
Flu bukan sekadar batuk dan pilek biasa. Vaksin influenza menjadi salah satu langkah penting untuk membantu melindungi diri dan keluarga dari influenza serta risiko komplikasi yang dapat menyertainya. Terlebih bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan jemaah haji atau umrah, perlindungan terhadap influenza perlu menjadi perhatian.
Dalam semangat “Merdeka dari Flu”, mendapatkan vaksin saja bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Pemilihan vaksin influenza yang sesuai dengan perkembangan medis dan rekomendasi terkini juga penting. Salah satu pilihan yang dibahas dalam artikel ini adalah vaksin influenza trivalen dengan teknologi split virion.
Influenza merupakan penyakit yang mudah menular melalui percikan udara atau droplet. Pada kelompok tertentu, infeksi influenza dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan menyebabkan komplikasi seperti pneumonia hingga kondisi yang mengancam jiwa.
Oleh karena itu, vaksinasi influenza dapat menjadi bagian dari upaya perlindungan, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi. Siapa saja kelompok rentan tersebut?
Sistem kekebalan tubuh anak masih berkembang sehingga anak termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dalam pencegahan influenza. Vaksinasi dapat membantu memberikan perlindungan sekaligus membantu mengurangi risiko penyebaran virus di lingkungan sekolah dan keluarga.
Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem kekebalan tubuh, jantung, dan paru-paru. Kondisi tersebut dapat membuat ibu hamil lebih rentan terhadap komplikasi akibat influenza. Selain memberikan perlindungan bagi ibu, vaksinasi influenza selama kehamilan juga dapat memberikan kekebalan pasif kepada bayi melalui transfer antibodi. Perlindungan tersebut dapat membantu bayi pada beberapa bulan pertama setelah lahir, ketika bayi belum cukup umur untuk mendapatkan vaksinasi influenza.
Seiring bertambahnya usia, fungsi sistem kekebalan tubuh dapat mengalami penurunan atau immunosenescence. Lansia juga lebih mungkin memiliki penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi yang dapat memperburuk kondisi ketika mengalami influenza.
Ibadah haji dan umrah mempertemukan banyak orang dari berbagai negara dalam lingkungan yang padat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya penularan penyakit pernapasan, termasuk influenza.
Oleh karena itu, vaksin influenza dapat menjadi salah satu langkah perlindungan agar jemaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih nyaman dan mengurangi risiko terkena infeksi saluran pernapasan.
Perkembangan ilmu pengetahuan membuat formulasi vaksin influenza terus mengikuti perubahan virus yang beredar. Karena itu, pemilihan vaksin perlu mempertimbangkan rekomendasi dan pedoman terbaru. Salah satu perkembangan yang dibahas adalah penggunaan vaksin influenza trivalen.
Sebelumnya, vaksin influenza quadrivalent yang memberikan perlindungan terhadap empat strain, yaitu dua influenza A dan dua influenza B, banyak digunakan.
Namun, berdasarkan materi sumber, WHO merekomendasikan transisi kembali ke vaksin trivalen yang mencakup dua strain influenza A dan satu strain influenza B/Victoria. Salah satu alasannya adalah influenza B/Yamagata tidak lagi terdeteksi bersirkulasi sejak Maret 2020. Untuk rekomendasi WHO yang lebih mutakhir, WHO pada 2026 tetap menyatakan bahwa komponen B/Yamagata tidak lagi diperlukan dalam vaksin influenza.
Selain formulasi vaksin, teknologi pembuatan vaksin influenza juga menjadi salah satu hal yang perlu diketahui. Dua teknologi yang disebutkan dalam materi adalah split virion dan subunit.
Vaksin influenza dengan teknologi split virion mengandung antigen permukaan sekaligus protein internal virus. Berdasarkan materi sumber, komponen tersebut ditujukan untuk memicu respons sistem imun yang lebih luas.
Sementara itu, vaksin dengan teknologi subunit hanya mengandung antigen permukaan virus. Materi sumber menjelaskan bahwa respons kekebalan yang dihasilkan cenderung tidak seluas teknologi split virion.
Bagi kelompok yang membutuhkan perlindungan terhadap influenza, seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan jemaah haji, teknologi vaksin juga menjadi salah satu aspek yang dapat dipertimbangkan saat berdiskusi dengan tenaga kesehatan.
Memilih vaksin influenza sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan nama atau jenis vaksin. Perkembangan virus influenza dan rekomendasi vaksin dapat berubah sehingga penting untuk mempertimbangkan pedoman terbaru.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain:
• Formulasi vaksin influenza yang digunakan.
• Rekomendasi terbaru dari otoritas kesehatan.
• Teknologi yang digunakan dalam pembuatan vaksin.
• Kondisi dan kelompok usia penerima vaksin.
• Kondisi kesehatan serta kebutuhan individu.
Konsultasikan pilihan vaksin dengan dokter atau tenaga kesehatan agar vaksinasi dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan Anda.

Kemerdekaan dari penyakit bukan berarti tidak pernah sakit sama sekali, tetapi juga tentang mengambil langkah pencegahan yang tepat. Vaksin influenza merupakan salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan untuk membantu memberikan perlindungan terhadap influenza.
Terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta jemaah haji dan umrah, perlindungan terhadap influenza menjadi semakin penting.
Kenali pilihan vaksin dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk menentukan vaksinasi yang sesuai. Dengan langkah pencegahan yang tepat, mari wujudkan semangat “Merdeka dari Flu” dan tetap aktif menjalani berbagai aktivitas bersama orang-orang tercinta.
ID-GEN-2026-10-GPYH (10/26)


Segera konsultasikan langkah pencegahan influenza dengan tenaga kesehatan.

Pernah merasakan gejala batuk, pilek, demam, serta tubuh yang terasa lemas? Banyak orang menganggap gejala tersebut sebagai pilek (common cold), padahal bisa jadi itu influenza A. Akan tetapi, tahukah bila keduanya memiliki perbedaan yang signifikan? Yuk, simak perbedaan influenza A dan common cold berikut ini! Common cold atau sering dikenal dengan selesma merupakan gangguan saluran pernapasan atas yang biasanya disebabkan oleh infeksi Rhinovirus. Di negara-negara tropis, seperti Indonesia, flu musiman dapat terjadi sepanjang tahun. Penyakit ini mudah menular melalui transmisi udara dan percikan (droplet) dari penderitanya dengan masa inkubasi selama 2 – 3 hari. Dalam periode tersebut, penderita akan mulai merasakan gejala seperti (1): Demam ringan Hidung berair dan tersumbat Batuk Bersin-bersin Tenggorokan terasa tidak nyaman Sakit kepala Walaupun sering dianggap sepele, kondisi tersebut dapat memicu keparahan akibat komorbid yang dimiliki oleh penderita antara lain (1): Asma Bronkitis Bronkiolitis Pneumonia Penyakit jantung koroner (PJK), dan lain sebagainya Lalu, apa sih yang membedakan selesma (common cold) dengan influenza A? Pada dasarnya, virus penyebab common cold dan influenza A berbeda. Namun, virus influenza A bukan virus yang jarang ditemukan. Subtipe virus ini justru sering bersirkulasi di masyarakat, seperti H1N1 dan H3N2. Akan tetapi, terdapat salah satu subtipe yang berasal dari hewan dan dapat menginfeksi manusia, yaitu H5N1 (Flu Burung). Virus influenza A mengandung dua protein kunci, yaitu Hemagglutinin (H) dan Neuraminidase (N) yang berperan dalam menentukan jalur masuk virus ke dalam sel tubuh dan cara virus menginfeksi sel lainnya. Jenis virus ini memiliki kemampuan untuk bermutasi setiap tahunnya, sehingga dapat menembus kekebalan tubuh manusia sebagai inangnya (host) (5). Menurut data WHO, angka kematian akibat influenza A mencapai 650.000 jiwa setiap tahunnya (3). Virus influenza A memiliki kemampuan mutasi titik secara akumulatif dalam genom virus, sehingga menghasilkan adanya perubahan varian pada virus. Proses ini disebut dengan antigenic drift. Hal tersebut memungkinkan terjadinya infeksi ulang pada orang yang sudah pernah terinfeksi (5). Gejala Influenza A yang Perlu Diwaspadai: Demam tinggi mendadak (38°C – 40°C) Nyeri pada beberapa bagian otot, utamanya punggung, paha, dan lengan Sakit kepala Kelelahan tubuh Batuk kering dan nyeri tenggorokan Hidung berair atau tersumbat Hal inilah yang membuat virus influenza A terasa lebih parah dibandingkan common cold. Selain itu, virus ini juga memiliki kemampuan antigenic shift yang memungkinkan adanya perubahan besar dalam waktu singkat pada komponen virus. Mekanisme ini terjadi akibat bergabungnya materi genetik dari dua virus yang berbeda. Hasil dari proses inilah yang kerap menyebabkan pandemi, seperti pandemi flu tahun 1918 (H1N1) dan pandemi flu babi tahun 2009 (H1N1pdm09) (5) (6). Update Kasus Influenza A di Indonesia Di Indonesia, terdapat 56% kasus positif influenza A dari 265 spesimen yang diperiksa Kemenkes hingga akhir September 2026. Walaupun terdapat peningkatan kasus, namun pola ini masih mengikuti pola musiman di Indonesia. Peningkatan kasus ini dapat dipengaruhi oleh pergantian musim, mobilitas yang meningkat, dan penularan dari subtipe virus yang sedang banyak bersirkulasi (6). Namun, sebagian besar kasus dari influenza dapat sembuh tanpa membutuhkan rawat inap. Penderita biasanya akan disarankan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut (6): Istirahat total Konsumsi makanan dengan gizi seimbang Minum air putih yang cukup Gunakan masker apabila bepergian/kontak langsung dengan orang banyak Berikut Langkah Preventif Sederhana yang Dapat Dilakukan: Hindari kontak langsung dengan penderita untuk meminimalisasi penularan melalui percikan (droplets) Cuci tangan secara berkala dengan sabun dan air mengalir Menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) Hindari menyentuh area mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan Menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup hidung dan mulut dengan tisu atau lipatan siku Melakukan vaksinasi influenza 1 tahun sekali Baca juga: Alasan Vaksinasi Flu Perlu Diulang Setiap Tahun Sudah Pernah Kena Influenza A, Masih Perlu Vaksin? Ya. Walaupun sistem imun orang yang pernah terkena influenza sudah membentuk antibodi, virus influenza terus bermutasi setiap tahun. Vaksin influenza memberikan perlindungan optimal hingga durasi 12 bulan dengan efektivitas 50 – 60% (7). Oleh karena itu, tubuh membutuhkan pembaruan dosis vaksin setiap tahunnya. Vaksinasi influenza mencegah terjadinya komplikasi, utamanya pada kelompok rentan, seperti lansia usia lebih dari 65 tahun, anak di bawah usia 5 tahun, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan penderita obesitas (6). Vaksinasi dilakukan setelah pasien sembuh total dari influenza dan belum mendapatkan vaksin influenza tahunan. Rekomendasi WHO: Vaksin Influenza Trivalen World Health Organization merekomendasikan adanya transisi dari penggunaan vaksin influenza kuadrivalen (QIV) menjadi vaksin influenza trivalen (TIV). Hal ini ditetapkan karena tidak ditemukannya virus B/Yamagata di sirkulasi pada beberapa tahun terakhir, sehingga peralihan tersebut disarankan sebagai perlindungan dari strain yang relevan (8) (9). Selain itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga merekomendasikan orang tua untuk rutin memberikan vaksinasi influenza kepada anak mulai usia 6 bulan (10). Pada anak 6 bulan – 8 tahun yang baru pertama kali divaksinasi, dosis kedua dapat diberikan dengan jarak minimal 4 – 6 minggu (10). Vaksinasi influenza sejak dini mencegah terjadinya influenza pada anak dan membentuk titer antibodi terhadap penyakit tersebut. Di Mana Vaksinasi Dapat Dilakukan? Vaksinasi influenza dapat diperoleh melalui fasilitas kesehatan setempat, seperti klinik dan rumah sakit. Silakan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter, perawat, atau bidan terdekat sebelum pelaksanaan vaksinasi. Lindungi Keluarga dengan Vaksinasi Segera Influenza A bisa menyerang siapa saja, dan gejalanya jauh lebih berat daripada pilek biasa. Jangan tunggu sampai sakit! Lindungi diri dan keluarga dengan vaksin influenza setiap tahun, terutama untuk anak usia 6 bulan ke atas, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. REFERENSI: Centers for Disease Control and Prevention. (2026). About the Common Cold. https://www.cdc.gov/common-cold/about/index.html (dikutip pada tanggal 06 Oktober 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Tanya Jawab (FAQ) Seputar Influenza. https://ayosehat.kemkes.go.id/tanya-jawab-faq-seputar-influenza (dikutip pada tanggal 06 Oktober 2026). World Health Organization. (2025). Influenza (Seasonal). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal). (dikutip pada tanggal 07 Oktober 2026). The University of Chicago. (2025). Where Does the Flu Come From Every Year?. https://www.uchicagomedicine.org/forefront/biological-sciences-articles/where-does-the-flu-come-from-every-year (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kemenkes Labkesmas Makassar 1. (2025). Lebih dari Sekadar Flu Biasa yang Perlu Diwaspadai.https://bblabkesmasmakassar.go.id/influenza-a-gejala-penularan-komplikasi-pencegahan/ (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). FAQ Influenza: Informasi, Penanganan, dan Pencegahan. https://www.kemkes.go.id/id/faq-influenza-gejala-penanganan-pencegahan (dikutip pada 07 Oktober 2026). Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia. (2026). Mengenal Vaksinasi Influenza dan Manfaatnya. https://peralmuni.org/mengenal-vaksinasi-influenza-dan-manfaatnya/ (dikutip pada 07 Oktober 2026). World Health Organization. (2025). Recommended Composition of Influenza Virus Vaccines For Use in The 2025 – 2026 Northern Hemisphere Influenza Season. https://www.who.int/publications/m/item/recommended-composition-of-influenza-virus-vaccines-for-use-in-the-2025-2026-nh-influenza-season (dikutip pada 07 Oktober 2026). Kalventis. (2026). Kalventis Hadirkan Vaksin Influenza Trivalent Sesuai Rekomendasi WHO.https://www.kalventis.co.id/post/kalventis-hadirkan-vaksin-influenza-trivalent-sesuai-rekomendasi-who (dikutip pada 07 Oktober 2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2015). Melengkapi/Mengejar Imunisasi (Bagian III). https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-iii (dikutip pada 07 Oktober 2026). ID-GEN-2026-10-LBKE (10/26)
Efek samping vaksin adalah reaksi yang dapat muncul setelah seseorang menerima vaksin. Keluhan yang paling umum biasanya ringan, seperti nyeri di area suntikan, kemerahan, bengkak ringan, demam ringan, lelah, sakit kepala, atau pegal. Pada banyak orang, keluhan ini membaik dalam beberapa hari. (1)(2) Meski umumnya ringan, efek samping vaksin tetap perlu dipantau. Segera cari bantuan medis bila muncul tanda alergi berat seperti sesak napas, bengkak pada wajah atau bibir, ruam menyeluruh, pingsan, kejang, atau kondisi yang tampak berat dan tidak membaik. (2)(3) Penting untuk diingat: tidak semua keluhan yang muncul setelah vaksin pasti disebabkan oleh vaksin. Dalam istilah medis, keluhan setelah imunisasi disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI, dan penyebabnya perlu dinilai oleh tenaga kesehatan. (4) Disclaimer Medis “Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan.” Apa Itu Efek Samping Vaksin atau KIPI? Efek samping vaksin adalah respons tubuh yang muncul setelah vaksinasi. Respons ini dapat terjadi karena sistem imun sedang mengenali komponen vaksin dan membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu. (1) Di Indonesia, istilah yang sering digunakan adalah KIPI, yaitu Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. KIPI berarti setiap kejadian medis yang terjadi setelah imunisasi, baik yang ringan maupun serius. Namun, KIPI tidak otomatis berarti vaksin menjadi penyebab langsung. Penilaian medis diperlukan untuk melihat waktu kejadian, gejala, riwayat kesehatan, kemungkinan penyakit lain, dan faktor lain yang menyertai. (2)(4) Dengan memahami hal ini, pembaca tidak perlu langsung panik ketika muncul keluhan ringan. Namun, pembaca juga tetap perlu waspada bila muncul gejala berat atau keluhan yang tidak biasa. Baca juga: Kenapa Harus Vaksin? Panduan dan Manfaat untuk Semua Usia Efek Samping Vaksin yang Umum Terjadi Efek samping vaksin yang umum biasanya bersifat ringan dan sementara. Tidak semua orang mengalaminya. Ada orang yang merasa pegal dan demam ringan, ada juga yang tidak merasakan keluhan apa pun setelah vaksinasi. Berikut beberapa efek samping vaksin yang sering dilaporkan: Efek Samping UmumPenjelasan SederhanaBiasanya Apa yang Bisa Dilakukan?Nyeri di area suntikanArea bekas suntikan terasa pegal, nyeri, atau tidak nyamanKompres dingin, gerakkan lengan perlahan, istirahatKemerahan atau bengkak ringanReaksi lokal di tempat suntikanPantau ukuran bengkak, hindari menggarukDemam ringanRespons tubuh saat sistem imun bekerjaCukup minum, istirahat, gunakan obat sesuai arahan tenaga kesehatanLelah atau mengantukTubuh sedang beradaptasi setelah vaksinKurangi aktivitas berat sementaraSakit kepala atau pegalDapat terjadi pada sebagian orangIstirahat, cukup cairanRewel pada anakAnak merasa tidak nyaman setelah imunisasiPeluk, tenangkan, beri ASI atau cairan sesuai usiaNafsu makan menurun sementaraBisa terjadi pada sebagian bayi atau anakPantau asupan cairan dan kondisi umum anak CDC menjelaskan bahwa efek samping vaksin pada umumnya ringan, misalnya nyeri lengan atau demam ringan, dan biasanya hilang dalam beberapa hari. (1) Mengapa Tubuh Bisa Demam atau Nyeri Setelah Vaksin? Demam ringan, pegal, atau nyeri setelah vaksin dapat terjadi karena sistem imun sedang merespons vaksin. Respons ini tidak selalu berarti tubuh sedang sakit berat. Pada sebagian orang, respons imun dapat terasa sebagai keluhan ringan selama beberapa jam hingga beberapa hari. (1)(2) Namun, berat-ringannya keluhan dapat berbeda pada tiap orang. Faktor usia, jenis vaksin, kondisi tubuh saat vaksinasi, riwayat alergi, dan penyakit penyerta dapat memengaruhi respons tubuh. Pada anak, beberapa vaksin dapat menimbulkan demam, rewel, atau nyeri bekas suntikan. IDAI menjelaskan bahwa beberapa reaksi pascaimunisasi seperti demam, nyeri, kemerahan, dan pembengkakan dapat terjadi dan biasanya membaik, tetapi bila reaksi berat atau menetap, anak sebaiknya dibawa ke dokter. (5) Cara Memantau Efek Samping Vaksin di Rumah Setelah vaksinasi, luangkan waktu untuk memantau kondisi tubuh. Banyak fasilitas kesehatan juga meminta penerima vaksin menunggu beberapa saat setelah vaksinasi untuk memastikan tidak ada reaksi alergi segera. Hal yang bisa dilakukan di rumah: Catat waktu munculnya keluhan. Ukur suhu tubuh dengan termometer bila terasa demam. Pantau area suntikan: apakah bengkak bertambah besar, nyeri makin berat, atau muncul nanah. Pastikan cukup minum dan istirahat. Hindari aktivitas berat bila tubuh terasa tidak fit. Untuk anak, perhatikan apakah anak masih mau minum, masih responsif, dan tidak tampak sangat lemas. Gunakan obat penurun demam atau pereda nyeri hanya sesuai usia, dosis, dan arahan tenaga kesehatan, terutama pada bayi, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit tertentu. Jangan mengoleskan bahan yang tidak dianjurkan ke area suntikan. Jika area bekas suntikan terasa nyeri, kompres dingin dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman. (5) Kapan Efek Samping Vaksin Masih Bisa Dipantau di Rumah? Keluhan biasanya masih dapat dipantau di rumah bila: Demam ringan dan kondisi umum tetap baik. Nyeri atau bengkak di area suntikan tidak bertambah berat. Lelah atau pegal membaik setelah istirahat. Anak masih mau minum, masih responsif, dan tidak tampak sesak. Keluhan berangsur membaik dalam beberapa hari. Namun, tetap gunakan penilaian yang hati-hati. Bila Anda merasa khawatir atau keluhan tampak tidak biasa, lebih aman untuk mengunjungi dokter. Kapan Perlu ke Dokter Setelah Vaksin? Anda sebaiknya menghubungi dokter atau fasilitas kesehatan bila efek samping vaksin terasa mengkhawatirkan, tidak membaik dalam beberapa hari, atau kemerahan dan nyeri di area suntikan justru memburuk setelah 24 jam. CDC memberikan arahan serupa untuk menghubungi tenaga kesehatan bila efek samping terasa mengkhawatirkan atau tidak tampak membaik. (6) Segera kunjungi ke dokter bila mengalami: Demam tinggi atau demam tidak membaik. Nyeri, kemerahan, atau bengkak yang makin berat. Area suntikan terasa sangat panas, bernanah, atau nyeri berat. Anak menangis terus-menerus dan sulit ditenangkan. Anak tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak mau minum. Muntah berulang atau diare berat setelah vaksin. Keluhan berlangsung lebih lama dari yang dijelaskan tenaga kesehatan. Ada riwayat alergi berat atau reaksi berat pada vaksin sebelumnya. Untuk bayi kecil, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbid, atau orang dengan sistem imun lemah, jangan ragu tanya dokter lebih awal karena kebutuhan pemantauan bisa berbeda. Baca juga: Peran Vaksin Influenza pada Diabetes dan Risiko Jantung Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera ke IGD? Efek samping serius setelah vaksin jarang terjadi, tetapi tetap penting dikenali. Reaksi alergi berat atau anafilaksis biasanya muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah vaksinasi dan perlu penanganan segera. NHS menjelaskan bahwa reaksi alergi berat setelah vaksin sangat jarang dan petugas vaksinasi terlatih untuk menanganinya. (3) Segera ke IGD atau cari bantuan darurat bila muncul: Tanda BahayaMengapa Perlu Segera Ditangani?Sesak napas atau napas berbunyiBisa menjadi tanda reaksi alergi beratBengkak pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokanBisa mengganggu jalan napasRuam luas disertai lemas atau pusing beratDapat mengarah ke reaksi alergi beratPingsan atau penurunan kesadaranPerlu evaluasi segeraKejangPerlu penanganan medis segeraNyeri dada, jantung berdebar berat, atau tampak sangat lemahPerlu pemeriksaan untuk memastikan penyebabBayi tampak sangat lemas, kebiruan, atau sulit bernapasTermasuk kondisi darurat Jangan menunggu gejala menjadi lebih berat bila tanda-tanda di atas muncul. Apakah Efek Samping Berarti Vaksinnya Berbahaya? Tidak selalu. Efek samping ringan seperti nyeri bekas suntikan, demam ringan, atau lelah sementara dapat terjadi pada sebagian orang dan umumnya membaik. Vaksin, seperti produk kesehatan lain, dapat menimbulkan reaksi, tetapi manfaat vaksinasi adalah membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu dan membantu mengurangi risiko sakit berat sesuai jenis vaksinnya. (1)(7) Namun, vaksin tidak memberikan perlindungan 100%. Seseorang masih mungkin terkena penyakit setelah vaksinasi, tetapi pada banyak vaksin, tujuan pentingnya adalah membantu mengurangi risiko infeksi berat, komplikasi, rawat inap, atau penularan, tergantung jenis penyakit dan vaksin yang diberikan. (7) Keamanan vaksin juga dipantau melalui sistem pengawasan. WHO memiliki pendekatan penilaian kausalitas KIPI untuk membantu menilai apakah suatu kejadian setelah imunisasi berkaitan dengan vaksin atau ada penyebab lain. (4) Kelompok Perlu Perhatian Khusus Sebagian besar orang dapat menerima vaksin sesuai rekomendasi usia dan kondisi kesehatan. Namun, beberapa kelompok sebaiknya mengujungi dokter lebih dulu agar jenis dan waktu vaksinasi lebih tepat. kunjungi dokter bila Anda atau anggota keluarga: Pernah mengalami reaksi alergi berat terhadap vaksin sebelumnya. Memiliki alergi berat terhadap komponen vaksin tertentu. Sedang sakit sedang atau berat. Sedang hamil atau merencanakan kehamilan. Memiliki penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, atau gangguan paru. Mengalami gangguan sistem imun atau sedang memakai obat imunosupresif. Memiliki riwayat kejang atau gangguan saraf tertentu. Sedang menjalani terapi kanker atau transplantasi. Lansia dengan beberapa kondisi kesehatan sekaligus. CDC menjelaskan bahwa riwayat reaksi alergi berat terhadap dosis sebelumnya atau komponen vaksin dapat menjadi kontraindikasi pada beberapa vaksin, sedangkan sakit sedang atau berat dapat menjadi alasan untuk menunda vaksinasi hingga kondisi membaik. (8) Baca juga: Vaksin Ibu Hamil: Pentingnya Vaksin Influenza dan Tdap untuk Bayi Tips Agar Lebih Tenang Setelah Vaksinasi Agar pemantauan setelah vaksin lebih mudah, lakukan beberapa langkah sederhana berikut: Tanyakan kepada tenaga kesehatan efek samping apa yang mungkin muncul dari vaksin yang diterima. Tanyakan kapan harus kembali atau menghubungi fasilitas kesehatan. Simpan kartu atau catatan vaksinasi. Jangan langsung melakukan aktivitas berat bila tubuh terasa tidak nyaman. Minum cukup air. Untuk anak, siapkan termometer dan pantau suhu tubuh. Jangan memberikan obat pada bayi atau anak tanpa memastikan dosis yang tepat. Bila punya riwayat alergi, sampaikan sebelum vaksinasi. Tunggu di fasilitas vaksinasi sesuai arahan petugas setelah menerima vaksin. Sikap terbaik adalah tenang, tetapi tetap waspada. Tidak perlu panik terhadap keluhan ringan, tetapi jangan mengabaikan tanda bahaya. Cari Lokasi Vaksinasi Terdekat? Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, Puskesmas, atau klinik penyedia vaksin influenza di sekitar wilayah Anda. Cek Daftar Lokasi Klinik Kesimpulan Efek samping vaksin yang umum biasanya ringan dan sementara, seperti nyeri di area suntikan, bengkak ringan, demam ringan, lelah, sakit kepala, atau pegal. Keluhan ini umumnya membaik dalam beberapa hari dan dapat dipantau dengan istirahat, cukup cairan, serta perawatan sederhana sesuai arahan tenaga kesehatan. (1)(2) Namun, segera hubungi dokter bila keluhan terasa mengkhawatirkan, tidak membaik, atau justru memburuk. Segera cari pertolongan darurat bila muncul tanda alergi berat seperti sesak napas, bengkak wajah atau bibir, pingsan, kejang, atau penurunan kesadaran. (3)(6) Memahami efek samping vaksin dapat membantu keluarga mengambil keputusan dengan lebih tenang. Vaksinasi tetap perlu dilakukan sesuai usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan karena manfaatnya penting untuk membantu mengurangi risiko penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. (7) Referensi (1) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Possible side effects from vaccines.https://www.cdc.gov/vaccines/basics/possible-side-effects.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (2) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu KIPI: Penyebab, gejala, pencegahan dan penanganannya. Ayo Sehat Kemenkes.https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (3) National Health Service. (2023). 6-in-1 vaccine.https://www.nhs.uk/vaccinations/6-in-1-vaccine/(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (4) World Health Organization. (2021). Causality assessment of an adverse event following immunization (AEFI): User manual for the revised WHO classification, 2nd ed., 2019 update.https://www.who.int/publications/i/item/9789241516990(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (5) Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2013). Penjelasan kepada orangtua mengenai imunisasi.https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/penjelasan-kepada-orangtua-mengenai-imunisasi(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (6) Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Getting your COVID-19 vaccine.https://www.cdc.gov/covid/vaccines/getting-your-covid-19-vaccine.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (7) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Vaksinasi COVID-19.https://layanandata.kemkes.go.id/katalog-data/covid-19/ketersediaan-data/vaksinasi-covid-19(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). (8) Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Contraindications and precautions: Vaccines & immunizations.https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/imz-best-practices/contraindications-precautions.html(dikutip pada tanggal 6 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-D7QK (07/27)
Vaksin EV71 adalah vaksin yang membantu tubuh membentuk respon imun terhadap Enterovirus 71, salah satu virus penyebab Hand, Foot, and Mouth Disease atau HFMD yang sering dikenal masyarakat sebagai Flu Singapura. EV71 penting diperhatikan karena pada sebagian kasus dapat berkaitan dengan penyakit yang lebih berat, terutama pada anak kecil. (1) Namun, vaksin EV71 tidak mencegah semua jenis HFMD. HFMD juga dapat disebabkan oleh virus lain, seperti Coxsackievirus A16 dan enterovirus lain. Artinya, anak yang sudah mendapat vaksin EV71 masih bisa terkena HFMD dari virus selain EV71, tetapi vaksin dapat membantu mengurangi risiko HFMD yang disebabkan oleh EV71 sesuai indikasi vaksin. (2) Vaksin EV71 biasanya dipertimbangkan untuk anak sesuai usia, kondisi kesehatan, ketersediaan vaksin, dan rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan. Orang tua sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum vaksinasi, terutama bila anak sedang demam, memiliki riwayat alergi berat, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Disclaimer Medis Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, dokter anak, bidan, atau tenaga kesehatan. Jadwal, jenis vaksin, dan rekomendasi vaksinasi dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, riwayat alergi, komorbid, riwayat vaksin sebelumnya, serta ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan. Untuk keputusan vaksinasi anak, selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berwenang. Apa Itu HFMD atau Flu Singapura? Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Flu Singapura dalam istilah populer, yaitu infeksi virus yang sering menyerang bayi dan anak-anak. Gejalanya biasanya berupa demam, sariawan atau luka di mulut, serta ruam atau lepuhan kecil di telapak tangan, telapak kaki, dan kadang area bokong. (3) HFMD mudah menular melalui kontak dekat, percikan droplet, cairan dari lepuhan, tinja, atau permukaan benda yang terkontaminasi. Karena itu, penyakit ini sering menyebar di lingkungan anak seperti daycare, sekolah, tempat bermain, dan rumah dengan beberapa anak. (3) Sebagian besar kasus HFMD bersifat ringan dan membaik dengan perawatan suportif, seperti cukup cairan, istirahat, dan obat sesuai anjuran dokter. Namun, orang tua tetap perlu waspada karena anak dapat mengalami sulit makan dan minum akibat nyeri mulut, sehingga berisiko dehidrasi. Baca juga: Flu Singapura (HFMD): Gejala, Penularan, Pencegahan, dan Konsultasi Dokter Kenapa EV71 Perlu Diperhatikan? HFMD dapat disebabkan oleh beberapa virus. Salah satu yang penting adalah Enterovirus 71 atau EV71. Menurut WHO, EV71 dapat menyebabkan spektrum penyakit yang luas, mulai dari tanpa gejala, HFMD ringan, hingga penyakit neurologis berat pada sebagian kasus. (1) Anak usia dini termasuk kelompok yang perlu lebih diperhatikan karena sistem imun mereka masih berkembang dan mereka sering berinteraksi dekat dengan anak lain. Pada kasus yang jarang, infeksi EV71 dapat berkaitan dengan komplikasi serius, seperti gangguan sistem saraf pusat atau masalah jantung-paru. (1) Penting untuk dipahami: kewaspadaan terhadap EV71 bukan berarti semua HFMD akan menjadi berat. Banyak kasus tetap ringan. Namun, mengetahui penyebab, tanda bahaya, dan pilihan pencegahan dapat membantu orang tua mengambil langkah yang lebih tenang dan tepat. Apa Itu Vaksin EV71? Vaksin EV71 adalah vaksin yang dirancang untuk membantu tubuh membentuk respons imun terhadap Enterovirus 71. Vaksin EV71 yang telah dievaluasi regulator merupakan vaksin inaktif, sehingga tidak mengandung virus hidup yang dapat bereplikasi dan menyebabkan infeksi EV71. (2) Secara sederhana, cara kerja vaksin EV71 adalah: vaksin memperkenalkan komponen virus yang sudah diinaktivasi kepada sistem imun; tubuh belajar mengenali EV71; tubuh membentuk antibodi atau respons imun; ketika anak terpapar EV71 di kemudian hari, tubuh diharapkan lebih siap melawan virus tersebut. Vaksin EV71 dapat membantu mencegah HFMD yang disebabkan oleh EV71, tetapi tidak melindungi dari HFMD akibat virus lain. Ini adalah poin penting agar orang tua memiliki ekspektasi yang realistis. (2) Apakah Vaksin EV71 Bisa Mencegah Semua HFMD? Tidak. Vaksin EV71 tidak mencegah semua HFMD. HFMD dapat disebabkan oleh berbagai enterovirus. EV71 adalah salah satu penyebab yang penting karena lebih sering dikaitkan dengan risiko penyakit berat dibanding beberapa penyebab lain. Namun, virus lain seperti Coxsackievirus A16 juga dapat menyebabkan HFMD. (2)(3) Berikut ringkasan sederhananya: PertanyaanJawaban SingkatApakah vaksin EV71 membantu mencegah HFMD?Ya, untuk HFMD yang disebabkan oleh EV71 sesuai indikasi vaksin.Apakah vaksin EV71 mencegah semua penyebab HFMD?Tidak. HFMD juga bisa disebabkan virus lain.Apakah anak masih bisa terkena HFMD setelah vaksin?Bisa, terutama bila penyebabnya bukan EV71.Apakah kebersihan tetap penting setelah vaksin?Ya. Cuci tangan, disinfeksi mainan, dan isolasi saat sakit tetap penting. Dengan pemahaman ini, vaksin EV71 sebaiknya dilihat sebagai bagian dari strategi pencegahan, bukan satu-satunya perlindungan. Siapa yang Dapat Mempertimbangkan Vaksin EV71? Vaksin EV71 terutama relevan untuk anak usia dini sesuai indikasi yang berlaku dan rekomendasi tenaga kesehatan. Di Indonesia, informasi produk yang terdaftar menyebutkan vaksin EV71 digunakan untuk pencegahan HFMD yang disebabkan EV71, dengan jadwal dua dosis sesuai petunjuk produk dan rekomendasi resmi. (2) Orang tua dapat berdiskusi dengan dokter anak bila anak: berusia bayi atau prasekolah sesuai indikasi vaksin; mulai masuk daycare, PAUD, TK, atau sering bermain bersama banyak anak; tinggal serumah dengan saudara yang juga masih kecil; pernah mengalami HFMD dan orang tua ingin memahami opsi pencegahan ke depan; memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membutuhkan penilaian dokter sebelum vaksinasi. Vaksinasi sebaiknya ditunda atau dikonsultasikan terlebih dahulu bila anak sedang demam, sakit akut, atau memiliki riwayat reaksi alergi berat terhadap komponen vaksin. Informasi kontraindikasi dan kehati-hatian harus mengikuti petunjuk produk serta penilaian dokter. (2) Jadwal Vaksin EV71: Berapa Kali Diberikan? Berdasarkan informasi produk vaksin EV71 yang terdaftar, vaksin diberikan dalam dua dosis, masing-masing 0,5 mL, dengan jarak sekitar 1 bulan antara dosis pertama dan kedua. (2) Namun, jadwal vaksinasi anak tetap perlu dikonfirmasi dengan dokter atau fasilitas vaksinasi. Tenaga kesehatan akan menilai usia anak, kondisi kesehatan saat datang, riwayat alergi, riwayat vaksin sebelumnya, dan apakah anak sedang mengalami demam atau infeksi akut. Hal yang perlu diingat orang tua: dosis kedua penting untuk melengkapi jadwal vaksin; jangan memberikan vaksin saat anak sedang sakit tanpa penilaian tenaga kesehatan; simpan catatan vaksin anak agar jadwal tidak terlewat; tanyakan apakah vaksin EV71 sesuai untuk usia dan kondisi anak. Baca juga: Kasus HFMD Jadi Perhatian, BPOM Resmi Perluas Vaksin EV71 Manfaat Vaksin EV71 untuk Anak Manfaat utama vaksin EV71 adalah membantu memberikan perlindungan terhadap HFMD yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Dalam berbagai studi, vaksin EV71 inaktif menunjukkan perlindungan terhadap penyakit EV71, termasuk potensi manfaat dalam menurunkan risiko penyakit yang lebih berat akibat EV71. (4)(5) Manfaat yang dapat dipahami orang tua: Membantu mengurangi risiko HFMD akibat EV71Vaksin membantu tubuh mengenali EV71 dan membentuk respons imun. Membantu perlindungan pada usia rentanAnak kecil lebih sering terpapar di lingkungan bermain, sekolah, atau daycare. Menjadi bagian dari pencegahan berlapisVaksin tidak menggantikan cuci tangan, kebersihan mainan, dan isolasi saat sakit. Membantu orang tua mengambil langkah preventifDengan informasi yang jelas, orang tua bisa berdiskusi lebih terarah dengan dokter. Vaksin tidak memberikan perlindungan 100%. Namun, vaksinasi dapat menjadi langkah penting untuk membantu mengurangi risiko penyakit sesuai indikasi dan rekomendasi tenaga kesehatan. Efek Samping Vaksin EV71 yang Perlu Diketahui Seperti vaksin lain, vaksin EV71 dapat menimbulkan efek samping pada sebagian anak. Umumnya efek samping bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri atau kemerahan di area suntikan, demam ringan, rewel, atau rasa tidak nyaman setelah vaksinasi. (2) Efek samping yang perlu dipantau: Efek setelah vaksinApa yang bisa dilakukanNyeri atau kemerahan di area suntikanKompres sesuai anjuran tenaga kesehatan, jangan dipijat keras.Demam ringanPastikan anak cukup minum dan istirahat. Obat penurun demam digunakan sesuai anjuran dokter.Rewel atau tidak nyamanPantau kondisi umum anak dan berikan cairan cukup.Reaksi alergi beratSegera cari bantuan medis bila muncul sesak, bengkak wajah, lemas berat, atau ruam menyeluruh. Reaksi serius setelah vaksin jarang terjadi, tetapi tetap perlu diperhatikan. Setelah vaksinasi, biasanya fasilitas kesehatan akan meminta anak menunggu beberapa saat untuk memantau kemungkinan reaksi segera. Kapan Anak dengan HFMD Harus Segera ke Dokter? Sebagian besar HFMD dapat membaik dengan perawatan suportif. Namun, orang tua perlu segera membawa anak ke dokter atau fasilitas kesehatan bila muncul tanda bahaya. Segera konsultasi bila anak mengalami: demam tinggi atau demam yang tidak membaik; sulit minum atau tanda dehidrasi, seperti jarang buang air kecil, sangat lemas, atau mulut kering; muntah berulang; tampak sangat mengantuk, sulit dibangunkan, atau kejang; sakit kepala berat, kaku leher, atau tampak bingung; napas cepat, sesak, atau tampak kebiruan; anak masih bayi kecil atau memiliki kondisi kesehatan khusus. Tanda-tanda tersebut tidak boleh ditunda karena sebagian kecil kasus HFMD, terutama yang berkaitan dengan EV71, dapat berkembang lebih serius. (1)(3) Pencegahan HFMD Tidak Cukup Hanya dengan Vaksin Karena HFMD dapat disebabkan oleh berbagai virus, pencegahan tetap perlu dilakukan berlapis. Vaksin EV71 membantu terhadap EV71, tetapi kebiasaan hidup bersih tetap penting untuk menurunkan risiko penularan. Langkah pencegahan sehari-hari: ajarkan anak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir; cuci tangan setelah dari toilet, sebelum makan, dan setelah mengganti popok; bersihkan mainan, meja, gagang pintu, dan benda yang sering disentuh; hindari berbagi alat makan, botol minum, atau handuk; jauhkan sementara anak yang sakit dari sekolah atau daycare sesuai anjuran tenaga kesehatan; ajarkan etika batuk dan bersin; pantau gejala pada saudara atau teman serumah. CDC menekankan cuci tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit, serta membersihkan permukaan yang sering disentuh sebagai langkah pencegahan HFMD. (3) Apakah Vaksin EV71 Wajib? Status vaksin dapat berbeda berdasarkan kebijakan negara, rekomendasi profesi, ketersediaan vaksin, dan kondisi masing-masing anak. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya mengikuti informasi dari media sosial atau pengalaman orang lain. Pertanyaan yang bisa diajukan ke dokter: Apakah usia anak saya sesuai untuk vaksin EV71? Apakah anak saya perlu menunda vaksin karena sedang demam atau sakit? Apakah ada riwayat alergi yang perlu diperhatikan? Berapa jadwal dosis pertama dan kedua? Apa efek samping yang perlu dipantau di rumah? Kapan harus kembali kontrol? Pendekatan terbaik adalah mengambil keputusan berdasarkan informasi medis yang jelas, kondisi anak, dan rekomendasi tenaga kesehatan. Baca juga: Panduan Lengkap Vaksinasi untuk Keluarga Indonesia Di Mana Bisa Mendapatkan Vaksin EV71 untuk HFMD? Vaksin EV71 dapat diperoleh di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan vaksinasi anak, seperti klinik vaksinasi, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan resmi tertentu. Ketersediaan vaksin dapat berbeda di setiap wilayah dan fasilitas kesehatan. Sebelum vaksinasi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika vaksin diberikan untuk bayi, anak dengan riwayat alergi berat, anak yang sedang demam, anak dengan penyakit kronis, atau anak dengan kondisi imun tertentu. Konsultasi membantu memastikan jadwal, jenis vaksin, dan kondisi kesehatan sudah sesuai. Gunakan direktori kesehatan untuk menemukan daftar rumah sakit, puskesmas, atau klinik penyedia vaksin EV71 atau layanan vaksinasi anak di sekitar wilayah Anda. Cari Klinik Vaksinasi Terdekat Kesimpulan Vaksin EV71 adalah vaksin yang membantu melindungi anak dari HFMD atau Hand, Foot, and Mouth Disease yang disebabkan oleh Enterovirus 71. Vaksin ini penting dipahami karena EV71 merupakan salah satu penyebab HFMD yang dapat berkaitan dengan risiko penyakit lebih berat pada sebagian anak. (1) Namun, vaksin EV71 tidak mencegah semua penyebab HFMD. Anak tetap dapat terkena HFMD akibat virus lain, sehingga kebersihan tangan, disinfeksi mainan, etika batuk, dan menghindari kontak dekat dengan anak yang sedang sakit tetap perlu dilakukan. (2)(3) Untuk orang tua, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum vaksinasi. Dengan informasi yang tepat, vaksin EV71 dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari perlindungan kesehatan anak secara menyeluruh. Referensi World Health Organization. (n.d.). Enterovirus 71.https://www.who.int/teams/health-product-policy-and-standards/standards-and-specifications/norms-and-standards/vaccine-standardization/enterovirus-71(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2022). Informasi produk Inlive®: Inactivated enterovirus type 71 vaccine.https://registrasiobat.pom.go.id/files/assesment-reports/01698216830.pdf(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Hand, Foot, and Mouth Disease.https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Zhang, Y., et al. (2024). Effectiveness of Enterovirus 71 inactivated vaccines against Enterovirus A71-associated hand, foot, and mouth disease.https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10984126/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Yan, X., et al. (2025). The efficacy and effectiveness of enterovirus A71 vaccines: A systematic review and meta-analysis.https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12097632/(dikutip pada tanggal 9 Juli 2026). Kode promat: ID-GEN-2026-07-AE48 (07/27)