
Pernah merasakan gejala batuk, pilek, demam, serta tubuh yang terasa lemas? Banyak orang menganggap gejala tersebut sebagai pilek (common cold), padahal bisa jadi itu influenza A. Akan tetapi, tahukah bila keduanya memiliki perbedaan yang signifikan?
Yuk, simak perbedaan influenza A dan common cold berikut ini!
Common cold atau sering dikenal dengan selesma merupakan gangguan saluran pernapasan atas yang biasanya disebabkan oleh infeksi Rhinovirus. Di negara-negara tropis, seperti Indonesia, flu musiman dapat terjadi sepanjang tahun. Penyakit ini mudah menular melalui transmisi udara dan percikan (droplet) dari penderitanya dengan masa inkubasi selama 2 – 3 hari. Dalam periode tersebut, penderita akan mulai merasakan gejala seperti (1):
Walaupun sering dianggap sepele, kondisi tersebut dapat memicu keparahan akibat komorbid yang dimiliki oleh penderita antara lain (1):
Lalu, apa sih yang membedakan selesma (common cold) dengan influenza A?

Pada dasarnya, virus penyebab common cold dan influenza A berbeda. Namun, virus influenza A bukan virus yang jarang ditemukan. Subtipe virus ini justru sering bersirkulasi di masyarakat, seperti H1N1 dan H3N2. Akan tetapi, terdapat salah satu subtipe yang berasal dari hewan dan dapat menginfeksi manusia, yaitu H5N1 (Flu Burung). Virus influenza A mengandung dua protein kunci, yaitu Hemagglutinin (H) dan Neuraminidase (N) yang berperan dalam menentukan jalur masuk virus ke dalam sel tubuh dan cara virus menginfeksi sel lainnya. Jenis virus ini memiliki kemampuan untuk bermutasi setiap tahunnya, sehingga dapat menembus kekebalan tubuh manusia sebagai inangnya (host) (5). Menurut data WHO, angka kematian akibat influenza A mencapai 650.000 jiwa setiap tahunnya (3).
Virus influenza A memiliki kemampuan mutasi titik secara akumulatif dalam genom virus, sehingga menghasilkan adanya perubahan varian pada virus. Proses ini disebut dengan antigenic drift. Hal tersebut memungkinkan terjadinya infeksi ulang pada orang yang sudah pernah terinfeksi (5).
Hal inilah yang membuat virus influenza A terasa lebih parah dibandingkan common cold. Selain itu, virus ini juga memiliki kemampuan antigenic shift yang memungkinkan adanya perubahan besar dalam waktu singkat pada komponen virus. Mekanisme ini terjadi akibat bergabungnya materi genetik dari dua virus yang berbeda. Hasil dari proses inilah yang kerap menyebabkan pandemi, seperti pandemi flu tahun 1918 (H1N1) dan pandemi flu babi tahun 2009 (H1N1pdm09) (5) (6).
Di Indonesia, terdapat 56% kasus positif influenza A dari 265 spesimen yang diperiksa Kemenkes hingga akhir September 2026. Walaupun terdapat peningkatan kasus, namun pola ini masih mengikuti pola musiman di Indonesia. Peningkatan kasus ini dapat dipengaruhi oleh pergantian musim, mobilitas yang meningkat, dan penularan dari subtipe virus yang sedang banyak bersirkulasi (6). Namun, sebagian besar kasus dari influenza dapat sembuh tanpa membutuhkan rawat inap. Penderita biasanya akan disarankan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut (6):
Baca juga: Alasan Vaksinasi Flu Perlu Diulang Setiap Tahun
Ya. Walaupun sistem imun orang yang pernah terkena influenza sudah membentuk antibodi, virus influenza terus bermutasi setiap tahun. Vaksin influenza memberikan perlindungan optimal hingga durasi 12 bulan dengan efektivitas 50 – 60% (7). Oleh karena itu, tubuh membutuhkan pembaruan dosis vaksin setiap tahunnya. Vaksinasi influenza mencegah terjadinya komplikasi, utamanya pada kelompok rentan, seperti lansia usia lebih dari 65 tahun, anak di bawah usia 5 tahun, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan penderita obesitas (6). Vaksinasi dilakukan setelah pasien sembuh total dari influenza dan belum mendapatkan vaksin influenza tahunan.
Rekomendasi WHO: Vaksin Influenza Trivalen
World Health Organization merekomendasikan adanya transisi dari penggunaan vaksin influenza kuadrivalen (QIV) menjadi vaksin influenza trivalen (TIV). Hal ini ditetapkan karena tidak ditemukannya virus B/Yamagata di sirkulasi pada beberapa tahun terakhir, sehingga peralihan tersebut disarankan sebagai perlindungan dari strain yang relevan (8) (9). Selain itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga merekomendasikan orang tua untuk rutin memberikan vaksinasi influenza kepada anak mulai usia 6 bulan (10). Pada anak 6 bulan – 8 tahun yang baru pertama kali divaksinasi, dosis kedua dapat diberikan dengan jarak minimal 4 – 6 minggu (10). Vaksinasi influenza sejak dini mencegah terjadinya influenza pada anak dan membentuk titer antibodi terhadap penyakit tersebut.
Vaksinasi influenza dapat diperoleh melalui fasilitas kesehatan setempat, seperti klinik dan rumah sakit. Silakan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter, perawat, atau bidan terdekat sebelum pelaksanaan vaksinasi.
Lindungi Keluarga dengan Vaksinasi Segera
Influenza A bisa menyerang siapa saja, dan gejalanya jauh lebih berat daripada pilek biasa. Jangan tunggu sampai sakit! Lindungi diri dan keluarga dengan vaksin influenza setiap tahun, terutama untuk anak usia 6 bulan ke atas, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.
REFERENSI:
ID-GEN-2026-10-LBKE (10/26)


Konsultasikan kebutuhan vaksinasi kamu dan keluarga dengan dokter, perawat, atau bidan terdekat.

Pernah merasakan gejala batuk, pilek, demam, serta tubuh yang terasa lemas? Banyak orang menganggap gejala tersebut sebagai pilek (common cold), padahal bisa jadi itu influenza A. Akan tetapi, tahukah bila keduanya memiliki perbedaan yang signifikan? Yuk, simak perbedaan influenza A dan common cold berikut ini! Common cold atau sering dikenal dengan selesma merupakan gangguan saluran pernapasan atas yang biasanya disebabkan oleh infeksi Rhinovirus. Di negara-negara tropis, seperti Indonesia, flu musiman dapat terjadi sepanjang tahun. Penyakit ini mudah menular melalui transmisi udara dan percikan (droplet) dari penderitanya dengan masa inkubasi selama 2 – 3 hari. Dalam periode tersebut, penderita akan mulai merasakan gejala seperti (1): Demam ringan Hidung berair dan tersumbat Batuk Bersin-bersin Tenggorokan terasa tidak nyaman Sakit kepala Walaupun sering dianggap sepele, kondisi tersebut dapat memicu keparahan akibat komorbid yang dimiliki oleh penderita antara lain (1): Asma Bronkitis Bronkiolitis Pneumonia Penyakit jantung koroner (PJK), dan lain sebagainya Lalu, apa sih yang membedakan selesma (common cold) dengan influenza A? Pada dasarnya, virus penyebab common cold dan influenza A berbeda. Namun, virus influenza A bukan virus yang jarang ditemukan. Subtipe virus ini justru sering bersirkulasi di masyarakat, seperti H1N1 dan H3N2. Akan tetapi, terdapat salah satu subtipe yang berasal dari hewan dan dapat menginfeksi manusia, yaitu H5N1 (Flu Burung). Virus influenza A mengandung dua protein kunci, yaitu Hemagglutinin (H) dan Neuraminidase (N) yang berperan dalam menentukan jalur masuk virus ke dalam sel tubuh dan cara virus menginfeksi sel lainnya. Jenis virus ini memiliki kemampuan untuk bermutasi setiap tahunnya, sehingga dapat menembus kekebalan tubuh manusia sebagai inangnya (host) (5). Menurut data WHO, angka kematian akibat influenza A mencapai 650.000 jiwa setiap tahunnya (3). Virus influenza A memiliki kemampuan mutasi titik secara akumulatif dalam genom virus, sehingga menghasilkan adanya perubahan varian pada virus. Proses ini disebut dengan antigenic drift. Hal tersebut memungkinkan terjadinya infeksi ulang pada orang yang sudah pernah terinfeksi (5). Gejala Influenza A yang Perlu Diwaspadai: Demam tinggi mendadak (38°C – 40°C) Nyeri pada beberapa bagian otot, utamanya punggung, paha, dan lengan Sakit kepala Kelelahan tubuh Batuk kering dan nyeri tenggorokan Hidung berair atau tersumbat Hal inilah yang membuat virus influenza A terasa lebih parah dibandingkan common cold. Selain itu, virus ini juga memiliki kemampuan antigenic shift yang memungkinkan adanya perubahan besar dalam waktu singkat pada komponen virus. Mekanisme ini terjadi akibat bergabungnya materi genetik dari dua virus yang berbeda. Hasil dari proses inilah yang kerap menyebabkan pandemi, seperti pandemi flu tahun 1918 (H1N1) dan pandemi flu babi tahun 2009 (H1N1pdm09) (5) (6). Update Kasus Influenza A di Indonesia Di Indonesia, terdapat 56% kasus positif influenza A dari 265 spesimen yang diperiksa Kemenkes hingga akhir September 2026. Walaupun terdapat peningkatan kasus, namun pola ini masih mengikuti pola musiman di Indonesia. Peningkatan kasus ini dapat dipengaruhi oleh pergantian musim, mobilitas yang meningkat, dan penularan dari subtipe virus yang sedang banyak bersirkulasi (6). Namun, sebagian besar kasus dari influenza dapat sembuh tanpa membutuhkan rawat inap. Penderita biasanya akan disarankan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut (6): Istirahat total Konsumsi makanan dengan gizi seimbang Minum air putih yang cukup Gunakan masker apabila bepergian/kontak langsung dengan orang banyak Berikut Langkah Preventif Sederhana yang Dapat Dilakukan: Hindari kontak langsung dengan penderita untuk meminimalisasi penularan melalui percikan (droplets) Cuci tangan secara berkala dengan sabun dan air mengalir Menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) Hindari menyentuh area mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan Menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup hidung dan mulut dengan tisu atau lipatan siku Melakukan vaksinasi influenza 1 tahun sekali Baca juga: Alasan Vaksinasi Flu Perlu Diulang Setiap Tahun Sudah Pernah Kena Influenza A, Masih Perlu Vaksin? Ya. Walaupun sistem imun orang yang pernah terkena influenza sudah membentuk antibodi, virus influenza terus bermutasi setiap tahun. Vaksin influenza memberikan perlindungan optimal hingga durasi 12 bulan dengan efektivitas 50 – 60% (7). Oleh karena itu, tubuh membutuhkan pembaruan dosis vaksin setiap tahunnya. Vaksinasi influenza mencegah terjadinya komplikasi, utamanya pada kelompok rentan, seperti lansia usia lebih dari 65 tahun, anak di bawah usia 5 tahun, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan penderita obesitas (6). Vaksinasi dilakukan setelah pasien sembuh total dari influenza dan belum mendapatkan vaksin influenza tahunan. Rekomendasi WHO: Vaksin Influenza Trivalen World Health Organization merekomendasikan adanya transisi dari penggunaan vaksin influenza kuadrivalen (QIV) menjadi vaksin influenza trivalen (TIV). Hal ini ditetapkan karena tidak ditemukannya virus B/Yamagata di sirkulasi pada beberapa tahun terakhir, sehingga peralihan tersebut disarankan sebagai perlindungan dari strain yang relevan (8) (9). Selain itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga merekomendasikan orang tua untuk rutin memberikan vaksinasi influenza kepada anak mulai usia 6 bulan (10). Pada anak 6 bulan – 8 tahun yang baru pertama kali divaksinasi, dosis kedua dapat diberikan dengan jarak minimal 4 – 6 minggu (10). Vaksinasi influenza sejak dini mencegah terjadinya influenza pada anak dan membentuk titer antibodi terhadap penyakit tersebut. Di Mana Vaksinasi Dapat Dilakukan? Vaksinasi influenza dapat diperoleh melalui fasilitas kesehatan setempat, seperti klinik dan rumah sakit. Silakan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter, perawat, atau bidan terdekat sebelum pelaksanaan vaksinasi. Lindungi Keluarga dengan Vaksinasi Segera Influenza A bisa menyerang siapa saja, dan gejalanya jauh lebih berat daripada pilek biasa. Jangan tunggu sampai sakit! Lindungi diri dan keluarga dengan vaksin influenza setiap tahun, terutama untuk anak usia 6 bulan ke atas, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. REFERENSI: Centers for Disease Control and Prevention. (2026). About the Common Cold. https://www.cdc.gov/common-cold/about/index.html (dikutip pada tanggal 06 Oktober 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Tanya Jawab (FAQ) Seputar Influenza. https://ayosehat.kemkes.go.id/tanya-jawab-faq-seputar-influenza (dikutip pada tanggal 06 Oktober 2026). World Health Organization. (2025). Influenza (Seasonal). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal). (dikutip pada tanggal 07 Oktober 2026). The University of Chicago. (2025). Where Does the Flu Come From Every Year?. https://www.uchicagomedicine.org/forefront/biological-sciences-articles/where-does-the-flu-come-from-every-year (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kemenkes Labkesmas Makassar 1. (2025). Lebih dari Sekadar Flu Biasa yang Perlu Diwaspadai.https://bblabkesmasmakassar.go.id/influenza-a-gejala-penularan-komplikasi-pencegahan/ (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). FAQ Influenza: Informasi, Penanganan, dan Pencegahan. https://www.kemkes.go.id/id/faq-influenza-gejala-penanganan-pencegahan (dikutip pada 07 Oktober 2026). Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia. (2026). Mengenal Vaksinasi Influenza dan Manfaatnya. https://peralmuni.org/mengenal-vaksinasi-influenza-dan-manfaatnya/ (dikutip pada 07 Oktober 2026). World Health Organization. (2025). Recommended Composition of Influenza Virus Vaccines For Use in The 2025 – 2026 Northern Hemisphere Influenza Season. https://www.who.int/publications/m/item/recommended-composition-of-influenza-virus-vaccines-for-use-in-the-2025-2026-nh-influenza-season (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kalventis. (2026). Kalventis Hadirkan Vaksin Influenza Trivalent Sesuai Rekomendasi WHO.https://www.kalventis.co.id/post/kalventis-hadirkan-vaksin-influenza-trivalent-sesuai-rekomendasi-who (dikutip pada 07 Oktober 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2015). Melengkapi/Mengejar Imunisasi (Bagian III). https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-iii (dikutip pada 07 Oktober 2026). ID-GEN-2026-10-LBKE (10/26)

Memasuki trimester kedua, sebagian ibu mulai merasa lebih nyaman menjalani kehamilan. Keluhan mual biasanya mulai berkurang, sementara pemeriksaan kehamilan semakin berfokus pada perkembangan janin dan persiapan menuju trimester berikutnya. Pada tahap ini, riwayat vaksinasi ibu juga penting untuk diperiksa. Vaksin ibu hamil trimester 2 adalah vaksin yang dapat diberikan atau mulai direncanakan pada usia kehamilan sekitar 14–27 minggu, sesuai jenis vaksin, riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko paparan, serta rekomendasi dokter. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada setiap trimester. Imunisasi yang mengandung perlindungan terhadap tetanus, difteri, atau pertusis dapat dipertimbangkan berdasarkan riwayat vaksin dan pedoman yang digunakan. Dalam sejumlah panduan internasional, Tdap dianjurkan pada setiap kehamilan, terutama pada usia 27–36 minggu agar transfer antibodi kepada bayi berlangsung optimal. (1)(2) Tidak semua ibu hamil membutuhkan jenis vaksin yang sama. Vaksin hepatitis B dan beberapa vaksin nonhidup lainnya biasanya diberikan berdasarkan faktor risiko atau indikasi medis. Sementara itu, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya ditunda sampai setelah persalinan. (1)(3) Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, risiko paparan, regulasi, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Mengapa Vaksinasi Penting pada Trimester Kedua? Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut diperlukan untuk mendukung pertumbuhan janin, tetapi pada saat bersamaan dapat membuat ibu lebih berisiko mengalami penyakit berat akibat infeksi tertentu, termasuk influenza. (1)(4) Vaksinasi selama kehamilan dapat memberikan dua bentuk perlindungan: Perlindungan bagi ibu, dengan membantu sistem imun mengenali penyebab penyakit tertentu. Perlindungan awal bagi bayi, melalui antibodi ibu yang dapat ditransfer melalui plasenta. Antibodi yang diterima bayi tidak memberikan perlindungan seumur hidup. Namun, perlindungan pasif tersebut dapat membantu pada masa awal kehidupan ketika bayi masih terlalu muda untuk menerima beberapa vaksin secara lengkap. Vaksin juga tidak selalu mencegah infeksi 100%. Tujuannya adalah membantu menurunkan risiko tertular, mengalami penyakit berat, komplikasi, atau perawatan di rumah sakit, bergantung pada jenis penyakit dan vaksin. Baca juga: Panduan Vaksin Ibu Hamil: Manfaat, Jenis, Jadwal, dan Keamanan Apa Saja Vaksin Ibu Hamil Trimester 2? Berikut gambaran umum vaksin yang dapat dibahas dengan dokter pada trimester kedua. Jenis vaksinWaktu yang perlu diperhatikanTujuan utamaCatatanInfluenza inaktifDapat diberikan pada setiap trimesterMembantu melindungi ibu dari influenza dan komplikasinyaHindari vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung selama kehamilanTdapSejumlah panduan menganjurkan usia 27–36 mingguMembantu melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusisJadwal dan ketersediaannya perlu dikonfirmasi di IndonesiaTT atau TdBerdasarkan status imunisasi tetanus ibuMembantu mencegah tetanus maternal dan neonatalJumlah dosis bergantung pada riwayat imunisasiHepatitis BBerdasarkan indikasi dan faktor risikoMembantu mencegah infeksi hepatitis BKehamilan bukan kontraindikasi mutlakCOVID-19Mengikuti rekomendasi resmi terbaruMembantu mengurangi risiko penyakit beratJenis, dosis, dan waktu perlu mengikuti kebijakan terkiniVaksin lainHanya berdasarkan indikasi khususDisesuaikan dengan penyakit atau paparanMemerlukan penilaian manfaat dan risiko oleh dokter Tabel tersebut bukan jadwal vaksin pribadi. Dokter perlu memeriksa buku imunisasi, usia kehamilan, hasil pemeriksaan, penyakit penyerta, serta kemungkinan paparan sebelum menentukan kebutuhan vaksin. 1. Vaksin Influenza Inaktif Influenza bukan sekadar pilek biasa. Pada ibu hamil, influenza dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berat karena perubahan sistem imun dan fungsi pernapasan selama kehamilan. WHO dan CDC mendukung penggunaan vaksin influenza inaktif selama kehamilan. Vaksin ini dapat diberikan pada trimester pertama, kedua, atau ketiga, terutama ketika influenza sedang beredar. (1)(4) Manfaat vaksin influenza bagi ibu hamil dapat mencakup: membantu menurunkan risiko influenza; membantu mengurangi risiko komplikasi akibat influenza; membantu mengurangi kemungkinan penyakit berat; membentuk antibodi yang dapat diteruskan kepada bayi. Jenis yang digunakan adalah vaksin influenza inaktif atau nonhidup, bukan vaksin influenza hidup dalam bentuk semprot hidung. Baca juga: Vaksin Influenza Saat Hamil: Rekomendasi untuk Ibu dan Bayi. 2. Vaksin Tdap, Td, atau TT Istilah Tdap, Td, dan TT sering membuat pembaca bingung. Ketiganya tidak sepenuhnya sama. TT memberikan perlindungan terhadap tetanus. Td memberikan perlindungan terhadap tetanus dan difteri dengan komponen difteri dosis rendah. Tdap memberikan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis atau batuk rejan. Dalam panduan ACOG dan CDC, Tdap direkomendasikan pada setiap kehamilan, terutama pada awal rentang usia kehamilan 27–36 minggu. Waktu ini dipilih untuk membantu pembentukan dan pemindahan antibodi pertusis kepada bayi sebelum lahir. (1)(2) Usia 27 minggu berada di peralihan akhir trimester kedua menuju trimester ketiga, tergantung cara penghitungan trimester yang digunakan. Karena itu, trimester kedua merupakan waktu yang baik untuk membahas dan merencanakan Tdap bersama dokter, bukan menentukan jadwal secara mandiri. Di Indonesia, ibu hamil juga dapat menjalani skrining status imunisasi tetanus. Kebutuhan TT atau Td bergantung pada jumlah dosis yang pernah diterima sebelumnya. Imunisasi tetanus pada perempuan usia subur dan ibu hamil telah berperan dalam upaya eliminasi tetanus maternal dan neonatal di Indonesia. (5) 3. Vaksin Hepatitis B Berdasarkan Indikasi Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyerang hati. Kehamilan bukan merupakan kontraindikasi untuk vaksin hepatitis B karena vaksin ini tidak mengandung virus hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh. (1) Vaksin hepatitis B dapat dipertimbangkan apabila ibu: belum pernah menerima seri vaksin hepatitis B; belum memiliki riwayat imunisasi yang jelas; memiliki pasangan atau anggota rumah tangga dengan hepatitis B; bekerja di lingkungan dengan risiko paparan darah; memiliki faktor risiko lain berdasarkan pemeriksaan dokter. Vaksinasi ibu tidak menggantikan pemeriksaan hepatitis B dalam layanan antenatal. Apabila ibu diketahui terinfeksi hepatitis B, bayi membutuhkan tata laksana pencegahan khusus segera setelah lahir sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. 4. Vaksin COVID-19 Mengikuti Panduan Terbaru Rekomendasi vaksin COVID-19 dapat berubah mengikuti perkembangan virus, bukti ilmiah, jenis vaksin yang tersedia, dan kebijakan pemerintah. Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak hanya menggunakan jadwal dari artikel lama. Diskusikan dengan dokter apakah ibu memerlukan dosis primer, dosis lanjutan, atau belum membutuhkan dosis tambahan berdasarkan: riwayat vaksin COVID-19; riwayat infeksi sebelumnya; penyakit penyerta; risiko paparan; jenis vaksin yang tersedia; panduan resmi terbaru di Indonesia. Vaksin yang Tidak Diberikan Secara Rutin kepada Semua Ibu Hamil Beberapa vaksin dapat dipertimbangkan hanya ketika risiko penyakit dinilai lebih tinggi daripada potensi risikonya. Contohnya dapat mencakup vaksin hepatitis A, meningokokus, rabies, atau vaksin perjalanan tertentu. Pertimbangan tersebut mungkin diperlukan ketika ibu: akan bepergian ke wilayah dengan risiko penyakit tertentu; mengalami gigitan hewan yang berisiko menularkan rabies; tinggal atau bekerja di lingkungan dengan paparan khusus; memiliki penyakit kronis atau kondisi medis tertentu; belum menyelesaikan vaksinasi sebelum hamil. Keputusan tidak hanya ditentukan oleh usia kehamilan. Jenis vaksin, tingkat paparan, keparahan penyakit, dan ketersediaan alternatif pencegahan juga harus dipertimbangkan. Vaksin Apa yang Perlu Ditunda Saat Hamil? Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya tidak diberikan selama kehamilan karena terdapat risiko teoretis terhadap janin. Contohnya meliputi: vaksin MMR; vaksin varisela atau cacar air; vaksin influenza hidup berbentuk semprot hidung; beberapa vaksin perjalanan hidup. Vaksin HPV juga tidak direkomendasikan untuk diberikan selama kehamilan, meskipun bukan vaksin hidup. Dosis yang belum selesai biasanya dapat dilanjutkan setelah persalinan tanpa harus mengulang seri dari awal. (3)(6) Apabila seorang perempuan menerima vaksin tersebut sebelum mengetahui bahwa dirinya sedang hamil, jangan langsung panik. Catat tanggal dan nama vaksinnya, lalu konsultasikan kepada dokter kandungan untuk evaluasi lebih lanjut. Apakah Vaksin pada Trimester 2 Aman untuk Bayi? Keamanan bergantung pada jenis vaksin. Vaksin nonhidup yang direkomendasikan selama kehamilan telah dipelajari melalui pemantauan keamanan dan penelitian dalam jumlah besar. Namun, istilah “aman” tidak berarti sama sekali tanpa kemungkinan efek samping. Efek samping ringan dapat terjadi karena sistem imun sedang merespons vaksin. Efek samping yang umumnya dapat muncul antara lain: nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan; lelah; sakit kepala; nyeri otot; demam ringan; rasa tidak enak badan. Reaksi tersebut umumnya bersifat sementara. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa KIPI ringan dapat berupa reaksi lokal maupun sistemik dan biasanya membaik dalam waktu singkat. Reaksi serius dapat terjadi, tetapi jauh lebih jarang. (7) Kapan Harus Segera Mencari Bantuan Medis? Segera cari pertolongan medis apabila setelah vaksinasi muncul: kesulitan bernapas; pembengkakan pada wajah, bibir, atau tenggorokan; ruam luas yang berkembang cepat; pingsan atau penurunan kesadaran; demam tinggi atau menetap; kejang; keluhan kehamilan yang terasa berat atau tidak biasa; gerakan janin berkurang setelah sebelumnya sudah terasa teratur. Keluhan tersebut belum tentu disebabkan oleh vaksin, tetapi tetap memerlukan pemeriksaan segera. Checklist Sebelum Vaksinasi pada Trimester Kedua Sebelum datang ke fasilitas kesehatan, siapkan informasi berikut: Usia kehamilan saat ini Buku KIA atau catatan pemeriksaan kehamilan Riwayat vaksin sebelum dan selama kehamilan Nama vaksin serta tanggal dosis terakhir Riwayat alergi berat atau anafilaksis Reaksi setelah vaksin sebelumnya Penyakit kronis atau gangguan sistem imun Obat dan suplemen yang sedang digunakan Riwayat infeksi atau demam baru-baru ini Rencana perjalanan selama kehamilan Ibu dengan pilek ringan belum tentu harus menunda vaksin. Sebaliknya, demam atau penyakit akut sedang hingga berat mungkin menjadi alasan untuk menjadwalkan ulang vaksinasi. Keputusan sebaiknya dibuat oleh tenaga kesehatan setelah menilai kondisi ibu. Pertanyaan yang Dapat Diajukan kepada Dokter Agar konsultasi lebih terarah, ibu dapat menanyakan: Apakah saya memerlukan vaksin pada trimester kedua? Bagaimana status imunisasi tetanus saya? Apakah saya perlu Tdap, Td, atau TT? Kapan waktu terbaik mendapatkan vaksin tersebut? Apakah vaksin influenza yang tersedia merupakan vaksin inaktif? Apakah kondisi kesehatan saya memengaruhi jadwal vaksin? Apakah vaksin dapat diberikan bersamaan? Efek samping apa yang perlu saya pantau? Kapan saya harus kembali untuk dosis berikutnya? Vaksin apa yang perlu diberikan setelah melahirkan? Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin Ibu Hamil Trimester 2? Vaksin untuk ibu hamil dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan pemeriksaan kehamilan dan layanan vaksinasi, seperti: puskesmas; rumah sakit; klinik ibu dan anak; praktik dokter kandungan; klinik vaksinasi resmi; fasilitas kesehatan lain yang memiliki tenaga dan penyimpanan vaksin sesuai standar. Sebelum vaksinasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Konsultasi membantu memastikan jenis vaksin, waktu pemberian, status imunisasi sebelumnya, serta kondisi kehamilan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin ibu hamil trimester 2 dapat membantu melindungi kesehatan ibu sekaligus memberikan antibodi awal kepada bayi. Vaksin influenza inaktif dapat diberikan pada setiap trimester, sedangkan vaksin yang melindungi dari tetanus, difteri, dan pertusis perlu dijadwalkan berdasarkan jenis vaksin, usia kehamilan, riwayat imunisasi, serta panduan yang berlaku. Vaksin hepatitis B, COVID-19, dan vaksin lain dapat diberikan berdasarkan indikasi dan rekomendasi terbaru. Sebaliknya, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya ditunda hingga setelah persalinan. Tidak ada satu jadwal yang sesuai untuk semua ibu hamil. Bawalah catatan vaksin saat pemeriksaan antenatal dan konsultasikan setiap keputusan vaksinasi kepada dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Referensi Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Guidelines for vaccinating pregnant women.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/hcp/vaccination-guidelines/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). American College of Obstetricians and Gynecologists. (2026). 2026 maternal immunization schedule.https://www.acog.org/clinical-information/maternal-immunization-schedule(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Vaccine safety for moms-to-be.https://www.cdc.gov/vaccines-pregnancy/moms-to-be/index.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). World Health Organization. (n.d.). Influenza vaccination of women during pregnancy.https://www.who.int/groups/global-advisory-committee-on-vaccine-safety/topics/influenza-vaccines/pregnancy(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Strategi komunikasi nasional imunisasi 2022–2025.https://www.kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/16653827576343b965228c40.04885132.pdf(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Pregnancy and vaccines.https://www.cdc.gov/vaccine-safety/about/pregnancy.html(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu KIPI: Penyebab, gejala, pencegahan, dan pengobatan.https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi(dikutip pada tanggal 16 Juli 2026). ID-GEN-2026-08-Y6ZD (08/26)
Efek samping vaksin adalah reaksi yang dapat muncul setelah seseorang menerima vaksin. Keluhan yang paling umum biasanya ringan, seperti nyeri di area suntikan, kemerahan, bengkak ringan, demam ringan, lelah, sakit kepala, atau pegal. Pada banyak orang, keluhan ini membaik dalam beberapa hari. (1)(2) Meski umumnya ringan, efek samping vaksin tetap perlu dipantau. Segera cari bantuan medis bila muncul tanda alergi berat seperti sesak napas, bengkak pada wajah atau bibir, ruam menyeluruh, pingsan, kejang, atau kondisi yang tampak berat dan tidak membaik. (2)(3) Penting untuk diingat: tidak semua keluhan yang muncul setelah vaksin pasti disebabkan oleh vaksin. Dalam istilah medis, keluhan setelah imunisasi disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI, dan penyebabnya perlu dinilai oleh tenaga kesehatan. (4) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apa Itu Efek Samping Vaksin atau KIPI? Efek samping vaksin adalah respons tubuh yang muncul setelah vaksinasi. Respons ini dapat terjadi karena sistem imun sedang mengenali komponen vaksin dan membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu. (1) Di Indonesia, istilah yang sering digunakan adalah KIPI, yaitu Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. KIPI berarti setiap kejadian medis yang terjadi setelah imunisasi, baik yang ringan maupun serius. Namun, KIPI tidak otomatis berarti vaksin menjadi penyebab langsung. Penilaian medis diperlukan untuk melihat waktu kejadian, gejala, riwayat kesehatan, kemungkinan penyakit lain, dan faktor lain yang menyertai. (2)(4) Dengan memahami hal ini, pembaca tidak perlu langsung panik ketika muncul keluhan ringan. Namun, pembaca juga tetap perlu waspada bila muncul gejala berat atau keluhan yang tidak biasa. Baca juga: Kenapa Harus Vaksin? Panduan dan Manfaat untuk Semua Usia Efek Samping Vaksin yang Umum Terjadi Efek samping vaksin yang umum biasanya bersifat ringan dan sementara. Tidak semua orang mengalaminya. Ada orang yang merasa pegal dan demam ringan, ada juga yang tidak merasakan keluhan apa pun setelah vaksinasi. Berikut beberapa efek samping vaksin yang sering dilaporkan: Efek Samping UmumPenjelasan SederhanaBiasanya Apa yang Bisa Dilakukan?Nyeri di area suntikanArea bekas suntikan terasa pegal, nyeri, atau tidak nyamanKompres dingin, gerakkan lengan perlahan, istirahatKemerahan atau bengkak ringanReaksi lokal di tempat suntikanPantau ukuran bengkak, hindari menggarukDemam ringanRespons tubuh saat sistem imun bekerjaCukup minum, istirahat, gunakan obat sesuai arahan tenaga kesehatanLelah atau mengantukTubuh sedang beradaptasi setelah vaksinKurangi aktivitas berat sementaraSakit kepala atau pegalDapat terjadi pada sebagian orangIstirahat, cukup cairanRewel pada anakAnak merasa tidak nyaman setelah imunisasiPeluk, tenangkan, beri ASI atau cairan sesuai usiaNafsu makan menurun sementaraBisa terjadi pada sebagian bayi atau anakPantau asupan cairan dan kondisi umum anak CDC menjelaskan bahwa efek samping vaksin pada umumnya ringan, misalnya nyeri lengan atau demam ringan, dan biasanya hilang dalam beberapa hari. (1) Mengapa Tubuh Bisa Demam atau Nyeri Setelah Vaksin? Demam ringan, pegal, atau nyeri setelah vaksin dapat terjadi karena sistem imun sedang merespons vaksin. Respons ini tidak selalu berarti tubuh sedang sakit berat. Pada sebagian orang, respons imun dapat terasa sebagai keluhan ringan selama beberapa jam hingga beberapa hari. (1)(2) Namun, berat-ringannya keluhan dapat berbeda pada tiap orang. Faktor usia, jenis vaksin, kondisi tubuh saat vaksinasi, riwayat alergi, dan penyakit penyerta dapat memengaruhi respons tubuh. Pada anak, beberapa vaksin dapat menimbulkan demam, rewel, atau nyeri bekas suntikan. IDAI menjelaskan bahwa beberapa reaksi pascaimunisasi seperti demam, nyeri, kemerahan, dan pembengkakan dapat terjadi dan biasanya membaik, tetapi bila reaksi berat atau menetap, anak sebaiknya dibawa ke dokter. (5) Cara Memantau Efek Samping Vaksin di Rumah Setelah vaksinasi, luangkan waktu untuk memantau kondisi tubuh. Banyak fasilitas kesehatan juga meminta penerima vaksin menunggu beberapa saat setelah vaksinasi untuk memastikan tidak ada reaksi alergi segera. Hal yang bisa dilakukan di rumah: Catat waktu munculnya keluhan. Ukur suhu tubuh dengan termometer bila terasa demam. Pantau area suntikan: apakah bengkak bertambah besar, nyeri makin berat, atau muncul nanah. Pastikan cukup minum dan istirahat. Hindari aktivitas berat bila tubuh terasa tidak fit. Untuk anak, perhatikan apakah anak masih mau minum, masih responsif, dan tidak tampak sangat lemas. Gunakan obat penurun demam atau pereda nyeri hanya sesuai usia, dosis, dan arahan tenaga kesehatan, terutama pada bayi, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit tertentu. Jangan mengoleskan bahan yang tidak dianjurkan ke area suntikan. Jika area bekas suntikan terasa nyeri, kompres dingin dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman. (5) Kapan Efek Samping Vaksin Masih Bisa Dipantau di Rumah? Keluhan biasanya masih dapat dipantau di rumah bila: Demam ringan dan kondisi umum tetap baik. Nyeri atau bengkak di area suntikan tidak bertambah berat. Lelah atau pegal membaik setelah istirahat. Anak masih mau minum, masih responsif, dan tidak tampak sesak. Keluhan berangsur membaik dalam beberapa hari. Namun, tetap gunakan penilaian yang hati-hati. Bila Anda merasa khawatir atau keluhan tampak tidak biasa, lebih aman untuk mengunjungi dokter. Kapan Perlu ke Dokter Setelah Vaksin? Anda sebaiknya menghubungi dokter atau fasilitas kesehatan bila efek samping vaksin terasa mengkhawatirkan, tidak membaik dalam beberapa hari, atau kemerahan dan nyeri di area suntikan justru memburuk setelah 24 jam. CDC memberikan arahan serupa untuk menghubungi tenaga kesehatan bila efek samping terasa mengkhawatirkan atau tidak tampak membaik. (6) Segera kunjungi ke dokter bila mengalami: Demam tinggi atau demam tidak membaik. Nyeri, kemerahan, atau bengkak yang makin berat. Area suntikan terasa sangat panas, bernanah, atau nyeri berat. Anak menangis terus-menerus dan sulit ditenangkan. Anak tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak mau minum. Muntah berulang atau diare berat setelah vaksin. Keluhan berlangsung lebih lama dari yang dijelaskan tenaga kesehatan. Ada riwayat alergi berat atau reaksi berat pada vaksin sebelumnya. Untuk bayi kecil, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbid, atau orang dengan sistem imun lemah, jangan ragu tanya dokter lebih awal karena kebutuhan pemantauan bisa berbeda. Baca juga: Peran Vaksin Influenza pada Diabetes dan Risiko Jantung Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera ke IGD? Efek samping serius setelah vaksin jarang terjadi, tetapi tetap penting dikenali. Reaksi alergi berat atau anafilaksis biasanya muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah vaksinasi dan perlu penanganan segera. NHS menjelaskan bahwa reaksi alergi berat setelah vaksin sangat jarang dan petugas vaksinasi terlatih untuk menanganinya. (3) Segera ke IGD atau cari bantuan darurat bila muncul: Tanda BahayaMengapa Perlu Segera Ditangani?Sesak napas atau napas berbunyiBisa menjadi tanda reaksi alergi beratBengkak pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokanBisa mengganggu jalan napasRuam luas disertai lemas atau pusing beratDapat mengarah ke reaksi alergi beratPingsan atau penurunan kesadaranPerlu evaluasi segeraKejangPerlu penanganan medis segeraNyeri dada, jantung berdebar berat, atau tampak sangat lemahPerlu pemeriksaan untuk memastikan penyebabBayi tampak sangat lemas, kebiruan, atau sulit bernapasTermasuk kondisi darurat Jangan menunggu gejala menjadi lebih berat bila tanda-tanda di atas muncul. Apakah Efek Samping Berarti Vaksinnya Berbahaya? Tidak selalu. Efek samping ringan seperti nyeri bekas suntikan, demam ringan, atau lelah sementara dapat terjadi pada sebagian orang dan umumnya membaik. Vaksin, seperti produk kesehatan lain, dapat menimbulkan reaksi, tetapi manfaat vaksinasi adalah membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu dan membantu mengurangi risiko sakit berat sesuai jenis vaksinnya. (1)(7) Namun, vaksin tidak memberikan perlindungan 100%. Seseorang masih mungkin terkena penyakit setelah vaksinasi, tetapi pada banyak vaksin, tujuan pentingnya adalah membantu mengurangi risiko infeksi berat, komplikasi, rawat inap, atau penularan, tergantung jenis penyakit dan vaksin yang diberikan. (7) Keamanan vaksin juga dipantau melalui sistem pengawasan. WHO memiliki pendekatan penilaian kausalitas KIPI untuk membantu menilai apakah suatu kejadian setelah imunisasi berkaitan dengan vaksin atau ada penyebab lain. (4) Kelompok Perlu Perhatian Khusus Sebagian besar orang dapat menerima vaksin sesuai rekomendasi usia dan kondisi kesehatan. Namun, beberapa kelompok sebaiknya mengujungi dokter lebih dulu agar jenis dan waktu vaksinasi lebih tepat. kunjungi dokter bila Anda atau anggota keluarga: Pernah mengalami reaksi alergi berat terhadap vaksin sebelumnya. Memiliki alergi berat terhadap komponen vaksin tertentu. Sedang sakit sedang atau berat. Sedang hamil atau merencanakan kehamilan. Memiliki penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, atau gangguan paru. Mengalami gangguan sistem imun atau sedang memakai obat imunosupresif. Memiliki riwayat kejang atau gangguan saraf tertentu. Sedang menjalani terapi kanker atau transplantasi. Lansia dengan beberapa kondisi kesehatan sekaligus. CDC menjelaskan bahwa riwayat reaksi alergi berat terhadap dosis sebelumnya atau komponen vaksin dapat menjadi kontraindikasi pada beberapa vaksin, sedangkan sakit sedang atau berat dapat menjadi alasan untuk menunda vaksinasi hingga kondisi membaik. (8) Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayi Tips Agar Lebih Tenang Setelah Vaksinasi Agar pemantauan setelah vaksin lebih mudah, lakukan beberapa langkah sederhana berikut: Tanyakan kepada tenaga kesehatan efek samping apa yang mungkin muncul dari vaksin yang diterima. Tanyakan kapan harus kembali atau menghubungi fasilitas kesehatan. Simpan kartu atau catatan vaksinasi. Jangan langsung melakukan aktivitas berat bila tubuh terasa tidak nyaman. Minum cukup air. Untuk anak, siapkan termometer dan pantau suhu tubuh. Jangan memberikan obat pada bayi atau anak tanpa memastikan dosis yang tepat. Bila punya riwayat alergi, sampaikan sebelum vaksinasi. Tunggu di fasilitas vaksinasi sesuai arahan petugas setelah menerima vaksin. Sikap terbaik adalah tenang, tetapi tetap waspada. Tidak perlu panik terhadap keluhan ringan, tetapi jangan mengabaikan tanda bahaya. Cari Lokasi Vaksinasi Terdekat? Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, Puskesmas, atau klinik penyedia vaksin influenza di sekitar wilayah Anda. Cek Daftar Lokasi Klinik Kesimpulan Efek samping vaksin yang umum biasanya ringan dan sementara, seperti nyeri di area suntikan, bengkak ringan, demam ringan, lelah, sakit kepala, atau pegal. Keluhan ini umumnya membaik dalam beberapa hari dan dapat dipantau dengan istirahat, cukup cairan, serta perawatan sederhana sesuai arahan tenaga kesehatan. (1)(2) Namun, segera hubungi dokter bila keluhan terasa mengkhawatirkan, tidak membaik, atau justru memburuk. Segera cari pertolongan darurat bila muncul tanda alergi berat seperti sesak napas, bengkak wajah atau bibir, pingsan, kejang, atau penurunan kesadaran. (3)(6) Memahami efek samping vaksin dapat membantu keluarga mengambil keputusan dengan lebih tenang. Vaksinasi tetap perlu dilakukan sesuai usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan karena manfaatnya penting untuk membantu mengurangi risiko penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. (7) Referensi (1) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Possible side effects from vaccines.https://www.cdc.gov/vaccines/basics/possible-side-effects.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (2) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu KIPI: Penyebab, gejala, pencegahan dan penanganannya. Ayo Sehat Kemenkes.https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (3) National Health Service. (2023). 6-in-1 vaccine.https://www.nhs.uk/vaccinations/6-in-1-vaccine/(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (4) World Health Organization. (2021). Causality assessment of an adverse event following immunization (AEFI): User manual for the revised WHO classification, 2nd ed., 2019 update.https://www.who.int/publications/i/item/9789241516990(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (5) Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2013). Penjelasan kepada orangtua mengenai imunisasi.https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/penjelasan-kepada-orangtua-mengenai-imunisasi(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (6) Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Getting your COVID-19 vaccine.https://www.cdc.gov/covid/vaccines/getting-your-covid-19-vaccine.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (7) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Vaksinasi COVID-19.https://layanandata.kemkes.go.id/katalog-data/covid-19/ketersediaan-data/vaksinasi-covid-19(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (8) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Contraindications and precautions: Vaccines & immunizations.https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/imz-best-practices/contraindications-precautions.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-D7QK (07/27)