
Penyakit tangan, kaki, dan mulut atau HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease) masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang sering terjadi pada anak-anak, terutama di usia dini.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap HFMD semakin meningkat, khususnya karena adanya jenis virus tertentu seperti Enterovirus 71 (EV71) yang dapat menyebabkan gejala lebih berat.
Sejalan dengan hal tersebut, terdapat pembaruan penting terkait vaksinasi HFMD di Indonesia.
Pada 7 Februari 2026, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara resmi menyetujui perubahan indikasi vaksin HFMD berbasis Enterovirus 71 (EV71).
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat pencegahan terhadap HFMD, terutama yang berpotensi menyebabkan gejala lebih berat.
Berdasarkan persetujuan terbaru dari Badan POM, terdapat perluasan indikasi penggunaan vaksin EV71, termasuk cakupan usia yang kini diperluas menjadi 6 bulan hingga 71 bulan Perubahan ini menunjukkan bahwa:
● Kelompok usia yang direkomendasikan untuk mendapatkan perlindungan menjadi lebih luas
● Upaya pencegahan HFMD, khususnya yang disebabkan EV71, semakin diperkuat
Selain itu, pembaruan juga mencakup informasi terkait penggunaan vaksin bersama vaksin lain, yang memberikan fleksibilitas dalam jadwal imunisasi anak
HFMD memang sering dianggap sebagai penyakit ringan. Namun, tidak semua kasus memiliki tingkat keparahan yang sama.
Infeksi akibat EV71 diketahui dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk yang berkaitan dengan sistem saraf.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa pendekatan pencegahan mulai mendapatkan perhatian lebih, terutama pada anak usia dini yang paling rentan.
Vaksin EV71 bekerja dengan membantu tubuh membentuk antibodi terhadap virus penyebab HFMD tertentu. Vaksin ini ditujukan untuk anak usia mulai 6 bulan, dengan jadwal dua dosis yang diberikan dalam interval satu bulan
Dengan adanya perluasan indikasi, semakin banyak anak yang dapat memperoleh perlindungan sejak dini terhadap risiko HFMD berat.
Perkembangan ini memberikan gambaran bahwa pencegahan HFMD kini semakin menjadi bagian dari perhatian kesehatan anak.
Bagi orang tua, penting untuk:
● Memahami risiko HFMD, terutama yang disebabkan EV71
● Memantau kondisi kesehatan anak
● Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terkait langkah pencegahan yang sesuai
Pendekatan ini bukan hanya tentang menghindari penyakit, tetapi juga memastikan anak tumbuh dengan perlindungan optimal.
HFMD mungkin terlihat sebagai penyakit umum pada anak, tetapi risiko komplikasi tetap perlu diperhatikan.
Dengan adanya perluasan indikasi vaksin EV71, upaya pencegahan kini menjadi lebih luas dan relevan bagi lebih banyak anak.
Ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap penyakit infeksi anak terus berkembang mengikuti kebutuhan kesehatan masyarakat.
Referensi
Temukan berbagai informasi terkini mengenai vaksinasi dan pencegahan penyakit infeksi pada anak.

Penyakit tangan, kaki, dan mulut atau HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease) masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang sering terjadi pada anak-anak, terutama di usia dini. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap HFMD semakin meningkat, khususnya karena adanya jenis virus tertentu seperti Enterovirus 71 (EV71) yang dapat menyebabkan gejala lebih berat. Sejalan dengan hal tersebut, terdapat pembaruan penting terkait vaksinasi HFMD di Indonesia. Indikasi Vaksin HFMD Kini Lebih Luas Pada 7 Februari 2026, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara resmi menyetujui perubahan indikasi vaksin HFMD berbasis Enterovirus 71 (EV71). Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat pencegahan terhadap HFMD, terutama yang berpotensi menyebabkan gejala lebih berat. Berdasarkan persetujuan terbaru dari Badan POM, terdapat perluasan indikasi penggunaan vaksin EV71, termasuk cakupan usia yang kini diperluas menjadi 6 bulan hingga 71 bulan Perubahan ini menunjukkan bahwa:● Kelompok usia yang direkomendasikan untuk mendapatkan perlindungan menjadi lebih luas● Upaya pencegahan HFMD, khususnya yang disebabkan EV71, semakin diperkuat Selain itu, pembaruan juga mencakup informasi terkait penggunaan vaksin bersama vaksin lain, yang memberikan fleksibilitas dalam jadwal imunisasi anak Kenapa HFMD Perlu Lebih Diwaspadai? HFMD memang sering dianggap sebagai penyakit ringan. Namun, tidak semua kasus memiliki tingkat keparahan yang sama. Infeksi akibat EV71 diketahui dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk yang berkaitan dengan sistem saraf. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa pendekatan pencegahan mulai mendapatkan perhatian lebih, terutama pada anak usia dini yang paling rentan. Perlindungan Sejak Usia Dini Vaksin EV71 bekerja dengan membantu tubuh membentuk antibodi terhadap virus penyebab HFMD tertentu. Vaksin ini ditujukan untuk anak usia mulai 6 bulan, dengan jadwal dua dosis yang diberikan dalam interval satu bulan Dengan adanya perluasan indikasi, semakin banyak anak yang dapat memperoleh perlindungan sejak dini terhadap risiko HFMD berat. Apa Artinya bagi Orang Tua? Perkembangan ini memberikan gambaran bahwa pencegahan HFMD kini semakin menjadi bagian dari perhatian kesehatan anak. Bagi orang tua, penting untuk:● Memahami risiko HFMD, terutama yang disebabkan EV71● Memantau kondisi kesehatan anak● Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terkait langkah pencegahan yang sesuai Pendekatan ini bukan hanya tentang menghindari penyakit, tetapi juga memastikan anak tumbuh dengan perlindungan optimal. Kesimpulan HFMD mungkin terlihat sebagai penyakit umum pada anak, tetapi risiko komplikasi tetap perlu diperhatikan. Dengan adanya perluasan indikasi vaksin EV71, upaya pencegahan kini menjadi lebih luas dan relevan bagi lebih banyak anak. Ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap penyakit infeksi anak terus berkembang mengikuti kebutuhan kesehatan masyarakat. Referensi Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2026, Februari 7). Persetujuan perubahan indikasi vaksin INLIVE® (Enterovirus 71). (dikutip pada tanggal 20 April 2026).

Perubahan dalam rekomendasi vaksin influenza global kembali menjadi perhatian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini secara konsisten merekomendasikan penggunaan vaksin influenza trivalen (TIV), seiring dengan tidak lagi ditemukannya peredaran virus influenza B/Yamagata dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini mencerminkan penyesuaian terhadap dinamika virus influenza yang terus berubah dari waktu ke waktu. Yamagata Tidak Terdeteksi Sejak 2020 Berdasarkan data surveilans global, virus influenza B/Yamagata tidak lagi terdeteksi sejak Maret 2020. Pemantauan melalui sistem global WHO (GISRS) menunjukkan bahwa dalam beberapa musim terakhir, hanya satu lineage influenza B yang masih beredar, yaitu B/Victoria Kondisi ini menjadi titik balik penting dalam penentuan komposisi vaksin influenza secara global. WHO Hapus Komponen Yamagata dari Vaksin Sejak September 2023, WHO telah merekomendasikan penghapusan komponen B/Yamagata dari vaksin influenza musiman. Artinya, vaksin influenza kini difokuskan pada tiga strain utama:● Influenza A (H1N1)● Influenza A (H3N2)● Influenza B (Victoria lineage) Pendekatan ini dinilai lebih relevan dengan virus yang benar-benar beredar di masyarakat saat ini. Transisi ke Trivalen Bukan Pengurangan Perlindungan Perubahan dari vaksin quadrivalent (QIV) ke trivalent (TIV) mungkin menimbulkan pertanyaan di masyarakat. Namun, para ahli menegaskan bahwa langkah ini bukan berarti perlindungan berkurang. Sebaliknya, transisi ini merupakan bentuk penyesuaian terhadap epidemiologi terkini, karena hanya tiga strain yang saat ini beredar secara aktif. Efektivitas vaksin lebih ditentukan oleh kesesuaian dengan virus yang beredar, bukan jumlah strain yang dimasukkan dalam vaksin. Tren Global dan Arah Kebijakan Vaksin WHO juga menekankan bahwa komposisi vaksin influenza selalu diperbarui berdasarkan data surveilans global yang dikumpulkan dari berbagai negara. Bahkan, rekomendasi vaksin influenza diperbarui dua kali setiap tahun untuk memastikan kesesuaian dengan pola penyebaran virus. Transisi menuju vaksin trivalen sendiri sudah mulai dilakukan secara global sejak musim influenza 2024–2025. Apa Artinya bagi Masyarakat? Perubahan ini menunjukkan bahwa strategi vaksinasi influenza terus berkembang mengikuti kondisi nyata di lapangan. Bagi masyarakat, hal ini menjadi pengingat bahwa:● Virus influenza terus berubah● Rekomendasi vaksin juga akan menyesuaikan● Pencegahan tetap menjadi langkah penting, terutama bagi kelompok berisiko Kesimpulan Rekomendasi WHO untuk beralih ke vaksin influenza trivalen menandai perubahan pentingdalam pendekatan pencegahan influenza. Dengan tidak lagi beredarnya virus B/Yamagata, vaksin kini difokuskan pada strain yangbenar-benar relevan. Langkah ini menunjukkan bahwa kebijakan vaksinasi tidak bersifat statis, melainkan terusmenyesuaikan dengan perkembangan ilmiah dan epidemiologi global. Referensi World Health Organization. (2025). Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the 2026 influenza season. (dikutip pada tanggal 20 April 2026). Kalventis. (2026). Kalventis hadirkan vaksin influenza trivalent sesuai rekomendasi WHO. Diakses pada 20 April 2026,