
Vaksin ibu hamil trimester 1 dapat diberikan dalam kondisi tertentu, tetapi jenis dan waktunya harus disesuaikan dengan riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko tertular penyakit, dan rekomendasi dokter. Vaksin influenza yang tidak mengandung virus hidup, misalnya, dapat diberikan pada trimester mana pun selama kehamilan. (1)(2)
Namun, tidak semua vaksin perlu diberikan pada trimester pertama. Vaksin Tdap umumnya dijadwalkan pada usia kehamilan 27–36 minggu agar transfer antibodi kepada bayi berlangsung optimal. Sementara itu, vaksin hidup seperti MMR dan varisela tidak diberikan selama kehamilan dan biasanya ditunda sampai setelah persalinan. (3)(4)
Karena kebutuhan setiap ibu berbeda, sebaiknya jangan menentukan jenis atau jadwal vaksin hanya berdasarkan usia kehamilan. Bawalah catatan vaksinasi saat melakukan pemeriksaan antenatal agar dokter atau bidan dapat menilai vaksin yang sudah lengkap, perlu dilanjutkan, dijadwalkan kemudian, atau ditunda.
“Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, risiko pajanan penyakit, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.”

Ibu hamil trimester pertama boleh mendapatkan vaksin tertentu apabila manfaatnya dinilai lebih besar daripada risikonya dan vaksin tersebut sesuai untuk digunakan selama kehamilan.
Trimester pertama berlangsung sejak awal kehamilan hingga sekitar minggu ke-13. Pada masa ini, organ-organ janin mulai terbentuk sehingga banyak ibu merasa khawatir terhadap obat, makanan, maupun tindakan medis, termasuk vaksinasi.
Kekhawatiran tersebut dapat dipahami. Namun, keputusan vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh trimester. Dokter juga akan mempertimbangkan:
Vaksin inaktif atau vaksin yang tidak menggunakan virus atau bakteri hidup umumnya memiliki pertimbangan berbeda dari vaksin hidup. Karena itu, istilah “vaksin aman untuk ibu hamil” tetap perlu dibaca berdasarkan jenis vaksin, indikasi, dan kondisi masing-masing ibu.
Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut merupakan bagian normal dari kehamilan, tetapi dapat membuat ibu lebih rentan mengalami penyakit tertentu atau komplikasi yang lebih berat.
Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan dua lapis manfaat.
Vaksin membantu sistem kekebalan mengenali penyebab penyakit tertentu. Perlindungan ini tidak selalu mencegah infeksi sepenuhnya, tetapi dapat membantu mengurangi risiko sakit berat, komplikasi, atau perawatan di rumah sakit.
Sebagian antibodi yang terbentuk pada tubuh ibu dapat berpindah melalui plasenta kepada janin. Antibodi tersebut dapat membantu memberikan perlindungan sementara kepada bayi pada awal kehidupannya, sebelum bayi cukup umur untuk menerima vaksin tertentu. (3)(5)
Manfaat vaksin tetap tidak berarti perlindungan 100%. Ibu masih perlu menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, menjaga pola hidup sehat, serta mengikuti pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal.
Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanan
Tidak ada satu daftar vaksin trimester pertama yang berlaku sama untuk semua ibu. Berikut gambaran umum yang dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan dokter.
| Jenis vaksin | Pertimbangan pada trimester pertama | Catatan penting |
| Influenza inaktif | Dapat diberikan pada trimester mana pun | Gunakan jenis vaksin yang direkomendasikan untuk kehamilan |
| Td atau tetanus-difteri | Dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat imunisasi dan program pelayanan ibu hamil | Jadwal ditentukan tenaga kesehatan |
| Hepatitis B | Dapat dipertimbangkan bila memiliki indikasi atau risiko penularan | Memerlukan penilaian faktor risiko |
| COVID-19 | Bergantung pada rekomendasi terbaru, kondisi ibu, dan penilaian dokter | Kebijakan dan rekomendasi dapat berubah |
| Vaksin lain karena kondisi khusus | Hanya berdasarkan indikasi medis atau risiko pajanan | Misalnya karena pekerjaan atau perjalanan tertentu |
Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama maupun trimester lainnya. Vaksin ini tidak mengandung virus influenza hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh.
Influenza pada kehamilan tidak selalu hanya menimbulkan gejala ringan. Pada sebagian ibu, penyakit ini dapat meningkatkan risiko komplikasi saluran pernapasan dan perawatan di rumah sakit. Karena itu, vaksin influenza menjadi salah satu vaksin yang sering dibahas dalam pelayanan kehamilan. (1)(2)
Pemberian vaksin perlu memperhatikan jenis vaksin yang digunakan. Vaksin influenza hidup yang diberikan melalui semprotan hidung tidak dianjurkan selama kehamilan. (4)
Di Indonesia, perlindungan terhadap tetanus bagi perempuan usia subur dan ibu hamil merupakan bagian penting dari upaya mencegah tetanus maternal dan tetanus pada bayi baru lahir. Riwayat imunisasi sebelumnya perlu diperiksa untuk menentukan apakah ibu membutuhkan dosis tambahan dan kapan dosis tersebut diberikan. (6)
Tenaga kesehatan dapat menggunakan riwayat vaksinasi, catatan pelayanan antenatal, dan pedoman yang berlaku untuk menentukan jadwal vaksin Td atau vaksin yang mengandung komponen tetanus.
Perlu dibedakan antara vaksin Td atau tetanus-difteri dan Tdap, yang juga memberikan perlindungan terhadap pertusis atau batuk rejan. Dalam sejumlah pedoman internasional, Tdap diberikan pada setiap kehamilan dan biasanya dijadwalkan pada minggu ke-27 hingga ke-36, bukan secara rutin pada trimester pertama. (3)(4)
Vaksin hepatitis B bukan vaksin hidup. Vaksin ini dapat dipertimbangkan selama kehamilan apabila ibu belum memiliki perlindungan dan mempunyai faktor risiko terpapar hepatitis B.
Faktor risiko dapat mencakup:
Dokter mungkin menyarankan pemeriksaan hepatitis B sebagai bagian dari pemeriksaan kehamilan. Hasil pemeriksaan tersebut membantu menentukan perlindungan yang dibutuhkan ibu dan langkah pencegahan penularan kepada bayi.
Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan bukti ilmiah, varian virus, kebijakan otoritas kesehatan, kondisi kesehatan ibu, serta ketersediaan vaksin.
Sejumlah organisasi profesi kebidanan masih memasukkan vaksinasi COVID-19 sebagai bagian dari perlindungan yang dapat dipertimbangkan selama kehamilan. Namun, keputusan individual sebaiknya dibuat bersama dokter dengan memperhatikan riwayat vaksin, infeksi sebelumnya, komorbid, dan tingkat risiko pajanan. (5)(7)
Ikuti panduan terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, BPOM, dokter kandungan, atau fasilitas vaksinasi resmi sebelum menerima vaksin.
Sebagian vaksin bukan dilarang sepanjang kehamilan, tetapi dijadwalkan pada usia kehamilan yang berbeda.
Tdap membantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis. Pemberian pada usia kehamilan 27–36 minggu bertujuan mengoptimalkan pembentukan dan perpindahan antibodi pertusis dari ibu kepada bayi. (3)(4)
Bayi baru lahir belum dapat langsung menyelesaikan seri vaksinnya sendiri. Antibodi dari ibu dapat membantu memberikan perlindungan awal selama masa rentan tersebut.
Dokter dapat mempertimbangkan waktu berbeda dalam kondisi tertentu, misalnya terdapat luka yang membutuhkan penanganan tetanus atau risiko khusus lainnya.
Beberapa negara telah merekomendasikan vaksin RSV maternal pada rentang usia kehamilan tertentu. Namun, rekomendasi, registrasi produk, ketersediaan, dan penerapannya dapat berbeda antarnegara.
Karena itu, vaksin RSV tidak dapat dianggap sebagai vaksin rutin trimester pertama. Ibu perlu menanyakan ketersediaan dan rekomendasi terkini kepada dokter atau fasilitas kesehatan resmi.
Vaksin hidup umumnya tidak diberikan kepada ibu hamil karena mengandung mikroorganisme hidup yang telah dilemahkan. Walaupun risiko terhadap janin sering kali bersifat teoretis, vaksin ini biasanya ditunda sebagai langkah kehati-hatian.
Jenis vaksin yang umumnya ditunda meliputi:
Vaksin HPV juga tidak direkomendasikan untuk dilanjutkan selama kehamilan. Apabila seri vaksin belum selesai, dosis berikutnya dapat dilanjutkan setelah kehamilan tanpa perlu mengulang seri dari awal. (4)
Vaksin tertentu untuk perjalanan, seperti demam kuning, memerlukan penilaian khusus. Dokter akan membandingkan risiko vaksin dengan risiko tertular penyakit di negara tujuan.
Tidak sedikit perempuan menerima vaksin ketika belum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Dalam situasi ini, jangan langsung panik atau mengambil kesimpulan bahwa kehamilan pasti mengalami masalah.
Langkah yang sebaiknya dilakukan adalah:
Paparan vaksin tertentu secara tidak sengaja tidak otomatis menjadi alasan untuk mengakhiri kehamilan. Penilaian harus dilakukan berdasarkan jenis vaksin, usia kehamilan, kondisi ibu, dan informasi medis yang tersedia. (4)
Efek samping vaksin pada ibu hamil umumnya serupa dengan efek yang dialami orang dewasa lainnya.
Efek samping ringan dapat berupa:
Keluhan tersebut biasanya membaik dalam satu hingga beberapa hari. Gunakan obat penurun demam atau pereda nyeri hanya sesuai arahan dokter, terutama selama kehamilan.
Efek samping serius seperti reaksi alergi berat dapat terjadi, tetapi jarang. Program imunisasi dan fasilitas kesehatan memiliki prosedur observasi serta penanganan kejadian ikutan pascaimunisasi. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa keluhan ringan seperti demam, bengkak, dan nyeri dapat terjadi setelah imunisasi, sedangkan kejadian serius sangat jarang. (8)
Segera hubungi fasilitas kesehatan apabila setelah vaksinasi muncul:
Gejala tersebut belum tentu disebabkan oleh vaksin, tetapi perlu dinilai tenaga kesehatan agar penyebab dan penanganannya dapat ditentukan.
Agar konsultasi lebih efektif, siapkan informasi berikut:
Jangan khawatir apabila kartu vaksinasi tidak lengkap. Dokter tetap dapat membantu menilai kebutuhan berdasarkan wawancara medis dan pemeriksaan yang diperlukan.
Baca juga: Panduan Vaksinasi Keluarga Indonesia
Vaksin untuk ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan pemeriksaan kehamilan dan vaksinasi, seperti:
Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, jadwal, kondisi kesehatan, riwayat alergi, dan usia kehamilan sudah sesuai.
Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda.
Cari Klinik Vaksinasi Terdekat
Vaksin ibu hamil trimester 1 dapat diberikan apabila jenis vaksinnya sesuai dan terdapat manfaat yang jelas bagi ibu maupun kehamilan. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester mana pun. Vaksin hepatitis B atau tetanus dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat imunisasi dan faktor risiko.
Tidak semua vaksin harus diberikan pada awal kehamilan. Tdap umumnya dijadwalkan pada usia kehamilan 27–36 minggu, sedangkan vaksin hidup seperti MMR dan varisela ditunda sampai setelah kehamilan.
Keputusan terbaik bukan sekadar memilih antara “vaksin” atau “tidak vaksin”, melainkan menentukan vaksin yang tepat, pada waktu yang tepat, berdasarkan kondisi masing-masing ibu. Konsultasikan sejak pemeriksaan kehamilan awal dan bawalah catatan vaksin agar dokter atau bidan dapat menyusun rekomendasi yang aman dan sesuai.
ID-GEN-2026-08-NEHV (08/26)


Konsultasi membantu memastikan vaksin yang dipilih sesuai dengan usia kehamilan, riwayat vaksinasi, kondisi kesehatan, dan rekomendasi medis terbaru.
Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Flu Singapura (istilah awam yang digunakan) adalah penyakit tangan, kaki, dan mulut. Penyakit ini disebabkan oleh kelompok virus enterovirus, terutama Coxsackievirus dan Enterovirus 71 atau EV71. Flu Singapura paling sering menyerang bayi dan anak kecil, tetapi orang dewasa juga tetap bisa tertular. (1)(2) Gejala khas HFMD biasanya meliputi demam, sakit tenggorokan, sariawan atau luka di mulut, serta ruam atau lepuh kecil di telapak tangan, telapak kaki, dan kadang area bokong, lengan, atau tungkai. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan membaik dalam 7–10 hari, tetapi anak tetap perlu dipantau karena sariawan dapat membuat anak sulit minum dan berisiko dehidrasi. (2)(3) HFMD mudah menular melalui air liur, cairan hidung dan tenggorokan, percikan batuk atau bersin, cairan dari lepuh, tinja, serta permukaan benda yang terkontaminasi. Karena itu, kebersihan tangan, disinfeksi mainan, dan menghindari kontak dekat saat sakit menjadi langkah pencegahan penting. (1)(2) Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, dokter anak, bidan, atau tenaga kesehatan. Gejala, tingkat keparahan, pemeriksaan, pengobatan, dan rekomendasi pencegahan dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, status imun, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, serta ketersediaan layanan atau vaksin di fasilitas kesehatan. Jika anak tampak lemas, sulit minum, demam tinggi, kejang, sesak, atau gejala memburuk, segera konsultasikan ke tenaga kesehatan. Apa Itu Flu Singapura atau HFMD? Flu Singapura atau HFMD adalah penyakit infeksi virus yang menyerang area mulut, tangan, dan kaki. Walaupun namanya mengandung kata “flu”, penyakit ini bukan influenza. HFMD juga berbeda dari penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan. HFMD pada manusia tidak sama dengan PMK pada sapi, kambing, atau hewan ternak, dan penyebabnya juga berbeda. (1)(2) Penyakit ini sering muncul pada anak-anak, terutama usia balita, karena anak pada usia ini masih sering memasukkan tangan atau benda ke mulut, bermain berdekatan, dan belum selalu konsisten menjaga kebersihan tangan. Di lingkungan seperti daycare, PAUD, TK, sekolah, atau rumah dengan beberapa anak, penularan bisa terjadi lebih cepat bila kebersihan tidak dijaga dengan baik. (2)(3) Sebagian orang tua mengenal penyakit ini sebagai “flu Singapura” karena istilah tersebut sudah populer di masyarakat. Namun secara medis, istilah yang lebih tepat adalah HFMD atau penyakit tangan, kaki, dan mulut. Mengapa HFMD Perlu Diwaspadai? Pada banyak kasus, HFMD bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri. Namun, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena sangat mudah menular, terutama pada anak-anak yang beraktivitas di lingkungan bersama seperti sekolah, daycare, atau tempat bermain. Anak yang sedang sakit juga bisa merasa sangat tidak nyaman karena sariawan membuat makan dan minum menjadi sulit. Hal yang paling sering dikhawatirkan pada anak dengan HFMD adalah dehidrasi. Dehidrasi dapat terjadi ketika anak menolak minum karena luka di mulut terasa perih. Pada sebagian kecil kasus, HFMD juga dapat menimbulkan komplikasi yang lebih berat, terutama bila berkaitan dengan jenis virus tertentu seperti EV71. Komplikasi berat seperti gangguan saraf, meningitis, atau ensefalitis memang jarang, tetapi tetap perlu diperhatikan. (4)(5) Karena itu, orang tua tidak perlu panik, tetapi perlu memahami gejala, cara penularan, langkah pencegahan, dan tanda kapan anak harus diperiksa dokter. Penyebab HFMD HFMD disebabkan oleh virus dari keluarga enterovirus. Beberapa jenis virus yang sering dikaitkan dengan HFMD antara lain: PenyebabKeterangan SingkatCoxsackievirus A16Salah satu penyebab umum HFMD.Coxsackievirus A6Dapat menyebabkan gejala yang lebih luas atau tidak khas pada sebagian kasus.Enterovirus 71 atau EV71Dapat dikaitkan dengan kasus yang lebih berat, termasuk komplikasi saraf yang jarang terjadi. Karena HFMD disebabkan oleh virus, antibiotik umumnya tidak diperlukan. Antibiotik hanya bekerja untuk infeksi bakteri, bukan infeksi virus. Pengobatan HFMD biasanya bersifat suportif, yaitu membantu meredakan gejala, menjaga anak tetap nyaman, dan mencegah dehidrasi. (3)(6) Gejala HFMD yang Perlu Dikenali Gejala HFMD biasanya muncul beberapa hari setelah anak terpapar virus. Pada awalnya, gejala bisa mirip infeksi virus biasa, seperti demam, sakit tenggorokan, dan anak tampak tidak enak badan. Setelah itu, biasanya muncul luka di mulut dan ruam pada tangan atau kaki. (2)(3) Gejala yang umum meliputi: Demam Sakit tenggorokan Anak tampak lemas atau tidak nyaman Nafsu makan menurun Sariawan atau luka di mulut Nyeri saat menelan Ruam atau bintik merah di telapak tangan dan kaki Lepuh kecil yang kadang muncul di bokong, lengan, tungkai, atau sekitar area kemaluan IDAI menjelaskan bahwa HFMD umumnya diawali demam, nyeri tenggorokan atau nyeri menelan, nafsu makan menurun, lalu 1–2 hari kemudian muncul bintik merah di rongga mulut yang dapat pecah menjadi sariawan. Setelah itu, ruam dapat muncul di telapak tangan dan kaki. (5) Tabel Ringkas Gejala HFMD Fase GejalaYang Bisa TerjadiCatatan untuk Orang TuaAwalDemam, sakit tenggorokan, tidak enak badanMirip infeksi virus biasa.MulutSariawan, luka kecil, nyeri menelanAnak bisa menolak makan atau minum.KulitRuam atau lepuh di tangan, kaki, bokongJangan memecahkan lepuh. Jaga tetap bersih.PemulihanGejala membaik bertahapUmumnya membaik dalam 7–10 hari. Bagaimana HFMD Menular? HFMD termasuk penyakit yang mudah menular. Virus dapat menyebar melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi. Penularan dapat terjadi dari: Percikan batuk, bersin, atau saat berbicara Air liur Cairan dari lepuh kulit Tinja, terutama saat mengganti popok atau setelah anak buang air Mainan, gagang pintu, meja, alat makan, atau permukaan yang terkontaminasi Kontak dekat seperti berpelukan, mencium, atau berbagi alat makan dan minum (2)(3) Orang dengan HFMD biasanya paling mudah menularkan pada minggu pertama sakit. Namun, virus masih bisa keluar melalui tinja selama beberapa waktu setelah gejala membaik. Karena itu, kebiasaan cuci tangan tetap penting meskipun anak sudah tampak sehat. (2)(6) Apakah HFMD Berbahaya? Pada banyak anak, HFMD bersifat ringan dan dapat membaik dalam 7–10 hari. Namun, bukan berarti penyakit ini boleh diabaikan. Risiko yang paling sering dikhawatirkan adalah dehidrasi, terutama bila sariawan membuat anak sulit minum, menolak menyusu, atau menangis saat menelan. (3)(6) Komplikasi berat tergolong jarang, tetapi bisa terjadi pada sebagian kecil kasus, terutama yang terkait jenis virus tertentu seperti EV71. Karena itu, orang tua perlu memahami tanda bahaya dan tidak ragu berkonsultasi jika kondisi anak tampak tidak biasa. (4)(5) HFMD juga dapat menular dalam lingkungan keluarga. Bila satu anak terkena, saudara kandung atau anggota keluarga lain bisa ikut tertular, terutama bila berbagi alat makan, handuk, mainan, atau tidak mencuci tangan setelah kontak dengan cairan tubuh anak yang sakit. Baca juga: Panduan Vaksinasi untuk Keluarga Indonesia Perawatan HFMD di Rumah: Apa yang Bisa Dilakukan? Tidak ada terapi antivirus spesifik yang secara rutin digunakan untuk menyembuhkan HFMD. Perawatan biasanya bertujuan membantu anak lebih nyaman, menjaga asupan cairan, dan meredakan gejala. (3)(6) Yang bisa dilakukan di rumah: Pastikan anak cukup minum. Berikan makanan lembut seperti bubur, sup hangat suam-suam kuku, yoghurt, atau makanan yang mudah ditelan. Hindari makanan terlalu panas, pedas, asam, atau asin karena bisa memperparah nyeri sariawan. Gunakan obat penurun demam atau nyeri hanya sesuai dosis usia dan anjuran tenaga kesehatan. Jangan memecahkan lepuh. Jaga kuku anak tetap pendek agar tidak menggaruk lepuh. Bersihkan mainan, meja, gagang pintu, dan permukaan yang sering disentuh. Ajarkan anak menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin. Jika anak masih bayi, sulit minum, muntah terus, atau tampak lemas, sebaiknya jangan menunggu terlalu lama untuk berkonsultasi ke dokter. Kapan Harus Konsultasi ke Dokter? Konsultasi dokter diperlukan bila gejala anak tidak membaik, memburuk, atau muncul tanda yang mengkhawatirkan. NHS menyarankan pemeriksaan bila gejala tidak membaik setelah 7–10 hari, anak tidak mau minum, muncul tanda dehidrasi, demam sangat tinggi, atau ada gejala berat seperti kejang, kebingungan, kelemahan, atau penurunan kesadaran. (6)(7) Segera konsultasikan ke dokter jika: KondisiMengapa Perlu DiperiksaAnak sulit atau tidak mau minumRisiko dehidrasi meningkat.Buang air kecil jauh berkurangBisa menjadi tanda kekurangan cairan.Demam tinggi atau demam tidak membaikPerlu evaluasi penyebab dan kondisi umum anak.Anak sangat lemas, mengantuk terus, atau tampak tidak responsifBisa menandakan kondisi lebih serius.Kejang, bingung, leher kaku, atau kelemahan anggota gerakPerlu pemeriksaan segera.Ruam tampak bernanah, sangat merah, bengkak, atau nyeriBisa mengarah ke infeksi kulit sekunder.Bayi kecil, anak dengan daya tahan tubuh lemah, atau anak dengan penyakit kronisPerlu pemantauan lebih hati-hati.Ibu hamil terpapar atau mengalami HFMDSebaiknya konsultasi karena kondisi tiap kehamilan berbeda. Ibu hamil yang terpapar anak dengan HFMD sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, terutama bila mengalami demam, ruam, luka mulut, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Konsultasi membantu memastikan kondisi ibu dan janin tetap terpantau dengan baik. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanannya Pencegahan HFMD di Rumah, Sekolah, dan Daycare Pencegahan HFMD berfokus pada kebersihan dan mengurangi kontak dengan sumber penularan. Karena virus dapat berada di tangan, tinja, cairan hidung, air liur, dan permukaan benda, langkah sederhana yang dilakukan konsisten bisa sangat membantu. (2)(6) Checklist Pencegahan Harian Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah dari toilet, mengganti popok, sebelum makan, dan setelah membersihkan ingus anak. Ajarkan anak tidak berbagi gelas, botol minum, sendok, garpu, atau handuk. Bersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh. Gunakan tisu saat batuk atau bersin, lalu buang tisu dan cuci tangan. Hindari mencium atau memeluk anak yang sedang sakit HFMD. Jika anak sedang tidak enak badan, beri waktu istirahat di rumah. Beri tahu sekolah atau daycare bila anak didiagnosis HFMD agar kebersihan lingkungan dapat diperkuat. Di rumah, orang tua juga bisa memisahkan sementara alat makan, handuk, dan perlengkapan pribadi anak yang sedang sakit. Setelah mengganti popok atau membantu anak ke toilet, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Langkah sederhana ini penting karena virus HFMD dapat menyebar melalui tinja. (2)(6) Baca juga: HFMD pada Anak: Bahaya EV71 dan Pentingnya Vaksin Pencegahan Kapan Anak Boleh Masuk Sekolah Lagi? Secara umum, anak sebaiknya beristirahat di rumah saat masih demam, lemas, sangat rewel, atau belum mampu mengikuti aktivitas sekolah dengan nyaman. NHS menyebut anak dapat kembali ke sekolah atau nursery ketika sudah merasa lebih baik, dan tidak selalu harus menunggu semua lepuh hilang. Namun, kebijakan sekolah atau daycare bisa berbeda, sehingga orang tua sebaiknya mengikuti arahan fasilitas pendidikan dan dokter yang memeriksa. (6) Yang paling penting, pastikan anak: Sudah tidak demam Kondisi umum membaik Sudah bisa makan dan minum lebih baik Mampu menjaga kebersihan dasar Tidak membutuhkan perawatan intensif di rumah Jika sekolah atau daycare memiliki aturan khusus terkait HFMD, ikuti kebijakan tersebut untuk membantu melindungi anak lain dan mencegah penularan lebih luas. Apakah Ada Vaksin untuk HFMD? HFMD dapat disebabkan oleh beberapa jenis enterovirus. Karena penyebabnya beragam, pencegahan tetap memerlukan kebersihan tangan, pembersihan benda yang sering disentuh, pengurangan kontak saat sakit, dan konsultasi dengan tenaga kesehatan. Vaksin EV71 dapat dipertimbangkan untuk membantu mencegah HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71 sesuai indikasi yang disetujui. Vaksin ini tidak melindungi dari semua penyebab HFMD dan tidak memberikan perlindungan 100%. Keputusan vaksinasi sebaiknya dilakukan bersama dokter dengan mempertimbangkan usia anak, kondisi kesehatan, riwayat alergi, ketersediaan vaksin, dan informasi produk yang disetujui. (2)(4) Jika orang tua mempertimbangkan vaksin EV71 untuk pencegahan HFMD berat, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter anak atau fasilitas vaksinasi resmi. Tenaga kesehatan dapat membantu menjelaskan manfaat, keterbatasan perlindungan, jadwal pemberian, kemungkinan efek samping, serta apakah anak termasuk kandidat yang sesuai. Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin atau Konsultasi Pencegahan HFMD? Sebelum vaksinasi atau konsultasi pencegahan HFMD, sebaiknya diskusikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk bayi, anak kecil, anak dengan komorbid, anak dengan riwayat alergi berat, atau anak dengan daya tahan tubuh lemah. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, jadwal, manfaat, keterbatasan perlindungan, dan kondisi kesehatan anak sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, klinik anak, atau klinik vaksinasi resmi di sekitar wilayah Anda. Pastikan fasilitas yang dipilih memiliki tenaga kesehatan kompeten dan mengikuti regulasi yang berlaku. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Flu Singapura atau HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease) adalah penyakit infeksi virus yang sering menyerang anak, terutama balita. Gejalanya dapat berupa demam, sariawan, nyeri menelan, serta ruam atau lepuh di tangan, kaki, dan kadang area tubuh lain. Sebagian besar kasus membaik dalam 7–10 hari, tetapi orang tua tetap perlu waspada terhadap tanda dehidrasi, demam tinggi, kejang, penurunan kesadaran, atau gejala yang memburuk. (2)(3)(6) Pencegahan HFMD dilakukan dengan cuci tangan, membersihkan permukaan dan mainan, tidak berbagi alat makan, menghindari kontak dekat saat sakit, serta berkonsultasi ke dokter bila anak berisiko atau gejala mengkhawatirkan. Vaksin EV71 untuk pencegahan HFMD berat, tetapi keputusan vaksinasi sebaiknya dilakukan bersama tenaga kesehatan sesuai usia, kondisi anak, ketersediaan vaksin, dan regulasi terbaru. Referensi (1) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kenali Penyakit Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) pada Anak di Masa Peralihan Musim.https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2023/kenali-penyakit-hand-foot-and-mouth-disease-hfmd-pada-anak-di-masa-peralihan-musim(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (2) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Hand, Foot, and Mouth Disease.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (3) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). HFMD Symptoms and Complications.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/signs-symptoms/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (4) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). HFMD: Causes and How It Spreads.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/causes/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (5) Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD).https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/hand-foot-mouth-and-disease-hfmd(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (6) NHS. (2024). Hand, foot and mouth disease.https://www.nhs.uk/conditions/hand-foot-mouth-disease/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (7) NHS Inform. (2026). Hand, foot and mouth disease.https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/infections-and-poisoning/hand-foot-and-mouth-disease/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). (8) MSD Manual Professional Edition. (2025). Hand-Foot-and-Mouth Disease (HFMD).https://www.msdmanuals.com/professional/infectious-diseases/enteroviruses/hand-foot-and-mouth-disease-hfmd(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Kode promat: ID-INL-2026-07-CXHP(07/27)
Vaksin EV71 adalah vaksin yang membantu tubuh membentuk respon imun terhadap Enterovirus 71, salah satu virus penyebab Hand, Foot, and Mouth Disease atau HFMD yang sering dikenal masyarakat sebagai Flu Singapura. EV71 penting diperhatikan karena pada sebagian kasus dapat berkaitan dengan penyakit yang lebih berat, terutama pada anak kecil. (1) Namun, vaksin EV71 tidak mencegah semua jenis HFMD. HFMD juga dapat disebabkan oleh virus lain, seperti Coxsackievirus A16 dan enterovirus lain. Artinya, anak yang sudah mendapat vaksin EV71 masih bisa terkena HFMD dari virus selain EV71, tetapi vaksin dapat membantu mengurangi risiko HFMD yang disebabkan oleh EV71 sesuai indikasi vaksin. (2) Vaksin EV71 biasanya dipertimbangkan untuk anak sesuai usia, kondisi kesehatan, ketersediaan vaksin, dan rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan. Orang tua sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum vaksinasi, terutama bila anak sedang demam, memiliki riwayat alergi berat, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, dokter anak, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Untuk keputusan vaksinasi anak, selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berwenang. Apa Itu HFMD atau Flu Singapura? Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Flu Singapura dalam istilah populer, yaitu infeksi virus yang sering menyerang bayi dan anak-anak. Gejalanya biasanya berupa demam, sariawan atau luka di mulut, serta ruam atau lepuhan kecil di telapak tangan, telapak kaki, dan kadang area bokong. (3) HFMD mudah menular melalui kontak dekat, percikan droplet, cairan dari lepuhan, tinja, atau permukaan benda yang terkontaminasi. Karena itu, penyakit ini sering menyebar di lingkungan anak seperti daycare, sekolah, tempat bermain, dan rumah dengan beberapa anak. (3) Sebagian besar kasus HFMD bersifat ringan dan membaik dengan perawatan suportif, seperti cukup cairan, istirahat, dan obat sesuai anjuran dokter. Namun, orang tua tetap perlu waspada karena anak dapat mengalami sulit makan dan minum akibat nyeri mulut, sehingga berisiko dehidrasi. Baca juga: Flu Singapura (HFMD): Gejala, Penularan, Pencegahan, dan Konsultasi Dokter Kenapa EV71 Perlu Diperhatikan? HFMD dapat disebabkan oleh beberapa virus. Salah satu yang penting adalah Enterovirus 71 atau EV71. Menurut WHO, EV71 dapat menyebabkan spektrum penyakit yang luas, mulai dari tanpa gejala, HFMD ringan, hingga penyakit neurologis berat pada sebagian kasus. (1) Anak usia dini termasuk kelompok yang perlu lebih diperhatikan karena sistem imun mereka masih berkembang dan mereka sering berinteraksi dekat dengan anak lain. Pada kasus yang jarang, infeksi EV71 dapat berkaitan dengan komplikasi serius, seperti gangguan sistem saraf pusat atau masalah jantung-paru. (1) Penting untuk dipahami: kewaspadaan terhadap EV71 bukan berarti semua HFMD akan menjadi berat. Banyak kasus tetap ringan. Namun, mengetahui penyebab, tanda bahaya, dan pilihan pencegahan dapat membantu orang tua mengambil langkah yang lebih tenang dan tepat. Apa Itu Vaksin EV71? Vaksin EV71 adalah vaksin yang dirancang untuk membantu tubuh membentuk respons imun terhadap Enterovirus 71. Vaksin EV71 yang telah dievaluasi regulator merupakan vaksin inaktif, sehingga tidak mengandung virus hidup yang dapat bereplikasi dan menyebabkan infeksi EV71. (2) Secara sederhana, cara kerja vaksin EV71 adalah: vaksin memperkenalkan komponen virus yang sudah diinaktivasi kepada sistem imun; tubuh belajar mengenali EV71; tubuh membentuk antibodi atau respons imun; ketika anak terpapar EV71 di kemudian hari, tubuh diharapkan lebih siap melawan virus tersebut. Vaksin EV71 dapat membantu mencegah HFMD yang disebabkan oleh EV71, tetapi tidak melindungi dari HFMD akibat virus lain. Ini adalah poin penting agar orang tua memiliki ekspektasi yang realistis. (2) Apakah Vaksin EV71 Bisa Mencegah Semua HFMD? Tidak. Vaksin EV71 tidak mencegah semua HFMD. HFMD dapat disebabkan oleh berbagai enterovirus. EV71 adalah salah satu penyebab yang penting karena lebih sering dikaitkan dengan risiko penyakit berat dibanding beberapa penyebab lain. Namun, virus lain seperti Coxsackievirus A16 juga dapat menyebabkan HFMD. (2)(3) Berikut ringkasan sederhananya: PertanyaanJawaban SingkatApakah vaksin EV71 membantu mencegah HFMD?Ya, untuk HFMD yang disebabkan oleh EV71 sesuai indikasi vaksin.Apakah vaksin EV71 mencegah semua penyebab HFMD?Tidak. HFMD juga bisa disebabkan virus lain.Apakah anak masih bisa terkena HFMD setelah vaksin?Bisa, terutama bila penyebabnya bukan EV71.Apakah kebersihan tetap penting setelah vaksin?Ya. Cuci tangan, disinfeksi mainan, dan isolasi saat sakit tetap penting. Dengan pemahaman ini, vaksin EV71 sebaiknya dilihat sebagai bagian dari strategi pencegahan, bukan satu-satunya perlindungan. Siapa yang Dapat Mempertimbangkan Vaksin EV71? Vaksin EV71 terutama relevan untuk anak usia dini sesuai indikasi yang berlaku dan rekomendasi tenaga kesehatan. Di Indonesia, informasi produk yang terdaftar menyebutkan vaksin EV71 digunakan untuk pencegahan HFMD yang disebabkan EV71, dengan jadwal dua dosis sesuai petunjuk produk dan rekomendasi resmi. (2) Orang tua dapat berdiskusi dengan dokter anak bila anak: berusia bayi atau prasekolah sesuai indikasi vaksin; mulai masuk daycare, PAUD, TK, atau sering bermain bersama banyak anak; tinggal serumah dengan saudara yang juga masih kecil; pernah mengalami HFMD dan orang tua ingin memahami opsi pencegahan ke depan; memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membutuhkan penilaian dokter sebelum vaksinasi. Vaksinasi sebaiknya ditunda atau dikonsultasikan terlebih dahulu bila anak sedang demam, sakit akut, atau memiliki riwayat reaksi alergi berat terhadap komponen vaksin. Informasi kontraindikasi dan kehati-hatian harus mengikuti petunjuk produk serta penilaian dokter. (2) Jadwal Vaksin EV71: Berapa Kali Diberikan? Berdasarkan informasi produk vaksin EV71 yang terdaftar, vaksin diberikan dalam dua dosis, masing-masing 0,5 mL, dengan jarak sekitar 1 bulan antara dosis pertama dan kedua. (2) Namun, jadwal vaksinasi anak tetap perlu dikonfirmasi dengan dokter atau fasilitas vaksinasi. Tenaga kesehatan akan menilai usia anak, kondisi kesehatan saat datang, riwayat alergi, riwayat vaksin sebelumnya, dan apakah anak sedang mengalami demam atau infeksi akut. Hal yang perlu diingat orang tua: dosis kedua penting untuk melengkapi jadwal vaksin; jangan memberikan vaksin saat anak sedang sakit tanpa penilaian tenaga kesehatan; simpan catatan vaksin anak agar jadwal tidak terlewat; tanyakan apakah vaksin EV71 sesuai untuk usia dan kondisi anak. Baca juga: Kasus HFMD Jadi Perhatian, BPOM Resmi Perluas Vaksin EV71 Manfaat Vaksin EV71 untuk Anak Manfaat utama vaksin EV71 adalah membantu memberikan perlindungan terhadap HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Dalam berbagai studi, vaksin EV71 inaktif menunjukkan perlindungan terhadap penyakit EV71, termasuk potensi manfaat dalam menurunkan risiko penyakit yang lebih berat akibat EV71. (4)(5) Manfaat yang dapat dipahami orang tua: Membantu mengurangi risiko HFMD akibat EV71Vaksin membantu tubuh mengenali EV71 dan membentuk respons imun. Membantu perlindungan pada usia rentanAnak kecil lebih sering terpapar di lingkungan bermain, sekolah, atau daycare. Menjadi bagian dari pencegahan berlapisVaksin tidak menggantikan cuci tangan, kebersihan mainan, dan isolasi saat sakit. Membantu orang tua mengambil langkah preventifDengan informasi yang jelas, orang tua bisa berdiskusi lebih terarah dengan dokter. Vaksin tidak memberikan perlindungan 100%. Namun, vaksinasi dapat menjadi langkah penting untuk membantu mengurangi risiko penyakit sesuai indikasi dan rekomendasi tenaga kesehatan. Efek Samping Vaksin EV71 yang Perlu Diketahui Seperti vaksin lain, vaksin EV71 dapat menimbulkan efek samping pada sebagian anak. Umumnya efek samping bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri atau kemerahan di area suntikan, demam ringan, rewel, atau rasa tidak nyaman setelah vaksinasi. (2) Efek samping yang perlu dipantau: Efek setelah vaksinApa yang bisa dilakukanNyeri atau kemerahan di area suntikanKompres sesuai anjuran tenaga kesehatan, jangan dipijat keras.Demam ringanPastikan anak cukup minum dan istirahat. Obat penurun demam digunakan sesuai anjuran dokter.Rewel atau tidak nyamanPantau kondisi umum anak dan berikan cairan cukup.Reaksi alergi beratSegera cari bantuan medis bila muncul sesak, bengkak wajah, lemas berat, atau ruam menyeluruh. Reaksi serius setelah vaksin jarang terjadi, tetapi tetap perlu diperhatikan. Setelah vaksinasi, biasanya fasilitas kesehatan akan meminta anak menunggu beberapa saat untuk memantau kemungkinan reaksi segera. Kapan Anak dengan HFMD Harus Segera ke Dokter? Sebagian besar HFMD dapat membaik dengan perawatan suportif. Namun, orang tua perlu segera membawa anak ke dokter atau fasilitas kesehatan bila muncul tanda bahaya. Segera konsultasi bila anak mengalami: demam tinggi atau demam yang tidak membaik; sulit minum atau tanda dehidrasi, seperti jarang buang air kecil, sangat lemas, atau mulut kering; muntah berulang; tampak sangat mengantuk, sulit dibangunkan, atau kejang; sakit kepala berat, kaku leher, atau tampak bingung; napas cepat, sesak, atau tampak kebiruan; anak masih bayi kecil atau memiliki kondisi kesehatan khusus. Tanda-tanda tersebut tidak boleh ditunda karena sebagian kecil kasus HFMD, terutama yang berkaitan dengan EV71, dapat berkembang lebih serius. (1)(3) Pencegahan HFMD Tidak Cukup Hanya dengan Vaksin Karena HFMD dapat disebabkan oleh berbagai virus, pencegahan tetap perlu dilakukan berlapis. Vaksin EV71 membantu terhadap EV71, tetapi kebiasaan hidup bersih tetap penting untuk menurunkan risiko penularan. Langkah pencegahan sehari-hari: ajarkan anak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir; cuci tangan setelah dari toilet, sebelum makan, dan setelah mengganti popok; bersihkan mainan, meja, gagang pintu, dan benda yang sering disentuh; hindari berbagi alat makan, botol minum, atau handuk; jauhkan sementara anak yang sakit dari sekolah atau daycare sesuai anjuran tenaga kesehatan; ajarkan etika batuk dan bersin; pantau gejala pada saudara atau teman serumah. CDC menekankan cuci tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit, serta membersihkan permukaan yang sering disentuh sebagai langkah pencegahan HFMD. (3) Apakah Vaksin EV71 Wajib? Status vaksin dapat berbeda berdasarkan kebijakan negara, rekomendasi profesi, ketersediaan vaksin, dan kondisi masing-masing anak. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya mengikuti informasi dari media sosial atau pengalaman orang lain. Pertanyaan yang bisa diajukan ke dokter: Apakah usia anak saya sesuai untuk vaksin EV71? Apakah anak saya perlu menunda vaksin karena sedang demam atau sakit? Apakah ada riwayat alergi yang perlu diperhatikan? Berapa jadwal dosis pertama dan kedua? Apa efek samping yang perlu dipantau di rumah? Kapan harus kembali kontrol? Pendekatan terbaik adalah mengambil keputusan berdasarkan informasi medis yang jelas, kondisi anak, dan rekomendasi tenaga kesehatan. Baca juga: Panduan Lengkap Vaksinasi untuk Keluarga Indonesia Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin EV71 untuk HFMD? Vaksin EV71 dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan vaksinasi anak, seperti klinik vaksinasi, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan resmi tertentu. Ketersediaan vaksin dapat berbeda di setiap wilayah dan fasilitas kesehatan. Sebelum vaksinasi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk bayi, anak dengan riwayat alergi berat, anak yang sedang demam, anak dengan penyakit kronis, atau anak dengan kondisi imun tertentu. Konsultasi membantu memastikan jadwal, jenis vaksin, dan kondisi kesehatan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin EV71 atau layanan vaksinasi anak di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin EV71 adalah vaksin yang membantu melindungi anak dari HFMD atau Hand, Foot, and Mouth Disease yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Vaksin ini penting dipahami karena EV71 merupakan salah satu penyebab HFMD yang dapat berkaitan dengan risiko penyakit lebih berat pada sebagian anak. (1) Namun, vaksin EV71 tidak mencegah semua penyebab HFMD. Anak tetap dapat terkena HFMD akibat virus lain, sehingga kebersihan tangan, disinfeksi mainan, etika batuk, dan menghindari kontak dekat dengan anak yang sedang sakit tetap perlu dilakukan. (2)(3) Untuk orang tua, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum vaksinasi. Dengan informasi yang tepat, vaksin EV71 dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari perlindungan kesehatan anak secara menyeluruh. Referensi World Health Organization. (n.d.). Enterovirus 71.https://www.who.int/teams/health-product-policy-and-standards/standards-and-specifications/norms-and-standards/vaccine-standardization/enterovirus-71(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2022). Informasi produk Inlive®: Inactivated enterovirus type 71 vaccine.https://registrasiobat.pom.go.id/files/assesment-reports/01698216830.pdf(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Hand, Foot, and Mouth Disease.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Zhang, Y., et al. (2024). Effectiveness of Enterovirus 71 inactivated vaccines against Enterovirus A71-associated hand, foot, and mouth disease.https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10984126/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Yan, X., et al. (2025). The efficacy and effectiveness of enterovirus A71 vaccines: A systematic review and meta-analysis.https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12097632/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-AE48 (07/27)

Memasuki trimester ketiga, perhatian calon orang tua biasanya mulai tertuju pada persiapan persalinan, perlengkapan bayi, pilihan fasilitas kesehatan, dan rencana menyusui. Selain berbagai persiapan tersebut, riwayat vaksinasi ibu juga perlu ditinjau bersama dokter atau bidan. Vaksin ibu hamil trimester 3 dapat membantu melindungi ibu dari penyakit tertentu sekaligus memberikan antibodi awal kepada bayi melalui plasenta. Antibodi tersebut dapat membantu memberikan perlindungan pasif pada masa awal kehidupan, ketika sistem kekebalan bayi masih berkembang dan jadwal imunisasinya belum lengkap. (1)(2) Vaksin yang dapat dipertimbangkan pada trimester ketiga antara lain vaksin yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis, serta vaksin influenza inaktif. Jenis dan jadwalnya tidak sama untuk setiap ibu karena perlu disesuaikan dengan usia kehamilan, riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, rekomendasi dokter, ketersediaan vaksin, dan kebijakan yang berlaku di Indonesia. Dalam sejumlah pedoman internasional, vaksin Tdap dianjurkan pada usia kehamilan 27–36 minggu, terutama pada bagian awal rentang tersebut, agar tubuh ibu memiliki waktu membentuk antibodi dan menyalurkannya kepada janin. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, maupun ketiga apabila sesuai dengan rekomendasi tenaga kesehatan. (2)(3) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Mengapa Vaksinasi Perlu Ditinjau pada Trimester Ketiga? Trimester ketiga umumnya dimulai pada sekitar minggu ke-28 dan berlangsung hingga persalinan. Pada periode ini, tubuh ibu terus mengalami perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut merupakan bagian normal dari kehamilan, tetapi dapat membuat dampak infeksi tertentu menjadi lebih berat pada sebagian ibu. (3)(4) Mendekati kelahiran, bayi juga belum dapat langsung menerima seluruh vaksin yang dibutuhkannya. Sebagai contoh, vaksinasi bayi terhadap pertusis baru dimulai sesuai jadwal imunisasi setelah bayi lahir. Karena itu, perlindungan melalui antibodi ibu dapat membantu mengisi masa rentan sebelum bayi membentuk kekebalannya sendiri. (2) Vaksinasi selama kehamilan tidak memberikan perlindungan 100%. Namun, vaksin dapat membantu mengurangi risiko terjadinya penyakit atau komplikasi berat sesuai penyakit yang ditargetkan. Bagaimana Vaksin Ibu Hamil Dapat Membantu Melindungi Bayi? Setelah menerima vaksin yang sesuai, sistem kekebalan ibu mengenali antigen dan membentuk antibodi. Sebagian antibodi tersebut dapat berpindah dari ibu kepada janin melalui plasenta, terutama pada bagian akhir kehamilan. Proses ini disebut transfer antibodi maternal. Perlindungan yang diterima bayi bersifat sementara, tetapi penting untuk membantu menghadapi masa awal kehidupan sebelum imunisasi bayi lengkap. (1)(2) Manfaat yang diharapkan meliputi: Membantu melindungi ibu dari infeksi tertentu selama kehamilan Mengurangi kemungkinan ibu mengalami penyakit berat Memberikan antibodi awal kepada bayi sebelum lahir Membantu melindungi bayi pada minggu atau bulan pertama kehidupannya Melengkapi, bukan menggantikan, imunisasi bayi setelah lahir Bayi tetap harus mendapatkan imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan setelah lahir karena antibodi dari ibu akan berkurang secara bertahap. Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayi Vaksin Apa yang Dapat Dipertimbangkan pada Trimester Ketiga? Berikut adalah gambaran umum vaksin yang sering dibahas menjelang persalinan. Keputusan pemberian tetap harus berdasarkan pemeriksaan dan rekomendasi tenaga kesehatan. Jenis vaksinWaktu pemberian umumTujuan utamaCatatan pentingTdapUmumnya minggu ke-27–36 menurut beberapa pedoman internasionalMembantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis serta memberikan antibodi pertusis kepada bayiKetersediaan dan rekomendasi di Indonesia perlu dikonfirmasi kepada dokterTd atau vaksin yang mengandung toksoid tetanusBerdasarkan status imunisasi tetanus ibuMembantu mencegah tetanus pada ibu dan bayi baru lahirJumlah dosis bergantung pada riwayat imunisasiInfluenza inaktifDapat diberikan pada trimester mana punMembantu mengurangi risiko influenza dan komplikasinyaHindari vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung selama kehamilanVaksin lainBerdasarkan risiko khususMenyesuaikan penyakit, paparan, pekerjaan, perjalanan, atau kondisi medisMemerlukan penilaian individual oleh dokter 1. Vaksin Tdap Tdap merupakan vaksin kombinasi yang membantu memberikan perlindungan terhadap: Tetanus, infeksi serius akibat bakteri yang menyerang sistem saraf Difteri, infeksi bakteri yang dapat mengganggu saluran napas dan organ lain Pertusis, atau batuk rejan, yang dapat menjadi berat pada bayi kecil CDC dan ACOG menganjurkan Tdap pada setiap kehamilan, umumnya antara minggu ke-27 dan ke-36. Pemberian pada bagian awal rentang tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan pembentukan serta transfer antibodi kepada bayi. (2)(5) Kebijakan, ketersediaan, dan praktik vaksinasi maternal di Indonesia dapat berbeda dari pedoman Amerika Serikat. Oleh karena itu, ibu tidak perlu membeli atau memilih vaksin sendiri. Tanyakan kepada dokter kandungan apakah Tdap tersedia dan sesuai dengan kondisi kehamilan. 2. Imunisasi Tetanus: TT atau Td Di Indonesia, skrining status imunisasi tetanus merupakan salah satu bagian penting dalam pelayanan antenatal. Tenaga kesehatan dapat memeriksa riwayat imunisasi ibu melalui wawancara, buku KIA, kartu imunisasi, atau catatan fasilitas kesehatan. (6) Vaksin TT berfokus pada perlindungan terhadap tetanus, sedangkan Td memberikan perlindungan terhadap tetanus dan difteri. Dalam program imunisasi, jenis vaksin yang digunakan dapat mengikuti kebijakan dan ketersediaan terbaru. Ibu mungkin tidak perlu mengulang seluruh rangkaian apabila sudah memiliki status imunisasi yang lengkap. Sebaliknya, ibu dengan riwayat yang belum lengkap atau tidak diketahui mungkin memerlukan jadwal lanjutan. Jarak antardosis perlu ditentukan tenaga kesehatan dan tidak boleh diputuskan hanya berdasarkan usia kehamilan. 3. Vaksin Influenza Inaktif Ibu hamil dapat mengalami risiko komplikasi influenza yang lebih tinggi dibandingkan perempuan tidak hamil karena adanya perubahan fisiologis selama kehamilan. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, atau ketiga sesuai evaluasi tenaga kesehatan. (3)(4) Vaksin ini dapat membantu: Mengurangi risiko ibu terkena influenza Mengurangi kemungkinan penyakit influenza berat Menurunkan kemungkinan komplikasi dan perawatan di rumah sakit Memberikan antibodi influenza kepada bayi melalui plasenta Vaksin influenza biasanya diperbarui secara berkala karena virus influenza terus mengalami perubahan. Oleh sebab itu, riwayat vaksin pada tahun sebelumnya perlu disampaikan kepada dokter. Jenis vaksin influenza hidup yang diberikan melalui semprotan hidung umumnya tidak digunakan selama kehamilan. Ibu hamil biasanya diarahkan pada vaksin influenza inaktif melalui suntikan. (3) Baca juga: Panduan Vaksin Influenza: Manfaat, Jadwal, Jenis, dan Untuk Siapa Perbedaan TT, Td, dan Tdap Ketiga istilah ini sering membuat calon orang tua bingung. SingkatanPerlindunganKeterangan sederhanaTTTetanusMengandung toksoid tetanusTdTetanus dan difteriMengandung perlindungan tetanus dan difteri dengan komponen difteri dosis lebih rendahTdapTetanus, difteri, dan pertusisDitambah komponen pertusis untuk membantu melindungi dari batuk rejan Vaksin tersebut tidak selalu dapat dipertukarkan tanpa pertimbangan medis. Dokter akan menilai jenis yang dibutuhkan berdasarkan riwayat imunisasi, tujuan perlindungan, regulasi, dan ketersediaan vaksin. Apakah Sudah Terlambat Vaksin Jika Mendekati Persalinan? Belum tentu. Namun, manfaat yang diperoleh dapat dipengaruhi oleh jarak antara vaksinasi dan waktu persalinan. Tubuh memerlukan waktu untuk membentuk antibodi setelah vaksinasi. Antibodi juga memerlukan waktu untuk berpindah melalui plasenta. Karena itu, beberapa pedoman merekomendasikan Tdap pada awal rentang minggu ke-27–36, bukan menunggu hingga hari perkiraan lahir sangat dekat. (2)(5) Bila usia kehamilan sudah lebih dari 36 minggu atau persalinan diperkirakan terjadi dalam waktu dekat: Jangan memutuskan sendiri bahwa vaksin tidak lagi berguna Sampaikan usia kehamilan dan perkiraan persalinan kepada dokter Tanyakan manfaat vaksin bagi ibu meskipun transfer antibodi kepada bayi mungkin tidak optimal Diskusikan strategi perlindungan bayi setelah lahir Pastikan jadwal imunisasi bayi sudah dipahami keluarga Keputusan dapat berbeda menurut vaksin, kondisi ibu, serta riwayat imunisasinya. Vaksin yang Umumnya Dihindari Selama Kehamilan Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya tidak diberikan selama kehamilan karena adanya pertimbangan teoretis terhadap janin. Contohnya antara lain vaksin MMR dan vaksin varisela. (7) Apabila ibu belum memiliki perlindungan terhadap penyakit tersebut, dokter dapat menyarankan vaksinasi setelah persalinan. Vaksinasi pascapersalinan dapat membantu melindungi ibu pada kehamilan berikutnya. Menerima vaksin hidup secara tidak sengaja ketika belum mengetahui sedang hamil tidak otomatis berarti janin akan mengalami masalah. Segera konsultasikan kepada dokter agar kondisi dapat dievaluasi dengan tepat dan ibu tidak mengambil keputusan berdasarkan rasa takut. Efek Samping Vaksin pada Ibu Hamil Efek samping yang paling sering terjadi umumnya ringan dan membaik dalam beberapa hari, seperti: Nyeri atau kemerahan di area suntikan Bengkak ringan Pegal pada lengan Lelah Sakit kepala Nyeri otot Demam ringan Reaksi tersebut menunjukkan sistem imun sedang merespons vaksin, tetapi tingkat efek samping tidak menentukan seberapa baik perlindungan yang terbentuk. Efek samping serius seperti reaksi alergi berat dapat terjadi, tetapi jarang. Fasilitas vaksinasi biasanya meminta penerima vaksin menunggu untuk observasi setelah penyuntikan. Segera cari pertolongan medis apabila muncul: Sesak napas Bengkak pada wajah, bibir, atau tenggorokan Ruam luas yang berkembang cepat Pusing berat atau kehilangan kesadaran Jantung berdebar disertai kelemahan berat Demam tinggi atau keluhan yang terus memburuk Gerakan janin berkurang Kontraksi teratur, perdarahan, atau keluar cairan dari jalan lahir Gejala kehamilan darurat tidak boleh dianggap sebagai efek samping vaksin tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan. Siapa yang Perlu Berkonsultasi Lebih Dulu? Semua ibu hamil sebaiknya berkonsultasi sebelum vaksinasi. Penilaian lebih khusus dibutuhkan apabila ibu: Memiliki riwayat anafilaksis setelah vaksin Alergi berat terhadap komponen vaksin Sedang mengalami demam tinggi atau sakit akut sedang hingga berat Pernah mengalami reaksi serius setelah vaksinasi Memiliki gangguan imun atau penyakit autoimun Sedang menggunakan obat imunosupresif Mengalami kehamilan berisiko tinggi Memiliki riwayat persalinan prematur Tidak mengetahui riwayat imunisasi Baru menerima vaksin lain Diperkirakan melahirkan dalam waktu dekat Sakit ringan tanpa demam tinggi tidak selalu menjadi alasan untuk menunda vaksin, tetapi keputusan tetap harus dibuat oleh tenaga kesehatan. Checklist Konsultasi Vaksin Menjelang Persalinan Bawa atau siapkan informasi berikut saat kontrol kehamilan: Buku KIA dan catatan pemeriksaan kehamilan Kartu atau riwayat vaksin sebelumnya Daftar obat dan suplemen yang sedang digunakan Riwayat alergi Riwayat reaksi setelah vaksin Penyakit penyerta atau komplikasi kehamilan Usia kehamilan dan hari perkiraan lahir Rencana tempat persalinan Vaksin terakhir yang diterima beserta tanggalnya Pertanyaan yang dapat diajukan: Apakah status imunisasi tetanus saya sudah lengkap? Apakah saya memerlukan Td, TT, atau Tdap? Apakah vaksin influenza sesuai untuk saya? Berapa jarak vaksin dengan perkiraan persalinan? Efek samping apa yang perlu dipantau? Apa rencana imunisasi bayi setelah lahir? Persiapan Perlindungan Selain Vaksinasi Vaksin merupakan salah satu bagian dari persiapan kesehatan, bukan satu-satunya langkah. Menjelang persalinan, keluarga juga dapat: Melanjutkan pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal Menyiapkan rencana persalinan dan transportasi darurat Mengenali tanda bahaya kehamilan Membiasakan cuci tangan Membatasi kontak bayi dengan orang yang sedang sakit Memastikan anggota keluarga mengikuti vaksinasi yang dianjurkan Menyiapkan jadwal imunisasi bayi Mendiskusikan inisiasi menyusu dini dan pemberian ASI Orang yang akan sering berinteraksi dengan bayi sebaiknya menjaga kesehatan dan membicarakan kebutuhan vaksinasinya dengan tenaga kesehatan. Pendekatan ini kadang disebut perlindungan lingkungan atau cocooning, tetapi tidak menggantikan vaksinasi ibu dan imunisasi bayi. Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil Trimester 3? Vaksinasi ibu hamil dapat tersedia di puskesmas, rumah sakit, klinik kebidanan dan kandungan, praktik dokter, atau fasilitas vaksinasi resmi. Jenis vaksin yang tersedia dapat berbeda pada setiap fasilitas. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, waktu pemberian, riwayat imunisasi, kondisi kehamilan, dan perkiraan persalinan sudah dipertimbangkan. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia layanan vaksinasi di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 3 merupakan salah satu hal yang dapat ditinjau sebagai bagian dari persiapan menjelang persalinan. Vaksin yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis serta vaksin influenza inaktif dapat dipertimbangkan sesuai riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, usia kehamilan, dan rekomendasi tenaga kesehatan. Pada beberapa vaksin, antibodi yang dibentuk tubuh ibu dapat berpindah melalui plasenta dan membantu memberikan perlindungan awal kepada bayi. Namun, vaksin tidak memberi perlindungan 100% dan tidak menggantikan imunisasi bayi setelah lahir. Karena panduan, jenis vaksin, dan ketersediaannya dapat berubah, bawa buku KIA serta riwayat imunisasi saat kontrol. Dokter atau bidan akan membantu menentukan apakah vaksin masih diperlukan dan kapan waktu pemberian yang paling sesuai. Referensi World Health Organization. (2024). Vaccination before and during pregnancy.https://www.who.int/docs/librariesprovider2/default-document-library/factsheet_pregnancy.pdf(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Tdap vaccination for pregnant women.https://www.cdc.gov/pertussis/vaccines/tdap-vaccination-during-pregnancy.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). World Health Organization. (2024). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). Maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pentingnya pemeriksaan kehamilan di puskesmas.https://ayosehat.kemkes.go.id/pentingnya-pemeriksaan-kehamilan-anc-di-fasilitas-kesehatan(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Pregnancy and vaccines.https://www.cdc.gov/vaccine-safety/about/pregnancy.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-J9MX (08/26)