ringkasan Alasan Vaksin Influenza Diulang Tahunan AlasanPenjelasan sederhanaDampaknya bagi vaksinasiVirus influenza berubahVirus dapat mengalami perubahan kecil dari waktu ke waktuKomposisi vaksin perlu ditinjau dan diperbaruiPerlindungan tubuh menurunRespons imun setelah vaksinasi tidak selalu bertahan kuat sepanjang waktuVaksin tahunan membantu menjaga perlindunganVirus yang beredar bisa berbedaJenis influenza yang dominan dapat berubah dari tahun ke tahunVaksin disesuaikan dengan prediksi virus yang beredarKelompok rentan perlu perlindungan ekstraAnak kecil, lansia, ibu hamil, dan pasien komorbid lebih berisiko komplikasiVaksin tahunan membantu menurunkan risiko sakit berat Apakah Berarti Vaksin Tahun Lalu Tidak Berguna? Bukan begitu. Vaksin influenza tahun lalu tetap bermanfaat pada masanya. Namun, karena virus influenza dapat berubah dan perlindungan imun dapat menurun, vaksin tahun lalu mungkin tidak lagi memberikan perlindungan yang optimal untuk tahun berikutnya. (1)(2) Bayangkan seperti memperbarui sistem keamanan. Sistem lama tetap pernah membantu melindungi, tetapi ancaman yang muncul bisa berubah. Karena itu, perlindungan perlu diperbarui agar tetap relevan. Apakah Tetap Bisa Kena Flu Setelah Vaksin Influenza? Ya, seseorang masih bisa terkena influenza setelah vaksinasi. Vaksin influenza tidak memberikan perlindungan 100%. Namun, vaksinasi dapat membantu mengurangi risiko terkena influenza dan, bila tetap terinfeksi, dapat membantu menurunkan risiko sakit berat, komplikasi, rawat inap, atau kematian pada kelompok berisiko. (1)(3) Selain itu, tidak semua batuk pilek disebabkan oleh virus influenza. Ada banyak virus pernapasan lain yang bisa menyebabkan gejala mirip flu, seperti rhinovirus, RSV, atau virus penyebab infeksi saluran napas lainnya. Karena itu, seseorang mungkin merasa “kena flu” setelah vaksin, padahal penyebabnya bukan virus influenza. Siapa yang Perlu Lebih Mempertimbangkan Vaksin Influenza Tahunan? Vaksin influenza dapat dipertimbangkan untuk banyak kelompok usia sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Namun, beberapa kelompok perlu lebih waspada karena berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi influenza. (1)(3) Kelompok tersebut antara lain: Anak-anak, terutama usia kecil Lansia Ibu hamil Orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, asma, atau penyakit paru kronis Orang dengan daya tahan tubuh lemah Tenaga kesehatan Caregiver atau orang yang tinggal serumah dengan kelompok rentan Orang yang sering berada di lingkungan ramai, sekolah, kantor, asrama, atau fasilitas umum Untuk anak, rekomendasi imunisasi influenza dapat dimulai sejak usia 6 bulan dan jadwalnya perlu mengikuti panduan dokter anak atau rekomendasi IDAI yang berlaku. Pada anak yang baru pertama kali mendapat vaksin influenza, kebutuhan dosis dapat berbeda sesuai usia dan riwayat vaksin sebelumnya. (6) Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Penting Vaksin Influenza dan Tdap untuk Ibu & Bayihttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/vaksin-ibu-hamil-influenza-tdap Baca juga: Peran Vaksin Influenza pada Diabetes dan Risiko Jantunghttps://kenapaharusvaksin.com/artikel/diabetes-risiko-jantung-vaksin-influenza Kapan Sebaiknya Vaksin Influenza Diulang? Secara umum, vaksin influenza diberikan setiap tahun. Waktu terbaik dapat berbeda tergantung negara, musim influenza, ketersediaan vaksin, usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan setempat. (1)(5) Di negara tropis seperti Indonesia, influenza dapat ditemukan sepanjang tahun, meskipun pada beberapa periode kasus dapat meningkat. Karena itu, waktu vaksinasi sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau fasilitas vaksinasi, terutama jika Anda termasuk kelompok berisiko, akan bepergian, sedang hamil, memiliki komorbid, atau tinggal dengan anggota keluarga rentan. Apakah Aman Mengulang Vaksin Influenza Setiap Tahun? Secara umum, vaksin influenza telah digunakan selama puluhan tahun dan memiliki profil keamanan yang baik. Efek samping yang umum biasanya ringan dan sementara, seperti nyeri, kemerahan, atau bengkak di area suntikan, demam ringan, lelah, sakit kepala, mual, atau nyeri otot. (1)(4)(7) Efek samping serius sangat jarang, tetapi tetap perlu diperhatikan. Segera cari bantuan medis jika setelah vaksin muncul gejala seperti sesak napas, bengkak pada wajah atau tenggorokan, jantung berdebar berat, pusing hebat, ruam menyeluruh, atau tanda reaksi alergi berat. Sebelum vaksinasi, beri tahu tenaga kesehatan jika Anda memiliki: Riwayat alergi berat terhadap vaksin atau komponen vaksin Riwayat reaksi berat setelah vaksinasi sebelumnya Sedang demam tinggi atau sakit akut Riwayat penyakit saraf tertentu seperti Guillain-Barré syndrome Kondisi imunokompromais Kehamilan atau penyakit kronis tertentu Informasi ini membantu tenaga kesehatan menentukan jenis vaksin, waktu pemberian, dan apakah vaksinasi perlu ditunda atau disesuaikan. Vaksin Influenza Tidak Berdiri Sendiri: Tetap Perlu Pencegahan Lain Vaksinasi adalah salah satu langkah penting, tetapi pencegahan influenza tetap perlu dilakukan secara menyeluruh. Kementerian Kesehatan RI juga menekankan pencegahan flu dengan kebiasaan hidup bersih dan mengurangi penularan. (4) Langkah sederhana yang dapat membantu: Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir Gunakan masker saat sakit atau berada di tempat ramai Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin Istirahat di rumah saat sedang sakit Hindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit Konsumsi makanan bergizi dan cukup cairan Bersihkan permukaan benda yang sering disentuh Konsultasi ke dokter jika gejala berat atau tidak membaik Kapan Harus Konsultasi ke Dokter? Segera konsultasikan ke dokter atau fasilitas kesehatan jika influenza disertai: Sesak napas Nyeri dada Demam tinggi yang tidak membaik Lemas berat atau penurunan kesadaran Bibir tampak kebiruan Dehidrasi Kejang Gejala memburuk setelah sempat membaik Terjadi pada bayi, lansia, ibu hamil, atau pasien komorbid Untuk kelompok berisiko, konsultasi lebih awal penting karena dokter dapat menilai apakah perlu pemeriksaan, obat antivirus, pemantauan khusus, atau tindakan lain sesuai kondisi pasien. (1)(3) Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Influenza? Vaksin influenza dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan imunisasi, seperti rumah sakit, klinik, puskesmas tertentu, praktik dokter, atau fasilitas vaksinasi resmi. Sebelum vaksinasi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk anak, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbid, atau orang yang memiliki riwayat alergi berat. Konsultasi membantu memastikan jadwal, jenis vaksin, dan kondisi kesehatan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin influenza di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi TerdekatKesimpulan Vaksin influenza perlu diulang setiap tahun karena virus influenza terus berubah dan perlindungan tubuh setelah vaksinasi dapat menurun seiring waktu. Vaksin tahunan membantu tubuh mendapatkan perlindungan yang lebih sesuai terhadap virus influenza yang diperkirakan beredar pada periode tersebut. (1)(2)(5) Vaksin influenza tidak menjamin seseorang tidak akan sakit sama sekali, tetapi dapat membantu mengurangi risiko influenza, sakit berat, komplikasi, dan rawat inap, terutama pada kelompok yang lebih rentan. Untuk mendapatkan rekomendasi yang sesuai, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika Anda memiliki kondisi khusus. Referensi World Health Organization. (2025). Influenza (seasonal).https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal)(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). How flu viruses can change: “Drift” and “Shift”.https://www.cdc.gov/flu/php/viruses/change.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Key facts about seasonal flu vaccine.https://www.cdc.gov/flu/vaccines/keyfacts.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Manfaat vaksin influenza bagi anak.https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1883/manfaat-vaksin-influenza-bagi-anak(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). World Health Organization. (2026). Recommendations for influenza vaccine composition.https://www.who.int/teams/global-influenza-programme/vaccines/who-recommendations(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Kaswandani, N., et al. (2025). Jadwal imunisasi anak usia 0–18 tahun rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2024. Sari Pediatri.https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/view/2843(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Selecting viruses for the seasonal influenza vaccine.https://www.cdc.gov/flu/vaccine-process/vaccine-selection.html(dikutip pada tanggal 7 Juli 2026). Kode promat: ID-VAX-2026-07-VQTG (07/27)